Selasa, 03 Mei 2011

Daulah Abbasiyah:Al-Qadir Billah(25)

Daulah Abbasiyah: Al-Qadir Billah, Khalifah yang Berbudi
Tuesday, 03 May 2011 09:57 WIB

REPUBLIKA.CO.ID, Al-Qadir Billah dilahirkan pada 336 H. Ibunya seorang mantan budak bernama Tumna. Dalam Tarikh Baghdad disebutkan namanya, Yumna. Ada pula yang menyebutnya Dumnah. Nama Al-Qadir adalah Ahmad bin Ishaq bin Al-Muqtadir.

Dia dilantik sebagai khalifah Daulah Abbasiyah ke-25 (991-1031 M) setelah pengunduran diri Ath-Tha'i. Saat pelantikan ia tidak berada di Baghdad. Dia baru datang pada 10 Ramadhan, yaitu keesokan harinya setelah pelantikan.

Pelantikan Khalifah Al-Qadir disambut suka cita oleh seluruh penduduk negeri. Sebab sebelum dilantik sebagai khalifah, Al-Qadir dikenal berbudi mulia, memiliki komitmen keagamaan yang mantap, memiliki wibawa, selalu melakukan shalat tahajud, banyak melakukan tindakan-tindakan terpuji, dan banyak bersedekah.

Pada bulan Syawwal, terjadilah kesepakatan antara Al-Qadir dengan Baha Ad-Daulah. Mereka saling bersumpah untuk menepati kesepakatan. Khalifah Al-Qadir memberikan tugas khusus kepadanya.

Pada 394 H, Baha Ad-Daulah menugaskan Asy-Syarif Abu Ahmad Al-Husain bin Musa Al-Musawi untuk menjabat di pengadilan dalam masalah-masalah haji, pidana, dan masalah-masalah perdata. Baha Ad-Daulah menuliskan hal ini dari Syairaz. Namun Asy-Syarif tidak melaksanakannya karena tidak mendapat izin dari Al-Qadir.

Pada 395 H, terjadi permusuhan antara orang-orang Syi'ah dan Sunni. Saat itu, Syekh Abu Hamid Al-Isfirayini nyaris terbunuh. Mengetahui keadaan yang bisa membahayakan keamanan negara itu, Khalifah Al-Qadir bertindak cepat. Ia memerintahkan para tentaranya untuk mengamankan golongan Ahlus Sunnah dari ancaman kaum Syi'ah Rafidhah yang ingin membunuh para ulama Ahlus Sunnah.

Pada 399 H, Abu Amr dicopot dari jabatannya sebagai hakim di Bashrah. Sedangkan sebagai penggantinya diangkatlah Abu Al-Hasan bin Abu Asy-Syawarib. Pada tahun ini pemerintahan Bani Umayyah di Andalusia mengalami kemerosotan yang sangat parah dan sistem pemerintahannya morat-marit.

Amirul Umara Baha Ad-Daulah meninggal pada 403 H dalam usia 42 tahun setelah berkuasa selama 24 tahun 9 bulan. Ia digantikan oleh putranya Abu Syuja' dengan panggilan Sulthan Ad-Daulah yang berkuasa selama delapan tahun.

Ia pun digantikan oleh saudaranya, Abu Ali, dengan panggilan Musyrif Ad-Daulah. Selanjutnya tokoh ini hanya berkuasa selama enam tahun, ia pun digantikan oleh saudaranya, Abu Thahir, dengan julukan Jalal Ad-Daulah.

Pada masa inilah Khalifah Al-Qadir wafat. Ia meninggal dunia pada Senin 11 Dzulhijjah 423 H. Masa pemerintahannya berlangsung selama 40 tahun tiga bulan.

Senin, 02 Mei 2011

ANDALUSIA KINI

Andalusia, Riwayatmu Kini
Senin, 02 Mei 2011 19:58 WIB

Sebenarnya ini cerita klasik yang sering terlupakan seiring dengan perkembangan zaman, Andalusia atau Spanyol saat ini lebih dikenal dengan kompetisi La Liganya, belum lagi dua klub raksasa dunia FC Barcelona dan FC Real Madrid yang banyak digilai pecinta bola, apalagi di tahun 2010 Spanyol berhasil menjadi Juara Dunia untuk kali pertama, spontan kisah Andalusia bisa lebih terkikis, alhasil dunia bola lebih sering di bincangkan oleh publik ketimbang keberhasilan Islam mewarnai Spanyol ratusan tahun silam.

Rasa penasaran menggiring hati ini untuk menyelami peradaban dan sejarah Islam lebih dalam, berawal dari perjalanan saya meninggalkan ibu pertiwi menuju negri di benua Afrika yaitu Maroko sambil mengikuti kilas balik sejarah. Walaupun selat menjadi pemisah diantara keduanya bukan menjadi penghalang untuk me-recover sejarah dan peradaban Islam di Andalusia yang kini menjadi warisan bersama umat Islam terutama bagi mereka yang tinggal di kawasan afrika utara meliputi Maroko, Aljazair, Tunisia, Libya dan Mauritania.

Jika kita bicara soal peradaban, jauh sebelum Andalusia sebenarnya sudah ada yang mengisi lembaran sejarah di muka bumi, berawal dari sejarah Peradaban Mesopotamia: 6000 SM – 1100 SM, Peradaban Mesir: 4000 SM – 343 M, Peradaban Yunani: 750 SM – 146 SM, Peradaban Romawi: 753 SM – 1453 M, kemudian Peradaban Islam: 622 M – 1924 M, itulah rangkaian singkat dari masa-masa peradaban.

Sejarah tidak banyak mencatat perihal keakuratan fase-fase sebelum peradaban Islam, karena belum adanya sistem sanad seperti di peradaban Islam, salah satu metode menjaga keaslian sejarah agar manusia tidak berkata sesukanya, bahkan sebelum Peradaban Islam, di kenal dengan masa kegelapan (The Dark Age) yang berlangsung hingga ratusan tahun sampai akhirnya di utus suri tauladan untuk menyempurnakan Akhlaq dan menjadi revolusi besar akan peradaban manusia menuju masyarakat madani (Civil Society) di bawah komando Rasulullah SAW.

Setelah itu ajaran Islam sebagai ideologi yang lurus mulai berkembang ke berbagai penjuru, di antaranya : negara-negara arab, teluk, daratan Afrika utara, Andalusia, dan belahan dunia lainnya. Islam menyentuh dunia termasuk Andalusia dengan bahasa Perubahan yang bermakna yaitu memanusiakan manusia dengan risalahnya yang jelas berupa ajaran Tauhid dan nilai-nilai luhur budi pekerti. Di masa-masa inilah Islam pernah mengukir prestasi di daratan Eropa dengan Andalusianya terhitung dari tahun 711-1492 M.

Sambil mengkaji artikel singkat ini, sejenak kita bayangkan fakta sejarah 13 abad silam, dibaca secara perlahan, dan di akhir tulisan kita bisa sama-sama mengambil pelajaran untuk di bandingkan dengan fakta di abad ke-21, sambil merenungkan sejenak cerita dari pejuang Islam Thariq bin Ziyad yang dengan menggeloranya beliau membakar semangat pasukan Islam. Kurang lebih sebanyak 7.000 prajurit dipimpinnya, mereka berasal dari suku Barbar (suku asli penduduk Maroko/Afrika utara) dan Arab. Mereka telah selamat dan tiba di dataran Andalusia. Mereka telah mengarungi selat yang memisahkan tanah Maroko di Afrika Utara dengan Eropa itu. Tanpa ragu sedikit pun Thariq memerintahkan untuk membakar kapal-kapalnya. Pilihannya jelas: terus maju untuk kejayaan Islam atau mati terhormat.

Pada cerita ini ada hal yang menarik yaitu soal pembakaran perahu yang di perintahkah oleh Thariq, disini terdapat perbedaan pendapat dikalangan sejarawan. Pada cerita lain dikisahkan atau ditulis secara umum, Thariq bin Ziyad tidak mungkin membakar perahu-perahu itu, dengan berbagai alasan:

1.Umat muslim dilarang untuk merusak barang yang masih bagus dan berguna

2.Thariq tidak mungkin merusak barang yang bukan miliknya. Karena perahu-perahu tersebut adalah milik tuan-nya (Musa). Apalagi pada perahu-perahu itu juga ada sumbangan dari pihak Andalusia yang tertekan dan minta bantuan.

Adapaun untuk kebenaran sejarah lebih lanjut kita butuh pembahasan lebih dalam dan intensif perihal keakuratan cerita dari sejarah Islam di Andalusia ratusan tahun silam.

Peristiwa di tahun 711 Masehi itu mengawali masa-masa Islam di Andalusia. Pasukan Thariq sebenarnya bukan misi pertama dari kalangan Islam yang menginjakkan kaki disana. Sebelumnya, Gubernur Musa Ibnu Nushair telah mengirimkan pasukan yang dikomandani Tharif bin Malik dan Tharif sukses dalam mengemban amanatnya. Kesuksesan itu mendorong Musa mengirim Thariq. Saat itu, seluruh wilayah Islam masih menyatu di bawah kepemimpinan Khalifah Al-Walid dari Bani Umayah tanpa intervensi sedikitpun dari Bani Abbasiyah yang berpusat di Bhagdad ketika itu. Dan ini menjadi prestasi tersendiri bagi dinasti Umayah yang bisa menguasai Andalusia.

Thariq pun mencatat sukses seperti pendahulunya Tharif. Ia mengalahkan pasukan Raja Roderick di Bakkah dengan membawa risalah keIslaman tanpa paksaan untuk berpindah agama, karena sejatinya tujuan mereka berperang bukan untuk memaksakan penduduk Andalusia memeluk Islam, akan tetapi melawan ketidakadilan dan kesewenang-wenangan Imperium Barat, jika kita Komparatifkan sama halnya seperti perang antara pasukan Islam dengan pasukan Romawi yang menjadi adikuasa di zaman Rasulullah SAW.

Setelah itu Thariq maju untuk merebut kota-kota seperti Granada, Cordova dan Toledo yang saat itu menjadi ibukota kerajaan Gothik. Ketika merebut Toledo, Thariq diperkuat dengan 5.000 orang tentara tambahan yang dikirim Musa.

Akhrinya Thariq sukses. Bukit-bukit di pantai tempat pendaratannya lalu dinamai Jabal Thariq, yang kemudian lebih dikenal dengan sebutan Gibraltar hingga sekarang. Musa bahkan ikut menyebrang untuk memimpin sendiri pasukannya. Ia berhasil merebut wilayah Seville dan mengalahkan Penguasa Gothic, Theodomir. Musa dan Thariq lalu bahu-membahu menguasai seluruh wilayah Spanyol selatan itu.

Pada 755 Masehi, Abdurrahman -keturunan Keluarga Dinasti Umayah (661-750 Masehi) yang lolos dari kejaran penguasa Abbasiyah-tiba di Spanyol. Perebutan kekuasaan dan persaingan tidak sehat menjadi isu sensitif kala itu karena ulah para elit dalam memperebutkan kursi panas dan puncak jabatan serta pembagian kavling kekuasaan.

Abdurrahman Ad-Dakhil, demikian orang-orang menjulukinya. Ia membangun Masjid Cordova, dan menjadi penguasa tunggal di Andalusia dengan gelar Amir. Keturunannya melanjutkan kekuasaan itu sampai 912 Masehi. Kalangan Kristen sempat mengobarkan perlawanan “untuk mencari kematian” (martyrdom). Namun Dinasti Umayah di Andalusia ini mampu mengatasi tantangan itu.

Abdurrahman kemudian menjadikan Andalusia sebagai pusat ilmu terpenting di daratan Eropa. Pada 912, tersiar kabar bahwa khalifah Abbasiyah di Baghdad tewas dibunuh, Ia lalu menggunakan gelar khalifah dan mendirikan Universitas Cordova dengan perpustakaan berisi ratusan ribu buku. Dalam catatan ini jika kita komparatifkan antara dinasti Umayah dan Abbasiyah, dinasti yang berusia paling panjang dalam sejarah Islam adalah Abbasiyah (750-1258 Masehi).

Hal demikian dilanjutkan oleh Khalifah Hakam. Pusat-pusat studi dibanjiri ribuan pelajar, Islam maupun Kristen, dari berbagai wilayah. Ladang-ladang pertanian Andalusia tumbuh dengan subur mengadopsi kebun-kebun dari wilayah Islam lainnya. Sistem hidraulik untuk pengairan dikenalkan. Andalusia inilah yang mendorong era pencerahan atau renaissance yang berkembang di Italia dan Negara-negara di Eropa umumnya. Bahkan ilmu-ilmu modern pun bermunculan di era Andalusia ini seperti Matematika, Fisika, Astronomi, dan disiplin ilmu lainnya.

Islam dan Ilmu Pengetahuan pada hakekatnya adalah ibarat dua muka dari sebuah koin. Islam yang murni mesti berlandaskan pada dasar Ilmu Pengetahuan yang valid, dan Ilmu Pengetahuan yang sejati selalu mengantarkan kepada kebenaran Islam yang universal. bahkan tokoh barat Dr. Maurice Bucaille menambahkan perihal kitab suci Umat Islam di dalam (La Bible, le Coran et la Science (1976): Al Qur’an sangat konsisten dengan ilmu pengetahuan dan sains, namun bahwa Alkitab atau Bibel tidak konsisten dan penurunannya bisa diragukan.

Setelah Andalusia ada di puncak keemasan, munculah fase kemunduran dan Kekacauan. Diskursus para elit menjadi salah satu faktor utama dan terjadi setelah Hakam wafat, setelah itu kendali dipegang Manshur Billah seorang ambisius yang menghabisi teman maupun lawan-lawannya dengan menghalalkan segala cara. Kebencian masyarakat, baik Islam maupun Kristen mencuat. Situasi tak terkendalikan lagi setelah Manshur Billah wafat. Pada 1013, Dewan Menteri menghapuskan jabatan khalifah. Akhrinya Andalusia terpecah-pecah menjadi sekitar 30 negara kota.

Dua kekuatan dari negri seribu benteng Maroko sempat menyatukan kembali seluruh wilayah itu. Pertama adalah Dinasti Murabithun (1086-1143) yang berpusat di Marrakech. Pasukan Murabithun datang untuk membantu kalangan Islam melawan Kerajaan Castilla. Mereka memutuskan untuk menguasai Andalusia setelah melihat Islam terpecah-belah. Dinasti Muwahiddun, yang menggantikan kekuasaan Murabithun di Afrika Utara, kemudin juga melanjutkan kepemimpinan Islam di Andalusia (1146-1235). Di masa ini, hidup seorang pemikir besar yang banyak menafsirkan naskah Aristoteles yaitu ibn rusyd (filsafat). Ada juga ilmuan-ilmuan lainnya yang mempunyai pengaruh besar terhadap peradaban manusia seperti : al-Qurthubi, Qadhi Iyadl (Tafsir), Ibnu Abdil Barr (Hadits), Ibnu Khaldun (ilmu sosial), Ibnu Arabi (Tasawuf), Sahnun, Ibnu Hazm (Fiqh), as-Shathibi (Maqashid), as-Shathibi (Maqashid) dan lain-lain.

Episode akhir sejarah Islam di Andalusia

Pada 1238 Cordova jatuh ke tangan Kristen, lalu Seville pada 1248 dan akhirnya seluruh Spanyol. Hanya Granada yang bertahan di bawah kekuasaan Bani Ahmar (1232-1492). Kepemimpinan Islam masih berlangsung sampai Abu Abdullah. Kemudian dia meminta bantuan Raja Ferdinand dan Ratu Isabella untuk merebut kekuasaan dari ayahnya. Abu Abdullah sempat naik tahta setelah ayahnya terbunuh. Namun Ferdinand dan Isabella kemudian menikah dan menyatukan kedua kerajaan. Mereka kemudian menggempur kekuatan Abu Abdullah untuk mengakhiri masa kepemimpinan Islam sama sekali di bawah kekuasaan raja dan ratu Katolik tersebut.

Sejak itulah, seluruh pemeluk Islam juga Yahudi, dikejar-kejar untuk dihabisi sama sekali atau berpindah agama. Mega proyek Imperium Kristus dengan hegemoninya terhadap pemeluk Islam itu dibawa oleh pasukan Spanyol yang beberapa tahun kemudian menjelajah hingga kawasan Asia tenggara tepatnya di Filipina. Kesultanan Islam di Manila pun mereka bumihanguskan, seluruh kerabat Sultan mereka perangi.

Alhasil memasuki Abad ke-16, Tanah Andalusia yang selama delapan Abad dalam naungan Islam kemudian bersih sama sekali dari keberadaan Muslimin setelah ekspansi besar-besaran para penguasa barat dengan imperium kristusnya merebut Andalusia dengan mengakhiri cerita pada Tragedy Granada, dimana Umat Islam ketika itu dihabisi dengan kejam tanpa belas kasihan.

Cemerlangnya cerita Andalusia sebenarnya bukan hal baru, termasuk perpecahan dan kemunduran pasca kejayaan. Berkaca ribuan tahun silam Bani Israil bisa kita jadikan contoh relevan untuk dijadikan pelajaran berharga. Nabi Daud dan Sulaiman ‘alaihima as-salam mereka berdua sukses membawa Bani Israil kepada kegemilangan sejarah dan kemakmuran (fase keemasan). Setelah wafatnya Nabi Daud dan Sulaiman ‘alaihima as-salam, Bani Israil yang dulu kuat dan di puja-puja akhirnya menjadi kaum yang lemah dan mengalami perpecahan yang akhrinya dibagi menjadi dua kelompok :

1. Kerajaan selatan dengan Yerussalem sebagai ibukota di pimpin oleh Rahbaam (Rehabeam)-(913-930/31 SM).

2. Kerajaan utara dengan Nabloes sebagai ibukota dan dipimpin oleh Yarbaam (Yerabeam)-(909/910-930/931 SM).

Mereka berdua adalah keturunan para pemimpin Bani Israil terdahulu. Rahbaam Putra Nabi Sulaiman ‘Alaihi as-salam menjadi penerus dari kepemimpin ayahnya, sedangkan Yarbaam enggan berjalan bersama dan lebih memilih menjadi Oposisi ketimbang koalisi dengan Rahbaam dalam memimpin Bani Israil, dari sinilah berawal perpecahan demi hasrat politik menuju kekuasaan dari kubu Yarbaam.

Faktor mendasar kemunduran Bani Israil

Terlena dengan kejayaan, perebutan tahta kekuasaan, maraknya kubu oposisi yang bersifat subyektif, perpecahan, hidup yang berfoya-foya, krisis moral, dan unsur duniawi lainnya menjadi faktor paling mendasar kemunduran Bani Israil. Setelah beberapa kurun dalam fase kemunduran, estafet kepemimpinan Bani Israil di teruskan oleh Nabi Musa dan Nabi Harun ‘alaihima as-salam dengan membawa risalah ilahi, keduanya mampu mengeluarkan Bani Israil dari penindasan turun temurun di bawah kekuasaan sang diktator Mesir Fir’aun serta berhasil dengan taufik dari Allah ta’ala seperti yang diceritakan di banyak ayat dalam Kitab suci Al Qur’an. salah satunya di Surat Al A’raaf ayat 103-137 juz 9.

Tambuk kepemimipinan Bani Israil pun berganti seiring dengan wafatnya kedua utusan Allah tersebut. Yusha Bin Nun salah seorang murid kepercayaan Nabi Musa ‘alaihi as -salam yang akhirnya menjadi pemimpin Bani Israil membawa mereka ke Tanah sakral Palestina dan menetap di sana dalam jangka waktu yang lama. Yusha Bin Nun senantiasa membagi masa kepemimpinan Bani Israil menjadi 3 bagian : (1). Masa Pemerintahan, (2). Masa kerajaan/kejayaan, (3). Masa perpecahan.

Di bawah kepimimpinan nabi Daud ‘alahi as-salam awal masa pemerintahan, di teruskan nabi Sulaiman ‘alaihi as-salam dengan masa kejayaan, setelah mereka berdua wafat datanglah masa perpecahan seperti yang di ceritakan pada paragraf sebelumnya.



Guntara Nugraha Adiana Poetra

Lulusan Universitas Amerika di Kairo/Conversation Class tahun 2005
Redaktur: Johar Arif

Daulah Abbasiyah:Al-Tha'i Lillah(24)

Daulah Abbasiyah: Ath-Tha'i Lillah, Tertawan Orang Dekat
Tuesday, 03 May 2011 06:19 WIB

REPUBLIKA.CO.ID, Ath-Tha'i Lillah bergelar Abu Bakar, nama aslinya adalah Abdul Karim bin Al-Muthi'. Ibunya seorang budak bernama Hazar. Ada pula yang menyebutnya Atab. Saat ayahnya menyatakan mundur dari jabatan khalifah dan menyerahkan kepada anaknya, Ath-Tha'i Lillah berumur 43 tahun. Ia adalah khalifah Daulah Abbasiyah ke-23 (974-991 M).

Di antara para khalifah Bani Abbasiyah, tidak ada yang dinobatkan sebagai khalifah pada usia yang demikian lanjut. Dalam sejarah Islam, tidak ada juga yang namanya Abu Bakar kecuali Khalifah Ath-Tha'i Lillah dan Abu Bakar Ash-Shiddiq.

Pada masa pemerintahan Ath-Tha'i, pengaruh Syiah Rafidah semakin kuat di Mesir, Syam dan wilayah-wilayah Timur dan Maghrib. Ada seruan dari Bani Ubaidillah agar shalat tarawih tidak dilakukan.

Pada masa ini pula, Al-Muiz Lidinillah Al-Ubaidi penguasa Mesir meninggal dunia. Dia orang pertama yang mampu menguasai Mesir dari kalangan Bani Ubaid. Setelah meninggal, kekuasaan diserahkan kepada anaknya, Nizar, dan diberi gelar Al-Azis.

Pada 366 H, Al-Muntashir Billah Al-Hakam bin An-Nashir Lidinillah Al-Umawi, penguasa Andalusia, meninggal dunia. Putranya, Hisyam, yang bergelar Al-Muayyid Billah menggantikannya.

Ketika Adhuh Ad-Daulah dinobatkan sebagai pemangku kesultanan, upacara dilakukan besar-besaran. Dia diarak keliling kota dengan memakai mahkota yang berhiaskan permata dan di pinggangnya disandangkan pedang. Dia diberi dua bendera. Salah satunya bendera dengan lapisan warna perak yang melambangkan kekuasaan bagi gubernur dan yang satu lagi berwarna keemasan yang menggambarkan kekuasaan bagi putra mahkota. Bendera kedua ini belum pernah diberikan kepada siapa pun sebelumnya.

Pada 368 H, Ath-Tha'i memerintahkan seluruh penduduk agar setiap Subuh, Maghrib dan Isya, ditabuh genderang di muka rumah Adhud Ad-Dauhlah. Dia juga memerintahkan agar dalam setiap khutbah disebutkan namanya.

Pada 369 H, Adhud Ad-Daulah meminta pada Ath-Tha'i agar memberikan tambahan gelar padanya dengan julukan Taajul Millah. Dia meminta penobatan baru dan meminta agar diberikan mahkota. Ath-Tha'i memenuhi permintaannya.

Adhud Ad-Daulah hanya berkuasa selama enam tahun. Pada 372 H, ia meninggal dunia. Sebelum wafat ia sengaja menikahkan putrinya dengan Khalifah Ath-Tha'i dengan harapan kelak akan lahir seorang anak. Dengan demikian, ia berharap tampuk kekuasaan berada pada keturunannya.

Khalifah Ath-Tha'i mengangkat anak Adhud Ad-Daulah yang bernama Shamshamud Daulah sebagai pengganti ayahnya. Ath-Tha'i menggelarinya dengan Syam Al-Millah.

Shamshamud Daulah hanya bertahan empat tahun. Saudaranya, Abul Fawaris, yang menjabat gubernur Ahwaz berangkat dengan pasukannya untuk merebut wilayah Wasit dan menguasainya.

Abul Fawaris naik menggantikan Shamshamud Daulah dengan sebutan Syaraf Ad-Daulah. Namun ia hanya bertahan dua tahun delapan bulan. Ia wafat pada usia 28 tahun. Posisinya digantikan saudaranya, Abu Nashr, dengan panggilan Baha Ad-Daulah yang berkuasa selama 28 tahun.

Pada 381 H, Khalifah Ath-Tha'i ditangkap karena memenjarakan orang dekat Baha Ad-Daulah. Setelah mengetahui orang terdekatnya ditangkap dan dipenjarakan, Baha Ad-Daulah dan orang-orangnya segera memenjarakan Ath-Tha'i.

Peristiwa ini mengguncangkan negeri. Baha segera menulis kepada Ath-Tha'i agar sukarela mengundurkan diri dari khilafah lalu menyerahkannya kepada Al-Qadir Billah. Peristiwa itu disaksikan oleh orang-orang terpandang. Ini terjadi pada 19 Sya'ban. Kemudian Al-Qadir yang saat itu sedang berada di Bathihah diminta segera datang ke istana.

Ath-Tha'i sendiri tetap berada di rumah Al-Qadir Billah. Dia diperlakukan sebagai orang terhormat. Demikianlah, perlakuan baik ini berlanjut hingga dia meninggal dunia pada 393 H, di malam Idul Fitri pada usia 76 tahun.




Redaktur: cr01
Sumber: Sejarah Para Khalifah karya Hepi Andi Bastoni

Daulah Abbasiyah:Al-Muthi'Lillah(23)

REPUBLIKA.CO.ID, Nama aslinya Al-Fadhl bin Al-Muqtadir bin Al-Mu'tadhid (946-974 M). Ibunya mantan budak bernama Syu'lah. Dia lahir pada 301 H, dan dilantik sebagai khalifah saat Al-Mustakfi dicopot dari kursi kekhalifahan pada Jumadil Akhir 334 H. Muiz Ad-Daulah menetapkan belanja harian untuknya hanya sebesar 100 dinar.

Ia merupakan khalifah Daulah Abbasiyah ke-23 dengan panggilan Al-Muthi' Lillah. Ia diangkat menjadi khalifah pada usia 34 tahun dan sempat menduduki jabatannya selama 29 tahun 5 bulan.

Menurut Joesoef Sou'yb, sang Khalifah bisa memegang kekuasaan demikian lama karena ia rela menerima kedudukannya sebagai lambang kekuasaan semata. Sedangkan kekuasaan sepenuhnya berada di tangan Muiz Ad-Daulah yang berkuasa selama 22 tahun.

Kalau beberapa khalifah sebelumnya masih mempunyai kekuasaan tertentu dan masih ada menteri yang mendampinginya, namun sejak keluarga Buwaih memegang tampuk kekuasaan, maka hampir seluruh wewenang khalifah dicopot. Ia hanya dijadikan lambang kekuasaan semata. Khalifah hanya didampingi oleh seorang sekretaris yang bertugas mencatat dan mengurus anggaran belanja sang Khalifah.

Khalifah tidak lagi berhak mengambil jatah sesukanya dari Baitul Mal. Baginya telah ditetapkan anggaran tertentu, baik bagi dirinya maupun tamu dan pejabat istana. Lambang kekuasaan hanya berada pada doa khutbah Jumat dan Hari Raya. Khalifah Al-Muthi' hanya memegang stempel dan menandatangani surat-surat resmi dalam hal-hal tertentu saja.

Pada 338 H, Muiz Ad-Daulah meminta Al-Muthi' untuk melibatkan saudara Ali bin Buwaih, Imad Ad-Daulah, dalam masalah pemerintahan. Imad Ad-Daulah ingin menjadi pengganti Al-Muthi'. Al-Muthi' memenuhi apa yang ia minta, namun Imad Ad-Daulah keburu meninggal pada tahun itu juga. Akhirnya, Al-Muthi' mengangkat saudaranya, Rukn Ad-Daulah, yang tak lain adalah ayah dari Adhat Ad-Daulah.

Pada 354 H, saudari Muiz Ad-Daulah meninggal dunia. Al-Muthi' datang ke rumah Muiz Ad-Daulah untuk takziyah dengan menggunakan kendaraan. Setelah sampai di kediaman Muiz, Khalifah tidak turun dari tempat karena adanya rasa pesimis. Dia hanya mencium tanah beberapa kali, setelah itu kembali lagi ke istananya.

Pada 356 H, Muiz Ad-Daulah meninggal dunia. Anaknya yang bernama Bakhtiar menggantikan posisi ayahnya yang oleh Al-Muthi' diberi gelar Izz Ad-Daulah. Ternyata sang anak berbeda dengan ayahnya. Ketika utusan Irak Utara datang ke Baghdad dan meminta bantuan dan melaporkan keganasan pasukan Byzantium, Izz Ad-Daulah segera menemui Al-Muthi'.

Sejarah mencatat jawaban Khalifah Al-Muthi' kala itu, "Aku tidak mempunyai apa-apa kecuali khutbah. Kalau kau ingin, aku akan mengundurkan diri."

Izz Ad-Daulah mengancam dan mengingatkan nasib para khalifah sebelumnya. Khalifah Al-Muthi' terpaksa menjual perhiasan yang ia miliki untuk memenuhi tuntutan itu. Namun ternyata, harta itu tidak digunakan untuk bantuan ke Irak, tapi dipakai untuk pelesiran dan foya-foya. Bahkan Izz Ad-Daulah sempat menghina dan menyiksa utusan perwira Turki yang ikut dalam pasukan itu.

Pada 363 H, Al-Muthi' diserang penyakit lumpuh sehingga ia tak mampu bicara. Maka pengawal Izz Ad-Daulah meminta Al-Muthi' untuk mengundurkan diri dari kekhalifahan dan segera menyerahkannya kepada anaknya yang bernama Ath-Tha'i Lillah.

Al-Muthi' menuruti saran tersebut. Pengunduran resminya dia nyatakan pada Rabu 13 Dzulqa'dah. Dengan demikian masa pemerintahan Al-Muthi' adalah 29 tahun lebih lima bulan. Pengunduran dirinya dikokohkan oleh Qadhi Ibni Syaiban. Setelah pengunduran dirinya, Al-Muthi' disebut sebagai Syekh Al-Fadhl (sesepuh yang mulia).

Pada Muharram 364 H, Al-Muthi' melakukan perjalanan bersama anaknya ke Wasith. Dia meninggal pada tahun tersebut pada usia 63 tahun. Selama pemerintahannya terjadi perubahan dalam ketatanegaraan. Kekuasaan pusat tidak lagi berfungsi sebagai penguasa meski masing-masing wilayah masih mengakui kedaulatan khalifah.



Redaktur: cr01
Sumber: Sejarah Para Khalifah karya Hepi Andi Bastoni

Daulah Abbasiyah:Al-Muthi'Lillah(23)

REPUBLIKA.CO.ID, Nama aslinya Al-Fadhl bin Al-Muqtadir bin Al-Mu'tadhid (946-974 M). Ibunya mantan budak bernama Syu'lah. Dia lahir pada 301 H, dan dilantik sebagai khalifah saat Al-Mustakfi dicopot dari kursi kekhalifahan pada Jumadil Akhir 334 H. Muiz Ad-Daulah menetapkan belanja harian untuknya hanya sebesar 100 dinar.

Ia merupakan khalifah Daulah Abbasiyah ke-23 dengan panggilan Al-Muthi' Lillah. Ia diangkat menjadi khalifah pada usia 34 tahun dan sempat menduduki jabatannya selama 29 tahun 5 bulan.

Menurut Joesoef Sou'yb, sang Khalifah bisa memegang kekuasaan demikian lama karena ia rela menerima kedudukannya sebagai lambang kekuasaan semata. Sedangkan kekuasaan sepenuhnya berada di tangan Muiz Ad-Daulah yang berkuasa selama 22 tahun.

Kalau beberapa khalifah sebelumnya masih mempunyai kekuasaan tertentu dan masih ada menteri yang mendampinginya, namun sejak keluarga Buwaih memegang tampuk kekuasaan, maka hampir seluruh wewenang khalifah dicopot. Ia hanya dijadikan lambang kekuasaan semata. Khalifah hanya didampingi oleh seorang sekretaris yang bertugas mencatat dan mengurus anggaran belanja sang Khalifah.

Khalifah tidak lagi berhak mengambil jatah sesukanya dari Baitul Mal. Baginya telah ditetapkan anggaran tertentu, baik bagi dirinya maupun tamu dan pejabat istana. Lambang kekuasaan hanya berada pada doa khutbah Jumat dan Hari Raya. Khalifah Al-Muthi' hanya memegang stempel dan menandatangani surat-surat resmi dalam hal-hal tertentu saja.

Pada 338 H, Muiz Ad-Daulah meminta Al-Muthi' untuk melibatkan saudara Ali bin Buwaih, Imad Ad-Daulah, dalam masalah pemerintahan. Imad Ad-Daulah ingin menjadi pengganti Al-Muthi'. Al-Muthi' memenuhi apa yang ia minta, namun Imad Ad-Daulah keburu meninggal pada tahun itu juga. Akhirnya, Al-Muthi' mengangkat saudaranya, Rukn Ad-Daulah, yang tak lain adalah ayah dari Adhat Ad-Daulah.

Pada 354 H, saudari Muiz Ad-Daulah meninggal dunia. Al-Muthi' datang ke rumah Muiz Ad-Daulah untuk takziyah dengan menggunakan kendaraan. Setelah sampai di kediaman Muiz, Khalifah tidak turun dari tempat karena adanya rasa pesimis. Dia hanya mencium tanah beberapa kali, setelah itu kembali lagi ke istananya.

Pada 356 H, Muiz Ad-Daulah meninggal dunia. Anaknya yang bernama Bakhtiar menggantikan posisi ayahnya yang oleh Al-Muthi' diberi gelar Izz Ad-Daulah. Ternyata sang anak berbeda dengan ayahnya. Ketika utusan Irak Utara datang ke Baghdad dan meminta bantuan dan melaporkan keganasan pasukan Byzantium, Izz Ad-Daulah segera menemui Al-Muthi'.

Sejarah mencatat jawaban Khalifah Al-Muthi' kala itu, "Aku tidak mempunyai apa-apa kecuali khutbah. Kalau kau ingin, aku akan mengundurkan diri."

Izz Ad-Daulah mengancam dan mengingatkan nasib para khalifah sebelumnya. Khalifah Al-Muthi' terpaksa menjual perhiasan yang ia miliki untuk memenuhi tuntutan itu. Namun ternyata, harta itu tidak digunakan untuk bantuan ke Irak, tapi dipakai untuk pelesiran dan foya-foya. Bahkan Izz Ad-Daulah sempat menghina dan menyiksa utusan perwira Turki yang ikut dalam pasukan itu.

Pada 363 H, Al-Muthi' diserang penyakit lumpuh sehingga ia tak mampu bicara. Maka pengawal Izz Ad-Daulah meminta Al-Muthi' untuk mengundurkan diri dari kekhalifahan dan segera menyerahkannya kepada anaknya yang bernama Ath-Tha'i Lillah.

Al-Muthi' menuruti saran tersebut. Pengunduran resminya dia nyatakan pada Rabu 13 Dzulqa'dah. Dengan demikian masa pemerintahan Al-Muthi' adalah 29 tahun lebih lima bulan. Pengunduran dirinya dikokohkan oleh Qadhi Ibni Syaiban. Setelah pengunduran dirinya, Al-Muthi' disebut sebagai Syekh Al-Fadhl (sesepuh yang mulia).

Pada Muharram 364 H, Al-Muthi' melakukan perjalanan bersama anaknya ke Wasith. Dia meninggal pada tahun tersebut pada usia 63 tahun. Selama pemerintahannya terjadi perubahan dalam ketatanegaraan. Kekuasaan pusat tidak lagi berfungsi sebagai penguasa meski masing-masing wilayah masih mengakui kedaulatan khalifah.



Redaktur: cr01
Sumber: Sejarah Para Khalifah karya Hepi Andi Bastoni

Minggu, 01 Mei 2011

Daulah Abbasiyah:Al-Mustakfi Billah(22)

Daulah Abbasiyah: Al-Mustakfi Billah, Di Bawah Bayangan Panglima
Senin, 02 Mei 2011 00:08 WIB

REPUBLIKA.CO.ID, Nama aslinya Abdullah bin Al-Muktafi bin Al-Mu'tadhid (944-946 M). Ibunya seorang mantan budak bernama Amlahunas. Dalam sejarah, ia dikenal dengan sebutan Al-Mustakfi Billah atau Abul Qasim.

Al-Mustakfi dilantik sebagai Khalifah Bani Abbasiyah ke-22 setelah pencopotan Al-Muttaqi. Pelantikannya berlangsung pada Shafar 333 H dalam usia 41 tahun.

Setahun masa pemerintahan Al-Mustakfi, Amirul Umara bernama Tuzun meninggal. Salah seorang panglimanya yang terkemuka bernama Abu Ja'far bin Syairazad segera diangkat menggantikan posisinya.

Seperti dituturkan Imam As-Suyuthi dalam Tarikh Al-Khulafa', Ibnu Syairazad sangat berambisi terhadap jabatan itu. Bahkan ia sempat mengumpulkan pasukan. Untuk itu, khalifah memberinya posisi penting.

Sementara itu, Panglima Ahmad bin Buwaih yang menguasai wilayah Kirman dan Makram telah maju dengan pasukannya merebut dan menguasai wilayah Ahwaz di sepanjang pinggiran sungai Tigris. Dengan kedudukan itu, ia semakin mendekati Baghdad.

Ketika berita mangkatnya Tuzun sampai ke telinganya, ia bersama pasukannya bergerak menuju Baghdad. Ia hendak merebut jabatan Amirul Umara. Khalifah Al-Mustakfi dan Amir Zairik bin Syairazad terpaksa melarikan diri dari Baghdad. Panglima Ahmad bin Buwaih dan pasukannya menduduki ibukota.

Belakangan Khalifah Al-Mustakfi muncul kembali dan pura-pura menerima kedatangan Panglima Ahmad bin Buwaih. Untuk membuktikan hal itu, ia mengangkat sang panglima sebagai Amirul Umara. Dengan demikian, resmilah Panglima Ahmad bin Buwaih memegang kekuasaan tertinggi dalam Daulah Abbasiyah. Ia pun mengumumkan dirinya dengan panggilan Amir Muiz Ad-Daulah.

Dengan kekuasaan yang dipegangnya, Panglima Buwaih meresmikan wilayah Fars tetap berada di bawah kekuasaan saudaranya dan keturunannya. Ia pun menganugerahkan panggilan untuk saudaranya itu dengan Amir Imadh Ad-Daulah.

Selanjutnya ia meresmikan wilayah Isfahan untuk tetap di bawah kekuasaan saudaranya, Panglima Hasan bin Buwaih beserta keturunannya dan melekatkan panggilan kepadanya dengan julukan Amir Rukn Ad-Daulah.

Dengan demikian, keluarga Buwaih memegang posisi penting yang amat menentukan sejarah Daulah Bani Abbasiyah selanjutnya. Merekalah yang akan mewarnai sejarah dan melakukan perubahan.

Sementara itu, Panglima Zairak bin Syairazad datang menghadap Muiz Ad-Daulah. Dengan kemurahan hatinya, Muiz memberikan jabatan Diwan Jibwatul Amwal (Kepala Jawatan Pajak) kepada Ibnu Syairazad.

Menjelang pengujung 334 H, terbongkar rencana Khalifah Al-Mustakfi yang akan membunuh Amir Muiz Ad-Daulah. Rencana itu disiapkan oleh Qahrimanat Illam yang mendapatkan persetujuan dari sang khalifah.

Muiz Ad-Daulah segera mengirimkan dua orang pembesar dari Jawatan Penyelidik atau Diwan Nuqaba' untuk menyeret sang khalifah dan Qahrimanat ke hadapannya. Sejarah mencatat, betapa Khalifah Al-Mustakfi dan Qahrimanat diseret dari istana dan dibawa menghadap Muiz Ad-Daulah.

Setelah terbukti rencana gelap itu, Khalifah Al-Mustakfi dijebloskan ke penjara. Sedangkan Qahrimanat bin Illam dipotong lidahnya. Khalifah Al-Mustakfi hanya memerintah selama satu tahun empat bulan. Ia masih tetap hidup dalam penjara sampai 335 H dan wafat dalam usia 42 tahun.

Daulah Abbasiyah:Al-Muttaqi(21)

Daulah Abbasiyah: Al-Muttaqi, Khalifah yang Terbuang
Minggu, 01 Mei 2011 18:35 WIB

REPUBLIKA.CO.ID, Dia adalah Ibrahim bin Al-Muqtadir bin Al-Mu’tadhid (940-944). Ia dilantik menjadi khalifah setelah kematian saudaranya, Ar-Radhi. Saat dilantik menjadi khalifah Bani Abbasiyah ke-21, usianya baru 34 tahun. Ibunya bernama Khalub. Ada juga yang menyebutkan Zahrah.

Dia tak mengadakan perubahan apa-apa dan tidak pernah menggauli budak-budak yang dimilikinya. Dia dikenal sebagai khalifah yang sering berpuasa dan ibadah serta tak pernah minum arak sama sekali. Dia pernah berujar, “Saya tak pernah menjadikan sesuatu sebagai teman selain Al-Qur'an.”

Sebenarnya, dalam pemerintahan Al-Muttaqi tak lebih dari sekedar simbol dan nama. Pada hakikatnya semua masalah negara dikendalikan oleh Abu Abdullah Ahmad bin Al-Khufi.

Pada 330 H, terjadi pemberontakan yang dipimpin Abu Al-Husain Ali bin Muhammad Al-Baridi. Dengan sigap Khalifah Al-Muttaqi bersama Ibnu Raiq menyongsong serangan pemberontak tersebut. Namun dalam pertempuran itu keduanya kalah dan melarikan diri ke Mosul. Sedangkan Baghdad dan istana khalifah dikuasai Al-Baridi.

Tatkala Khalifah Al-Muttaqi dalam pelariannya sampai ke Tikrit, ia bertemu dengan Abu Al-Hasan Ali dan saudaranya, Al-Hasan. Saat itu Ibnu Raiq dibunuh dengan cara rahasia dan untuk menggantikan posisinya, Al-Muttaqi mengangkat Abu Al-Hasan Ali dan menggelarinya Nashir Ad-Daulah. Ia juga mengangkat Al-Hasan dan memberi gelar Saif Ad-Daulah.

Setelah itu Khalifah Al-Muttaqi kembali ke Baghdad bersama dengan Nashir Ad-Daulah dan Saif Ad-Daulah. Melihat kedatangan tiga orang itu, Al-Baridi melarikan diri ke Wasith.

Pada Ramadhan 331 H, Tuzun masuk Baghdad. Setibanya di Baghdad, Khalifah Al-Muttaqi menobatkannya sebagai pejabat yang mengurus administrasi negara. Namun setelah itu terjadi perselisihan sengit antara Al-Muttaqi dan Tuzun. Untuk mengatasi masalah ini Tuzun segera mengirimkan Ja’far bin Syairad dari Wasith ke Baghdad. Tuzun kemudian memiliki hak penuh di Baghdad dalam memerintah dan melarang.

Melihat gejala tidak sehat ini, Al-Muttaqi segera menulis surat kepada Ibnu Hamdan untuk datang ke Baghdad. Ibnu Hamdan datang membawa pasukan dalam jumlah besar, sedangkan Ja’far bin Syairad bersembunyi. Al-Muttaqi beserta keluarganya segera menuju Tikrit.

Sedangkan Ibnu Hamdan keluar dengan tentara dalam jumlah besar. Mereka dipersiapkan untuk menggempur Tuzun. Kedua pasukan bertemu di Akbara, ternyata Khalifah dan Ibnu Hamdan kalah dalam peperangan itu. Keduanya melarikan diri ke Mosul.

Akhirnya Khalifah menulis surat kepada Ikhsyid, pejabatnya di Mesir, untuk datang menemuinya. Muncul ketidaksukaan dalam diri Ibnu Hamdan atas tindakan tersebut, maka khalifah mengirim utusan kepada Tuzun untuk berdamai. Tuzun pun menerima tawaran damai yang diajukan khalifah. Perjanjian ini disertai sumpah.

Setelah itu Ikhsyid datang menemui Al-Muttaqi yang saat itu sedang berada di Riqqah. Ikhsyid sendiri telah mendengar perjanjian antara khalifah dengan Tuzun, yang notabene orang Turki.

Ikhsyid berkata, “Wahai Amirul Mukminin, saya adalah abdimu dan anak abdimu. Engkau tahu bagaimana perilaku orang-orang Turki dan bagaimana pengkhiatan mereka dalam masalah janji dan kesepakatan. Maka berhati-hatilah terhadap dirimu sendiri. Saya minta Khalifah berangkat bersama saya ke Mesir karena sesungguhnya wilayah itu adalah milikmu, dan engkau bisa merasa aman.”

Namun Al-Muttaqi tidak menerima tawaran Ikhsyid itu. Ikhsyid pun segera kembali ke Mesir, sedangkan Al-Muttaqi keluar dari Riqqah menuju Baghdad pada 4 Muharram 333 H.

Tuzun datang menjemput Khalifah Al-Muttaqi. Saat keduanya bertemu, Tuzun berjalan kaki dan mencium bumi menyatakan ketaatannya pada sang khalifah. Al-Muttaqi menyuruh Tuzun untuk menaiki kendaraan namun ia tak mau. Ia berjalan kaki mengiringi Al-Muttaqi menuju kemah yang sudah dipersiapkan.

Ketika Al-Muttaqi turun dari kendaraan, dia pun segera diringkus. Ikut diringkus pula Ali bin Muqlah dan orang-orang yang bersamanya. Setelah stempel, selendang dan pedangnya dirampas, Al-Muttaqi dikembalikan ke Baghdad.

Bersamaan dengan itu, Tuzun mendatangkan Abdullah bin Al-Muktafi dan melantiknya sebagai khalifah yang kemudian dia beri gelar Al-Mustafi Billah. Tak sampai setahun Tuzun memegang kendali kekuasaan, dia pun mati.

Sedangkan Al-Muttaqi dibuang ke sebuah pulau dekat Sind dan dipenjara di tempat itu. Setelah mendekam selama 25 tahun dalam penjara, Al-Muttaqi meninggal pada Sya’ban 357 H.



Redaktur: cr01
Sumber: Sejarah Para Khalifah karya Hepi Andi Bastoni