Senin, 25 April 2011

Daulah Umayyah: Yazid Bin Walid(12) dan Ibrahim bin Walid(13)

Daulah Umayyah:Yazid bin Walid (12)
Daulah Umayyah: Yazid bin Walid bin Abdul Malik (744 M) Terlalu Banyak Kemelut
Minggu, 24 April 2011 06:00 WIB

REPUBLIKA.CO.ID, Setelah Khalifah Walid bin Yazid bin Abdul Malik terbunuh oleh para pengepungnya, jabatan khalifah dipegang oleh Yazid bin Walid bin Abdul Malik. Ia adalah sepupu sang khalifah. Ayah Yazid adalah Walid bin Abdul Malik, saudara kandung Yazid bin Abdul Malik, ayah Walid (khalifah sebelumnya). Yazid bin Walid menjabat sebagai khalifah keduabelas Daulah Umayyah.

Para sejarawan sering menulis namanya dengan Yazid III karena ia adalah sosok ketiga bernama Yazid yang menjabat khalifah Daulah Umayyah. Yazid I adalah Yazid bin Muawiyah, khalifah kedua. Yazid II adalah Yazid bin Abdul Malik, khalifah kesembilan. Sedangkan Yazid III adalah Yazid bin Walid, tokoh yang kini sedang dibahas.

Ia dibaiat sebagai khalifah pada usia 46 tahun. Kebijakan pertama yang ia lakukan adalah mengurangi jumlah bantuan sosial dan mengembalikannya pada anggaran biasa seperti pada masa Khalifah Hisyam bin Abdul Malik. Kebijakan itu menyebabkan ia dikenal dengan julukan An-Naqish (sang Pengurang).

Masa pemerintahan Yazid diwarnai dengan beragam kemelut. Hal ini tak mengherankan karena untuk mendapatkan jabatan khalifahnya,Yazid pun menumpahkan darah dengan terbunuhnya Walid bin Yazid, khalifah sebelumnya.

Di antara mereka yang mengadakan gerakan ini adalah Sulaiman bin Hisyam. Pada masa pemerintahan Walid bin Yazid, Sulaiman termasuk di antara mereka yang dijebloskan ke penjara. Ketika Khalifah Walid bin Yazid mangkat dan Yazid III naik tahta, Sulaiman dibebaskan. Namun ia melihat dirinya pun berhak atas jabatan khalifah. Ia segera mengerahkan pendukungnya untuk merebut jabatan khalifah dari tangan Yazid. Hanya saja, Khalifah Yazid berhasil membujuknya dan Sulaiman kembali melakukan baiat.

Dari negeri Hims juga muncul rencana perebutan kekuasaan. Ketika mendengar terbunuhnya Khalifah Walid bin Yazid, para pendukungnya dari negeri Hims segera bergerak menuju Damaskus. Khalifah Yazid segera mengirimkan pasukan besar untuk menghalaunya. Pasukan Hims kalah dan sisa-sisa tentaranya kembali menyatakan baiat.

Selain dua gerakan itu, dari wilayah Armenia dan Kaukasus, muncul juga usaha perebutan kekuasaan. Sejak terbunuhnya Walid bin Yazid, Marwan bin Muhammad segera mempersiapkan rencana kudeta. Rencana berbahaya itu segera terdengar oleh Khalifah Yazid. Ia pun segera mengirimkan utusan kepada Marwan. Sang Khalifah membujuknya agar tak melakukan penyerangan. Ia menjanjikan tambahan wilayah kekuasaan Azerbaijan dan Mosul kepada Marwan. Gubernur Marwan pun setuju dan kembali membaiat.

Tampaknya, fanatisme kesukuan benar-benar telah mewabahi pemerintahan Yazid. Di samping usaha perebutan kekuasaan di atas, dari lembah Irak juga muncul gejolak. Namun gubernurnya berhasil meredam gejolak masyarakat. Penduduk Yamamah juga demikian. Mereka berusaha melakukan kudeta terhadap gubernurnya.

Gejolak di wilayah Khurasan justru lebih parah. Gubernur Nushair bin Sayyaf menolak keinginan Khalifah Yazid yang ingin mengalihkan jabatannya pada Panglima Manshur bin Jamhur. Konflik berdarah pun terjadi.

Keadaan pemerintahan Khalifah Yazid semakin tak menentu. Gerakan Abbasiyah yang sejak beberapa tahun terakhir mulai muncul, makin berani unjuk diri. Beragam kerusuhan itu berakibat pukulan batin dari diri Khalifah Yazid.

Ia meninggal pada 7 Dzulhijjah 126 Hijriyah setelah sebelumnya mengalami kelumpuhan fisik. Ada yang mengatakan ia meninggal karena penyakit tha'un. Masa pemerintahannya hanya beberapa bulan. Ia wafat tanpa meninggalkan jejak emas berarti. Bahkan ia mewariskan beragam permasalahan yang kelak berujung pada berakhirnya kejayaan Daulah Umayyah.
Diposkan oleh blogpatriot di 01:25
Kirimkan Ini lewat Email BlogThis! Berbagi ke Twitter Berbagi ke Facebook Berbagi ke Google Buzz



--------------------------------------------------------------------------------------

Daulah Umayyah: Ibrahim bin Walid bin Abdul Malik (744 M) Khalifah 70 Hari
Minggu, 24 April 2011 15:04 WIB

REPUBLIKA.CO.ID, Ia menjabat sebagai khalifah ketigabelas Daulah Umayyah menggantikan saudaranya, Yazid bin Walid. Karena kondisi pemerintahan saat itu mengalami guncangan, naiknya Ibrahim sebagai khalifah tidak disetujui oleh sebagian kalangan keluarga Bani Umayyah. Bahkan sebagian ahli sejarah menyebutkan di kalangan sebagian Bani Umayyah ada yang menganggapnya hanya sebagai gubernur, bukan khalifah.

Di antara mereka yang menolak kekhalifahan Ibrahim bin Walid adalah Marwan bin Muhammad. Saat itu ia menjabat gubernur empat wilayah, yaitu Armenia, Kaukasus, Azerbaijan, dan Mosul. Marwan tak hanya menolak baiat atas Ibrahim bin Walid, namun juga mengerahkan 80.000 orang dari Armenia menuju Suriah. Itulah gerakan terbesar yang dihadapi pemerintahan Ibrahim bin Walid.

Untuk menghadapi pasukan besar itu, ia minta bantuan saudara sepupunya, Sulaiman bin Hisyam dan mengangkatnya sebagai Panglima Besar. Utnuk menghadang kekuatan pasukan Marwan bin Muhammad, Panglima Sulaiman segera mengadakan kunjungan ke berbagai daerah dekat Syria dan Palestina serta beberapa daerah lainnya. Akhirnya, dari Mesir, Irak dan Hijaz datang bala bantuan yang mencapai 120.000 orang.

Pasukan besar itu berangkat dari Damaskus menuju utara untuk menghadang pasukan Marwan bin Muhammad. Suasana Syria dan sekitarnya cukup tegang. Dua pasukan besar akan segera bertemu. Pertempuran saudara tak mungkin terelakkan.

Gubernur Marwan bin Muhammad bukan hanya pejabat terkenal di daerah Armenia dan sekitarnya, tetapi juga seorang panglima perang tangguh yang matang di medan pertempuran. Berkali-kali ia memimpin pasukan perang dan menaklukkan sejumlah wilayah.

Sedangkan Panglima Sulaiman bin Hisyam sebaliknya. Meski seorang panglima, Sulaiman bin Hisyam dibesarkan di lingkungan istana, bergelut dengan kemewahan. Ia tak begitu menguasai medan peperangan. Karenanya, meski jumlah pasukannya di atas pasukan Marwan, Sulaiman tak mampu berbuat banyak.

Ketika pertempuran pecah, pasukannya porak-poranda. Medan perang dibanjiri darah tentara Sulaiman. Melihat keadaan pasukannya, Sulaiman buru-buru melarikan diri ke Damaskus. Ia segera menghadap Khalifah Ibrahim bin Walid dan menceritakan apa yang terjadi.

Khalifah Ibrahim tak bisa berbuat banyak. Ia tak memiliki pasukan cadangan. Oleh sebab itu, ia memutuskan untuk menyerahkan diri kepada Marwan bin Muhammad. Dengan diiringi keluarganya, ia menemui Gubernur Marwan dan menyerahkan jabatan khalifahnya.

Marwan bin Muhammad memberikan perlindungan kepada Ibrahim bin Walid yang sempat hidup hingga 132 Hijriyah. Ibrahim bin Walid hanya memerintah kurang dari setahun. Menurut Imam As-Suyuthi, ia hanya memerintah selama 70 hari. Selanjutnya, khilafah Bani Umayyah dipimpin oleh Marwan bin Muhammad, khalifah terkahir Bani Umayyah.

Daulah Umayyah:Walid bin Yazid bin Abdul Malik(11)

Daulah Umayyah: Walid bin Yazid bin Abdul Malik (744 M) Melanggar Aturan Allah
Ilustrasi
TERKAIT :
Daulah Umayyah: Hisyam bin Abdul Malik (724-743 M) Dekat dengan Ulama
Daulah Umayyah: Yazid bin Abdul Malik (720-724 M) Menderita Tekanan Batin
Daulah Umayyah: Umar bin Abdul Azis (717-720 M) Khalifah Rasyidah Kelima
Daulah Umayyah: Sulaiman bin Abdul Malik (715 -717 M) Khalifah Ketujuh
Daulah Umayyah: Walid bin Abdul Malik (705-715 M) Penegak Bani Umayyah
Daulah Umayyah: Walid bin Yazid bin Abdul Malik (744 M) Melanggar Aturan Allah
Sabtu, 23 April 2011 23:02 WIB

REPUBLIKA.CO.ID, Walid bin Yazid bin Abdul Malik dilahirkan pada 90 Hijriyah. Ketika ayahnya, Yazid bin Abdul Malik, diangkat sebagai khalifah, Walid baru berusia 11 tahun. Seperti dituturkan At-Tabari dalam Tarikh Al-Umam wa Al-Muluk, ketika diangkat menjadi khalifah, Yazid bin Abdul Malik ingin mengangkat putranya, Walid sebagai putra mahkota. Namun saat itu Walid masih belum cukup usia. Yazid terpaksa mengangkat saudaranya, Hisyam bin Abdul Malik sebagai cikal penggantinya. Sedangkan Walid sebagai putra mahkota kedua.

Ternyata, Yazid masih hidup hingga putranya cukup usia. Yazid sangat menyesal karena terlanjur mendahulukan saudaranya daripada putranya sendiri. Menurut riwayat, ia pernah berkata, "Tuhanlah yang menjadi hakim antara aku dan orang-orang yang telah menjadikan Hisyam sebagai pemisah antara aku dan engkau."

Begitu Yazid meninggal, Hisyam naik tahta sebagai khalifah kesepuluh Daulah Umayyah. Sudah bisa ditebak, terjadi pertentangan antara Khalifah Hisyam dan keponakannya, Walid bin Yazid. Apalagi beberapa ahli sejarah menyebutkan, akhlak Walid tidak terlalu baik. Ia sering minum-minuman keras dan berfoya-foya.

Kisah buruk tentang Khalifah Yazid ini tentu saja tidak bisa diterima begitu saja. Ketika terjadi pertentangan antara dua keluarga itu, tentu peluang menjelek-jelekkan nama baik musuh sangat besar.

Selama pemerintahan Hisyam, Walid lebih banyak menghabiskan waktunya di luar Damaskus. Ketika Khalifah Hisyam bin Abdul Malik meninggal dunia, Walid sedang berada di Azrak, utara Damaskus. Ia segera kembali ke Damaskus dan dibaiat menjadi khalifah kesebelas Khalifah Bani Umayyah. Saat itu usianya sekitar 39 tahun.

Kebijakan pertama yang ia lakukan adalah melipat-gandakan bantuan kepada orang-orang buta dan tua yang tidak memiliki keluarga untuk merawatnya. Ia menetapkan anggaran tersendiri untuk membiayai masalah itu. Ia juga memerintahkan untuk memberikan pakaian kepada orang-orang miskin.

Pertentangan antara keluarga Yazid bin Abdul Malik dan Hisyam bin Abdul Malik agaknya tidak berhenti ketika keduanya meninggal. Ketika berkuasa, Yazid menangkapi orang-orang yang dianggap dapat membahayakan kekuasaannya, termasuk keluarga Hisyam. Ketika terjadi penangkapan besar-besaran itu, Yazid bin Walid bin Abdul Malik sempat melarikan diri. Secara diam-diam, Yazid berhasil menghimpun kekuatan. Ia pun dibaiat oleh keluarga Yamani di daerah Syria dan Palestina.

Mengetahui ada gerakan yang akan membahayakan kekuasaannya, Khalifah Walid bin Yazid segera mengerahkan pasukan untuk menghancurkan pasukan Yazid. Namun terlambat, pasukan Yazid lebih dahulu bergerak menuju istana. Khalifah Walid terkepung. Pada detik-detik menentukan itu, sebagian besar pasukan andalannya justru bersatu dengan musuh.

Khalifah Walid segera melarikan diri ke kediamannya. Namun sepuluh orang di antara pasukan musuh berhasil menemukan persembunyiannya. Ketika dikepung ia sempat berkata, "Bukankah aku telah memberikan hadiah kepada kalian? Bukankah aku telah meringankan beban kalian yang berat? Bukankah aku telah memberi makan orang-orang fakir di antara kalian?"

Mereka yang mengepungnya menjawab, "Kami tidak membencimu dari diri kami sendiri. Kami mengepungmu karena engkau terlalu banyak melanggar batasan-batasan aturan Allah. Engkau minum minuman keras, menikahi istri ayahmu dan melecehkan perintah Allah."

Ia meninggal pada usia 40 tahun, dan kepalanya dipancung. Ia memerintah selama satu tahun dua bulan 22 hari saja.

Redaktur: cr01
Sumber: Sejarah Para Khalifah karya Hepi Andi Bastoni

Daulah Umayyah:Hisyam bin Abdul Malik(10)

Daulah Umayyah: Hisyam bin Abdul Malik (724-743 M) Dekat dengan Ulama
Sabtu, 23 April 2011 21:59 WIB

REPUBLIKA.CO.ID, Hisyam bin Abdul Malik adalah khalifah kesepuluh Daulah Umayyah. Ketika dilantik menjadi khalifah menggantikan saudaranya, Yazid bin Abdul Malik, usianya baru 35 tahun. Ia menjabat khalifah selama hampir 20 tahun. Para ahli sejarah menyebutnya negarawan yang ahli dalam strategi militer. Pada masa pemerintahannya, selain memadamkan kemelut internal, ia juga meluaskan wilayahnya ke luar.

Ketika imperium Romawi Timur berada di bawah kekuasaan Kaisar Leo III. Ia berhasil memulihkan wewenang pemerintahan pusatnya di daerah Balkan. Kini Kaisar Leo III kembali ingin merebut wilayah Asia Kecil dari kekuasaan Daulah Umayyah yang sedang dipimpin Hisyam bin Abdul Malik. Jadi, dua kekuatan siap berhadap-hadapan.

Sementara itu, sepeninggal Empress Wu yang mengalami kemelut berkepanjangan, Dinasti Tang di Tiongkok berhasil memulihkan diri di bawah kekuasaan Kaisar Hsuan Tsung. Setelah kondisi internal pulih, ia bermaksud merebut daerah Sinkiang (Turkistan Timur) yang berhasil ditaklukkan oleh Panglima Qutaibah bin Muslim.

Di wilayah Andalusia, Khalifah Hisyam mengukuhkan Panglima Anbasa bin Syuhain sebagai gubernur menggantikan Sammah bin Malik Al-Khaulani yang gugur. Dengan pasukan cukup besar, Panglima Anbasa menyeberangi pengunungan Pyren dan menaklukkan wilayah Narbonne di selatan Prancis. Selanjutnya ia maju ke Marseilles dan Avignon serta Lyon, menerobos wilayah Burgundy.

Kemenangan itu membangkitkan semangat Anbasa. Ia terus maju ke arah utara dan menaklukkan beberapa daerah sampai ke benteng Sens di pinggir sungai Seine yang jaraknya hanya sekitar 100 mil dari Paris, ibukota wilayah Neustria kala itu.

Karel Martel, yang menjadi pejabat wilayah Neustria, segera maju menghadang pasukan kaum Muslimin. Terjadi pertempuran sengit. Panglima Anbasa gugur, dan pasukannya bertahan di wilayah selatan Prancis.

Peristiwa itu segera sampai ke Damaskus. Khalifah Hisyam segera mengangkat Panglima Besar Abdurrahman Al-Ghafiqi untuk menggantikan Panglima Anbasa. Dalam hal melanjutkan cita-cita pendahulunya, Panglima Abdurrahman Al-Ghafiqi sangat hati-hati. Ia mempersiapkan pasukannya semaksimal mungkin. Tak hanya bekal makanan, tetapi juga fisik tentara untuk menghadapi cuaca dingin di daerah lawan.

Enam tahu kemudian, pasukan itu berangkat ke arah utara. Mereka berhasil merebut Toulouse, ibukota wilayah Aquitania kala itu. Karel Martel terpaksa mundur dan bertahan di benteng Aungoleme.

Nama Panglima Al-Ghafiqi tersebar luas di daratan Eropa. Karel Martel dan Raja Teodorick IV menyerukan seluruh rakyatnya untuk memberikan perlawanan. Sementara itu, pasukan Islam berada dalam posisi yang tidak menguntungkan. Pasukan Islam terlalu terbuai dengan harta rampasan. Ketika perang pecah, pasukan kaum Muslimin terdesak. Panglima Abdurrahman Al-Ghafiqi gugur.

Sementara itu, kemelut yang terjadi di kawasan Asia Kecil berhasil dipadamkan. Pasukan Romawi Timur yang ingin merebut daerah itu bisa dihalau setelah Khalifah Hisyam mengirim panglima Said Khuzainah dari wilayah Khurasan untuk membantu Panglima Maslamah bin Abdul Malik. Namun, dalam suatu peperangan Said gugur.

Khalifah Hisyam bin Abdul Malik wafat dalam usia 55 tahun. Namanya cukup harum dalam sejarah. Dalam ketegasannya, ia senang menerima masukan dari para ulama.

Daulah Umayyah:Yazid bin Abdul Malik(9)

Daulah Umayyah: Yazid bin Abdul Malik (720-724 M) Menderita Tekanan Batin
Sabtu, 23 April 2011 11:37 WIB

REPUBLIKA.CO.ID, Yazid bin Abdul Malik menjabat khalifah kesembilan Daulah Umayyah pada usia 36 tahun. Khalifah yang sering dipanggil dengan sebutan Abu Khalid ini lahir pada 71 H. Ia menjabat khalifah atas wasiat saudaranya, Sulaiman bin Abdul Malik. Ia dilantik pada bulan Rajab 101 H.

Ia mewarisi Daulah Umayyah dalam keadaan aman dan tenteram. Sebelum meninggal, Umar bin Abdul Azis sempat menulis surat kepada Yazid, “Semoga keselamatan tetap terlimpah padamu. Saya ingatkan, jagalah umat Muhammad sebab engkau akan meninggal dunia. Engkau akan menghadap Dzat yang tidak memberikan maaf untukmu.”

Pada masa awal pemerintahannya, Yazid bertindak menuruti kebijakan Khalifah Umar bin Abdul Azis sebelumnya. Namun hal itu tidak berlangsung lama. Menurut Imam As-Suyuthi dalam Tarikh Al-Khulafa’, kebijakan itu berlangsung hanya empat puluh hari. Setelah itu terjadi perubahan. Tampaknya, terlalu banyak penasihat yang tidak setuju dengan kebijakan positif yang diterapkan Umar bin Abdul Azis.

Di antara tindakan yang dilakukan Khalifah Yazid bin Abdul Malik adalah menumpas gerakan Yazid bin Muhallib. Sebelumnya, Yazid bin Muhallib menjabat sebagai gubernur wilayah Khurasan. Ia juga pernah menjabat gubernur Irak di Kufah dan Iran di Bashrah. Jabatan itu dipangkunya sejak Khalifah Sulaiman bin Abdul Malik hingga masa Umar bin Abdul Azis. Karena dianggap melakukan gerakan-gerakan mencurigakan, Khalifah Umar bin Abdul Azis memintanya datang ke Damaskus dan menjatuhi tahanan kota.

Ketika Khalifah Umar bin Abdul Azis wafat, Yazid bin Muhallib segera melarikan diri. Ia khawatir khalifah terpilih, Yazid bin Abdul Malik, akan mengambil tindakan tegas atas dirinya. Sejak awal memang sering terjadi pertentangan antara dua orang yang senama itu.

Yazid bin Muhallib melarikan diri ke Irak. Karena pernah menjabat gubernur di wilayah itu, ia pun diterima oleh masyarakat. Nama keluarganya harum di kalangan rakyat Irak. Hal ini tidak mengherankan karena ayahnya, Muhallib bin Abi Shafra’, adalah penakluk lembah Hind.

Yazid bin Muhallib juga berhasil mengumpulkan dukungan rakyat Basrah untuk memecat Khalifah Yazid. Adanya gerakan itu sampai ke telinga sang khalifah di Damaskus. Yazid bin Abdul Malik segera meminta saudaranya, Maslamah bin Abdul Malik, untuk berangkat dengan pasukannya ke lembah Irak guna memadamkan gerakan Yazid bin Muhallib.

Perang saudara kembali terjadi. Pasukan Maslamah terus mengejar pasukan Yazid bin Muhallib dari benteng ke benteng. Hingga akhirnya Yazid tewas di medan pertempuran yang dikenal di daerah Al-Aqir, tak jauh dari Karbala. Selanjutnya Panglima Maslamah terus mengejar sisa-sisa pasukan lawannya. Hal yang tak mungkin dilupakan sejarah adalah tindakannya menghabisi seluruh keturunan dan keluarga Muhallib.

Peristiwa yang terjadi pada 101 Hijriyah itu cukup mengharukan masyarakat. Keluarga Muhallib dikenal baik dan dermawan. Mungkin karena tidak berani berhadapan langsung dengan pihak penguasa, keharuan dan simpati itu hanya tertuang dalam syair dan kata-kata bijak.

Setelah keamanan pulih, Khalifah Yazid bin Abdul Malik mengangkat Maslamah untuk bertanggung jawab terhadap wilayah timur yang mencakup Irak, Iran dan Khurasan yang berkedudukan di Bashrah.

Untuk memperluas wilayah Islam, Khalifah Yazid memerintahkan Panglima Tsabit An-Nahrawani, gubernur Armenia, untuk menaklukkan wilayah Khazars, utara Armenia antara Laut Hitam dan Laut Kaspia. Namun dalam sebuah pertempuran Panglima Tsabit tewas dan pasukannya porak-poranda.

Khalifah Yazid menunjuk Panglima Jarrah bin Ubaidillah untuk menjabat gubernur Armenia dengan tugas menaklukkan Khazars. Perintah itu ditunjang dengan pengiriman pasukan cukup besar dari Syria. Pasukan Jarrah berhasil menerobos wilayah Khazars dan menduduki kota Blinger dan beberapa kota lainnya.

Sementara itu, Sammah bin Abdul Malik Al-Khaulani, gubernur Andalusia yang berkeduduka di Toledo, berhasil menaklukkan benteng Lerida dan Gerona, lalu menyeberang ke pegunungan Pyrenees bagian timur wilayah Prancis Selatan. Ia terus melebarkan kekuasaannya hingga berhasil menaklukkan Avignon, Toulun dan merebut kota Lyon. Namun dalam usaha penaklukan benteng Toulouse, ia tewas dan pasukannya kembali ke Aquitane. Khalifah Yazid mengangkat Panglima Anbasa bin Syuhaim untuk menggantikan Sammah.

Khalifah Yazid bin Abdul Malik tidak berusia lama menyaksikan perluasan wilayah Islam itu. Ia meninggal dunia pada usia 40 tahun. Masa pemerintahannya hanya berkisar 4 tahun satu bulan. Konon ia meninggal akibat tekanan batin ditinggal seorang wanita yang ia cintai.

Beberapa waktu sebelum Yazid meninggal sempat terjadi konflik antara dirinya dan saudaranya, Hisyam bin Abdul Malik. Namun hubungan keduanya baik kembali setelah Hisyam lebih banyak mendampingi sang khalifah hingga wafat.

Daulah Umayyah:Umar bin Abdul Azis(8)

Daulah Umayyah: Umar bin Abdul Azis (717-720 M) Khalifah Rasyidah Kelima
Sabtu, 23 April 2011 06:00 WIB

REPUBLIKA.CO.ID, Kita tiba pada sosok yang begitu terkenal dalam lembaran sejarah. Dialah Umar bin Abdul Azis. Dalam literatur sejarah ia dikenal dengan julukan Umar Kedua lantaran kebijaksanaan, keadilan, kejujuran, serta kesederhanaannya.

Nama lengkapnya adalah Umar bin Abdul Azis bin Marwan bin Hakam bin Harb bin Umayyah. Ayahnya, Abdul Azis, pernah menjadi gubernur di Mesir selama beberapa tahun. Ia masih merupakan keturunan Umar bin Al-Khathab melalui ibunya, Lailah Ummu Ashim binti Ashim bin Umar bin Al-Khathab.

Ketika kecil, Umar bin Abdul Azis sering berkunjung ke rumah paman ibunya, Abdullah bin Umar bin Al-Khathab. Setiap kali pulang, ia selalu mengatakan kepada ibunya bahwa ia ingin seperti kakeknya. Ibunya menerangkan bahwa kelak ia akan hidup seperti kakeknya itu. Seorang ulama yang wara'.

Umar menghabiskan sebagian besar hidupnya di Madinah. Ketika ayahnya, Abdul Azis wafat, Khalifah Abdul Malik bin Marwan menyuruhnya ke Damaskus dan menikahkan dengan putrinya, Fathimah. Pada masa pemerintahan Walid bin Abdul Malik, Umar bin Abdul Azis diangkat menjadi gubernur Hijaz. Ketika itu usianya baru 24 tahun. Saat Masjid Nabawi dibongkar untuk direnovasi, Umar bin Abdul Azis dipercaya sebagai pengawas pelaksana.

Langkahnya yang bisa dicontoh oleh para pemimpin saat ini adalah membentuk sebuah Dewan Penasihat yang beranggotakan sekitar 10 ulama terkemuka saat itu. Bersama merekalah Umar mendiskusikan berbagai masalah yang dihadapi masyarakat.

Karena beberapa tindakan beraninya memberantas kezaliman, atas hasutan Hajjaj bin Yusuf dan orang-orangnya, Umar diberhentikan dari jabatan gubernur. Namun ketika Khalifah Sulaiman bin Abdul Malik berkuasa, ia kembali diangkat sebagai Al-Katib (sekretaris).

Walaupun Umar bin Abdul Azis hanya memerintah selama dua setengah tahun sebagai khalifah, tetapi kebijakan yang ia buat sungguh berjasa bagi kejayaan umat Islam. Dialah yang memulai menerapkan syariat Islam secara utuh dengan meminta bantuan para ulama, seperti Hasan Bashri. Pada masanya juga, hadits-hadits mulai dibukukan.

Umar juga mempunyai perhatian tinggi pada berbagai cabang ilmu, seperti kedokteran. Dialah yang mengusulkan pemindahan sekolah kedokteran di Iskandaria, Mesir ke Antakiya, Turki. Umar juga bersikap agak lunak terhadap msuh-musuh politiknya. Ia melarang kaum Muslimin mengecam Ali bin Abi Thalib.

Untuk menegakkan keadilan dan kebenaran, Umar mengirimkan utusan ke berbagai daerah untuk memantau kinerja para gubernur. Jika menemukan penyimpangan, ia tak segan-segan memecat mereka. Seperti yang ia lakukan terhadap Yazid bin Abi Muslim, gubernur Afrika Utara dan Shalih bin Abdurrahman, gubernur Irak. Umar juga mengembalikan tanah yang dirampas penguasa.

Dalam bidang militer, Umar tidak menaruh perhatian untuk membangun angkatan perang. Ia lebih mengutamakan pemakmuran kehidupan masyarakat. Karenanya, ia memerintahkan Maslamah untuk menghentikan pengepungan Konstantinopel dan penyerbuan ke Asia Kecil.

Di bidang ekonomi, Umar membuat kebijakan-kebijakan yang melindungi rakyat kecil. Pada masanya, orang-orang kaya membayar zakat sehingga kemakmuran benar-benar terwujud. Konon, saat itu sulit menemukan para penerima zakat lantaran kemakmuran begitu merata.

Dalam melaksanakan kebijakan-kebijakan itu, Umar bin Abdul Azis selalu berada di depan. Sebelum menyuruh orang lain berlaku sederhan, ia lebih dahulu bersikap sederhana. Buktinya, sebelum menjadi khalifah, Umar biasa mengenakan pakaian bagus. Namun setelah menjabat khalifah, keadaannya justru terbalik. Ia menolak berbagai fasilitas negara. Bahkan harta miliknya pun dijual dan uangnya dimasukkan ke Baitul Mal (kas negara).

Di antara bukti bahwa Umar bin Abdul Azis sangat tidak ingin menggunakan fasilitas negara adalah kisahnya dengan putranya. Suatu malam ketika ia sedang berada di kantor untuk urusan negara, putranya datang. Begitu mengetahui bahwa putranya ingin membicarakan masalah keluarga, Umar memadamkan lampu yang ia gunakan. Keduanya pun berbincang dalam kegelapan.

Ketika hal itu ditanyakan putranya, dengan yakin Umar menjawab bahwa mereka sedang membicarakan masalah keluarga. Sedangkan lampu yang mereka gunakan adalah milik negara. Karena berbagai kebijakan dan keadilannya itu, Umar bin Abdul Azis dikenal sebagai Khulafaur Rasyidin Kelima atau Umar Kedua setelah Umar bin Al-Khathab.

Khalifah Umar bin Abdul Azis meninggal dunia di Dir Sim'an, sebuah kota di wilayah Himsh pada 20 atau 25 Rajab 101 Hijriyah dalam usia 36 tahun 6 bulan. Menurut beberapa riwayat, seperti yang terdapat dalam Tarikh Al-Khulafa' karya Imam As-Suyuthi, Umar bin Abdul Azis meninggal karena diracun.

Menjelang wafat, ia sempat memanggil pelayan yang memberinya minum. "Apa yang mendorongmu memberiku minuman berisi racun?" tanya Umar.

"Saya diberi seribu dinar dan dijanjikan akan dibebaskan dari perbudakan," jawab pelayan tersebut.

Umar memintanya mengambil uang itu dan meletakkannya di Baitul Mal. "Pergilah ke tempat yang tidak seorang pun tahu!" katanya kepada si pelayan.

Umat Islam kehilangan seorang pemimpin adil yang nyaris tak ada penggantinya hingga kini.

Daulah Umayyah:Sulaiman bin Abdul Malik(7)

Daulah Umayyah: Sulaiman bin Abdul Malik (715 -717 M) Khalifah Ketujuh
Jumat, 22 April 2011 22:32 WIB

REPUBLIKA.CO.ID, Sulaiman bin Abdul Malik naik tahta sebagai khalifah menggantikan saudaranya, Walid bin Abdul Malik, pada usia 42 tahun. Ia hanya memerintah selama dua tahun (97 H-99 H).

Menurut sebagian ahli sejarah, menjelang wafatnya, Walid bin Abdul Malik tidak sempat menunjuk seseorang sebagai pengganti. Para pemuka keluarga Bani Umayyah akhirnya memutuskan Sulaiman bin Abdul Malik sebagai Khalifah Ketujuh Daulah Umayyah di Damaskus, Syria. Saat itu Sulaiman sendiri berada di kota Ramallah. Ia baru mengetahui berita wafatnya Walid setelah sepekan kemudian.

Begitu menjabat khalifah, banyak perubahan yang dilakukan Sulaiman bin Abdul Malik. Yang terbesar adalah pergantian beberapa pejabat penting pemerintah. Inilah yang membuat puncak kejayaan Daulah Umayyah menurun.

Sebelumnya, Abdul Malik bin Marwan dan Walid bin Abdul Malik menempatkan tokoh-tokoh terkuat di beberapa daerah. Misalnya, Hajjaj bin Yusuf dan Qutaibah bin Muslim ditempatkan di wilayah timur, sedangkan Musa bin Nushair dan Thariq bin Ziyad ditempatkan di wilayah barat. Sulaiman bin Abdul Malik memberhentikan ketiga tokoh tersebut.

Musa bin Nushair, penakluk Spanyol dan Portugal, tiba di Damaskus tiga hari sebelum Walid bin Abdul Malik wafat. Tanpa alasan yang bisa diterima, Musa bin Nushair diberhentikan dan dibuang ke Madinah. Dua tahun kemudian, tokoh ini wafat.

Putra Musa bin Nushair, Abdul Malik bin Musa yang menjabat gubernur wilayah Afrika di Kairawan juga diberhentikan. Sebagai penggantinya diangkatlah Muhammad bin Yazid. Sedangkan Abdul Azis bin Musa, putra Musa bin Nushair yang menjabat gubernur di wilayah Andalusia yang berkedudukan di Toledo, dikudeta oleh pasukannya sendiri dan gugur dalam sebuah peperangan. Sebagai penggantinya, Sulaiman bin Abdul Malik mengangkat Abdurrahman Ats-Tsaqafi.

Sementara itu, Hajjaj bin Yusuf meninggal terlebih dahulu daripada Walid bin Abdul Malik. Namun demikian, keluarganya tak ada yang luput dari kebijakan Kalifah Sulaiman. Mereka yang masih memegang jabatan langsung diberhentikan.

Tindakan fatal lainnya yang dilakukan Khalifah Sulaiman bin Abdul Malik adalah membebaskan para tahanan politik di Irak dan Iran. Dilihat dari sudut kemanusiaan, sekilas tindakan ini positif. Namun di sisi lain, mereka yang menentang pemerintahan selama ini menjadi bebas berbuat apa saja.

Ketika masih hidup, Hajjaj bin Yusuf dan Qutaibah bin Muslim sepakat untuk mengangkat Abdul Azis bin Walid sebagai calon pengganti sang khalifah. Namun, Walid bin Abdul Malik meningga sebelum sempat menetapkan keputusan itu.

Itulah yang membuat Khalifah Sulaiman tidak senang dengan Hajjaj dan Qutaibah. Rasa tidak senang itu sudah terbaca oleh Qutaibah. Apalagi ketika melihat tindakan Khalifah Sulaiman terhadap keluarga Hajjaj dan Musa bin Nushair.
Qutaibah bin Muslim menggerakkan rakyat Khurasan untuk memberhentikan Khalifah Sulaiman. Namun kekuatannya kalah. Ia gugur dalam peperangan. Sebagai gantinya diangkatlah Wakki At-Tamimi.

Sedangkan jabatan Hajjaj bin Yusuf tak pernah diisi lagi. Khalifah Sulaiman menunjuk Yazid bin Muhallib sebagai gubernur wilayah Irak dan Iran. Karena kemampuannya, Yazid bin Muhallib diangkat menjadi gubernur wilayah Khurasan menggantikan Wakki At-Tamimi. Selanjutnya, gubernur Yazid melebarkan sayap kekuasaannya ke daerah Tabaristan dan Jurjan.

Sementara itu, kemenangan Panglima Maslamah bin Abdul Malik di daerah Asia Kecil pada masa pemerintahan Khalifah Walid bin Abdul Malik, membuat geger imperium Romawi Timur. Hal itu membangkitkan minat Khalifah Sulaiman untuk menaklukkan Konstantinopel.

Ia pun mempersiapkan bala bantuan berkuatan 120.000 orang untuk memperkuat pasukan saudaranya. Khalifah Sulaiman sendiri ikut dalam pasukan itu. Namun ia terpaksa berhenti di Caesarea wilayah Galtia karena sakit. Sedangkan Maslamah dan pasukannya meneruskan perjalanan. Pasukan Romawi tidak mengadakan perlawanan. Mereka bertahan di benteng Konstantinopel dalam kepungan pasukan kaum Muslimin yang cukup lama.

Khalifah Sulaiman bin Abdul Malik wafat dalam usia 45 tahun. Keinginannya untuk menaklukkan ibukota Konstantinopel gagal. Di antara yang dapat dikenang pada masa pemerintahannya adalah menyelesaikan pembangunan Masjid Al-Jami’ Al-Umawi yang dikenal megah dan agung di Damaskus.

Khalifah Sulaiman bin Abdul Malik mempunyai seorang putra mahkota bernama Ayyub bin Sulaiman yang sudah ia siapkan sebagai penggantinya. Namun sayang, sang putra meninggal dunia sebelum niat ayahnya tercapai. Khalifah Sulaiman berniat mencalonkan putranya yang lain, namun karena masih terlalu muda, Raja’ bin Haiwa’, seorang tabiin penasihat utama istana menyarankan agar niat itu ditunda. Raja’ mengusulkan nama Umar bin Abdul Azis.

Lobi yang dilakukan Raja’ berhasil. Umar bin Abdul Azis pun diangkat sebagai khalifah kedelapan pengganti Sulaiman bin Abdul Malik. Sejarah pun membuktikan, pilihan sang ulama tidak meleset. Pada masa pemerintahan Umar bin Abdul Azis, Daulah Umayyah mengalami kegemilangan, sehingga para ahli sejarah menjuluki Umar bin Abdul Azis sebagai Khalifah Ar-Rasyidah kelima setelah Ali bin Abi Thalib.

Daulah Abbasiyah:Harun Al-Rasyid(5)

Daulah Bani Abbasiyah: Harun Ar-Rasyid (786-809 M) Lekat dengan Abu Nawas
Selasa, 26 April 2011 06:03 WIB

REPUBLIKA.CO.ID, Harun Ar-Rasyid adalah khalifah kelima Daulah Abbasiyah. Ia dilahirkan pada Februari 763 M. Ayahnya bernama Al-Mahdi, khalifah ketiga Bani Abbasiyah, dan ibunya bernama Khaizuran.

Masa kanak-kanaknya dilewati dengan mempelajari ilmu-ilmu agama dan ilmu pemerintahan. Guru agamanya yang terkenal pada masa itu adalah Yahya bin Khalid Al-Barmaki.

Harun Ar-Rasyid diangkat menjadi khalifah pada September 786 M, pada usianya yang sangat muda, 23 tahun. Jabatan khalifah itu dipegangnya setelah saudaranya yang menjabat khalifah, Musa Al-Hadi wafat. Dalam menjalankan roda pemerintahan, Harun Ar-Rasyid didampingi Yahya bin Khalid dan empat putranya.

Daulah Abbasiyah mencapai puncak kejayaannya pada masa pemerintahan Harun Ar-Rasyid, seorang khalifah yang taat beragama, shalih, dermawan, hampir bisa disamakan dengan Khalifah Umar bin Abdul Azis dari Bani Umayyah. Jabatan khalifah tidak membuatnya terhalang untuk turun ke jalan-jalan pada malam hari, tujuannya untuk melihat keadaan rakyat yang sebenarnya. Ia ingin melihat apa yang terjadi dan menimpa kaum lemah dengan mata kepalanya sendiri untuk kemudian memberikan bantuan.

Pada masa itu, Baghdad menjadi mercusuar kota impian 1.001 malam yang tidak ada tandingannya di dunia pada abad pertengahan. Daulah Abbasiyah pada masa itu, mempunyai wilayah kekuasaan yang luas, membentang dari Afrika Utara sampai ke Hindukush, India. Kekuatan militer yang dimilikinya juga sangat luar biasa.

Khalifah Harun Ar-Rasyid mempunyai perhatian yang sangat baik terhadap ilmuwan dan budayawan. Ia mengumpulkan mereka semua dan melibatkannya dalam setiap kebijakan yang akan diambil pemerintah. Perdana menterinya adalah seorang ulama besar di zamannya, Yahya Al-Barmaki juga merupakan guru Khalifah Harun Ar-Rasyid, sehingga banyak nasihat dan anjuran kebaikan mengalir dari Yahya. Hal ini semua membentengi Khalifah Harun Ar-Rasyid dari perbuatan-perbuatan yang menyimpang dari ajaran-ajaran Islam.

Pada masa Khalifah Harun Ar-Rasyid, hidup juga seorang cerdik pandai yang sering memberikan nasihat-nasihat kebaikan pada Khalifah, yaitu Abu Nawas. Nasihat-nasihat kebaikan dari Abu Nawas disertai dengan gayanya yang lucu, menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan Khalifah Harun Ar-Rasyid.

Suasanan negara yang aman dan damai membuat rakyat menjadi tenteram. Bahkan pada masa pemerintahan Harun Ar-Rasyid sangat sulit mencari orang yang akan diberikan zakat, infak dan sedekah, karena tingkat kemakmuran penduduknya merata. Di samping itu, banyak pedagang dan saudagar yang menanamkan investasinya pada berbagai bidang usaha di wilayah Bani Abbasiyah pada masa itu.

Setiap orang merasa aman untuk keluar pada malam hari, karena tingkat kejahatan yang minim. Kaum terpelajar dan masyarakat umum dapat melakukan perjalanan dan penjelajahan di negeri yang luas itu dengan aman. Masjid-masjid, perguruan tinggi, madrasah-madrasah, rumah sakit, dan sarana kepentingan umum lainnya banyak dibangun pada masa itu.

Khalifah Harun Ar-Rasyid juga sangat giat dalam penerjemahan berbagai buku berbahasa asing ke dalam bahasa Arab. Dewan penerjemah juga dibentuk untuk keperluan penerjemahan dan penggalian informasi yang termuat dalam buku asing. Dewan penerjemah itu diketuai oleh seorang pakar bernama Yuhana bin Musawih.

Bahasa Arab ketika itu merupakan bahasa resmi negara dan bahasa pengantar di sekolah-sekolah, perguruan tinggi, dan bahkan menjadi alat komunikasi umum. Karena itu, dianggap tepat bila semua pengetahuan yang termuat dalam bahasa asing itu segera diterjemahkan ke dalam bahasa Arab.

Khalifah Harun Ar-Rasyid meninggal dunia di Khurasan pada 3 atau 4 Jumadil Tsani 193 H/809 M setelah menjadi khalifah selama lebih kurang 23 tahun 6 bulan. Seperti ditulis Imam As-Suyuthi, ia meninggal saat memimpin Perang Thus, sebuah wilayah di Khurasan. Saat meninggal usianya 45 tahun, bertindak sebagai imam shalat jenazahnya adalah anaknya sendiri yang bernama Shalih.

Daulah Abbasiyah dan dunia Islam saat itu benar-benar kehilangan sosok pemimpin yang shalih dan adil, sehingga tak seorang pun yang teraniaya tanpa diketahui oleh Khalifah Harun Ar-Rasyid dan mendapatkan perlindungan hukum yang sesuai.