Minggu, 01 Mei 2011

Daulah Abbasiyah:Al-Radhi (20)

Daulah Abbasiyah: Ar-Radhi, Penyair yang Piawai
Sunday, 01 May 2011 14:37 WIB

REPUBLIKA.CO.ID, Dia adalah khalifah Daulah Abbasiyah ke-20. Nama Khalifah Ar-Radhi Billah (934-940 M) adalah Abu Al-Abbas Muhammad bin Al-Muqtadir bin Al-Mu’tadhid bin Thalhah bin Al-Mutawakkil. Dia dilahirkan pada 297 H. Ibunya mantan budak yang berasal dari Romawi bernama Zhalum.

Ar-Radhi dilantik sebagai khalifah pada saat Al-Qahir dicopot dari kursi khilafah. Kemudian dia memerintahkan kepada Ibnu Muqlah untuk menuliskan semua kejahatan yang dilakukan Al-Qahir dan memerintahkan untuk membacanya di depan khalayak ramai.

Pada 323 H, pemerintahan Khalifah Ar-Radhi berjalan tenang tanpa gejolak. Ia membagi kekuasaannya dengan anak-anaknya. Dia memberi tugas kepada anaknya, Abu Al-Fadhl, untuk mengatur wilayah timur, sedangkan Abu Ja’far ditugaskan untuk mengurus wilayah bagian barat.

Pada masa kekhalifahannya, persisnya tahun ini pula, terjadi sebuah peristiwa yang sangat bersejarah dan dikenal dengan sebutan Peristiwa Syannabud, yaitu tobatnya Syannabud dari penyimpangannya terhadap Al-Qur'an. Tobatnya Syannabud ini dihadiri pula oleh Al-Wazir Abu Ali bin Muqlah.

Pada saat wibawa kekhalifahan Bani Abbasiyah menurun tajam karena adanya gerakan Qaramithah dan perbuatan-perbuatan bid’ah di berbagai wilayah, muncullah keberanian yang demikian kuat dari pemerintah Bani Umayyah, yang ada di wilayah Andalusia, yang saat itu berada di bawah pimpinan Amir Abdurrahman bin Muhammad Al-Umawi Al-Marwani untuk mendirikan pemerintahan sendiri.

Dia menyebut dirinya sebagai Amirul Mukminin An-Nashir Lidinillah. Dia berhasil menguasai sebagian besar wilayah Andalusia (Spanyol). Dia memiliki wibawa yang sangat besar, semangat jihad yang tinggi dan mampu melakukan penaklukan-penaklukan serta memiliki kepribadian yang menarik dan menakjubkan. Amir Abdurrahman berhasil menaklukkan para pemberontak dan mampu membuka tujuh puluh benteng.

Dengan demikian, pada saat itu ada tiga golongan yang menyebut dirinya sebagai Amirul Mukminin. Pertama, Bani Abbas yang ada di Baghdad; kedua, penguasa Umawi yang ada di Andalusia; dan ketiga, Al-Mahdi di Qairawan.

Pad 328 H, Baghdad tergenang banjir yang tingginya mencapai tujuh belas depa. Banyak manusia dan hewan yang mati dalam bencana banjir ini. Sedangkan pada 329 H, Khalifah Ar-Radhi sakit dan meninggal pada bulan Rabiul Akhir. Pada saat meninggal, dia baru berusia 31 tahun.

Khalifah Ar-Radhi dikenal sebagai seorang yang terbuka dan dermawan, luas ilmunya dan seorang penyair piawai serta bergaul dengan para ulama. Dia memiliki kumpulan syair yang dibukukan.

Al-Khatib menuturkan, “Ar-Radhi memiliki banyak keutamaan. Ia adalah khalifah terakhir yang memiliki kumpulan syair yang dibukukan, dan khalifah terakhir yang mampu melakukan khutbah Jumat. Dia adalah khalifah pertama yang duduk bersama rakyat. Dia banyak melakukan hal-hal yang sesuai dengan cara-cara orang terdahulu, bahkan dalam berpakaian dia juga banyak meniru orang-orang terdahulu.”

Abu Hasan Zarqawaih meriwayatkan dari Ismail Al-Khatabi. Ismail berkata, “Khalifah Ar-Radhi memintaku datang pada malam Idul Fitri, lalu saya datang menemuinya. Khalifah berkata, ‘Wahai Ismail, aku telah meneguhkan tekad untuk melakukan shalat Idul Fitri bersama-sama dengan rakyatku esok hari. Maka apa yang pantas aku ucapkan setelah aku berdoa kepada Allah untuk diriku sendiri?’

Saya merenung sejenak dengan kepala menunduk. Lalu saya katakan padanya, ‘Wahai Amirul Mukminin, jika selesai berdoa untuk dirimu sendiri, maka ucapkanlah, “Ya Rabb-ku, berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada orangtuaku dan untuk mengerjakan amal saleh yang Engkau ridhai.” (QS An-Naml: 19).

Khalifah berkata, ‘Cukuplah apa yang engkau katakan.’

Setelah saya pulang, ada seorang pelayan yang mengikutiku dari belakang, dan dia memberiku uang sebanyak empat ratus dinar.”


Redaktur: cr01
Sumber: Sejarah Para Khalifah karya Hepi Andi Bastoni

Daulah Abbasiyah:Al-Qahir ( 19 )

Daulah Abbasiyah: Al-Qahir, Sang Penumpas Musuh
Sunday, 01 May 2011 12:00 WIB

REPUBLIKA.CO.ID, Rabu, 27 Syawwal 320 H kembali menjadi hari kelam dalam perjalanan kekhilafahan Abbasiyah. Serombongan besar pasukan Barbar yang dipimpin Muknis menyerbu ibukota untuk menggulingkan Khalifah Al-Muqtadir.

Sebelumnya, Muknis adalah seorang khadam (pembantu) khalifah. Namun pengaruh Muknis terlalu besar, hingga ia mampu tampil tak ubahnya seorang diktator yang sanggup mengangkat dan memecat pejabat sesukanya. Dalam serbuan ini, Khalifah Al-Muqtadir gugur.

Abu Manshur Muhammad Al-Qahir Billah (932-934 M) pun naik sebagai khalifah ke-19 menggantikan Al-Muqtadir pada 320 H atau 932 M. Sesuai namanya Al-Qahir yang berarti gagah perkasa, khalifah yang satu ini terkenal berani dan gagah dalam peperangan. Ia ditakuti dan disegani. Ia tak ragu-ragu menumpahkan darah musuhnya.

Namun sebagaimana umumnya manusia, ada kelebihan dan ada pula kekurangannya. Selain dikenal berani dan piawai berperang, ia tamak terhadap harta benda dan sangat keras kebijakannya. Boleh jadi sikap itu muncul karena kegeramannya terhadap situasi kacau yang melanda pemerintahan Abbasiyah sebelumnya di masa pendahulunya, sehingga menimbulkan dendam di hatinya untuk bersikap keras dan bertangan besi setelah menjabat.

Setelah duduk di tampuk kekuasaan, ia segera memerintahkan untuk merampas harta benda perempuan-perempuan gundik (harem) yang selama ini menguasai istana. Ibunda Al-Muqtadir sendiri tak luput dari penggeledahan. Dari ibu khalifah terdahulu ini berhasil dirampas uang sebanyak 60.000 dirham. Padahal angkatan bersenjata kerajaan kala itu sangat kekurangan belanja. Setelah itu, ibunda Al-Muqtadir pun dihukum bunuh.

Ibunda Al-Muqtadir tidaklah seorang diri, banyak orang istana lainnya yang dibunuh. Muknis, sang khadam yang turut berperan dalam pembunuhan Khalifah Al-Muqtadir juga dibunuh.

Usia pemerintahan Al-Qahir tidak berlangsung lama. Hanya dua tahun saja. Penyebabnya mungkin tidak terduga sebelumnya. Begitu banyak orang yang dimusuhi khalifah, bahkan terhadap wazirnya sendiri yang bernama Ibnu Muqlah. Padahal wazir ini terkenal dengan upayanya yang memperbagus (khat) kaligrafi Arab.

Ibnu Muqlah pun lari meninggalkan ibukota dan bersembunyi di kampung-kampung. Propaganda dan hasutan melawan khalifah pun ia tiupkan kepada rakyat. Tidak berhenti sampai di situ, bekas wazir ini juga merancang taktik merenggangkan hubungan khalifah dengan bala tentaranya. Hingga akhirnya seolah khalifah tiada mempunyai teman lagi.

Dan, tragedi kembali berulang. Ketika Khalifah Al-Qahir duduk seorang diri, datanglah sepasukan tentara kerajaan menangkapnya. Ia pun dimakzulkan. Setelah itu, ia dikurung dalam penjara istana yang gelap gulita. Setelah Al-Qahir ditumbangkan, naiklah Ar-Radhi menggantikannya pada 322 H.


Redaktur: cr01
Sumber: Sejarah Para Khalifah karya Hepi Andi Bastoni

Daulah Abbasiyah:Al-Muqtadir Billah( 18 )

Daulah Abbasiyah: Al-Muqtadir Billah, Khalifah Termuda
Sunday, 01 May 2011 06:00 WIB

REPUBLIKA.CO.ID, Dia adalah Al-Muqtadir Bilah, Abu Fadhl (908-932 M). Nama aslinya Ja’far bin Al-Mu’tadhid. Ia lahir pada Ramadhan 282 H. Diceritakan, ibunya berasal dari keturunan Romawi. Ada pula yang mengatakan ibunya dari keturunan Turki. Tentang nama ibunya, para ahli sejarah juga berbeda pendapat. Ada yang mengatakan namanya Gharib. Ada juga yang mengatakan namanya Syaghab.

Saat kakaknya Al-Muktafi sakit parah, dia ditanya apakah sudah baligh atau belum. Menurutnya, ia sudah baligh karena pernah bermimpi junub. Karena itu ia pun diangkat sebagai putra mahkota.

Di adalah khalifah termuda. Belum pernah ada seorang khalifah yang diangkat sebelumnya yang lebih muda darinya. Ia mulai memerintah sebagai khalifah Bani Abbasiyah ke-18 sejak usia 13 tahun.

Salah seorang menterinya bernama yang bernama Abbas bin Hasan menganggapnya masih terlalu muda. Sang menteri berniat menurunkannya dari kursi kerajaan. Beberapa orang lainnya setuju dengan rencana itu. Mereka mempersiapkan Abdullah bin al-Mu’taz sebagai pengganti. Abdullah setuju dengan syarat peralihan kekuasaan berjalan damai.

Rencana tersebut sampai ke telinga Al-Muqtadir. Ia segera membujuk Abbas dan memberinya sejumlah uang agar tak meneruskan rencana itu. Akhirnya Abbas setuju dan menarik keinginannya. Sedangkan yang lain tetap saja melakukan pemberontakan,. Mereka menyerang Al-Muqtadir pada 20 Rabiul Awwal 296 H.

Al-Muqtadir sendiri menangkap para fuqaha dan pemimpin yang menyatakan pencopotan dirinya. Kemudian dia serahkan kepada Yunus bin Al-Khazin yang kemudian hampir membunuh semuanya. Hanya empat orang tidak dibunuh. Di antaranya hakim Abu Umar yang lolos dari pembunuhan. Ibnu Mu’taz sendiri dipenjarakan. Kemudian dia dikeluarkan dari penjara dalam keadaan menjadi mayat.

Akhirnya kekhalifahan berjalan di bawah pimpinan Al-Muqtadir. Dia mengangkat Abul Al-Hasan Ali bin Muhammad bin Furat sebagai menterinya. Dia melewati perjalanan hidupnya dengan baik, dan mampu menumpas kezaliman-kezaliman.

Al-Muqtadir memerintahkan orang-orang untuk berbuat adil. Namun karena dia masih terlalu muda, maka banyak perkara yang dia serahkan kepada orang yang dianggap sanggup untuk melakukannya. Al-Muqtadir juga memerintahkan agar tidak menggunakan orang-orang Yahudi dan Nasrani, juga melarang untuk menunggang kendaraan yang berpelana.

Pada 311 H, Al-Muqtadir memerintahkan bahwa warisan yang pernah diambil oleh para kerabat yang sebenarnya tidak berhak, hendaknya dikembalikan kepada ahli warisnya.

Pada tahun 311 H ini juga, Panglima Muknis yang bergelar Al-Muzhaffar melakukan pemberontakan. Pemberontakan ini muncul setelah Muknis mendengar Al-Muqtadir berencana mengangkat Harun bin Gharib menggantikan kedudukannya.

Pada tahun 320 H, Muknis kembali menyerang Khalifah Al-Muqtadir. Dia membawa pasukan yang kebanyakan berasal dari orang-orang Barbar. Muknis berhasil membunuh Al-Muqtadir dengan memenggal kepalanya. Peristiwa ini terjadi pada Rabu 27 Syawwal.

Dengan demikian, berakhirlah riwayat Al-Muqtadir Billah. Ia meninggalkan 12 anak laki-laki. Tiga di antara mereka kelak menjadi khalifah. Mereka adalah Ar-Radhi, Al-Muttaqi dan Al-Muthi’.


Redaktur: cr01
Sumber: Sejarah Para Khalifah karya Hepi Andi Bastoni

Daulah Abbasiyah:Al-Muktafi Billah ( 17 )

Daulah Abbasiyah: Al-Muktafi Billah, Khalifah Berhati Luhur
Friday, 29 April 2011 21:14 WIB

REPUBLIKA.CO.ID, Dia adalah Al-Muktafi Billah Abu Muhammad Ali bin Al-Mu'tadhid bin Amir Abu Ahmad Al-Muwaffaq bin Al-Mutawakkil Alallah (902-908 M). Ibunya orang Turki bernama Jinjaq.

Tak ada seorang khalifah bernama Ali setelah Ali bin Abi Thalib selain dirinya, sebagaimana tak tak ada seorang khalifah pun yang mendapat panggilan Abu Muhammad selain Hasan bin Ali bin Abi Thalib, Al-Hadi dan Al-Muktafi. Secara jasmani, ia termasuk laki-laki yang paling tampan di masanya, bermuka menawan, berambut hitam, berjenggot lebat dan sangat rupawan.

Al-Muktafi Billah lahir pada Rajab 264 H. Ia dilantik menjadi khalifah Daulah Abbasiyah ke-18 ketika ayahnya sakit, pada hari Jumat usai shalat Ashar 19 Rabiul Awwal 289 H, pada usianya yang ke-25. Al-Muktafi hanya memerintah selama 6 tahun 6 bulan 19 hari.

Ketika pelantikan, ia tidak ada di tempat karena sedang berada di Riqqah. Demi berlangsungnya pelantikan, Perdana Menteri Abul Hasan Al-Qasim bin Ubaidillah menggantikan posisinya untuk sementara dan ia mengirimkan surat pelantikan itu kepada Al-Muktafi yang berada di Riqqah.

Al-Muktafi tiba di Baghdad pada 7 Jumadil Ula melewati sungai Dajlah di Samariyah dan merupakan hari yang bersejarah karena ia pernah melewati jembatan di sungai itu berdesak-desakan bersama manusia. Namun Al-Muktafi dapat diselamatkan. Sesampainya di istana, ia disambut para penyair dengan lantunan-lantunan syair.

Pada masa kepemimpinannya yang relatif singkat, ada beberapa kejadian penting yang tercatat dalam sejarah. Pada 289 H, terjadi gempa bumi dahsyat di wilayah Baghdad, dan badai besar di wilayah Bashrah hingga menumbangkan sebagian pohon kurma.

Pada tahun berikutnya, sungai Dajlah meluap mencapai kurang lebih sebelas lengan sehingga kota Baghdad nyaris tenggelam. Pada 293 H terjadi pertempuran antara pasukan Al-Muktafi Billah melawan pasukan Al-Khalanji di Al-Arisy. Pada 295 H terjadi penebusan tawanan kaum Muslimin dari tangan pasukan Romawi, sebanyak tiga ribu kaum Muslimin yang terdiri dari laki-laki dan perempuan dibebaskan.

Khalifah Al-Muktafi meninggal dunia pada usia yang relatif muda. Ia wafat pada usia 31 tahun pada 7 Dzulqa'dah 296 H, dan ada yang mengatakan tanggal 13 tahun 296 H karena terserang virus babi. Konon ia meninggalkan harta warisan emas senilai seratus juta dinar dan enam puluh ribu helai pakaian. Ia berwasiat agar menyedekahkan hartanya senilai enam ratus ribu dinar yang ia kumpulkan sejak kecil.

Tatkala sakit Al-Muktafi pernah berkata, "Tak ada yang lebih aku sedihkan selain harta kaum Muslimin senilai tujuh ratus ribu yang kupergunakan untuk mendirikan bangunan, padahal aku tidak menghajatkannya dan sama sekali tidak berkepentingan dengannya. Aku khawatir hal ini kelak akan ditanyakan, aku beristighfar kepada Allah atas dosa-dosa itu."

Ia juga meninggalkan delapan putra dan delapan putri. Di antara putranya adalah Muhammad, Ja'far, Al-Fadhl, Abdullah, Abdul Malik, Abdus Samad, Musa dan Isa.




Redaktur: cr01
Sumber: Sejarah Para Khalifah karya Hepi Andi Bastoni

Daulah Abbasiyah:Al-Mu'tadhid Billah ( 16 )

Daulah Abbasiyah: Al-Mu'tadhid Billah, Sang Reformator Daulah
Friday, 29 April 2011 10:21 WIB

REPUBLIKA.CO.ID, Al-Mu'tadhid Billah (892-902 M) dilahirkan pada 242 H. Ibunya bernama Shawab. Dia dilantik sebagai khalifah ke-16 pada Rajab 279 H setelah pemerintahan pamannya, Al-Mu'tamid.

Al-Mu'tadhid dikenal sebagai khalifah yang pemberani, berwibawa berpenampilan menyeramkan, dan kaya ide. Jika marah kepada seorang komandan perang, maka ia akan memerintahkan agar orang itu segera dimasukkan ke dalam lubang dan ditutup dengan tanah. Dia juga dikenal sebagai politikus ulung.

Al-Mu'tadhid adalah sosok yang gagah perkasa, keras pendirian dan dikenal sebagai laki-laki sejati. Dia banyak terlibat dalam peperangan. Keutamaan sikapnya dikenal banyak orang. Pada saat yang sama, ia dikenal sebagai seorang lelaki berwibawa yang menjalankan semua urusan dengan sangat baik.

Orang-orang sangat takut melakukan pelanggaran, sehingga pada masa pemerintahannya berbagai gejolak bisa diredam. Masa pemerintahannya dikenal aman dan baik. Dialah yang membebaskan cukai, menebarkan keadilan dan menindak siapa saja yang berlaku zalim terhadap rakyat.

Al-Mu'tadhid juga disebut "As-Saffah II" karena berhasil membangun kembali Dinas Bani Abbasiyah dengan baik setelah sebelumnya mengalami kehancuran dan kemunduran. Bahkan hampir saja dinasti ini hancur. Pada saat terbunuhnya Al-Mutawakkil, dinasti ini mengalami guncangan yang sangat keras.

Di awal tahun pemerintahannya, Al-Mu'tadhid melarang tegas semua pedagang buku menjual buku-buku filsafat dan yang serupa dengannya. Dia juga melarang para tukang tebak dan tukang ramal yang pandai menipu untuk duduk-duduk di pinggir jalan.

Pada 282 H, Al-Mu'tadhid mengharamkan pesta Nairuz, yaitu pesta api dan penuangan air ke ubun-ubun manusia, dan menghapuskan semua perkara berbau Majusi. Al-Mu'tadhid meninggal pada 289 H.

Joesoef Sou'yb dalam karyanya Sejarah Daulah Abbasiyah II menyebut masa pemerintahannya dengan, "Sairat Hazmin wa bathsyin ma'a hilmin, (sejarah ketabahan dan keperkasaan berpadukan kedermawanan)."


Redaktur: cr01
Sumber: Sejarah Para Khalifah karya Hepi Andi Bastoni

Daulah Abbasiyah:Al-Mu'tamid Alallah(15 )

Daulah Abbasiyah: Al-Mu'tamid Alallah, Di Balik Bayangan Saudara
Thursday, 28 April 2011 21:47 WIB

REPUBLIKA.CO.ID, Al-Mu'tamid Alallah (870-892 M) dilahirkan pada 229 H. Ibunya berasal dari Romawi bernama Fityan. Tatkala Al-Muhtadi—khalifah sebelumnya—terbunuh, Al-Mu'tamid sedang berada dalam penjara Jausaq. Ia pun dikeluarkan dan dilantik sebagai khalifah ke-15 Daulah Abbasiyah.

Al-Mu'tamid mengangkat saudaranya, Thalhah, yang dalam sejarah dikenal dengan Al-Muwaffaq, sebagai Sulthan (pelaksana kekuasaan) sekaligus Qais (panglima besar). Pada saat yang sama dia mengangkat anaknya, Ja'far, sebagai putra mahkota dan menjadikannya sebagai gubernur untuk wilayah Mesir dan Maroko. Dia memberinya gelar Al-Mufawwidh Alallah.

Pada zamannya inilah terjadi pemberontakan orang-orang Zanj yang memasuki Bashrah dan wilayah-wilayah lain di sekitarnya. Mereka memasuki Bashrah dengan pedang terhunus, lalu melakukan pengrusakan, pembakaran kota dan penawanan kaum Muslimin. Pada saat itu terjadilah peperangan yang sangat hebat antara kedua pasukan. Komando pasukan tentara di pihak Al-Mu'tamid diserahkan kepada Al-Muwaffaq, saudaranya.

Peperangan melawan Zanj ini berlangsung sejak Al-Mu'tamid menjadi khalifah pada 256 hingga 270 H. Komandan pasukan pemberontak Zanj yang bernama Yahbudz terbunuh. Yahbudz adalah orang yang menolak kenabian Rasulullah Saw dan mengklaim bahwa dirinya mengetahui masalah-masalah gaib.

Pada 260 H, di masa pemerintahan Al-Mu'tamid terjadi kenaikan harga yang sangat fantastis di Hijaz dan Irak. Pada 261 H, Al-Mu'tamid melantik anaknya, Ja'far yang bergelar Al-Mufawwidh Alallah sebagai putra mahkota. Baru setelah itu pada saudaranya, Al-Muwaffaq.

Al-Mu'tamid memberikan kepada keduanya bendera khusus yang berbeda. Yakni bendera putih dan hitam. Dia mensyaratkan bahwa jika terjadi sesuatu, maka urusan kekhalifahan hendaknya diserahkan kepada saudaranya jika anaknya belum baligh. Dia menuliskan kesepakatan tersebut dan meminta hakim agung, Ibnu Abu Asy-Syawarib, untuk menggantungkannya di dinding Ka'bah.

Pada 278 H Khalifah Al-Mu'tamid meninggal dunia secara mendadak. Ada yang mengatakan ia meninggal karena diracun, ada pula yang mengatakan ia meninggal karena mati lemas di tempat tidur.

Khalifah Al-Mu'tamid memerintah selama 22 tahun. Namun dalam pemerintahannya, ia mendapatkan banyak tekanan dari saudaranya, Al-Muwaffaq, yang menguasai medan politik.

Walau demikian, Al-Mu'tamid sempat menorehkan tinta emas dalam hidupnya. Pada masa inilah muncul para tokoh hadits seperti Imam At-Tirmidzi (wafat 279 H), Abu Dawud (wafat 275 H), Ibnu Majah (wafat 274 H) dan An-Nasa'i (wafat 302 H).

Daulah Abbasiyah:Al-Muhtadi (14 )

Daulah Abbasiyah: Al-Muhtadi, Khalifah yang Adil
Thursday, 28 April 2011 17:08 WIB

REPUBLIKA.CO.ID, Nama lengkap Al-Muhtadi (869-870 M) adalah Abu Ishaq Muhammad bin Al-Watsiq bin Al-Mu'tashim bin Harun Ar-Rasyid. Ia dilahirkan pada 219 H. Ada yang mengatakan 215 H. Dia dikenal dengan sebutan Abu Abdillah. Ia adalah putra Khalifah Al-Watsiq.

Khalifah Al-Muhtadi termasuk khalifah yang sangat teguh memegang prinsip. Perilakunya baik, murah hati, dermawan, wara', gemar beribadah, dan zuhud terhadap kesenangan dunia. Joesoef Sou'yb dalam Sejarah Daulah Abbasiyah memaparkan ciri khalifah ini dengan kata-kata, "Ia bukan seorang militer akan tetapi seorang ulama yang menyerahkan hidupnya untuk kepentingan agama. Dan sikap hidupnya taat dan wara'."

Pembaiatannya menjadi khalifah ke-14 Bani Abbasiyah terjadi pada Rabu malam bulan Raja 256 H. Peristiwa itu terjadi ketika Khalifah Al-Mu'taz mengikrarkan diri untuk mundur dari tampuk kekhalifahan dan pengakuan terhadap kelemahannya dalam menjalankan roda pemerintahan. Ia lebih suka jabatan kekhalifahan diserahkan kepada orang yang dianggap lebih mampu, dalam hal ini ia lebih percaya untuk diserahkan kepada Muhammad bin Al-Watsiq Billah, atau lebih dikenal dengan sebutan Al-Muhtadi.

Setelah kejadian tersebut, Khalifah Al-Mu'taz segera mengangkat tangan Al-Muhtadi untuk membaiatnya sebagai khalifah, kemudian orang-orang pun mengikuti langkahnya untuk membaiat Al-Muhtadi. Setelah itu ia dibaiat secara khusus oleh Ahlul Halli wal Aqdi dan dibaiat secara massal di atas mimbar oleh rakyat.

Pada akhir Rajab, terjadi peristiwa besar di Baghdad dengan tersebarnya fitnah. Para penduduk mendatangi gubernur Baghdad sebagai perwakilan khalifahnya yang bernama Sulaiman bin Abdullah bin Thahir. Mereka menyerukan kepada gubernur agar segera membaiat Ahmad bin Al-Mutawakkil, saudara kandung Al-Mu'taz. Hal itu terjadi karena para penduduk belum mengetahui peristiwa yang terjadi di Samarra tentang pengangkatan khalifah baru Al-Muhtadi sebagai pengganti Al-Mu'taz.

Suatu ketika ada seorang laki-laki datang kepada Khalifah Al-Muhtadi untuk meminta tolong agar dibebaskan dan dihakimi masalah sengketanya dengan orang lain. Khalifah pun menghukumi dan memberi keputusan kepada keduanya.

Khalifah Al-Muhtadi memberikan putusan dengan begitu adil sehingga salah seorang di antara mereka berucap, "Engkau telah menghukumi dan memutuskan perkara di antara kami dengan wajah yang bersih dan putih berseri laksana rembulan yang bersinar, yang tidak menerima orang yang menyuap dalam pengadilannya dan tidak menghiraukan kejahatan orang yang akan menzalimi."

Tatkala Khalifah Al-Muhtadi mendengar perkataan lelaki itu, ia berucap, "Semoga Allah membaguskan apa yang engkau katakan. Sesungguhnya aku tidaklah mengambil manfaat dari apa yang kau katakan tadi, karena sesungguhnya tidaklah aku duduk di mahkamah ini (hakim) sehingga aku membaca dan menghayati ayat Al-Qur'an ini: 'Kami akan memasang timbangan yang tepat pada hari kiamat, maka tiadalah dirugikan seseorang barang sedikit pun. Dan jika (amalan itu) hanya seberat biji sawi pun pasti kami mendatangkan pahalanya. Dan cukuplah kami sebagai pembuat perhitungan.' (QS. Al-Anbiya: 47)."

Orang-orang pun menangis mendengar ucapannya tadi. Tidak pernah ada orang yang menangis lebih banyak jumlahnya daripada hari itu.

Khalifah Al-Muhtadi biasa melakukan puasa berturut-turut sejak dilantik menjadi khalifah hingga terbunuh. Ia sangat suka mengikuti perilaku Khalifah Umar bin Abdul Azis dalam menjalankan pemerintahan, kewara'an, hidup serba kekurangan, banyak ibadah, dan sangat berhati-hati mengambil keputusan. Ada banyak kesamaan antara Umar bin Abdul Azis dengan Al-Muhtadi.

Imam As-Suyuthi dalam Tarikh Al-Khulafa' memaparkan kisah menarik tentang ibadah Khalifah Al-Muhtadi ini. Suatu malam menjealng Isya di bulan Ramadhan, Hasyim bin Qasim sedang menemani Khalifah Al-Muhtadi. Setelah shalat Isya, sang khalifah mengajak Hasyim makan malam.

Sajian malam itu sangat sederhana. Hasyim mengira setelah makanan itu akan ada lagi makanan lainnya. Ketika hal itu disampaikan kepada khalifah, ia menjawab, "Di kalangan Bani Umayyah ada seorang bernama Umar bin Abdul Azis. Engkau tahu bagiamana ia menyikapi dunia ini? Aku cemburu dengan apa yang dilakukan Bani Hasyim. Maka aku mengambil sikap seperti yang engkau saksikan."

Khalifah Al-Muhtadi wafat pada Senin, 14 Rajab 257 H. Ia hanya memerintah setahun kurang lima hari. Ja'far bin Abdul Malik ikut menshalatkan dan menguburkannya dekat makam Al-Muntashir bin Al-Mutawakkil.

Redaktur: cr01
Sumber: Sejarah Para Khalifah karya Hepi Andi Bastoni