Senin, 30 Mei 2011

Muhammad I Al-Mahdi..pemimpin di tengah kemelut

Sejarah Para Khalifah: Muhammad II Al-Mahdi, Pemimpin di Tengah Kemelut
Senin, 30 Mei 2011 11:30 WIB

REPUBLIKA.CO.ID, Pemimpin memegang peran penting bagi sebuah rezim. Ia bisa menjadi penyebab maju dan runtuhnya kekuasaan. Walau bukan khalifah, namun Muhammad bin Abu Amir yang dikenal dengan Mulk Al-Manshur merupakan tokoh sentral Daulah Umayyah di Andalusia.

Hanya tujuh tahun setelah tokoh ini wafat, masa keemasan Islam di Andalusia terus memudar. Bahkan menjadi pangkal kemelut yang berujung pada keruntuhan kerajaan ini. Selama 29 tahun sejak wafatnya Mulk Al-Manshur, pemerintahan Bani Umayyah mengalami kemelut berkepanjangan. Khalifah datang dan pergi silih berganti, diwarnai pula dengan kekerasan dan ambisi.

Ketika Mulk Al-Manshur meninggal dunia, posisinya segera digantikan oleh putranya, Abdul Malik bin Muhammad bin Abu Amir dengan gelar Mulk Al-Muzhafir. Kedudukannya dikukuhkan oleh Khalifah Hisyam II.

Seperti ayahnya, ia adalah seorang negarawan yang cakap dan ahli strategi militer. Ia menjalankan kebijakan sang ayah sebelumnya. Selama tujuh tahun berkuasa, pihak Kristen di bagian utara Spanyol tidak bisa berbuat apa-apa. Masa pemerintahannya itu dkenal dengan As-Sabi'.

Ketika Mulk Al-Muzhafir meninggal pada 399 H, kedudukannya digantikan oleh saudaranya, Abdurrahman bin Muhammad bin Abu Amir. Ia dikenal dengan An-Nashir Lidinillah. Kedudukannya pun dikukuhkan oleh Khalifah Hisyam II.

Pemimpin baru ini berbeda dengan ayah dan saudaranya. Dalam waktu singkat, ia justru meminta pengukuhan dirinya sebagai khalifah pengganti Hisyam II. Ironisnya, permintaan ini disetujui oleh Khalifah Hisyam II. Akibatnya, muncul kemarahan dan dendam di kalangan keluarga Umayyah sendiri.

Pada 399 H, Mulk An-Nashir berangkat dengan pasukan besarnya untuk mengamankan wilayah Galicia di bagian utara Spanyol. Sepeninggalnya, para pemuka Bani Umayyah memecat Hisyam II dan mengangkat Muhammad bin Hisyam bin Abdul Jabbar bin Abdurrahman III sebagai khalifah dengan gelar Khalifah Muhammad II Al-Mahdi.

Mantan Khalifah Hisyam II yang diberhentikan sempat melarikan diri dari Cordoba. Ada yang menyebutkan ia melarikan diri ke pelabuhan Malaga dan menetap di sana beberapa lama. Ketika mendengar pergantian itu, Mulk An-Nashir yang sedang berada di Galicia segera kembali menuju Cordoba. Ketika itu terjadi pengepungan. Tanpa diduga olehnya, ia pun dibunuh dalam peristiwa itu.

Khalifah Muhammad II Al-Mahdi ternyata mengabaikan unsur Barbar yang menguasai lembaga ketentaraan. Bahkan ia melakukan tekanan-tekanan yang membangkitkan kemarahan mereka.

Tindakah Khalifah Al-Mahdi itu tidak dapat diterima oleh pihak Barbar. Mereka berinisiatif untuk mengangkat Hisyam bin Sulaiman bin Hakam II bin Abdurrahman III untuk menggantikan Khalifah Al-Mahdi.

Hal itu membangkitkan kemarahan Khalifah Al-Mahdi. Para pembesar Barbar banyak yang melarikan diri. Bahkan Khalifah Al-Mahdi sempat menangkap Hisyam bin Sulaiman dan saudaranya, Abu Bakar bin Sulaiman, lalu menjatuhkan hukuman mati.

Seorang keponakannya, Sulaiman bin Hakam bin Sulaiman sempat melarikan diri bersama pasukan Barbar. Oleh pihak Barbar, ia diresmikan sebagai khalifah dengan panggilan Khalifah Sulaiman Al-Mustain sebagai pemimpin Bani Umayyah di Andalusia yang ke-12.

Dengan pasukan besarnya, Khalifah Al-Mahdi mengepung kota Az-Zahra. Pertempuran sengit pun pecah. Pasukan Khalifah Al-Mustain terpaksa mengundurkan diri ke arah selatan menuju Algeciras dan bertahan di tempat itu. Di tempat ini pula kembali terjadi pertempuran. Pasukan Al-Mahdi porak-poranda dan terpaksa melarikan diri ke arah utara. Ia dikejar oleh pasukan Khalifah Al-Mustain.

Penduduk Cordoba yang mendengar berita itu merasa khawatir. Dengan segera mereka membuka pintu-pintu Cordoba untuk menyambut kedatangan Khalifah Al-Mustain. Dengan demikian, resmilah dirinya menjadi Khalifah Bani Umayyah ke-5 atau pemimpin ke-12.


Redaktur: cr01
Sumber: Sejarah Para Khalifah karya Hepi Andi Bastoni

Hisyam II Di bawah pemangku Kuasa

Sejarah Para Khalifah: Hisyam II, Di Bawah Pemangku Kuasa
Minggu, 29 Mei 2011 09:46 WIB

REPUBLIKA.CO.ID, Setelah Khalifah Hakam II wfat, diangkatlah putranya, Hisyam II yang kala itu masih berusia 10 tahun untuk menjadi khalifah. Ia menggantikan ayahnya sebagai pemimpin Bani Umayyah di Andalusia yang ke-10. Atau jika dihitung secara kekhalifahan resmi, ada yang menyebutnya sebagai khalifah ke-3.

Karena Hisyam II masih sangat muda, maka urusan pemerintahan dikendalikan oleh Mursyih Al-Amri (pemangku kuasa), yaitu Mughirah bin Abddurahman—saudara Hakam II. Namun tokoh ini tak lama memegang kendali. Ia dibunuh oleh komplotan Ja'far bin Utsman yang sejak pemerintahan Khalifah Hakam II memangku jabatan Al-Hajib.

Jabatan Al-Hajib dalam ketatanegaraan Bani Umayyah kala itu adalah orang yang bertanggung jawab terhadap Rumah Tangga Istana. Dalam kehidupan istana Raja Inggris kita mengenal istilah Chamberlain. Karena khalifah adalah pemegang kekuasaan tertinggi, maka ia harus berhubungan erat dengan para pejabat Al-Hajib. Di sisi lain, para pejabat Al-Hajib ini pun sangat menentukan beberapa kebijakan penting istana.

Pembunuhan atas Mughirah itu menyebabkan terjadinya perebutan kekuasaan. Peristiwa ini merupakan noda hitam pertama dalam lembaran sejarah Bani Umayyah di Andalusia. Bagi Daulah Abbasiyah di Baghdad, peristiwa seperti itu mulai muncul sejak pembunuhan Khalifah Al-Mutawakkil. Setelah itu terjadi pertumpahan darah dalam merebut dan mempertahankan kekuasaan. Umumnya, yang memegang peranan penting dalam peristiwa seperti ini adalah mereka yang dikenal dengan sultan atau pemegang kuasa. Sultan inilah yang biasanya mengendalikan khalifah.

Al-Wazir Muhammad bin Abu Amir yang menjabat sebagai pelaksana kekuasaan pada masa Khalifah Hakam II, segera bertindak mengambil-alih seluruh kekuasaan, termasuk jabatan Al-Hajib. Dialah yang menjabat Mursyih Al-Amri, pengganti Mughiran bin Abdurrahman.

Tokoh besar inilah yang selanjutnya berperan penting dalam memulihkan kondisi Bani Umayyah di Andalusia. Namanya pun disebut-sebut banyak orang. Belakangan ia menyebut dirinya Al-Mulk (raja); Al-Mulk Al-Manshur. Sejak itulah istilah Al-Mulk dikenal dalam lintasan sejarah Islam. Ketika beranjak dewasa, Khalifah Hisyam II mengukuhkan jabatan itu. Sehingga kekuasaan khalifah pun amat terbatas. Ia nyaris menjadi "tukang khutbah" dan "tukang stempel".

Dengan demikian, lahirlah generasi baru yang kendalinya melebihi wewenang khalifah. Jika di masa pemerintahan Bani Abbasiyah di Baghdad ada istilah sultan, maka di masa Daulah Umayyah di Andalusia, penguasa baru ini dikenal dengan Al-Mulk.

Masa kekuasaan Al-Mulk Al-Manshur berlangsung cukup lama. Ia memerintah selama 27 tahun. Dalam rentang masa itu, ia mengukir prestasi baik. Ia berhasil menciptakan kemakmuran bagi rakyat dengan mengembangkan bidang pertanian, perdagangan, dan dunia usaha. Ia juga berhasil melebarkan sayap kekuasaannya keluar.
Hal penting yang dicatat sejarah adalah perkembangan di bidang ilmu pengetahuan dan perpustakaan. Ia sangat gemar mengumpulkan karya-karya ilmiah dari berbagai negeri. Hal ini merupakan kegemaran Khalifah Hakam II sebelumnya.

Ia juga memberikan penghargaan yang baik kepada para sarjana dan ilmuwan. Hal ini bisa dimaklumi, sebab sebelumnya ia adalah seorang ahli hukum yang menjabat sebagai hakim agung.

Kebijakan Al-Mulk Al-Manshur lainnya yang dicatat sejarah adalah tindakannya memberikan fasilitas bagi suku-suku Barbar dalam lembaga ketentaraan untuk menggantikan unsur-unsur Arab. Ia mengundang Bani Zenata dan Bani Adawa dari Afrika Barat untuk membentuk ketentaraan di Andalusia. Ia juga memberikan jabatan-jabatan tinggi pada tokoh-tokoh Barbar tersebut.

Ia juga membentuk lembaga tinggi kepolisian negara yang dikenal dengan Al-Urafak. Kota satelit Az-Zuhra yang dibangun Khalifah Hakam II di luar Cordoba dengan bangunan-bangunan mengagumkan, diperluas oleh Al-Mulk Al-Manshur. Ia memindahkan pusat pemerintahan ke tempat itu.

Ketika terjadi penyerangan dari pihak Count of Castile Don Garcia Fernandez, Muhammad bin Abu Amir melakukan serangan balasan. Pertempuran panjang yang dikenal dengan Pertempuran Musim Panas pun berlangsung. Pada peperangan ini, pihak Cordoba meraih kemenangan.

Meski menang, bukan berarti pihak musuh menghentikan perlawanan. Hampir setiap tahun terus terjadi serangan. Kembali dari sebuah peperangan, pasukan Al-Mulk dihadang musuh di suatu tempat bernama Calatanazar. Ia gugur dalam peperangan itu, dan dimakamkan di sebuah kota bernama Salima. Al-Muk Al-Manshur wafat pada usia 65 tahun. Sepeninggalnya terjadi kemelut.


Redaktur: cr01
Sumber: Sejarah Para Khalifah karya Hepi Andi Bastoni

Hisyam II Di bawah pemangku Kuasa

Sejarah Para Khalifah: Hisyam II, Di Bawah Pemangku Kuasa
Minggu, 29 Mei 2011 09:46 WIB

REPUBLIKA.CO.ID, Setelah Khalifah Hakam II wfat, diangkatlah putranya, Hisyam II yang kala itu masih berusia 10 tahun untuk menjadi khalifah. Ia menggantikan ayahnya sebagai pemimpin Bani Umayyah di Andalusia yang ke-10. Atau jika dihitung secara kekhalifahan resmi, ada yang menyebutnya sebagai khalifah ke-3.

Karena Hisyam II masih sangat muda, maka urusan pemerintahan dikendalikan oleh Mursyih Al-Amri (pemangku kuasa), yaitu Mughirah bin Abddurahman—saudara Hakam II. Namun tokoh ini tak lama memegang kendali. Ia dibunuh oleh komplotan Ja'far bin Utsman yang sejak pemerintahan Khalifah Hakam II memangku jabatan Al-Hajib.

Jabatan Al-Hajib dalam ketatanegaraan Bani Umayyah kala itu adalah orang yang bertanggung jawab terhadap Rumah Tangga Istana. Dalam kehidupan istana Raja Inggris kita mengenal istilah Chamberlain. Karena khalifah adalah pemegang kekuasaan tertinggi, maka ia harus berhubungan erat dengan para pejabat Al-Hajib. Di sisi lain, para pejabat Al-Hajib ini pun sangat menentukan beberapa kebijakan penting istana.

Pembunuhan atas Mughirah itu menyebabkan terjadinya perebutan kekuasaan. Peristiwa ini merupakan noda hitam pertama dalam lembaran sejarah Bani Umayyah di Andalusia. Bagi Daulah Abbasiyah di Baghdad, peristiwa seperti itu mulai muncul sejak pembunuhan Khalifah Al-Mutawakkil. Setelah itu terjadi pertumpahan darah dalam merebut dan mempertahankan kekuasaan. Umumnya, yang memegang peranan penting dalam peristiwa seperti ini adalah mereka yang dikenal dengan sultan atau pemegang kuasa. Sultan inilah yang biasanya mengendalikan khalifah.

Al-Wazir Muhammad bin Abu Amir yang menjabat sebagai pelaksana kekuasaan pada masa Khalifah Hakam II, segera bertindak mengambil-alih seluruh kekuasaan, termasuk jabatan Al-Hajib. Dialah yang menjabat Mursyih Al-Amri, pengganti Mughiran bin Abdurrahman.

Tokoh besar inilah yang selanjutnya berperan penting dalam memulihkan kondisi Bani Umayyah di Andalusia. Namanya pun disebut-sebut banyak orang. Belakangan ia menyebut dirinya Al-Mulk (raja); Al-Mulk Al-Manshur. Sejak itulah istilah Al-Mulk dikenal dalam lintasan sejarah Islam. Ketika beranjak dewasa, Khalifah Hisyam II mengukuhkan jabatan itu. Sehingga kekuasaan khalifah pun amat terbatas. Ia nyaris menjadi "tukang khutbah" dan "tukang stempel".

Dengan demikian, lahirlah generasi baru yang kendalinya melebihi wewenang khalifah. Jika di masa pemerintahan Bani Abbasiyah di Baghdad ada istilah sultan, maka di masa Daulah Umayyah di Andalusia, penguasa baru ini dikenal dengan Al-Mulk.

Masa kekuasaan Al-Mulk Al-Manshur berlangsung cukup lama. Ia memerintah selama 27 tahun. Dalam rentang masa itu, ia mengukir prestasi baik. Ia berhasil menciptakan kemakmuran bagi rakyat dengan mengembangkan bidang pertanian, perdagangan, dan dunia usaha. Ia juga berhasil melebarkan sayap kekuasaannya keluar.
Hal penting yang dicatat sejarah adalah perkembangan di bidang ilmu pengetahuan dan perpustakaan. Ia sangat gemar mengumpulkan karya-karya ilmiah dari berbagai negeri. Hal ini merupakan kegemaran Khalifah Hakam II sebelumnya.

Ia juga memberikan penghargaan yang baik kepada para sarjana dan ilmuwan. Hal ini bisa dimaklumi, sebab sebelumnya ia adalah seorang ahli hukum yang menjabat sebagai hakim agung.

Kebijakan Al-Mulk Al-Manshur lainnya yang dicatat sejarah adalah tindakannya memberikan fasilitas bagi suku-suku Barbar dalam lembaga ketentaraan untuk menggantikan unsur-unsur Arab. Ia mengundang Bani Zenata dan Bani Adawa dari Afrika Barat untuk membentuk ketentaraan di Andalusia. Ia juga memberikan jabatan-jabatan tinggi pada tokoh-tokoh Barbar tersebut.

Ia juga membentuk lembaga tinggi kepolisian negara yang dikenal dengan Al-Urafak. Kota satelit Az-Zuhra yang dibangun Khalifah Hakam II di luar Cordoba dengan bangunan-bangunan mengagumkan, diperluas oleh Al-Mulk Al-Manshur. Ia memindahkan pusat pemerintahan ke tempat itu.

Ketika terjadi penyerangan dari pihak Count of Castile Don Garcia Fernandez, Muhammad bin Abu Amir melakukan serangan balasan. Pertempuran panjang yang dikenal dengan Pertempuran Musim Panas pun berlangsung. Pada peperangan ini, pihak Cordoba meraih kemenangan.

Meski menang, bukan berarti pihak musuh menghentikan perlawanan. Hampir setiap tahun terus terjadi serangan. Kembali dari sebuah peperangan, pasukan Al-Mulk dihadang musuh di suatu tempat bernama Calatanazar. Ia gugur dalam peperangan itu, dan dimakamkan di sebuah kota bernama Salima. Al-Muk Al-Manshur wafat pada usia 65 tahun. Sepeninggalnya terjadi kemelut.


Redaktur: cr01
Sumber: Sejarah Para Khalifah karya Hepi Andi Bastoni

Hisyam II Di bawah pemangku Kuasa

Sejarah Para Khalifah: Hisyam II, Di Bawah Pemangku Kuasa
Minggu, 29 Mei 2011 09:46 WIB

REPUBLIKA.CO.ID, Setelah Khalifah Hakam II wfat, diangkatlah putranya, Hisyam II yang kala itu masih berusia 10 tahun untuk menjadi khalifah. Ia menggantikan ayahnya sebagai pemimpin Bani Umayyah di Andalusia yang ke-10. Atau jika dihitung secara kekhalifahan resmi, ada yang menyebutnya sebagai khalifah ke-3.

Karena Hisyam II masih sangat muda, maka urusan pemerintahan dikendalikan oleh Mursyih Al-Amri (pemangku kuasa), yaitu Mughirah bin Abddurahman—saudara Hakam II. Namun tokoh ini tak lama memegang kendali. Ia dibunuh oleh komplotan Ja'far bin Utsman yang sejak pemerintahan Khalifah Hakam II memangku jabatan Al-Hajib.

Jabatan Al-Hajib dalam ketatanegaraan Bani Umayyah kala itu adalah orang yang bertanggung jawab terhadap Rumah Tangga Istana. Dalam kehidupan istana Raja Inggris kita mengenal istilah Chamberlain. Karena khalifah adalah pemegang kekuasaan tertinggi, maka ia harus berhubungan erat dengan para pejabat Al-Hajib. Di sisi lain, para pejabat Al-Hajib ini pun sangat menentukan beberapa kebijakan penting istana.

Pembunuhan atas Mughirah itu menyebabkan terjadinya perebutan kekuasaan. Peristiwa ini merupakan noda hitam pertama dalam lembaran sejarah Bani Umayyah di Andalusia. Bagi Daulah Abbasiyah di Baghdad, peristiwa seperti itu mulai muncul sejak pembunuhan Khalifah Al-Mutawakkil. Setelah itu terjadi pertumpahan darah dalam merebut dan mempertahankan kekuasaan. Umumnya, yang memegang peranan penting dalam peristiwa seperti ini adalah mereka yang dikenal dengan sultan atau pemegang kuasa. Sultan inilah yang biasanya mengendalikan khalifah.

Al-Wazir Muhammad bin Abu Amir yang menjabat sebagai pelaksana kekuasaan pada masa Khalifah Hakam II, segera bertindak mengambil-alih seluruh kekuasaan, termasuk jabatan Al-Hajib. Dialah yang menjabat Mursyih Al-Amri, pengganti Mughiran bin Abdurrahman.

Tokoh besar inilah yang selanjutnya berperan penting dalam memulihkan kondisi Bani Umayyah di Andalusia. Namanya pun disebut-sebut banyak orang. Belakangan ia menyebut dirinya Al-Mulk (raja); Al-Mulk Al-Manshur. Sejak itulah istilah Al-Mulk dikenal dalam lintasan sejarah Islam. Ketika beranjak dewasa, Khalifah Hisyam II mengukuhkan jabatan itu. Sehingga kekuasaan khalifah pun amat terbatas. Ia nyaris menjadi "tukang khutbah" dan "tukang stempel".

Dengan demikian, lahirlah generasi baru yang kendalinya melebihi wewenang khalifah. Jika di masa pemerintahan Bani Abbasiyah di Baghdad ada istilah sultan, maka di masa Daulah Umayyah di Andalusia, penguasa baru ini dikenal dengan Al-Mulk.

Masa kekuasaan Al-Mulk Al-Manshur berlangsung cukup lama. Ia memerintah selama 27 tahun. Dalam rentang masa itu, ia mengukir prestasi baik. Ia berhasil menciptakan kemakmuran bagi rakyat dengan mengembangkan bidang pertanian, perdagangan, dan dunia usaha. Ia juga berhasil melebarkan sayap kekuasaannya keluar.
Hal penting yang dicatat sejarah adalah perkembangan di bidang ilmu pengetahuan dan perpustakaan. Ia sangat gemar mengumpulkan karya-karya ilmiah dari berbagai negeri. Hal ini merupakan kegemaran Khalifah Hakam II sebelumnya.

Ia juga memberikan penghargaan yang baik kepada para sarjana dan ilmuwan. Hal ini bisa dimaklumi, sebab sebelumnya ia adalah seorang ahli hukum yang menjabat sebagai hakim agung.

Kebijakan Al-Mulk Al-Manshur lainnya yang dicatat sejarah adalah tindakannya memberikan fasilitas bagi suku-suku Barbar dalam lembaga ketentaraan untuk menggantikan unsur-unsur Arab. Ia mengundang Bani Zenata dan Bani Adawa dari Afrika Barat untuk membentuk ketentaraan di Andalusia. Ia juga memberikan jabatan-jabatan tinggi pada tokoh-tokoh Barbar tersebut.

Ia juga membentuk lembaga tinggi kepolisian negara yang dikenal dengan Al-Urafak. Kota satelit Az-Zuhra yang dibangun Khalifah Hakam II di luar Cordoba dengan bangunan-bangunan mengagumkan, diperluas oleh Al-Mulk Al-Manshur. Ia memindahkan pusat pemerintahan ke tempat itu.

Ketika terjadi penyerangan dari pihak Count of Castile Don Garcia Fernandez, Muhammad bin Abu Amir melakukan serangan balasan. Pertempuran panjang yang dikenal dengan Pertempuran Musim Panas pun berlangsung. Pada peperangan ini, pihak Cordoba meraih kemenangan.

Meski menang, bukan berarti pihak musuh menghentikan perlawanan. Hampir setiap tahun terus terjadi serangan. Kembali dari sebuah peperangan, pasukan Al-Mulk dihadang musuh di suatu tempat bernama Calatanazar. Ia gugur dalam peperangan itu, dan dimakamkan di sebuah kota bernama Salima. Al-Muk Al-Manshur wafat pada usia 65 tahun. Sepeninggalnya terjadi kemelut.


Redaktur: cr01
Sumber: Sejarah Para Khalifah karya Hepi Andi Bastoni

Sabtu, 28 Mei 2011

hakam II Pencinta buku dan sastra (9)

Sejarah Para Khalifah: Hakam II, Pencinta Buku dan Sastra
Jumat, 27 Mei 2011 11:03 WIB

REPUBLIKA.CO.ID, Pada usia 45 tahun, Hakam II diangkat sebagai Khalifah Daulah Umayyah Andalusia menggantikan ayahnya, Abdurrahman III. Jika Abdurrahman Ad-Dakhil dianggap sebagai khalifah pertama Daulah Umayyah di Andalusia, maka Hakam II adalah khalifah kesembilan.

Namun sebagian ahli sejarah menyebutkan, pemimpin Daulah Umayyah Andalusia dari Abdurrahman Ad-Dakhil hingga Abdullah bin Muhammad tidak disebut khalifah, tapi amir. Mereka baru menyematkan sebutan khalifah pada Abdurrahman III. Dengan demikian, Hakam II bisa disebut khalifah kedua Daulah Umayyah di Andalusia. Ia memerintah selama 17 tahun. Masa pemerintahannya cukup terpandang. Para ahli sejarah menyebut masa pemerintahannya dengan "zaman emas kesusastraan Arab di Spanyol".

Selain sukses membangun pemerintahan dalam negeri, Hakam II juga berhasil menjalin hubungan baik dengan pihak luar. Ia bisa menjalin hubungan dengan kerajaan Leon dan Navarre yang memang telah terikat perdamaian sebelumnya. Kedua kerajaan itu mengakui keberadaan Daulah Umayyah, dan mereka bersedia membayar pajak.

Bahkan Raja Sancho I dari Leon sempat berada di Cordoba selama dua tahun untuk mengobati tubuhnya yang menderita obesitas. Selama berada di kota itu, ia aman dan diberikan pelayanan yang baik.

Selain berhasil mengamankan wilayahnya, Hakam II juga meneruskan pembangunan perpustakaan Cordoba. Perpustakaan itu dibangun hingga menjadi perpustakaan terbesar di Eropa kala itu. Hakam II memang dikenal cinta buku. Ia sering mencari sendiri buku-buku yang sulit ditemukan.

Bahkan ia juga sering menulis surat untuk para penulis ternama. Ia juga tak segan-segan membayar naskah tulisan itu dengan harga yang mahal. Ia mempekerjakan orang-orang tertentu untuk mengelola perpustakaannya. Ia juga melindungi lembaga-lembaga kesusastraan dan memberikan hadiah bagi para sarjana.

Muhyiddin Al-Khayyath dalam kitabnya, Durus Tarikh Al-Islami, menyebutkan Abul Faraj—pujangga besar Arab kala itu—tengah menyusun kumpulan sajak dan lagu yang diberinama Al-Aghani. Mendengar hal itu, Hakam II segera mengirimkan utusan untuk menemui sang penulis. Naskah pertama karya itu dibayar dengan 1.000 dinar emas! Angka yang begitu besar. Tak heran kalau para ahli sejarah menyebut masa pemerintahannya dengan zaman bagi sastra Arab di Spanyol.

Khalifah Hakam II juga berhasil menghalau tantangan dari Daulah Fathimiyah yang inging merebut wilayah Afrika Barat. Setelah terjadi pertempuran selama empat tahun, di bawah pimpinan Panglima Ghalib, daerah itu bisa direbut kembali.

Pada 979 M, Khalifah Hakam II mengangkat Muhammad bin Abu Amir sebagai wazir, yang sebelumnya menjabat hakim agung. Saat itu, jabatan wazir mengepalai seluruh bagian pemerintahan, namun kekuasaan tertinggi tetap berada tangan khalifah. Kelak sepeninggal Khalifah Hakam II, Muhammad bin Abu Amir memainkan peran yang sangat penting selama 27 tahun. Ia seorang negarawan cakap dan ahli strategi perang.

Penunjukan itu bersamaan dengan adanya tantangan dari pihak utara, Kerajaan Navarre. Beberapa benteng dan perbatasan mulai diserang. Di tengah serangan-serangan itulah Khalifah Hakam II wafat dalam usia 62 tahun. Ia digantikan oleh putranya, Hisyam II yang kala itu masih berusia 10 tahun. Saudaranya, Mughirah bin Abdurrahman III menjabat sebagai Mursyih Al-Amri atau Pemangku Kuasa.


Redaktur: cr01
Sumber: Kisah Para Khalifah karya Hepi Andi Bastoni

Kamis, 26 Mei 2011

Abdurrahman III sang penyelamat imperium

Sejarah Para Khalifah: Abdurrahman III, Sang Penyelamat Imperium
Kamis, 26 Mei 2011 10:20 WIB

REPUBLIKA.CO.ID, Abdurrahman III adalah orang yang paling cakap dan paling besar di antara para khalifah Bani Umayyah di Andalusia. Dia merupakan khalifah ke-8 yang menduduki tahta pada 912 M saat berusia 23 tahun. Ia memiliki kepribadian kuat, pertimbangan tepat, keteguhan hati, dan keberanian.

Ketika Abdurrahman naik tahta, Bani Umayyah berada dalam keadaan yang paling lemah. Namun ia meninggalkannya dalam keadaan paling kuat. Pemerintahannya membuka pertanda menggembirakan bagi jazirah itu karena menandai fajar kedamaian, kemakmuran dan kemegahan. Sehingga ia disebut sebagai Sang Penyelamat Imperium Muslim Andalusia.

Setelah naik tahta, ia dalam suatu pernyataan menuntut semua warganya untuk tundak tanpa syarat, tanpa memandang kelas. Dia berusaha membuang kebijakan pembangkang dan penjahat dalam pemerintahannya. Rencana besarnya, selain membasmi kekuatan-kekuatan penyeleweng dan pengacau, juga berupaya menciptakan keseimbangan politik, memulihkan perdamaian dan stabilitas dinasti yang tengah kacau.

Abdurrahman membuktikan dirinya sebagai seorang yang terhormat. Dia memiliki keteguhan hati dan keberanian yang menjadi ciri pemimpin di segala zaman. Kebijakan yang menunjukkan keberaniannya adalah memadamkan semua pemberontakan dan menegakkan kekuasaannya dari sungai Ebro sampai Atlantik dan dari kaki pegunungan Pyreneen sampai Gibraltar pada 913 M.

Dia memimpin sendiri tentaranya melawan para pemberontak di selatan. Keinginannya yang nyata untuk bersama-sama merasakan tak hanya kejayaan, tetapi juga keletihan dan bahaya, membangkitkan semangat tentaranya secara luar biasa. Sehingga ia berhasil merebut benteng Ecija, menundukkan Gubernur Sevilla serta menghancurkan musuh Bani Umayyah yang paling bandel, Ibnu Hafishan—sehingga bentengnya (Barbastro) berhasil diduduki. Begitu pula dengan pemberontak-pemberontak di sebelah barat, juga berhasil ditundukkan.

Pada masa pemerintahan Abdurrahman III, ketertiban dan kemakmuran meliputi seluruh imperium. Organisasi polisinya juga sempurna sehingga orang-orang asing atau para pedagang dapat bepergian ke daerah-daerah yang paling sukar dicapai tanpa sedikit pun takut akan mendapatkan penganiayaan atau bahaya. Untuk menyampaikan laporan dengan cepat, kuda-kuda penyambung ditempatkan di berbagai pos.

Berbagai fasilitas umum dibiayai dengan uang negara. Rumah-rumah sakit dan rumah-rumah peristirahatan untuk orang miskin dibangun. Sekolah-sekolah, perguruan tinggi-pergururan tinggi, serta perpustakaan terdapat di mana-mana di seluruh negeri. Perdagangan dan industri, kesenian dan ilmu pengetahuan juga didorong dan dikembangkan.

Sepertiga dari pendapatan negara setiap tahun dibelanjakan untuk memajukan pendidikan dan kebudayaan. Para astronom seperti Ahmad bin Nasar, para filsuf seperti Ibnu Masarrah, dan para dokter seperti Said dan Yahya bin Isyak, muncul dan berkembang pada masa pemerintahan Abdurrahman III.

Banyak karya orang Yunani yang diterjemahkan ke dalam bahasa Arab. Dekat Cordoba, ia juga membangun sebuah istana yang indah, Az-Zahra, yang dianggap sebagai suatu keajaiban kesenian Islam. Istana kerajaan ini memiliki 400 kamar yang konon dapat menampung ribuan budak dan pegawai. Istana Az-Zahra terbuat dari pualam putih yang didatangkan dari Nurmidia dan Carthago. Ia juga menerangi sebuah jalan Cordoba sepanjang 16 kilometer dengan cahaya yang begitu terang. Padahal, jalan-jalan yang bagus di Inggris dan Prancis pada saat itu masih langka.

Dengan seluruh pencapaiannya, dapatlah dikatakan bahwa masa pemerintahannya merupakan masa keemasan Andalusia (Spanyol). Dia mengangkat negeri yang berantakan itu ke tempat yang sukar dibayangkan sebelumnya.

Abdurrahman III wafat pada Oktober 961 M. Masa pemerintahannya berlangsung selama 49 tahun. Seperti dituturkan Imam As-Suyuthi, dialah yang pertama kali dipanggil dengan sebutan Amirul Mukminin, bertepatan dengan masa kemunduran Daulah Abbasiyah di Baghdad di bawah kepemimpinan Khalifah Al-Muqtadir. Sebelumnya, khalifah Daulah Umayyah di Andalusia dipanggil dengan sebutan Amir.




Redaktur: cr01
Sumber: Sejarah Para Khalifah karya Hepi Andi Bastoni

ABDULLAH BIN MUHAMMAD.lukisan keberanian dan kedermawanan

Sejarah Para Khalifah: Abdullah bin Muhammad, Lukisan Keberanian dan Kedermawanan
Rabu, 25 Mei 2011 18:00 WIB

REPUBLIKA.CO.ID, Abdullah bin Muhammad adalah Khalifah Ketujuh Daulah Umayyah di Andalusia. Ia menjadi khalifah menggantikan saudaranya, Mundzir bin Muhammad, yang wafat pada 275 H. Khalifah Abdullah memerintah selama 25 tahun. Namun masa-masa awal pemerintahannya diwarnai banyak kerusuhan.

Imam As-Suyuthi dalam Tarikh Al-Khulafa’ mengatakan, Abdullah bin Muhammad adalah khalifah yang paling baik di Andalusia, baik dari sisi ilmu pengetahuan maupun sisi agama.

Wilayah Lusitania yang telah berhasil diamankan pada masa pemerintahan Mundzir bin Muhammad, bergejolak kembali di bawah pimpinan Muhammad bin Taqut, Gubernur Torre er Mosa, yang terletak di sebelah utara Badajoz. Ia berhasil merebut ibukota wilayah Lusitania, kota Merida.

Sementara itu, Ibnu Marwan Al-Ghaliki yang sebelumnya diporak-porandakan oleh pasukan Mundzir, kembali menyusun kekuatan. Ia berhasil merebut berbagai kota dan benteng di wilayah Lusitania.

Ghalib bin Umar yang telah menguasai wilayah bagian utara itu menjalin hubungan dengan Dinasti Aghlabiyah di Qairawan. Ia menyatakan tundak kepada Daulah Abbasiyah yang berpusat di Baghdad.

Ketika Dinasti Aghlabiyah ditaklukkan oleh Dinasti Fathimiyah, Ghalib bin Umar segera mendekati Dinasti Fathimiyah, dan menyatakan tunduk di bawah kekuasaan dinasti beraliran Syiah itu.

Lama-kelamaan, Ghalib bin Umar berhasil maju dan masuk ke wilayah Castile hingga Raja Alfonso III dan putranya, Don Garcia, terus terdesak. Di wilayah Zamora, pecahlah peperangan sengit. Ghalib bin Umar dan panglimanya, Abul Qasim, tewas.

Sementara itu, Khalifah Abdullah berhasil mengamankan wilayah barat dan selatan kekuasaannya. Ketika Raja Alfonso III hendak maju ke Toledo, Navarre dan Aragon. Khalifah Abdullah dan pasukannya maju ke arah utara.

Di lain pihak, terdapat ketidakpuasan Don Garcia pada ayahnya. Kemelut pun pecah dan berlangsung lama hingga Raja Alfonso III meletakkan jabatannya. Situasi ini dimanfaatkan sebaik mungkin oleh Khalifah Abdullah untuk memulihkan wilayah itu.

Pada usia 42 tahun, Khalifah Abdullah meninggal dunia. Sepuluh tahun terakhir dari masa kekuasaannya digunakan untuk memulihkan pembangunan akibat kemelut yang terus terjadi. Kesempatan itu terbuka karena tak ada ancaman dari wilayah Asturia dan Leon. Wilayah itu tengah dilanda kemelut antar ayah dan anak.

Masa pemerintahannya yang berlangsung selama 25 tahun dicatat oleh sejarawan dengan kalimat sirah syaja’atin wa sikha’, riwayat hidup yang melukiskan keberanian dan kedermawanan.




Redaktur: cr01
Sumber: Sejarah Para Khalifah karya Hepi Andi Bastoni