Dunia Sufi Yang Misteri (Bagian 2)
Posted on April 29, 2011 by SufiMuda
Seperti yang saya kemukakan pada tulisan yang lalu banyak pendapat atau kesan yang kurang tepat atau keliru tentang bagaimana seharusnya kehidupan para sufi. Salah satu pandangan negatif orang terhadap kaum sufi adalah tentang Zuhud yang merupakan salah satu maqam yang harus dilewati oleh para sufi. Tentang zuhud sekilas telah pernah saya bahas dalam tulisan Zuhud Yang Sebenarnya dan disini saya ingin menulis dua pendapat yang berbeda tentang zuhud.
Pendapat pertama, zuhud berarti berpaling dan meninggalkan sesuatu yang disayangi yang bersifat material atau kemewahan duniawi dengan mengharapkan dan menginginkan suatu wujud yang lebih baik dan bersifat spiritual atau kebahagiaan akhirati. Pengertian pertama ini akhirnya berkembang ekstrim sehingga zuhud berarti benci dan meninggalkan sama sekali sesuatu yang bersifat duniawiyah.
Pendapat kedua, zuhud tidak berarti semata-mata tidak mau memiliki harta dan tidak suka mengenyam nikmat duniawi. Tapi zuhud sebenarnya adalah kondsi mental yang tidak mau terpengaruh oleh harta dan kesenangan duniawi dalam pengabdian diri kepada Allah SWT.
Saya pribadi lebih condong kepada pengertian kedua dengan alasan selain Al Qur’an dan Hadist yang tidak menyuruh kita kearah pengertian zuhud yang ekstrim pertama, juga kehidupan para sahabat zaman Rasulullah dan kehidupan sahabat semasa Khulafaur Rasyidin. Sahabat-sahabat utama Rasulullah seperti Abu Bakar AsShiddiq, Usman bin Affan dan Abdul Rahman bin ‘Auf adalah orang-orang yang kaya. Walaupun mereka kaya, mereka tetap hidup sebagai orang zuhud, yaitu hidup sederhana, dimana kekayaan mereka tidak akan mengurangi apalagi memalingkan pengabdian diri mereka kepada Allah SWT.
Pengertian zuhud yang kedua ini sesuai dengan firman Allah SWT :
“(Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu dan supaya kamu jangan terlalu bergembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri“. (Q.S. Al Hadid : 23).
“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) kampong akhirat dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik padamu.” (Q.S. Al Qashash : 57).
Pengertian kedua ayat ini adalah bahwa kita manusia tidak dapat memisahkan diri sama sekali dari harta dan segala bentuk kesenangan duniawi yang di ridhai Allah, sebab kita masih hidup di alam dunia. Pengertian lain adalah bahwa harta benda tidak dilarang untuk dimiliki, tetapi harta benda tersebut tidak boleh mempengaruhi atau memperbudak seseorang, sehingga menghalangi yang bersangkutan untuk menghampirkan dirinya kepada Allah SWT, atau dengan kata lain, sikap seorang sufi tidak boleh diperbudak oleh harta duniawi, tetapi hata duniawi itu dijadikan persembahan, pengabdian ubudiyah lebih banyak lagi kepada Allah SWT.
Yang menjadi pertanyaan, “Apa sebab terjadinya sikap zuhud ini, dan kenapa muncul anggapan bahwa sufi identik dengan sikap zuhud?”. Harus di akui bahwa Kajian dan gerakan zuhud ini memang muncul pertama kali di kalangan pengamal tasawuf pada akhir abad pertama hijriah. Gerakan ini muncul sebagai reaksi terhadap pola hidup mewah para khalifah dan keluarganya serta pembesar Negara yang merupakan dampak dri kekayaan yang diperoleh kaum muslim dalam pembebasan, penaklukan negeri-negeri Suriah, Mesir, Mesopotamia (Irak) dan Persia.
Semasa Dinasti Umayah pola hidup sederhana berubah menjadi pola hidup mewah dikalangan para Khalifah dan pembesar-pembesar Negara dan timbulnya jurang pemisah antara rakyat dan penguasa. Pola hidup mewah dan kondisi mental yang demikian tidak sesuai dengan ajaran dan amal agama seperti yang dicontohkan olh Rasulullah dan para sahabat. Disinilah awal timbulnya gerakan Zuhud sebagai wujud untuk menentang sikap dari Para penguasa yang hidup dalam kemewahan.
Tasawuf sebagai ajaran Islam harus sesuai dengan Al Qur’an dan Hadist sebagai rujukan semua orang Islam dan kajian-kajian tasawuf yang tidak sesuai dengan Al Qur’an dan Hadist harus dipertanyakan kebenarannya walaupun meninjau Al Qur’an tidak selalu harus dari segi tekstual semata.
Islam menganjurkan pemeluknya untuk sunguh-sungguh mencari rizki dan tentang keutamaan mencari rizki anda bisa membuka Al Qur’an Surat : Al Jumu’ah ayat 10, Al Muzammil ayat 20 dan surat Al Baqarah ayat 198, dan ini menjadi petunjuk bagi kita tentang keutamaan mencari rizki agar hidup menjadi lebih baik di dunia ini.
Diriwayatkan bahwa Nabi Isa a.s melihat seorang laki-laki, maka Beliau besabda, “Apakah yang kamu kerjakan?”. Ia menjawab, “Saya beribadat”. Isa bersabda,”Siapakah yang menanggungmu?”. Ia jawab, “Saudaraku”. Isa bersabda,”Saudaramu lebih baik ibadahnya daripada kamu”.
Dalam sejarah, para sufi pada umumnya bekerja sendiri untuk mencari nafkahnya dalam berbagai bidang usaha, sehingga ada diantara mereka itu diberikan julukan-julukan sesuai bidang usahanya itu. Seperti Al Hallaaj (Pembersih kulit kapas), Al Qashar (Tukang Penatu), Al Waraak (Tukang Kertas), Al Kharraaz (Penjahit Kulit Hewan), Al Bazzaaz (Perajin Tikar Daun Kurma), Az Zujaaji (Pengrajin dari kaca) dan Al Farraa’ (Penyamak Kulit).
Tidak terkecuali juga sufi zaman sekarang, mereka tidak melupakan kewajibannya mencari nafkah diberbagai usaha menghidupi dirinya dan keluarganya. Menjadi seorang sufi tidak harus miskin dan melarat namun jika Tuhan memberikan anda cobaan dalam bentuk kemiskinan berarti Dia senang dengan kondisi tersebut dan anda harus tetap mensyukuri apapun yang diberikan oleh-Nya. Kemulyaan seseorang dimata Tuhan tidak terletak pada banyak atau sedikit harta tapi bagaimana hatinya selalu bisa mengingat Allah siang dan malam, sunyi dan ramai, susah dan senang sehingga kondisi apapun tidak mempengaruhi dirinya untuk terus mendekatkan diri kepada-Nya.
Gambaran Sufi yang saya kemukakan diatas mudah-mudahan bisa sedikit menghapus prasangka buruk orang-orang yang tidak paham dengan tasawuf atau orang-orang yang belum pernah belajar tasawuf namun sudah merasa menjadi sufi dengan kesusahan dan kemiskinannya. Anda menjadi miskin dan susah tidak berarti anda menjadi seorang sufi begitu juga anda menjadi kaya juga tidak berarti anda menjadi sufi Karena kesufian itu terletak di hati. Lanjutan dari tulisan ini akan kami ceritakan tentang tokoh-tokoh sufi yang kehidupannya kaya raya bahkan ada yang sangat kaya yang kekayaannya mengalahkan seorang Raja. Mudah2an tulisan ini bermanfaat hendaknya, salam.
Kamis, 09 Juni 2011
dunia sufi yg misteri (1)
Dunia Sufi Yang Misteri (bagian 1)
Posted on April 28, 2011 by SufiMuda
Ketika anda mendengar kata “sufi” atau orang sufi saya yakin hampir sebagian kita tergambar sebuah kehidupan sederhana di padang pasir yang tandus, ada pohon kurma lengkap dengan ontanya serta tergambar juga dalam pikiran kita seorang yang pakaian sederhana memakai jubah dan surban seperti lazimnya orang Arab. Mungkin tidak semua dari anda berpandangan seperti itu, tapi itulah gambaran umum tentang kaum sufi dan gambaran itulah yang terekam dalam pikiran saya sebelum mengenal dunia sufi dari seorang Wali Allah.
Disampul buku-buku tasawuf juga kita lihat orang berjubah yang hidup sederhana, makanya tidak mengherankan banyak orang alergi dengan tasawuf karena dalam pandangan mereka orang sufi itu adalah jenis manusia zuhud yang tidak memerlukan lagi dunia, mereka hanya memikirkan Tuhan semata. Kritik tajam terhadap kaum sufi adalah mereka egois hanya memikirkan diri sendiri dengan ibadahnya sehingga melupakan hubungan dengan manusia.
Pandangan miring terhadap tasawuf dan dunia sufi itu saya dengar dalam sebuah perbincangan disebuah warung kopi, dimeja sebelah saya 4 mahasiswa IAIN sedang berbincang tentang sufi menurut pandangan mereka dan sangat disayangkan obrolan mereka bukan membahas kebaikan ajaran tasawuf tapi malah membahas hal-hal buruk tentang sufi. “Orang sufi ketika suluk tidak makan daging, dari mana dalilnya itu? Bukankah tindakan seperti itu tandanya tidak mensyukuri nikmat Allah, kenapa melarang sesuatu yang dihalalkan Allah?” demikian seorang mahasiswa memaparkan pandangannya tentang tasawuf. Kemudian yang lain menambahkan, “Saya setuju dengan tasawuf sebagai pelajaran akhlak, tapi saya tidak setuju dengan Tarekat, jumlahnya begitu banyak jadi membingungkan dan terkesan Islam itu terpecah padahal Islam itu kan satu, tidak ada ajaran-jaran khusus sejak zaman dulu dan Nabi dengan sifat amanahnya tidak pernah menyembunyikan ilmu apapun, sementara mereka (kaum sufi) mengatakan memperoleh ilmu laduni, mana ada dalil seperti itu?”. Obrolan yang mirip diskusi itu terus berlanjut membahas hal-hal yang mereka sendiri tidak memahami dengan lengkap dan saya sambil menikmati secangkir kopi hanya senyum-senyum saja. Sebelum meninggalkan warung kopi saya hampiri mereka dan mengatakan, “yang kalian bahas itu tidak ada hubungan sedikitpun dengan tasawuf, persis seperti orang buta membahas tentang Gajah yang tidak pernah dilihatnya. Kalau kalian ingin belajar tasauf jangan hanya membaca tapi carilah guru yang ahli untuk membimbing kalian agar bisa mengamalkan tasawuf dengan benar.” Mereka menatap saya dengan wajah terkejut dan saya segera meninggalkan mereka dengan sejuta tanda tanya. Dalam hati saya berdoa mudah-mudahan Allah membimbing mereka sehingga menemukan Guru Mursyid yang Kamil Mukamil.
Banyak orang membaca tentang tasawuf dan dunia sufi dari orang-orang yang tidak memahami sepenuhnya tentang tasawuf, hanya memahami secara teori dan kemudian pemahaman yang tidak lengkap tersebut dituangkan lagi dalam buku dan dibaca oleh orang awam maka timbul salah persepsi tentang tasawuf. Lebih parah lagi, membaca tentang tasawuf dari orang-orang yang memang anti dengan tasawuf, kelompok-kelompok yang mengambil ilmu dari orientalis yang selalu memojokkan tasawuf. Salah satu ucapan orientalis yang diyakini sebagian besar kaum muslim adalah mereka mengatakan tasawuf itu bukan berasal dari Islam tapi hasil percampuran antara Yahudi, Kristen dan filsafat yunani.
Dalam Islam sendiri ada kelompok yang memang sangat anti dengan tasawuf, saya tidak menyebutkan nama kelompok tersebut dan saya yakin anda mengerti yang saya maksudkan dan kebetulan kelompok tersebut bukan hanya tasawuf yang dianggap sesat tapi hampir seluruh aliran dalam Islam selain dari mereka dianggap sesat.
Kembali ke Sufi, karena seringnya kita membaca buku-buku tentang sufi, cerita sufi, anekdot sufi yang seluruh ceritanya sebagian besar menceritakan dengan latar belakang kehidupan di tanah Arab, dan itu wajar karena cerita-cerita tersebut diambil dari kitab-kitab yang ditulis oleh orang Arab.
Apakah Sufi itu hanya di arab? Dan apakah menjadi sufi itu harus selalu berjubah dengan sekian banyak tambalan, pakaian compang camping, memegang tongkat atau menggembala domba? Kalau menjadi sufi harus seperti itu maka saya yakin orang Indonesia tidak satupun memenuhi Kriteria menjadi seorang sufi .
Tasawuf adalah ajaran moral agar akhlak manusia menjadi lebih baik dan setahap demi setahap melangkah mendekatkan diri kepada Allah sampai benar-benar dekat sehingga tidak ada keraguan lagi yang disembah adalah Allah SWT. Seperti ucapan Abu Yazid ketika ditanya tenang Allah, Beliau berkata, “Tiada keraguan sedikitpun bahwa itu adalah Allah”.
Siapapun yang mengamalkan tasawuf, apakah orang arab, Indonesia, China bahkan orang Eropa sekalipun maka hatinya akan terisi dengan Nur Ilahi, memiliki gairah dalam berzikir mengingat Allah kemudian timbul rasa cinta dan rindu kepada Allah dan Rasul-Nya.
Sufi akan hadir dimana saja, mungkin dia suka nongrong di mall, atau sering duduk di warung kopi, atau sedang bekerja sebagai karyawan yang apapun yang dilakukan selalu tidak melupakan zikir kepada Allah. Bisa jadi teman disebelah anda dalam pesawat, tukang parkir yang sering senyum kepada anda, tukang bengkel yang memperbaiki mobil anda atau juga bahkan seorang penyanyi yang anda kagumi, jangan-jangan mereka adalah sufi yang selama ini anda cari. Tubuh mereka dibungkus oleh pakaian yang sesuai dengan zaman dan tempat mereka berada, namun hati mereka tidak berubah sedikitpun.
Sufi akan terus menjadi misteri sepanjang zaman dan tidak mudah dikenali kecuali oleh sufi itu sendiri. Mereka lebih senang kalau manusia tidak mengenali mereka sebagai sosok sufi yang alim, mereka lebih nyaman tidak diketahui agar terhindar dari sifat sombong dan ria. Mereka melakukan zikir lama-lama atas rasa cinta dan kerinduang kepada Sang Kekasih dan tentu saja tidak dilakukan di dalam mesjid atau tempat terbuka karena memang tujuan mereka beribadah bukan untuk mendapat pujian manusia
Bersambung…
Posted on April 28, 2011 by SufiMuda
Ketika anda mendengar kata “sufi” atau orang sufi saya yakin hampir sebagian kita tergambar sebuah kehidupan sederhana di padang pasir yang tandus, ada pohon kurma lengkap dengan ontanya serta tergambar juga dalam pikiran kita seorang yang pakaian sederhana memakai jubah dan surban seperti lazimnya orang Arab. Mungkin tidak semua dari anda berpandangan seperti itu, tapi itulah gambaran umum tentang kaum sufi dan gambaran itulah yang terekam dalam pikiran saya sebelum mengenal dunia sufi dari seorang Wali Allah.
Disampul buku-buku tasawuf juga kita lihat orang berjubah yang hidup sederhana, makanya tidak mengherankan banyak orang alergi dengan tasawuf karena dalam pandangan mereka orang sufi itu adalah jenis manusia zuhud yang tidak memerlukan lagi dunia, mereka hanya memikirkan Tuhan semata. Kritik tajam terhadap kaum sufi adalah mereka egois hanya memikirkan diri sendiri dengan ibadahnya sehingga melupakan hubungan dengan manusia.
Pandangan miring terhadap tasawuf dan dunia sufi itu saya dengar dalam sebuah perbincangan disebuah warung kopi, dimeja sebelah saya 4 mahasiswa IAIN sedang berbincang tentang sufi menurut pandangan mereka dan sangat disayangkan obrolan mereka bukan membahas kebaikan ajaran tasawuf tapi malah membahas hal-hal buruk tentang sufi. “Orang sufi ketika suluk tidak makan daging, dari mana dalilnya itu? Bukankah tindakan seperti itu tandanya tidak mensyukuri nikmat Allah, kenapa melarang sesuatu yang dihalalkan Allah?” demikian seorang mahasiswa memaparkan pandangannya tentang tasawuf. Kemudian yang lain menambahkan, “Saya setuju dengan tasawuf sebagai pelajaran akhlak, tapi saya tidak setuju dengan Tarekat, jumlahnya begitu banyak jadi membingungkan dan terkesan Islam itu terpecah padahal Islam itu kan satu, tidak ada ajaran-jaran khusus sejak zaman dulu dan Nabi dengan sifat amanahnya tidak pernah menyembunyikan ilmu apapun, sementara mereka (kaum sufi) mengatakan memperoleh ilmu laduni, mana ada dalil seperti itu?”. Obrolan yang mirip diskusi itu terus berlanjut membahas hal-hal yang mereka sendiri tidak memahami dengan lengkap dan saya sambil menikmati secangkir kopi hanya senyum-senyum saja. Sebelum meninggalkan warung kopi saya hampiri mereka dan mengatakan, “yang kalian bahas itu tidak ada hubungan sedikitpun dengan tasawuf, persis seperti orang buta membahas tentang Gajah yang tidak pernah dilihatnya. Kalau kalian ingin belajar tasauf jangan hanya membaca tapi carilah guru yang ahli untuk membimbing kalian agar bisa mengamalkan tasawuf dengan benar.” Mereka menatap saya dengan wajah terkejut dan saya segera meninggalkan mereka dengan sejuta tanda tanya. Dalam hati saya berdoa mudah-mudahan Allah membimbing mereka sehingga menemukan Guru Mursyid yang Kamil Mukamil.
Banyak orang membaca tentang tasawuf dan dunia sufi dari orang-orang yang tidak memahami sepenuhnya tentang tasawuf, hanya memahami secara teori dan kemudian pemahaman yang tidak lengkap tersebut dituangkan lagi dalam buku dan dibaca oleh orang awam maka timbul salah persepsi tentang tasawuf. Lebih parah lagi, membaca tentang tasawuf dari orang-orang yang memang anti dengan tasawuf, kelompok-kelompok yang mengambil ilmu dari orientalis yang selalu memojokkan tasawuf. Salah satu ucapan orientalis yang diyakini sebagian besar kaum muslim adalah mereka mengatakan tasawuf itu bukan berasal dari Islam tapi hasil percampuran antara Yahudi, Kristen dan filsafat yunani.
Dalam Islam sendiri ada kelompok yang memang sangat anti dengan tasawuf, saya tidak menyebutkan nama kelompok tersebut dan saya yakin anda mengerti yang saya maksudkan dan kebetulan kelompok tersebut bukan hanya tasawuf yang dianggap sesat tapi hampir seluruh aliran dalam Islam selain dari mereka dianggap sesat.
Kembali ke Sufi, karena seringnya kita membaca buku-buku tentang sufi, cerita sufi, anekdot sufi yang seluruh ceritanya sebagian besar menceritakan dengan latar belakang kehidupan di tanah Arab, dan itu wajar karena cerita-cerita tersebut diambil dari kitab-kitab yang ditulis oleh orang Arab.
Apakah Sufi itu hanya di arab? Dan apakah menjadi sufi itu harus selalu berjubah dengan sekian banyak tambalan, pakaian compang camping, memegang tongkat atau menggembala domba? Kalau menjadi sufi harus seperti itu maka saya yakin orang Indonesia tidak satupun memenuhi Kriteria menjadi seorang sufi .
Tasawuf adalah ajaran moral agar akhlak manusia menjadi lebih baik dan setahap demi setahap melangkah mendekatkan diri kepada Allah sampai benar-benar dekat sehingga tidak ada keraguan lagi yang disembah adalah Allah SWT. Seperti ucapan Abu Yazid ketika ditanya tenang Allah, Beliau berkata, “Tiada keraguan sedikitpun bahwa itu adalah Allah”.
Siapapun yang mengamalkan tasawuf, apakah orang arab, Indonesia, China bahkan orang Eropa sekalipun maka hatinya akan terisi dengan Nur Ilahi, memiliki gairah dalam berzikir mengingat Allah kemudian timbul rasa cinta dan rindu kepada Allah dan Rasul-Nya.
Sufi akan hadir dimana saja, mungkin dia suka nongrong di mall, atau sering duduk di warung kopi, atau sedang bekerja sebagai karyawan yang apapun yang dilakukan selalu tidak melupakan zikir kepada Allah. Bisa jadi teman disebelah anda dalam pesawat, tukang parkir yang sering senyum kepada anda, tukang bengkel yang memperbaiki mobil anda atau juga bahkan seorang penyanyi yang anda kagumi, jangan-jangan mereka adalah sufi yang selama ini anda cari. Tubuh mereka dibungkus oleh pakaian yang sesuai dengan zaman dan tempat mereka berada, namun hati mereka tidak berubah sedikitpun.
Sufi akan terus menjadi misteri sepanjang zaman dan tidak mudah dikenali kecuali oleh sufi itu sendiri. Mereka lebih senang kalau manusia tidak mengenali mereka sebagai sosok sufi yang alim, mereka lebih nyaman tidak diketahui agar terhindar dari sifat sombong dan ria. Mereka melakukan zikir lama-lama atas rasa cinta dan kerinduang kepada Sang Kekasih dan tentu saja tidak dilakukan di dalam mesjid atau tempat terbuka karena memang tujuan mereka beribadah bukan untuk mendapat pujian manusia
Bersambung…
memerlukan pembimbing(Mursyid)
Siapa Yang Tidak Memerlukan Pembimbing (Mursyid)?
Posted on Agustus 27, 2010 by SufiMuda
Dalam Futhuh al Ghaib, Syekh Abdul Qadir al Jailani menulis syair berikut :
Jika takdir membantumu atau kala menuntunmu
kepada Syekh yang jujur dan ahli hakikat
maka bergurulah dengan rela dan ikutilah kehendaknya
Tinggalkan apa yang sebelumnya engkau lakukan
Sebab menentang berarti melawan
Dalam kisah Khidir yang mulia terdapat cakupan
Dengan membunuh seorang anak dan Musa mendebatnya
Tatkala cahaya subuh telah menyingkap kegelapan malam
Dan seseorang dapat menghunus pedangnya
Maka Musa pun meminta maaf
Demikian keindahan di dalam ilmu kaum sufi
Sebagian kita mungkin sudah sering mendengar tuduhan yang dilontarkan oleh orang-orang yang mengaku paling “islami” bahwa tasawuf adalah ilmu diluar islam, pembuat bid’ah, syirik dan lain sebagainya dan karena yang menyampaikan pendapat ini orang berlatar belakang pendidikan agama yang lumayan (baca: syariat), alumni arab Saudi atau mesir dengan sekian banyak title sehingga masyarakat awam dengan mudah langsung percaya. Sebagian mereka tidak tahu bahwa Arab Saudi bukan lagi menjadi tempat berkumpulkan berbagai macam mazhab akan tetapi telah menjadi corong bagi mazhab tunggal yang baru muncul di abad ke 17 yaitu mazhab wahabi.
Saya tidak membahas tentang tuduhan-tuduhan tersebut dan saya rasa itu tidak ada menfaatnya sama sekali. Kesempatan ini saya ingin menyampaikan informasi akan pentingnya belajar tasawuf/thariqat agar kita bisa merasakan nikmatnya beragama.
Belajar tasawuf ada dua jenis, yaitu secara Teori dan Praktek. Secara teori telah diajarkan di pasantren, IAIN bahkan anda bisa menjadi seorang profesor tasawuf tanpa anda harus mempraktekkan zikir dan dibimbing oleh mursyid. Namanya juga teori tentu yang didapatkan hanya teori saja.
Belajar tasawuf sebenarnya harus mempunyai pembimbing rohani, bukan saja mengajarkan anda tapi juga membimbing anda agar sampai kehadirat-Nya karena inti tasawuf adalah bagaimana seorang bisa berhampiran dengan Allah SWT. Tentang hal ini Abu Ali ats Tsaqafi berkata, “Seandainya seseorang mempelajari semua jenis ilmu dan berguru kepada banyak ulama, maka dia tidak sampai ke tingkat para sufi kecuali dengan melakukan latihan-latihan spiritual bersama seorang Syeikh yang memiliki akhlak yang luhur dan dapat memberinya nasehat-nasehat. Dan barang siapa yang tidak mengambil akhlaknya dari seorang Syeikh yang memerintah dan melarangnya, serta memperlihatkan cacat-cacat dalam amalnya dan penyakit-penyakit dalam jiwanya, maka dia tidak boleh diikuti dalam memperbaiki muamalah”.
Jadi tasawuf adalah ilmu praktek dan tentu saja membutuhkan pembimbing yang ahli dibidangnya, tanpa adanya pembimbing rohani maka segala praktek yang dilakukan sudah pasti akan disesatkan setan. Abu Yazid Al-Bisthami berkata, “Barang siapa yang menuntut ilmu tanpa berguru, maka wajib syetan gurunya.”
Apabila jalan kaum sufi dapat dicapai dengan pemahaman tanpa bimbingan seorang Syekh, niscaya orang seperti Imam Al-Ghazali dan Syekh Izzuddin ibn Abdussalam tidak perlu berguru kepada seorang Syekh. Sebelum memasuki dunia tasawuf, keduanya pernah berkata, “Setiap orang yang mengatakan bahwa adalah jalan memperoleh ilmu selain apa yang ada pada kami, maka dia telah berbuat kebohongan kepada Allah.”. Zaman sekarang kita juga sering mendengar pendapat seperti itu, tidak mengakui ilmu selain yang mereka pelajari (syariat) dan menganggap orang-orang yang mempunyai kemampuan bathin, ilmu laduni dan lain sebagainya sebagai pembohong.
Akan tetapi, setelah Imam Al-Ghazali dan Syekh Izzuddin ibn Abdussalam yang tadinya hanya belajar syariat kemudian memasuki dunia tasawuf keduanya berkata, “Sungguh kami telah menyia-nyiakan umur kami dalam kesia-siaan dan hijab (tabir penghalang antara hamba dan Tuhan).”
Orang yang bisa menemukan kebenaran bukanlah orang yang banyak membaca buku karena terkadang semakin banyak yang dipelajari justru tanpa sadar menjadi Hijab antara kita dengan Allah. Hanya kerendahan hati dan sikap mau belajar dan mencari yang menyebabkan seseorang menemukan Allah SWT, sebagai mana ucapan rendah hati Musa kepada Khidir, “Bolehkah aku mengikutimu, agar engkau mengajarkan kepadaku ilmu yang benar diantara ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu?” (QS. Al Kahfi, 66). Juga pengakuan Ahmad ibn Hanbal bahwa Abu Hamzah al Baghdadi lebih utama darinya dan pengakuan Ahmad ibn Suraij bahwa Abu Qasim Junaid lebih utama darinya.
Imam al-Ghazali juag mencari seorang Syekh yang menunjukkannya ke jalan tasawuf, padahal ia adalah Hujjatul Islam. Begitu juga, Syekh Izzuddin ibn Abdussalam berkata, “Aku tidak mengetahui Islam sempurna kecuali setelah aku bergabung dengan Syekh Abu Hasan Asy Syadzili”. Abdul Wahab Asy Sya’rani berkata, “Apabila kedua ulama besar ini, yakni al-Ghazali dan Syekh Izzuddin ibn Abdussalam, padahal keduanya adalah orang yang memiliki ilmu pengetahuan luas tentang syariat, maka orang selain mereka lebih membutuhkan lagi.”
Dalam hal ini al Qur’an memberikan petunjuk kepada kita semua untuk mencari orang-orang yang telah di beri petunjuk oleh Allah SWT sebagaimana firman Allah: “Sebenarnya al Qur’an itu adalah ayat-ayat nyata di dalam dada orang-orang yang diberi ilmu” (QS. Al ankabut : 49). “Dan ikutilah jalan orang yang telah kembali kepada-Ku” (QS. Lukman: 15) dan firman-Nya, “Wahai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah kalian bersama orang-orang yang benar”. (QS. Taubah: 119). Diperkuat oleh hadist, “Jadilah kamu bersama Allah, apabila tidak bersama Allah jadilah kalian bersama orang yang sudah bersama Allah, maka sesungguhnya orang itu bisa membawamu kepada Allah” (HR. Abu Daud).
Dengan demikian, memiliki seorang pembimbing (mursyid) adalah suatu keharusan. Para sahabat sendiri mengambil ilmu dan amalan mereka dari Rasulullah SAW. Rasulullah SAW mengambil ilmu dan amalannya dari Jibril. Dan para tabi’in mengambil ilmu dan amalan dari para sahabat.
Setiap sahabat mempunyai para pengikut yang khusus. Ibnu Sirin, Ibnu Musayyab dan al A’raj, misalnya, adalah pengikut Abu Hurairah. Sementara Thawus, Wahhab dan Mujahid, adalah pengikut Ibnu Abas. Demikian seterusnya. Pengambilan ilmu dan amalan ini sangat jelas, sebagaimana disebutkan dalam riwayat-riwayat mereka.
Maka tidak ada alasan bagi kita untuk tidak segera mencari Guru Pembimbing yang siap menuntun dan membimbing kita mencapai kebenaran hakiki. Carilah Guru yang benar-benar kamil mukamil, khalis mukhlisin sehingga dia bukan hanya berbicara tentang teori ketuhanan akan tetapi dengan keikhlasannya mampu membimbing anda kehadirat Allah SWT. Kalau anda bertanya siapakah Guru Mursyid yang kamil mukamil tersebut, saya tidak bisa menjawab karena kawatir jawaban saya akan menyinggung perasaan yang lain. Bagi setiap pengamal tasawuf mereka meyakini Guru mereka memiliki kemampuan untuk membimbing mereka dan tidak terkecuali Guru saya.
Abu Athailah As Sakandari dalam Latha’if al Minan, berkata, “Engkau tidak akan kekurangan mursyid yang dapat menunjukkanmu ke jalan Allah. Tapi yang sulit bagimu adalah mewujudkan kesungguhan dalam mencari mereka”.
Seorang penyair sufi berkata :
Rahasia Allah didapat dengan pencarian yang benar
Betapa banyak hal menakjubkan yang telah diperlihatkan kepada para pelakunya.
Ali al Khawas berkata dalam syairnya,
Jangan menempuh jalan yang tidak engkau kenal tanpa penunjuk jalan,
Sehingga engkau terjerumus dalam jurang-jurangnya.
Penunjuk jalan (Mursyid) akan dapat mengantarkan salik sampai ke pantai yang aman dan menjauhkan dari gangguan-gangguan selama di perjalanan. Sebab, penunjuk jalan (mursyid) sebelumnya telah melewati jalan itu dibawah bimbingan seseorang (mursyid sebelumnya) yang telah mengetahui seluk beluk jalan tersebut, mengetahui tempat-tempat berbahaya dan tempat-tempat yang aman dan terus menemaninya sampai akhirnya dia sampai di tempat yang dituju. Kemudian orang tersebut memberikan izin untuk membimbing orang lain.
Menutup tulisan ini saya mengutip Syair dari Ibnu Al-Banna yang menjelaskan tentang kedudukan kaum sufi yang telah melakukan perjalanan menuju Allah dan setelah sampai disana mememberikan kabar kepada orang lain untuk menuju kesana dengan selamat.
Kaum sufi tidak lain sedang melakukan perjalanan
Ke hadirat Tuhan Yang Maha Benar
Maka mereka membutuhkan penunjuk jalan
Yang benar-benar mengenal seluk beluk jalan itu
Dia telah melalui jalan itu, lalu dia kembali
Untuk mengabarkan apa yang telah didapat.
*****************************************
Posted on Agustus 27, 2010 by SufiMuda
Dalam Futhuh al Ghaib, Syekh Abdul Qadir al Jailani menulis syair berikut :
Jika takdir membantumu atau kala menuntunmu
kepada Syekh yang jujur dan ahli hakikat
maka bergurulah dengan rela dan ikutilah kehendaknya
Tinggalkan apa yang sebelumnya engkau lakukan
Sebab menentang berarti melawan
Dalam kisah Khidir yang mulia terdapat cakupan
Dengan membunuh seorang anak dan Musa mendebatnya
Tatkala cahaya subuh telah menyingkap kegelapan malam
Dan seseorang dapat menghunus pedangnya
Maka Musa pun meminta maaf
Demikian keindahan di dalam ilmu kaum sufi
Sebagian kita mungkin sudah sering mendengar tuduhan yang dilontarkan oleh orang-orang yang mengaku paling “islami” bahwa tasawuf adalah ilmu diluar islam, pembuat bid’ah, syirik dan lain sebagainya dan karena yang menyampaikan pendapat ini orang berlatar belakang pendidikan agama yang lumayan (baca: syariat), alumni arab Saudi atau mesir dengan sekian banyak title sehingga masyarakat awam dengan mudah langsung percaya. Sebagian mereka tidak tahu bahwa Arab Saudi bukan lagi menjadi tempat berkumpulkan berbagai macam mazhab akan tetapi telah menjadi corong bagi mazhab tunggal yang baru muncul di abad ke 17 yaitu mazhab wahabi.
Saya tidak membahas tentang tuduhan-tuduhan tersebut dan saya rasa itu tidak ada menfaatnya sama sekali. Kesempatan ini saya ingin menyampaikan informasi akan pentingnya belajar tasawuf/thariqat agar kita bisa merasakan nikmatnya beragama.
Belajar tasawuf ada dua jenis, yaitu secara Teori dan Praktek. Secara teori telah diajarkan di pasantren, IAIN bahkan anda bisa menjadi seorang profesor tasawuf tanpa anda harus mempraktekkan zikir dan dibimbing oleh mursyid. Namanya juga teori tentu yang didapatkan hanya teori saja.
Belajar tasawuf sebenarnya harus mempunyai pembimbing rohani, bukan saja mengajarkan anda tapi juga membimbing anda agar sampai kehadirat-Nya karena inti tasawuf adalah bagaimana seorang bisa berhampiran dengan Allah SWT. Tentang hal ini Abu Ali ats Tsaqafi berkata, “Seandainya seseorang mempelajari semua jenis ilmu dan berguru kepada banyak ulama, maka dia tidak sampai ke tingkat para sufi kecuali dengan melakukan latihan-latihan spiritual bersama seorang Syeikh yang memiliki akhlak yang luhur dan dapat memberinya nasehat-nasehat. Dan barang siapa yang tidak mengambil akhlaknya dari seorang Syeikh yang memerintah dan melarangnya, serta memperlihatkan cacat-cacat dalam amalnya dan penyakit-penyakit dalam jiwanya, maka dia tidak boleh diikuti dalam memperbaiki muamalah”.
Jadi tasawuf adalah ilmu praktek dan tentu saja membutuhkan pembimbing yang ahli dibidangnya, tanpa adanya pembimbing rohani maka segala praktek yang dilakukan sudah pasti akan disesatkan setan. Abu Yazid Al-Bisthami berkata, “Barang siapa yang menuntut ilmu tanpa berguru, maka wajib syetan gurunya.”
Apabila jalan kaum sufi dapat dicapai dengan pemahaman tanpa bimbingan seorang Syekh, niscaya orang seperti Imam Al-Ghazali dan Syekh Izzuddin ibn Abdussalam tidak perlu berguru kepada seorang Syekh. Sebelum memasuki dunia tasawuf, keduanya pernah berkata, “Setiap orang yang mengatakan bahwa adalah jalan memperoleh ilmu selain apa yang ada pada kami, maka dia telah berbuat kebohongan kepada Allah.”. Zaman sekarang kita juga sering mendengar pendapat seperti itu, tidak mengakui ilmu selain yang mereka pelajari (syariat) dan menganggap orang-orang yang mempunyai kemampuan bathin, ilmu laduni dan lain sebagainya sebagai pembohong.
Akan tetapi, setelah Imam Al-Ghazali dan Syekh Izzuddin ibn Abdussalam yang tadinya hanya belajar syariat kemudian memasuki dunia tasawuf keduanya berkata, “Sungguh kami telah menyia-nyiakan umur kami dalam kesia-siaan dan hijab (tabir penghalang antara hamba dan Tuhan).”
Orang yang bisa menemukan kebenaran bukanlah orang yang banyak membaca buku karena terkadang semakin banyak yang dipelajari justru tanpa sadar menjadi Hijab antara kita dengan Allah. Hanya kerendahan hati dan sikap mau belajar dan mencari yang menyebabkan seseorang menemukan Allah SWT, sebagai mana ucapan rendah hati Musa kepada Khidir, “Bolehkah aku mengikutimu, agar engkau mengajarkan kepadaku ilmu yang benar diantara ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu?” (QS. Al Kahfi, 66). Juga pengakuan Ahmad ibn Hanbal bahwa Abu Hamzah al Baghdadi lebih utama darinya dan pengakuan Ahmad ibn Suraij bahwa Abu Qasim Junaid lebih utama darinya.
Imam al-Ghazali juag mencari seorang Syekh yang menunjukkannya ke jalan tasawuf, padahal ia adalah Hujjatul Islam. Begitu juga, Syekh Izzuddin ibn Abdussalam berkata, “Aku tidak mengetahui Islam sempurna kecuali setelah aku bergabung dengan Syekh Abu Hasan Asy Syadzili”. Abdul Wahab Asy Sya’rani berkata, “Apabila kedua ulama besar ini, yakni al-Ghazali dan Syekh Izzuddin ibn Abdussalam, padahal keduanya adalah orang yang memiliki ilmu pengetahuan luas tentang syariat, maka orang selain mereka lebih membutuhkan lagi.”
Dalam hal ini al Qur’an memberikan petunjuk kepada kita semua untuk mencari orang-orang yang telah di beri petunjuk oleh Allah SWT sebagaimana firman Allah: “Sebenarnya al Qur’an itu adalah ayat-ayat nyata di dalam dada orang-orang yang diberi ilmu” (QS. Al ankabut : 49). “Dan ikutilah jalan orang yang telah kembali kepada-Ku” (QS. Lukman: 15) dan firman-Nya, “Wahai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah kalian bersama orang-orang yang benar”. (QS. Taubah: 119). Diperkuat oleh hadist, “Jadilah kamu bersama Allah, apabila tidak bersama Allah jadilah kalian bersama orang yang sudah bersama Allah, maka sesungguhnya orang itu bisa membawamu kepada Allah” (HR. Abu Daud).
Dengan demikian, memiliki seorang pembimbing (mursyid) adalah suatu keharusan. Para sahabat sendiri mengambil ilmu dan amalan mereka dari Rasulullah SAW. Rasulullah SAW mengambil ilmu dan amalannya dari Jibril. Dan para tabi’in mengambil ilmu dan amalan dari para sahabat.
Setiap sahabat mempunyai para pengikut yang khusus. Ibnu Sirin, Ibnu Musayyab dan al A’raj, misalnya, adalah pengikut Abu Hurairah. Sementara Thawus, Wahhab dan Mujahid, adalah pengikut Ibnu Abas. Demikian seterusnya. Pengambilan ilmu dan amalan ini sangat jelas, sebagaimana disebutkan dalam riwayat-riwayat mereka.
Maka tidak ada alasan bagi kita untuk tidak segera mencari Guru Pembimbing yang siap menuntun dan membimbing kita mencapai kebenaran hakiki. Carilah Guru yang benar-benar kamil mukamil, khalis mukhlisin sehingga dia bukan hanya berbicara tentang teori ketuhanan akan tetapi dengan keikhlasannya mampu membimbing anda kehadirat Allah SWT. Kalau anda bertanya siapakah Guru Mursyid yang kamil mukamil tersebut, saya tidak bisa menjawab karena kawatir jawaban saya akan menyinggung perasaan yang lain. Bagi setiap pengamal tasawuf mereka meyakini Guru mereka memiliki kemampuan untuk membimbing mereka dan tidak terkecuali Guru saya.
Abu Athailah As Sakandari dalam Latha’if al Minan, berkata, “Engkau tidak akan kekurangan mursyid yang dapat menunjukkanmu ke jalan Allah. Tapi yang sulit bagimu adalah mewujudkan kesungguhan dalam mencari mereka”.
Seorang penyair sufi berkata :
Rahasia Allah didapat dengan pencarian yang benar
Betapa banyak hal menakjubkan yang telah diperlihatkan kepada para pelakunya.
Ali al Khawas berkata dalam syairnya,
Jangan menempuh jalan yang tidak engkau kenal tanpa penunjuk jalan,
Sehingga engkau terjerumus dalam jurang-jurangnya.
Penunjuk jalan (Mursyid) akan dapat mengantarkan salik sampai ke pantai yang aman dan menjauhkan dari gangguan-gangguan selama di perjalanan. Sebab, penunjuk jalan (mursyid) sebelumnya telah melewati jalan itu dibawah bimbingan seseorang (mursyid sebelumnya) yang telah mengetahui seluk beluk jalan tersebut, mengetahui tempat-tempat berbahaya dan tempat-tempat yang aman dan terus menemaninya sampai akhirnya dia sampai di tempat yang dituju. Kemudian orang tersebut memberikan izin untuk membimbing orang lain.
Menutup tulisan ini saya mengutip Syair dari Ibnu Al-Banna yang menjelaskan tentang kedudukan kaum sufi yang telah melakukan perjalanan menuju Allah dan setelah sampai disana mememberikan kabar kepada orang lain untuk menuju kesana dengan selamat.
Kaum sufi tidak lain sedang melakukan perjalanan
Ke hadirat Tuhan Yang Maha Benar
Maka mereka membutuhkan penunjuk jalan
Yang benar-benar mengenal seluk beluk jalan itu
Dia telah melalui jalan itu, lalu dia kembali
Untuk mengabarkan apa yang telah didapat.
*****************************************
Senin, 30 Mei 2011
Muhammad I Al-Mahdi..pemimpin di tengah kemelut
Sejarah Para Khalifah: Muhammad II Al-Mahdi, Pemimpin di Tengah Kemelut
Senin, 30 Mei 2011 11:30 WIB
REPUBLIKA.CO.ID, Pemimpin memegang peran penting bagi sebuah rezim. Ia bisa menjadi penyebab maju dan runtuhnya kekuasaan. Walau bukan khalifah, namun Muhammad bin Abu Amir yang dikenal dengan Mulk Al-Manshur merupakan tokoh sentral Daulah Umayyah di Andalusia.
Hanya tujuh tahun setelah tokoh ini wafat, masa keemasan Islam di Andalusia terus memudar. Bahkan menjadi pangkal kemelut yang berujung pada keruntuhan kerajaan ini. Selama 29 tahun sejak wafatnya Mulk Al-Manshur, pemerintahan Bani Umayyah mengalami kemelut berkepanjangan. Khalifah datang dan pergi silih berganti, diwarnai pula dengan kekerasan dan ambisi.
Ketika Mulk Al-Manshur meninggal dunia, posisinya segera digantikan oleh putranya, Abdul Malik bin Muhammad bin Abu Amir dengan gelar Mulk Al-Muzhafir. Kedudukannya dikukuhkan oleh Khalifah Hisyam II.
Seperti ayahnya, ia adalah seorang negarawan yang cakap dan ahli strategi militer. Ia menjalankan kebijakan sang ayah sebelumnya. Selama tujuh tahun berkuasa, pihak Kristen di bagian utara Spanyol tidak bisa berbuat apa-apa. Masa pemerintahannya itu dkenal dengan As-Sabi'.
Ketika Mulk Al-Muzhafir meninggal pada 399 H, kedudukannya digantikan oleh saudaranya, Abdurrahman bin Muhammad bin Abu Amir. Ia dikenal dengan An-Nashir Lidinillah. Kedudukannya pun dikukuhkan oleh Khalifah Hisyam II.
Pemimpin baru ini berbeda dengan ayah dan saudaranya. Dalam waktu singkat, ia justru meminta pengukuhan dirinya sebagai khalifah pengganti Hisyam II. Ironisnya, permintaan ini disetujui oleh Khalifah Hisyam II. Akibatnya, muncul kemarahan dan dendam di kalangan keluarga Umayyah sendiri.
Pada 399 H, Mulk An-Nashir berangkat dengan pasukan besarnya untuk mengamankan wilayah Galicia di bagian utara Spanyol. Sepeninggalnya, para pemuka Bani Umayyah memecat Hisyam II dan mengangkat Muhammad bin Hisyam bin Abdul Jabbar bin Abdurrahman III sebagai khalifah dengan gelar Khalifah Muhammad II Al-Mahdi.
Mantan Khalifah Hisyam II yang diberhentikan sempat melarikan diri dari Cordoba. Ada yang menyebutkan ia melarikan diri ke pelabuhan Malaga dan menetap di sana beberapa lama. Ketika mendengar pergantian itu, Mulk An-Nashir yang sedang berada di Galicia segera kembali menuju Cordoba. Ketika itu terjadi pengepungan. Tanpa diduga olehnya, ia pun dibunuh dalam peristiwa itu.
Khalifah Muhammad II Al-Mahdi ternyata mengabaikan unsur Barbar yang menguasai lembaga ketentaraan. Bahkan ia melakukan tekanan-tekanan yang membangkitkan kemarahan mereka.
Tindakah Khalifah Al-Mahdi itu tidak dapat diterima oleh pihak Barbar. Mereka berinisiatif untuk mengangkat Hisyam bin Sulaiman bin Hakam II bin Abdurrahman III untuk menggantikan Khalifah Al-Mahdi.
Hal itu membangkitkan kemarahan Khalifah Al-Mahdi. Para pembesar Barbar banyak yang melarikan diri. Bahkan Khalifah Al-Mahdi sempat menangkap Hisyam bin Sulaiman dan saudaranya, Abu Bakar bin Sulaiman, lalu menjatuhkan hukuman mati.
Seorang keponakannya, Sulaiman bin Hakam bin Sulaiman sempat melarikan diri bersama pasukan Barbar. Oleh pihak Barbar, ia diresmikan sebagai khalifah dengan panggilan Khalifah Sulaiman Al-Mustain sebagai pemimpin Bani Umayyah di Andalusia yang ke-12.
Dengan pasukan besarnya, Khalifah Al-Mahdi mengepung kota Az-Zahra. Pertempuran sengit pun pecah. Pasukan Khalifah Al-Mustain terpaksa mengundurkan diri ke arah selatan menuju Algeciras dan bertahan di tempat itu. Di tempat ini pula kembali terjadi pertempuran. Pasukan Al-Mahdi porak-poranda dan terpaksa melarikan diri ke arah utara. Ia dikejar oleh pasukan Khalifah Al-Mustain.
Penduduk Cordoba yang mendengar berita itu merasa khawatir. Dengan segera mereka membuka pintu-pintu Cordoba untuk menyambut kedatangan Khalifah Al-Mustain. Dengan demikian, resmilah dirinya menjadi Khalifah Bani Umayyah ke-5 atau pemimpin ke-12.
Redaktur: cr01
Sumber: Sejarah Para Khalifah karya Hepi Andi Bastoni
Senin, 30 Mei 2011 11:30 WIB
REPUBLIKA.CO.ID, Pemimpin memegang peran penting bagi sebuah rezim. Ia bisa menjadi penyebab maju dan runtuhnya kekuasaan. Walau bukan khalifah, namun Muhammad bin Abu Amir yang dikenal dengan Mulk Al-Manshur merupakan tokoh sentral Daulah Umayyah di Andalusia.
Hanya tujuh tahun setelah tokoh ini wafat, masa keemasan Islam di Andalusia terus memudar. Bahkan menjadi pangkal kemelut yang berujung pada keruntuhan kerajaan ini. Selama 29 tahun sejak wafatnya Mulk Al-Manshur, pemerintahan Bani Umayyah mengalami kemelut berkepanjangan. Khalifah datang dan pergi silih berganti, diwarnai pula dengan kekerasan dan ambisi.
Ketika Mulk Al-Manshur meninggal dunia, posisinya segera digantikan oleh putranya, Abdul Malik bin Muhammad bin Abu Amir dengan gelar Mulk Al-Muzhafir. Kedudukannya dikukuhkan oleh Khalifah Hisyam II.
Seperti ayahnya, ia adalah seorang negarawan yang cakap dan ahli strategi militer. Ia menjalankan kebijakan sang ayah sebelumnya. Selama tujuh tahun berkuasa, pihak Kristen di bagian utara Spanyol tidak bisa berbuat apa-apa. Masa pemerintahannya itu dkenal dengan As-Sabi'.
Ketika Mulk Al-Muzhafir meninggal pada 399 H, kedudukannya digantikan oleh saudaranya, Abdurrahman bin Muhammad bin Abu Amir. Ia dikenal dengan An-Nashir Lidinillah. Kedudukannya pun dikukuhkan oleh Khalifah Hisyam II.
Pemimpin baru ini berbeda dengan ayah dan saudaranya. Dalam waktu singkat, ia justru meminta pengukuhan dirinya sebagai khalifah pengganti Hisyam II. Ironisnya, permintaan ini disetujui oleh Khalifah Hisyam II. Akibatnya, muncul kemarahan dan dendam di kalangan keluarga Umayyah sendiri.
Pada 399 H, Mulk An-Nashir berangkat dengan pasukan besarnya untuk mengamankan wilayah Galicia di bagian utara Spanyol. Sepeninggalnya, para pemuka Bani Umayyah memecat Hisyam II dan mengangkat Muhammad bin Hisyam bin Abdul Jabbar bin Abdurrahman III sebagai khalifah dengan gelar Khalifah Muhammad II Al-Mahdi.
Mantan Khalifah Hisyam II yang diberhentikan sempat melarikan diri dari Cordoba. Ada yang menyebutkan ia melarikan diri ke pelabuhan Malaga dan menetap di sana beberapa lama. Ketika mendengar pergantian itu, Mulk An-Nashir yang sedang berada di Galicia segera kembali menuju Cordoba. Ketika itu terjadi pengepungan. Tanpa diduga olehnya, ia pun dibunuh dalam peristiwa itu.
Khalifah Muhammad II Al-Mahdi ternyata mengabaikan unsur Barbar yang menguasai lembaga ketentaraan. Bahkan ia melakukan tekanan-tekanan yang membangkitkan kemarahan mereka.
Tindakah Khalifah Al-Mahdi itu tidak dapat diterima oleh pihak Barbar. Mereka berinisiatif untuk mengangkat Hisyam bin Sulaiman bin Hakam II bin Abdurrahman III untuk menggantikan Khalifah Al-Mahdi.
Hal itu membangkitkan kemarahan Khalifah Al-Mahdi. Para pembesar Barbar banyak yang melarikan diri. Bahkan Khalifah Al-Mahdi sempat menangkap Hisyam bin Sulaiman dan saudaranya, Abu Bakar bin Sulaiman, lalu menjatuhkan hukuman mati.
Seorang keponakannya, Sulaiman bin Hakam bin Sulaiman sempat melarikan diri bersama pasukan Barbar. Oleh pihak Barbar, ia diresmikan sebagai khalifah dengan panggilan Khalifah Sulaiman Al-Mustain sebagai pemimpin Bani Umayyah di Andalusia yang ke-12.
Dengan pasukan besarnya, Khalifah Al-Mahdi mengepung kota Az-Zahra. Pertempuran sengit pun pecah. Pasukan Khalifah Al-Mustain terpaksa mengundurkan diri ke arah selatan menuju Algeciras dan bertahan di tempat itu. Di tempat ini pula kembali terjadi pertempuran. Pasukan Al-Mahdi porak-poranda dan terpaksa melarikan diri ke arah utara. Ia dikejar oleh pasukan Khalifah Al-Mustain.
Penduduk Cordoba yang mendengar berita itu merasa khawatir. Dengan segera mereka membuka pintu-pintu Cordoba untuk menyambut kedatangan Khalifah Al-Mustain. Dengan demikian, resmilah dirinya menjadi Khalifah Bani Umayyah ke-5 atau pemimpin ke-12.
Redaktur: cr01
Sumber: Sejarah Para Khalifah karya Hepi Andi Bastoni
Hisyam II Di bawah pemangku Kuasa
Sejarah Para Khalifah: Hisyam II, Di Bawah Pemangku Kuasa
Minggu, 29 Mei 2011 09:46 WIB
REPUBLIKA.CO.ID, Setelah Khalifah Hakam II wfat, diangkatlah putranya, Hisyam II yang kala itu masih berusia 10 tahun untuk menjadi khalifah. Ia menggantikan ayahnya sebagai pemimpin Bani Umayyah di Andalusia yang ke-10. Atau jika dihitung secara kekhalifahan resmi, ada yang menyebutnya sebagai khalifah ke-3.
Karena Hisyam II masih sangat muda, maka urusan pemerintahan dikendalikan oleh Mursyih Al-Amri (pemangku kuasa), yaitu Mughirah bin Abddurahman—saudara Hakam II. Namun tokoh ini tak lama memegang kendali. Ia dibunuh oleh komplotan Ja'far bin Utsman yang sejak pemerintahan Khalifah Hakam II memangku jabatan Al-Hajib.
Jabatan Al-Hajib dalam ketatanegaraan Bani Umayyah kala itu adalah orang yang bertanggung jawab terhadap Rumah Tangga Istana. Dalam kehidupan istana Raja Inggris kita mengenal istilah Chamberlain. Karena khalifah adalah pemegang kekuasaan tertinggi, maka ia harus berhubungan erat dengan para pejabat Al-Hajib. Di sisi lain, para pejabat Al-Hajib ini pun sangat menentukan beberapa kebijakan penting istana.
Pembunuhan atas Mughirah itu menyebabkan terjadinya perebutan kekuasaan. Peristiwa ini merupakan noda hitam pertama dalam lembaran sejarah Bani Umayyah di Andalusia. Bagi Daulah Abbasiyah di Baghdad, peristiwa seperti itu mulai muncul sejak pembunuhan Khalifah Al-Mutawakkil. Setelah itu terjadi pertumpahan darah dalam merebut dan mempertahankan kekuasaan. Umumnya, yang memegang peranan penting dalam peristiwa seperti ini adalah mereka yang dikenal dengan sultan atau pemegang kuasa. Sultan inilah yang biasanya mengendalikan khalifah.
Al-Wazir Muhammad bin Abu Amir yang menjabat sebagai pelaksana kekuasaan pada masa Khalifah Hakam II, segera bertindak mengambil-alih seluruh kekuasaan, termasuk jabatan Al-Hajib. Dialah yang menjabat Mursyih Al-Amri, pengganti Mughiran bin Abdurrahman.
Tokoh besar inilah yang selanjutnya berperan penting dalam memulihkan kondisi Bani Umayyah di Andalusia. Namanya pun disebut-sebut banyak orang. Belakangan ia menyebut dirinya Al-Mulk (raja); Al-Mulk Al-Manshur. Sejak itulah istilah Al-Mulk dikenal dalam lintasan sejarah Islam. Ketika beranjak dewasa, Khalifah Hisyam II mengukuhkan jabatan itu. Sehingga kekuasaan khalifah pun amat terbatas. Ia nyaris menjadi "tukang khutbah" dan "tukang stempel".
Dengan demikian, lahirlah generasi baru yang kendalinya melebihi wewenang khalifah. Jika di masa pemerintahan Bani Abbasiyah di Baghdad ada istilah sultan, maka di masa Daulah Umayyah di Andalusia, penguasa baru ini dikenal dengan Al-Mulk.
Masa kekuasaan Al-Mulk Al-Manshur berlangsung cukup lama. Ia memerintah selama 27 tahun. Dalam rentang masa itu, ia mengukir prestasi baik. Ia berhasil menciptakan kemakmuran bagi rakyat dengan mengembangkan bidang pertanian, perdagangan, dan dunia usaha. Ia juga berhasil melebarkan sayap kekuasaannya keluar.
Hal penting yang dicatat sejarah adalah perkembangan di bidang ilmu pengetahuan dan perpustakaan. Ia sangat gemar mengumpulkan karya-karya ilmiah dari berbagai negeri. Hal ini merupakan kegemaran Khalifah Hakam II sebelumnya.
Ia juga memberikan penghargaan yang baik kepada para sarjana dan ilmuwan. Hal ini bisa dimaklumi, sebab sebelumnya ia adalah seorang ahli hukum yang menjabat sebagai hakim agung.
Kebijakan Al-Mulk Al-Manshur lainnya yang dicatat sejarah adalah tindakannya memberikan fasilitas bagi suku-suku Barbar dalam lembaga ketentaraan untuk menggantikan unsur-unsur Arab. Ia mengundang Bani Zenata dan Bani Adawa dari Afrika Barat untuk membentuk ketentaraan di Andalusia. Ia juga memberikan jabatan-jabatan tinggi pada tokoh-tokoh Barbar tersebut.
Ia juga membentuk lembaga tinggi kepolisian negara yang dikenal dengan Al-Urafak. Kota satelit Az-Zuhra yang dibangun Khalifah Hakam II di luar Cordoba dengan bangunan-bangunan mengagumkan, diperluas oleh Al-Mulk Al-Manshur. Ia memindahkan pusat pemerintahan ke tempat itu.
Ketika terjadi penyerangan dari pihak Count of Castile Don Garcia Fernandez, Muhammad bin Abu Amir melakukan serangan balasan. Pertempuran panjang yang dikenal dengan Pertempuran Musim Panas pun berlangsung. Pada peperangan ini, pihak Cordoba meraih kemenangan.
Meski menang, bukan berarti pihak musuh menghentikan perlawanan. Hampir setiap tahun terus terjadi serangan. Kembali dari sebuah peperangan, pasukan Al-Mulk dihadang musuh di suatu tempat bernama Calatanazar. Ia gugur dalam peperangan itu, dan dimakamkan di sebuah kota bernama Salima. Al-Muk Al-Manshur wafat pada usia 65 tahun. Sepeninggalnya terjadi kemelut.
Redaktur: cr01
Sumber: Sejarah Para Khalifah karya Hepi Andi Bastoni
Minggu, 29 Mei 2011 09:46 WIB
REPUBLIKA.CO.ID, Setelah Khalifah Hakam II wfat, diangkatlah putranya, Hisyam II yang kala itu masih berusia 10 tahun untuk menjadi khalifah. Ia menggantikan ayahnya sebagai pemimpin Bani Umayyah di Andalusia yang ke-10. Atau jika dihitung secara kekhalifahan resmi, ada yang menyebutnya sebagai khalifah ke-3.
Karena Hisyam II masih sangat muda, maka urusan pemerintahan dikendalikan oleh Mursyih Al-Amri (pemangku kuasa), yaitu Mughirah bin Abddurahman—saudara Hakam II. Namun tokoh ini tak lama memegang kendali. Ia dibunuh oleh komplotan Ja'far bin Utsman yang sejak pemerintahan Khalifah Hakam II memangku jabatan Al-Hajib.
Jabatan Al-Hajib dalam ketatanegaraan Bani Umayyah kala itu adalah orang yang bertanggung jawab terhadap Rumah Tangga Istana. Dalam kehidupan istana Raja Inggris kita mengenal istilah Chamberlain. Karena khalifah adalah pemegang kekuasaan tertinggi, maka ia harus berhubungan erat dengan para pejabat Al-Hajib. Di sisi lain, para pejabat Al-Hajib ini pun sangat menentukan beberapa kebijakan penting istana.
Pembunuhan atas Mughirah itu menyebabkan terjadinya perebutan kekuasaan. Peristiwa ini merupakan noda hitam pertama dalam lembaran sejarah Bani Umayyah di Andalusia. Bagi Daulah Abbasiyah di Baghdad, peristiwa seperti itu mulai muncul sejak pembunuhan Khalifah Al-Mutawakkil. Setelah itu terjadi pertumpahan darah dalam merebut dan mempertahankan kekuasaan. Umumnya, yang memegang peranan penting dalam peristiwa seperti ini adalah mereka yang dikenal dengan sultan atau pemegang kuasa. Sultan inilah yang biasanya mengendalikan khalifah.
Al-Wazir Muhammad bin Abu Amir yang menjabat sebagai pelaksana kekuasaan pada masa Khalifah Hakam II, segera bertindak mengambil-alih seluruh kekuasaan, termasuk jabatan Al-Hajib. Dialah yang menjabat Mursyih Al-Amri, pengganti Mughiran bin Abdurrahman.
Tokoh besar inilah yang selanjutnya berperan penting dalam memulihkan kondisi Bani Umayyah di Andalusia. Namanya pun disebut-sebut banyak orang. Belakangan ia menyebut dirinya Al-Mulk (raja); Al-Mulk Al-Manshur. Sejak itulah istilah Al-Mulk dikenal dalam lintasan sejarah Islam. Ketika beranjak dewasa, Khalifah Hisyam II mengukuhkan jabatan itu. Sehingga kekuasaan khalifah pun amat terbatas. Ia nyaris menjadi "tukang khutbah" dan "tukang stempel".
Dengan demikian, lahirlah generasi baru yang kendalinya melebihi wewenang khalifah. Jika di masa pemerintahan Bani Abbasiyah di Baghdad ada istilah sultan, maka di masa Daulah Umayyah di Andalusia, penguasa baru ini dikenal dengan Al-Mulk.
Masa kekuasaan Al-Mulk Al-Manshur berlangsung cukup lama. Ia memerintah selama 27 tahun. Dalam rentang masa itu, ia mengukir prestasi baik. Ia berhasil menciptakan kemakmuran bagi rakyat dengan mengembangkan bidang pertanian, perdagangan, dan dunia usaha. Ia juga berhasil melebarkan sayap kekuasaannya keluar.
Hal penting yang dicatat sejarah adalah perkembangan di bidang ilmu pengetahuan dan perpustakaan. Ia sangat gemar mengumpulkan karya-karya ilmiah dari berbagai negeri. Hal ini merupakan kegemaran Khalifah Hakam II sebelumnya.
Ia juga memberikan penghargaan yang baik kepada para sarjana dan ilmuwan. Hal ini bisa dimaklumi, sebab sebelumnya ia adalah seorang ahli hukum yang menjabat sebagai hakim agung.
Kebijakan Al-Mulk Al-Manshur lainnya yang dicatat sejarah adalah tindakannya memberikan fasilitas bagi suku-suku Barbar dalam lembaga ketentaraan untuk menggantikan unsur-unsur Arab. Ia mengundang Bani Zenata dan Bani Adawa dari Afrika Barat untuk membentuk ketentaraan di Andalusia. Ia juga memberikan jabatan-jabatan tinggi pada tokoh-tokoh Barbar tersebut.
Ia juga membentuk lembaga tinggi kepolisian negara yang dikenal dengan Al-Urafak. Kota satelit Az-Zuhra yang dibangun Khalifah Hakam II di luar Cordoba dengan bangunan-bangunan mengagumkan, diperluas oleh Al-Mulk Al-Manshur. Ia memindahkan pusat pemerintahan ke tempat itu.
Ketika terjadi penyerangan dari pihak Count of Castile Don Garcia Fernandez, Muhammad bin Abu Amir melakukan serangan balasan. Pertempuran panjang yang dikenal dengan Pertempuran Musim Panas pun berlangsung. Pada peperangan ini, pihak Cordoba meraih kemenangan.
Meski menang, bukan berarti pihak musuh menghentikan perlawanan. Hampir setiap tahun terus terjadi serangan. Kembali dari sebuah peperangan, pasukan Al-Mulk dihadang musuh di suatu tempat bernama Calatanazar. Ia gugur dalam peperangan itu, dan dimakamkan di sebuah kota bernama Salima. Al-Muk Al-Manshur wafat pada usia 65 tahun. Sepeninggalnya terjadi kemelut.
Redaktur: cr01
Sumber: Sejarah Para Khalifah karya Hepi Andi Bastoni
Hisyam II Di bawah pemangku Kuasa
Sejarah Para Khalifah: Hisyam II, Di Bawah Pemangku Kuasa
Minggu, 29 Mei 2011 09:46 WIB
REPUBLIKA.CO.ID, Setelah Khalifah Hakam II wfat, diangkatlah putranya, Hisyam II yang kala itu masih berusia 10 tahun untuk menjadi khalifah. Ia menggantikan ayahnya sebagai pemimpin Bani Umayyah di Andalusia yang ke-10. Atau jika dihitung secara kekhalifahan resmi, ada yang menyebutnya sebagai khalifah ke-3.
Karena Hisyam II masih sangat muda, maka urusan pemerintahan dikendalikan oleh Mursyih Al-Amri (pemangku kuasa), yaitu Mughirah bin Abddurahman—saudara Hakam II. Namun tokoh ini tak lama memegang kendali. Ia dibunuh oleh komplotan Ja'far bin Utsman yang sejak pemerintahan Khalifah Hakam II memangku jabatan Al-Hajib.
Jabatan Al-Hajib dalam ketatanegaraan Bani Umayyah kala itu adalah orang yang bertanggung jawab terhadap Rumah Tangga Istana. Dalam kehidupan istana Raja Inggris kita mengenal istilah Chamberlain. Karena khalifah adalah pemegang kekuasaan tertinggi, maka ia harus berhubungan erat dengan para pejabat Al-Hajib. Di sisi lain, para pejabat Al-Hajib ini pun sangat menentukan beberapa kebijakan penting istana.
Pembunuhan atas Mughirah itu menyebabkan terjadinya perebutan kekuasaan. Peristiwa ini merupakan noda hitam pertama dalam lembaran sejarah Bani Umayyah di Andalusia. Bagi Daulah Abbasiyah di Baghdad, peristiwa seperti itu mulai muncul sejak pembunuhan Khalifah Al-Mutawakkil. Setelah itu terjadi pertumpahan darah dalam merebut dan mempertahankan kekuasaan. Umumnya, yang memegang peranan penting dalam peristiwa seperti ini adalah mereka yang dikenal dengan sultan atau pemegang kuasa. Sultan inilah yang biasanya mengendalikan khalifah.
Al-Wazir Muhammad bin Abu Amir yang menjabat sebagai pelaksana kekuasaan pada masa Khalifah Hakam II, segera bertindak mengambil-alih seluruh kekuasaan, termasuk jabatan Al-Hajib. Dialah yang menjabat Mursyih Al-Amri, pengganti Mughiran bin Abdurrahman.
Tokoh besar inilah yang selanjutnya berperan penting dalam memulihkan kondisi Bani Umayyah di Andalusia. Namanya pun disebut-sebut banyak orang. Belakangan ia menyebut dirinya Al-Mulk (raja); Al-Mulk Al-Manshur. Sejak itulah istilah Al-Mulk dikenal dalam lintasan sejarah Islam. Ketika beranjak dewasa, Khalifah Hisyam II mengukuhkan jabatan itu. Sehingga kekuasaan khalifah pun amat terbatas. Ia nyaris menjadi "tukang khutbah" dan "tukang stempel".
Dengan demikian, lahirlah generasi baru yang kendalinya melebihi wewenang khalifah. Jika di masa pemerintahan Bani Abbasiyah di Baghdad ada istilah sultan, maka di masa Daulah Umayyah di Andalusia, penguasa baru ini dikenal dengan Al-Mulk.
Masa kekuasaan Al-Mulk Al-Manshur berlangsung cukup lama. Ia memerintah selama 27 tahun. Dalam rentang masa itu, ia mengukir prestasi baik. Ia berhasil menciptakan kemakmuran bagi rakyat dengan mengembangkan bidang pertanian, perdagangan, dan dunia usaha. Ia juga berhasil melebarkan sayap kekuasaannya keluar.
Hal penting yang dicatat sejarah adalah perkembangan di bidang ilmu pengetahuan dan perpustakaan. Ia sangat gemar mengumpulkan karya-karya ilmiah dari berbagai negeri. Hal ini merupakan kegemaran Khalifah Hakam II sebelumnya.
Ia juga memberikan penghargaan yang baik kepada para sarjana dan ilmuwan. Hal ini bisa dimaklumi, sebab sebelumnya ia adalah seorang ahli hukum yang menjabat sebagai hakim agung.
Kebijakan Al-Mulk Al-Manshur lainnya yang dicatat sejarah adalah tindakannya memberikan fasilitas bagi suku-suku Barbar dalam lembaga ketentaraan untuk menggantikan unsur-unsur Arab. Ia mengundang Bani Zenata dan Bani Adawa dari Afrika Barat untuk membentuk ketentaraan di Andalusia. Ia juga memberikan jabatan-jabatan tinggi pada tokoh-tokoh Barbar tersebut.
Ia juga membentuk lembaga tinggi kepolisian negara yang dikenal dengan Al-Urafak. Kota satelit Az-Zuhra yang dibangun Khalifah Hakam II di luar Cordoba dengan bangunan-bangunan mengagumkan, diperluas oleh Al-Mulk Al-Manshur. Ia memindahkan pusat pemerintahan ke tempat itu.
Ketika terjadi penyerangan dari pihak Count of Castile Don Garcia Fernandez, Muhammad bin Abu Amir melakukan serangan balasan. Pertempuran panjang yang dikenal dengan Pertempuran Musim Panas pun berlangsung. Pada peperangan ini, pihak Cordoba meraih kemenangan.
Meski menang, bukan berarti pihak musuh menghentikan perlawanan. Hampir setiap tahun terus terjadi serangan. Kembali dari sebuah peperangan, pasukan Al-Mulk dihadang musuh di suatu tempat bernama Calatanazar. Ia gugur dalam peperangan itu, dan dimakamkan di sebuah kota bernama Salima. Al-Muk Al-Manshur wafat pada usia 65 tahun. Sepeninggalnya terjadi kemelut.
Redaktur: cr01
Sumber: Sejarah Para Khalifah karya Hepi Andi Bastoni
Minggu, 29 Mei 2011 09:46 WIB
REPUBLIKA.CO.ID, Setelah Khalifah Hakam II wfat, diangkatlah putranya, Hisyam II yang kala itu masih berusia 10 tahun untuk menjadi khalifah. Ia menggantikan ayahnya sebagai pemimpin Bani Umayyah di Andalusia yang ke-10. Atau jika dihitung secara kekhalifahan resmi, ada yang menyebutnya sebagai khalifah ke-3.
Karena Hisyam II masih sangat muda, maka urusan pemerintahan dikendalikan oleh Mursyih Al-Amri (pemangku kuasa), yaitu Mughirah bin Abddurahman—saudara Hakam II. Namun tokoh ini tak lama memegang kendali. Ia dibunuh oleh komplotan Ja'far bin Utsman yang sejak pemerintahan Khalifah Hakam II memangku jabatan Al-Hajib.
Jabatan Al-Hajib dalam ketatanegaraan Bani Umayyah kala itu adalah orang yang bertanggung jawab terhadap Rumah Tangga Istana. Dalam kehidupan istana Raja Inggris kita mengenal istilah Chamberlain. Karena khalifah adalah pemegang kekuasaan tertinggi, maka ia harus berhubungan erat dengan para pejabat Al-Hajib. Di sisi lain, para pejabat Al-Hajib ini pun sangat menentukan beberapa kebijakan penting istana.
Pembunuhan atas Mughirah itu menyebabkan terjadinya perebutan kekuasaan. Peristiwa ini merupakan noda hitam pertama dalam lembaran sejarah Bani Umayyah di Andalusia. Bagi Daulah Abbasiyah di Baghdad, peristiwa seperti itu mulai muncul sejak pembunuhan Khalifah Al-Mutawakkil. Setelah itu terjadi pertumpahan darah dalam merebut dan mempertahankan kekuasaan. Umumnya, yang memegang peranan penting dalam peristiwa seperti ini adalah mereka yang dikenal dengan sultan atau pemegang kuasa. Sultan inilah yang biasanya mengendalikan khalifah.
Al-Wazir Muhammad bin Abu Amir yang menjabat sebagai pelaksana kekuasaan pada masa Khalifah Hakam II, segera bertindak mengambil-alih seluruh kekuasaan, termasuk jabatan Al-Hajib. Dialah yang menjabat Mursyih Al-Amri, pengganti Mughiran bin Abdurrahman.
Tokoh besar inilah yang selanjutnya berperan penting dalam memulihkan kondisi Bani Umayyah di Andalusia. Namanya pun disebut-sebut banyak orang. Belakangan ia menyebut dirinya Al-Mulk (raja); Al-Mulk Al-Manshur. Sejak itulah istilah Al-Mulk dikenal dalam lintasan sejarah Islam. Ketika beranjak dewasa, Khalifah Hisyam II mengukuhkan jabatan itu. Sehingga kekuasaan khalifah pun amat terbatas. Ia nyaris menjadi "tukang khutbah" dan "tukang stempel".
Dengan demikian, lahirlah generasi baru yang kendalinya melebihi wewenang khalifah. Jika di masa pemerintahan Bani Abbasiyah di Baghdad ada istilah sultan, maka di masa Daulah Umayyah di Andalusia, penguasa baru ini dikenal dengan Al-Mulk.
Masa kekuasaan Al-Mulk Al-Manshur berlangsung cukup lama. Ia memerintah selama 27 tahun. Dalam rentang masa itu, ia mengukir prestasi baik. Ia berhasil menciptakan kemakmuran bagi rakyat dengan mengembangkan bidang pertanian, perdagangan, dan dunia usaha. Ia juga berhasil melebarkan sayap kekuasaannya keluar.
Hal penting yang dicatat sejarah adalah perkembangan di bidang ilmu pengetahuan dan perpustakaan. Ia sangat gemar mengumpulkan karya-karya ilmiah dari berbagai negeri. Hal ini merupakan kegemaran Khalifah Hakam II sebelumnya.
Ia juga memberikan penghargaan yang baik kepada para sarjana dan ilmuwan. Hal ini bisa dimaklumi, sebab sebelumnya ia adalah seorang ahli hukum yang menjabat sebagai hakim agung.
Kebijakan Al-Mulk Al-Manshur lainnya yang dicatat sejarah adalah tindakannya memberikan fasilitas bagi suku-suku Barbar dalam lembaga ketentaraan untuk menggantikan unsur-unsur Arab. Ia mengundang Bani Zenata dan Bani Adawa dari Afrika Barat untuk membentuk ketentaraan di Andalusia. Ia juga memberikan jabatan-jabatan tinggi pada tokoh-tokoh Barbar tersebut.
Ia juga membentuk lembaga tinggi kepolisian negara yang dikenal dengan Al-Urafak. Kota satelit Az-Zuhra yang dibangun Khalifah Hakam II di luar Cordoba dengan bangunan-bangunan mengagumkan, diperluas oleh Al-Mulk Al-Manshur. Ia memindahkan pusat pemerintahan ke tempat itu.
Ketika terjadi penyerangan dari pihak Count of Castile Don Garcia Fernandez, Muhammad bin Abu Amir melakukan serangan balasan. Pertempuran panjang yang dikenal dengan Pertempuran Musim Panas pun berlangsung. Pada peperangan ini, pihak Cordoba meraih kemenangan.
Meski menang, bukan berarti pihak musuh menghentikan perlawanan. Hampir setiap tahun terus terjadi serangan. Kembali dari sebuah peperangan, pasukan Al-Mulk dihadang musuh di suatu tempat bernama Calatanazar. Ia gugur dalam peperangan itu, dan dimakamkan di sebuah kota bernama Salima. Al-Muk Al-Manshur wafat pada usia 65 tahun. Sepeninggalnya terjadi kemelut.
Redaktur: cr01
Sumber: Sejarah Para Khalifah karya Hepi Andi Bastoni
Hisyam II Di bawah pemangku Kuasa
Sejarah Para Khalifah: Hisyam II, Di Bawah Pemangku Kuasa
Minggu, 29 Mei 2011 09:46 WIB
REPUBLIKA.CO.ID, Setelah Khalifah Hakam II wfat, diangkatlah putranya, Hisyam II yang kala itu masih berusia 10 tahun untuk menjadi khalifah. Ia menggantikan ayahnya sebagai pemimpin Bani Umayyah di Andalusia yang ke-10. Atau jika dihitung secara kekhalifahan resmi, ada yang menyebutnya sebagai khalifah ke-3.
Karena Hisyam II masih sangat muda, maka urusan pemerintahan dikendalikan oleh Mursyih Al-Amri (pemangku kuasa), yaitu Mughirah bin Abddurahman—saudara Hakam II. Namun tokoh ini tak lama memegang kendali. Ia dibunuh oleh komplotan Ja'far bin Utsman yang sejak pemerintahan Khalifah Hakam II memangku jabatan Al-Hajib.
Jabatan Al-Hajib dalam ketatanegaraan Bani Umayyah kala itu adalah orang yang bertanggung jawab terhadap Rumah Tangga Istana. Dalam kehidupan istana Raja Inggris kita mengenal istilah Chamberlain. Karena khalifah adalah pemegang kekuasaan tertinggi, maka ia harus berhubungan erat dengan para pejabat Al-Hajib. Di sisi lain, para pejabat Al-Hajib ini pun sangat menentukan beberapa kebijakan penting istana.
Pembunuhan atas Mughirah itu menyebabkan terjadinya perebutan kekuasaan. Peristiwa ini merupakan noda hitam pertama dalam lembaran sejarah Bani Umayyah di Andalusia. Bagi Daulah Abbasiyah di Baghdad, peristiwa seperti itu mulai muncul sejak pembunuhan Khalifah Al-Mutawakkil. Setelah itu terjadi pertumpahan darah dalam merebut dan mempertahankan kekuasaan. Umumnya, yang memegang peranan penting dalam peristiwa seperti ini adalah mereka yang dikenal dengan sultan atau pemegang kuasa. Sultan inilah yang biasanya mengendalikan khalifah.
Al-Wazir Muhammad bin Abu Amir yang menjabat sebagai pelaksana kekuasaan pada masa Khalifah Hakam II, segera bertindak mengambil-alih seluruh kekuasaan, termasuk jabatan Al-Hajib. Dialah yang menjabat Mursyih Al-Amri, pengganti Mughiran bin Abdurrahman.
Tokoh besar inilah yang selanjutnya berperan penting dalam memulihkan kondisi Bani Umayyah di Andalusia. Namanya pun disebut-sebut banyak orang. Belakangan ia menyebut dirinya Al-Mulk (raja); Al-Mulk Al-Manshur. Sejak itulah istilah Al-Mulk dikenal dalam lintasan sejarah Islam. Ketika beranjak dewasa, Khalifah Hisyam II mengukuhkan jabatan itu. Sehingga kekuasaan khalifah pun amat terbatas. Ia nyaris menjadi "tukang khutbah" dan "tukang stempel".
Dengan demikian, lahirlah generasi baru yang kendalinya melebihi wewenang khalifah. Jika di masa pemerintahan Bani Abbasiyah di Baghdad ada istilah sultan, maka di masa Daulah Umayyah di Andalusia, penguasa baru ini dikenal dengan Al-Mulk.
Masa kekuasaan Al-Mulk Al-Manshur berlangsung cukup lama. Ia memerintah selama 27 tahun. Dalam rentang masa itu, ia mengukir prestasi baik. Ia berhasil menciptakan kemakmuran bagi rakyat dengan mengembangkan bidang pertanian, perdagangan, dan dunia usaha. Ia juga berhasil melebarkan sayap kekuasaannya keluar.
Hal penting yang dicatat sejarah adalah perkembangan di bidang ilmu pengetahuan dan perpustakaan. Ia sangat gemar mengumpulkan karya-karya ilmiah dari berbagai negeri. Hal ini merupakan kegemaran Khalifah Hakam II sebelumnya.
Ia juga memberikan penghargaan yang baik kepada para sarjana dan ilmuwan. Hal ini bisa dimaklumi, sebab sebelumnya ia adalah seorang ahli hukum yang menjabat sebagai hakim agung.
Kebijakan Al-Mulk Al-Manshur lainnya yang dicatat sejarah adalah tindakannya memberikan fasilitas bagi suku-suku Barbar dalam lembaga ketentaraan untuk menggantikan unsur-unsur Arab. Ia mengundang Bani Zenata dan Bani Adawa dari Afrika Barat untuk membentuk ketentaraan di Andalusia. Ia juga memberikan jabatan-jabatan tinggi pada tokoh-tokoh Barbar tersebut.
Ia juga membentuk lembaga tinggi kepolisian negara yang dikenal dengan Al-Urafak. Kota satelit Az-Zuhra yang dibangun Khalifah Hakam II di luar Cordoba dengan bangunan-bangunan mengagumkan, diperluas oleh Al-Mulk Al-Manshur. Ia memindahkan pusat pemerintahan ke tempat itu.
Ketika terjadi penyerangan dari pihak Count of Castile Don Garcia Fernandez, Muhammad bin Abu Amir melakukan serangan balasan. Pertempuran panjang yang dikenal dengan Pertempuran Musim Panas pun berlangsung. Pada peperangan ini, pihak Cordoba meraih kemenangan.
Meski menang, bukan berarti pihak musuh menghentikan perlawanan. Hampir setiap tahun terus terjadi serangan. Kembali dari sebuah peperangan, pasukan Al-Mulk dihadang musuh di suatu tempat bernama Calatanazar. Ia gugur dalam peperangan itu, dan dimakamkan di sebuah kota bernama Salima. Al-Muk Al-Manshur wafat pada usia 65 tahun. Sepeninggalnya terjadi kemelut.
Redaktur: cr01
Sumber: Sejarah Para Khalifah karya Hepi Andi Bastoni
Minggu, 29 Mei 2011 09:46 WIB
REPUBLIKA.CO.ID, Setelah Khalifah Hakam II wfat, diangkatlah putranya, Hisyam II yang kala itu masih berusia 10 tahun untuk menjadi khalifah. Ia menggantikan ayahnya sebagai pemimpin Bani Umayyah di Andalusia yang ke-10. Atau jika dihitung secara kekhalifahan resmi, ada yang menyebutnya sebagai khalifah ke-3.
Karena Hisyam II masih sangat muda, maka urusan pemerintahan dikendalikan oleh Mursyih Al-Amri (pemangku kuasa), yaitu Mughirah bin Abddurahman—saudara Hakam II. Namun tokoh ini tak lama memegang kendali. Ia dibunuh oleh komplotan Ja'far bin Utsman yang sejak pemerintahan Khalifah Hakam II memangku jabatan Al-Hajib.
Jabatan Al-Hajib dalam ketatanegaraan Bani Umayyah kala itu adalah orang yang bertanggung jawab terhadap Rumah Tangga Istana. Dalam kehidupan istana Raja Inggris kita mengenal istilah Chamberlain. Karena khalifah adalah pemegang kekuasaan tertinggi, maka ia harus berhubungan erat dengan para pejabat Al-Hajib. Di sisi lain, para pejabat Al-Hajib ini pun sangat menentukan beberapa kebijakan penting istana.
Pembunuhan atas Mughirah itu menyebabkan terjadinya perebutan kekuasaan. Peristiwa ini merupakan noda hitam pertama dalam lembaran sejarah Bani Umayyah di Andalusia. Bagi Daulah Abbasiyah di Baghdad, peristiwa seperti itu mulai muncul sejak pembunuhan Khalifah Al-Mutawakkil. Setelah itu terjadi pertumpahan darah dalam merebut dan mempertahankan kekuasaan. Umumnya, yang memegang peranan penting dalam peristiwa seperti ini adalah mereka yang dikenal dengan sultan atau pemegang kuasa. Sultan inilah yang biasanya mengendalikan khalifah.
Al-Wazir Muhammad bin Abu Amir yang menjabat sebagai pelaksana kekuasaan pada masa Khalifah Hakam II, segera bertindak mengambil-alih seluruh kekuasaan, termasuk jabatan Al-Hajib. Dialah yang menjabat Mursyih Al-Amri, pengganti Mughiran bin Abdurrahman.
Tokoh besar inilah yang selanjutnya berperan penting dalam memulihkan kondisi Bani Umayyah di Andalusia. Namanya pun disebut-sebut banyak orang. Belakangan ia menyebut dirinya Al-Mulk (raja); Al-Mulk Al-Manshur. Sejak itulah istilah Al-Mulk dikenal dalam lintasan sejarah Islam. Ketika beranjak dewasa, Khalifah Hisyam II mengukuhkan jabatan itu. Sehingga kekuasaan khalifah pun amat terbatas. Ia nyaris menjadi "tukang khutbah" dan "tukang stempel".
Dengan demikian, lahirlah generasi baru yang kendalinya melebihi wewenang khalifah. Jika di masa pemerintahan Bani Abbasiyah di Baghdad ada istilah sultan, maka di masa Daulah Umayyah di Andalusia, penguasa baru ini dikenal dengan Al-Mulk.
Masa kekuasaan Al-Mulk Al-Manshur berlangsung cukup lama. Ia memerintah selama 27 tahun. Dalam rentang masa itu, ia mengukir prestasi baik. Ia berhasil menciptakan kemakmuran bagi rakyat dengan mengembangkan bidang pertanian, perdagangan, dan dunia usaha. Ia juga berhasil melebarkan sayap kekuasaannya keluar.
Hal penting yang dicatat sejarah adalah perkembangan di bidang ilmu pengetahuan dan perpustakaan. Ia sangat gemar mengumpulkan karya-karya ilmiah dari berbagai negeri. Hal ini merupakan kegemaran Khalifah Hakam II sebelumnya.
Ia juga memberikan penghargaan yang baik kepada para sarjana dan ilmuwan. Hal ini bisa dimaklumi, sebab sebelumnya ia adalah seorang ahli hukum yang menjabat sebagai hakim agung.
Kebijakan Al-Mulk Al-Manshur lainnya yang dicatat sejarah adalah tindakannya memberikan fasilitas bagi suku-suku Barbar dalam lembaga ketentaraan untuk menggantikan unsur-unsur Arab. Ia mengundang Bani Zenata dan Bani Adawa dari Afrika Barat untuk membentuk ketentaraan di Andalusia. Ia juga memberikan jabatan-jabatan tinggi pada tokoh-tokoh Barbar tersebut.
Ia juga membentuk lembaga tinggi kepolisian negara yang dikenal dengan Al-Urafak. Kota satelit Az-Zuhra yang dibangun Khalifah Hakam II di luar Cordoba dengan bangunan-bangunan mengagumkan, diperluas oleh Al-Mulk Al-Manshur. Ia memindahkan pusat pemerintahan ke tempat itu.
Ketika terjadi penyerangan dari pihak Count of Castile Don Garcia Fernandez, Muhammad bin Abu Amir melakukan serangan balasan. Pertempuran panjang yang dikenal dengan Pertempuran Musim Panas pun berlangsung. Pada peperangan ini, pihak Cordoba meraih kemenangan.
Meski menang, bukan berarti pihak musuh menghentikan perlawanan. Hampir setiap tahun terus terjadi serangan. Kembali dari sebuah peperangan, pasukan Al-Mulk dihadang musuh di suatu tempat bernama Calatanazar. Ia gugur dalam peperangan itu, dan dimakamkan di sebuah kota bernama Salima. Al-Muk Al-Manshur wafat pada usia 65 tahun. Sepeninggalnya terjadi kemelut.
Redaktur: cr01
Sumber: Sejarah Para Khalifah karya Hepi Andi Bastoni
Langganan:
Postingan (Atom)