Daulah Abbasiyah: Musa Al-Hadi (785-786 M) Pembasmi Kaum Zindiq
Senin, 25 April 2011 19:00 WIB
REPUBLIKA.CO.ID, Musa Al-Hadi menjabat Khalifah Abbasiyah keempat menggantikan ayahnya, Khalifah Al-Mahdi. Ia menjalankan pemerintahan hanya satu tahun tiga bulan (169-170 H). Ia dilahirkan di Ray pada 147 H.
Ketika ayahnya wafat, Musa Al-Hadi sedang berada di pesisir pantai Jurjan di pinggir laut Kaspia. Saudaranya, Harun Ar-Rasyid, bertindak mewakilinya untuk mengambil baiat dari seluruh tentara. Mendengar berita wafatnya sang ayah, Musa Al-Hadi segera kembali ke Baghdad dan berlangsunglah baiat secara umum.
Pusat perhatian umat Musa Al-Hadi ketika menjabat khalifah adalah membasmi kaum Zindiq. Kelompok ini berkembang sejak pemerintahan ayahnya, Al-Mahdi. Secara umum kelompok ini lebih mirip ajaran komunis yang ingin menyamakan kepemilikan harta. Tetapi mereka sering tidak menampakkan ajarannya secara terang-terangan. Ini yang menyulitkan kaum Muslimin membasminya.
Walau demikian, di akhir pemerintahan Al-Mahdi, kelompok ini semakin merebak dengan melakukan kegiatan bawah tanah. Untuk itu, Khalifah Musa Al-Hadi tidak mau ambil resiko. Dengan tegas ia memerintahkan pasukannya untuk membasmi kelompok ini sampai ke akar-akarnya.
Tantangan terhadap Khalifah Musa Al-Hadi tak hanya muncul dari kaum Zindiq. Di daerah Hijaz muncul sosok Husain bin Ali bin Hasan bin Ali bin Abi Thalib. Ia mendapatkan sambutan dari masyarakat karena masih keturunan Ali bin Abi Thalib. Bahkan kelompok ini sempat memaklumatkan berdirinya Daulah Alawi di Tanah Hijaz.
Karena gubernur setempat tak mampu mengatasinya, Musa Al-Hadi segera mengirimkan pasukan cukup besar dari Baghdad yang dipimpin oleh Muhammad bin Sulaiman. Mulanya pihak Sulaiman menawarkan perdamaian. Namun karena tak mencapai kata mufakat, akhirnya terjadilah pertempuran di suatu tempat antara Madinah dan Makkah yang dikenal dengan nama Fakh.
Husain bin Ali tewas dalam peperangan itu. Kepalanya dibawa ke hadapan Khalifah Musa Al-Hadi dan dikebumikan di Baghdad. Sisa-sisa pasukan Husain dikejar. Sebagian melarikan diri keluar Hijaz.
Tak terlalu banyak perkembangan yang terjadi di masa pemerintahan Musa Al-Hadi. Usia pemerintahannya pun tidak terlalu lama. Ia meninggal dunia pada malam Sabtu 16 Rabiul Awwal 170 H. Konon kemangkatannya itu tidak wajar. Ibunya, Khaizuran yang masih keturunan Iran, dianggap terlalu sering mencampuri urusan pemerintahan. Hal itu tidak disenangi oleh sang khalifah.
Konon sering terjadi pertentangan antara keduanya, ia pun dibunuh. Imam As-Suyuthi memaparkan banyak versi tentang tewasnya Musa Al-Hadi. Ada yang mengatakan sang khalifah jatuh dari jurang dan tertancap pada sebatang pohon. Ada juga yang mengatakan ia meninggal karena radang usus hingga perutnya bernanah. Riwayat lain mengatakan, ia diracun oleh ibunya sendiri.
Sebagaimana diketahui, ibunya adalah orang yang sangat berpengaruh dan sering mengurusi hal yang sangat penting seputar istana. Para utusan banyak yang datang ke kediaman ibunya. Melihat hal itu, Musa Al-Hadi marah. Terjadi pertengkaran antara dirinya dan ibunya.
Seperti dikisahkan As-Suyuthi, Musa Al-Hadi mengirimkan makan beracun kepada ibunya. Begitu menerima makanan itu, ibunya langsung memberikannya kepada seekor anjing. Seketika binatang itu mati!
Setelah mengetahui niat busuk anaknya, sang ibu berencana untuk membunuh anaknya yang durhaka itu. Dengan menggunakan selendang, ia membungkam wajah Musa Al-Hadi hingga kehilangan nafas dan mati. Musa meninggalkan tujuh orang anak laki-laki.
Senin, 25 April 2011
Daulah Abbasiyah:Muhammad Al-Mahdi(3)
Daulah Abbasiyah: Muhammad Al-Mahdi (775-785 M) Khalifah Ketiga
Senin, 25 April 2011 16:36 WIB
REPUBLIKA.CO.ID, Ketika khalifah Abu Ja'far Al-Manshur meninggal di tengah perjalanan untuk menunaikan ibadah haji, Al-Mahdi sedang berada di Baghdad mewakilinya mengurus kepentingan negara. Di sanalah Al-Mahdi mendengar kabar kematian ayahnya tercinta sekaligus pengangkatan dirinya sebagai khalifah.
Setelah merasa mampu menguasai kesedihannya, ia berpidato di hadapan orang banyak. Di antara isi pidatonya, “Sesungguhnya Amirul Mukminin adalah seorang hamba yang diminta, lalu dia penuhi permintaan itu. Rasulullah Saw pernah menangis saat berpisah dengan orang-orang yang dicintainya. Kini aku berpisah dengan sosok yang agung, kemudian aku diberi beban yang sangat berat. Hanya kepada Allah aku mengharap pahala untuk Amirul Mukminin, dan hanya kepada-Nya aku memohon pertolongan untuk memimpin kaum Muslimin.”
Al-Mahdi dikenal sebagai sosok dermawan, pemurah, terpuji, disukai rakyat serta banyak memberikan hadiah-hadiah. Selain itu, ia juga mengembalikan harta-harta yang dirampas secara tidak benar. Ia lahir pada 129 H. Ada juga yang mengatakan 126 H. Ibunya bernama Ummu Musa binti Al-Manshur Al-Himyariyah.
Al-Mahdi adalah khalifah pertama yang memerintahkan ulama untuk menulis buku menentang orang-orang Zindiq dan mulhid (ingkar). Menurut Adz-Dzahabi seperti dikutip Imam As-Suyuthi dalam Tarikh Al-Khulafa’, dialah yang pertama kali membuat jaringan pos antara Irak dan Hijaz.
Berbeda dengan pemerintahan ayahnya yang penuh dengan perjuangan melawan berbagai kesulitan untuk menstabilkan keadaan negara, masa pemerintahan Al-Mahdi bisa dikatakan masa kejayaan dan kemakmuran. Rakyat dapat hidup dengan tenteram dan damai. Sebab negara pada waktu itu berada dalam keadaan stabil dan mantap. Keuangan negara terjamin dan tidak ada satu pun gerakan penting dan signifikan yang mengancam keselamatan negara.
Masa pemerintahan Al-Mahdi dimulai dengan pembebasan para napol (narapidana politik) dan tapol (tahanan politik). Kebanyakan dari golongan Alawiyah (pendukung Ali), terkecuali para kriminal yang dipenjarakan menurut undang-undang yang berlaku.
Pembangunan yang dilakukan di masa itu meliputi peremajaan bangunan Ka’bah dan Masjid Nabawi, pembangunan fasilitas umum, pembangunan jaringan pos yang menghubungkan kota Baghdad dengan kota-kota besar Islam lainnya.
Di antara kebijakan Al-Mahdi adalah menurunkan pajak bagi golongan kafir dzimmi, juga memerintahkan pegawai-pegawainya untuk tidak bersikap kasar ketika memungut pajak, karena sebelumnya mereka diintimidasi dengan berbagai cara agar membayar pajak.
Penaklukan di masa Khalifah Al-Mahdi meliputi daerah Hindustan (India) dan penaklukan besar-besaran terjadi di wilayah Romawi. Selain itu, Al-Mahdi juga bersikap keras terhadap orang-orang yang menyimpang dari ajaran Islam, yaitu mereka yang menganut ajaran Manawiyah Paganistik (penyembah cahaya dan kegelapan) atau lebih dikenal dengan sebutan kaum Zindiq. Setelah itu sebutan Zindiq dialamatkan kepada siapa saja yang mulhid atau para ahli bid’ah.
Gerakan lain yang muncul pada masa kepemimpinannya adalah gerakan Muqanna Al-Khurasani yang menuntut dendam atas kematian Abu Muslim Al-Khurasani. Selain itu, gerakan ini merupakan percobaan Persia untuk merebut kembali kekuasaan dan pengaruh dari bangsa Arab, khususnya Bani Abbasiyah. Al-Muqanna mengajarkan kepada para pengikutnya tentang pengembalian ruh ke dunia dalam jasad yang lain, yang lebih dikenal dengan reinkarnasi. Tentu saja gerakan ini sangat sesat dan menyesatkan.
Kemunculan Al-Muqanna menimbulkan kekhawatiran khalifah, selain karena para pengikutnya yang bertambah banyak, mereka juga sering memenangkan peperangan menghadapi kaum Muslimin serta menawan Muslimah dan anak-anak. Oleh sebab itu, Al-Mahdi mengirim pasukan besar menghadapi gerakan tersebut.
Terjadilah pengepungan di sebuah kota di mana Al-Muqanna bersembunyi. Pengepungan itu berlangsung cukup lama. Di luar perkiraan pasukan Al-Mahdi, sebuah aksi bunuh diri massal dilakukan Al-Muqanna bersama pengikut-pengikutnya, yaitu dengan cara membakar diri.
Pada tahun 159 H, Al-Mahdi mengangkat kedua anaknya, Musa Al-Hadi dan Harun Ar-Rasyid, sebagai putra mahkota secara berurutan. Pada tahun 169 H, Al-Mahdi meninggal dunia. Ia memerintah selama 43 tahun. Satu riwayat menyebutkan dia meninggal karena jatuh dari kudanya ketika sedang berburu. Riwayat lain mengatakan dia meninggal karena diracun.
Senin, 25 April 2011 16:36 WIB
REPUBLIKA.CO.ID, Ketika khalifah Abu Ja'far Al-Manshur meninggal di tengah perjalanan untuk menunaikan ibadah haji, Al-Mahdi sedang berada di Baghdad mewakilinya mengurus kepentingan negara. Di sanalah Al-Mahdi mendengar kabar kematian ayahnya tercinta sekaligus pengangkatan dirinya sebagai khalifah.
Setelah merasa mampu menguasai kesedihannya, ia berpidato di hadapan orang banyak. Di antara isi pidatonya, “Sesungguhnya Amirul Mukminin adalah seorang hamba yang diminta, lalu dia penuhi permintaan itu. Rasulullah Saw pernah menangis saat berpisah dengan orang-orang yang dicintainya. Kini aku berpisah dengan sosok yang agung, kemudian aku diberi beban yang sangat berat. Hanya kepada Allah aku mengharap pahala untuk Amirul Mukminin, dan hanya kepada-Nya aku memohon pertolongan untuk memimpin kaum Muslimin.”
Al-Mahdi dikenal sebagai sosok dermawan, pemurah, terpuji, disukai rakyat serta banyak memberikan hadiah-hadiah. Selain itu, ia juga mengembalikan harta-harta yang dirampas secara tidak benar. Ia lahir pada 129 H. Ada juga yang mengatakan 126 H. Ibunya bernama Ummu Musa binti Al-Manshur Al-Himyariyah.
Al-Mahdi adalah khalifah pertama yang memerintahkan ulama untuk menulis buku menentang orang-orang Zindiq dan mulhid (ingkar). Menurut Adz-Dzahabi seperti dikutip Imam As-Suyuthi dalam Tarikh Al-Khulafa’, dialah yang pertama kali membuat jaringan pos antara Irak dan Hijaz.
Berbeda dengan pemerintahan ayahnya yang penuh dengan perjuangan melawan berbagai kesulitan untuk menstabilkan keadaan negara, masa pemerintahan Al-Mahdi bisa dikatakan masa kejayaan dan kemakmuran. Rakyat dapat hidup dengan tenteram dan damai. Sebab negara pada waktu itu berada dalam keadaan stabil dan mantap. Keuangan negara terjamin dan tidak ada satu pun gerakan penting dan signifikan yang mengancam keselamatan negara.
Masa pemerintahan Al-Mahdi dimulai dengan pembebasan para napol (narapidana politik) dan tapol (tahanan politik). Kebanyakan dari golongan Alawiyah (pendukung Ali), terkecuali para kriminal yang dipenjarakan menurut undang-undang yang berlaku.
Pembangunan yang dilakukan di masa itu meliputi peremajaan bangunan Ka’bah dan Masjid Nabawi, pembangunan fasilitas umum, pembangunan jaringan pos yang menghubungkan kota Baghdad dengan kota-kota besar Islam lainnya.
Di antara kebijakan Al-Mahdi adalah menurunkan pajak bagi golongan kafir dzimmi, juga memerintahkan pegawai-pegawainya untuk tidak bersikap kasar ketika memungut pajak, karena sebelumnya mereka diintimidasi dengan berbagai cara agar membayar pajak.
Penaklukan di masa Khalifah Al-Mahdi meliputi daerah Hindustan (India) dan penaklukan besar-besaran terjadi di wilayah Romawi. Selain itu, Al-Mahdi juga bersikap keras terhadap orang-orang yang menyimpang dari ajaran Islam, yaitu mereka yang menganut ajaran Manawiyah Paganistik (penyembah cahaya dan kegelapan) atau lebih dikenal dengan sebutan kaum Zindiq. Setelah itu sebutan Zindiq dialamatkan kepada siapa saja yang mulhid atau para ahli bid’ah.
Gerakan lain yang muncul pada masa kepemimpinannya adalah gerakan Muqanna Al-Khurasani yang menuntut dendam atas kematian Abu Muslim Al-Khurasani. Selain itu, gerakan ini merupakan percobaan Persia untuk merebut kembali kekuasaan dan pengaruh dari bangsa Arab, khususnya Bani Abbasiyah. Al-Muqanna mengajarkan kepada para pengikutnya tentang pengembalian ruh ke dunia dalam jasad yang lain, yang lebih dikenal dengan reinkarnasi. Tentu saja gerakan ini sangat sesat dan menyesatkan.
Kemunculan Al-Muqanna menimbulkan kekhawatiran khalifah, selain karena para pengikutnya yang bertambah banyak, mereka juga sering memenangkan peperangan menghadapi kaum Muslimin serta menawan Muslimah dan anak-anak. Oleh sebab itu, Al-Mahdi mengirim pasukan besar menghadapi gerakan tersebut.
Terjadilah pengepungan di sebuah kota di mana Al-Muqanna bersembunyi. Pengepungan itu berlangsung cukup lama. Di luar perkiraan pasukan Al-Mahdi, sebuah aksi bunuh diri massal dilakukan Al-Muqanna bersama pengikut-pengikutnya, yaitu dengan cara membakar diri.
Pada tahun 159 H, Al-Mahdi mengangkat kedua anaknya, Musa Al-Hadi dan Harun Ar-Rasyid, sebagai putra mahkota secara berurutan. Pada tahun 169 H, Al-Mahdi meninggal dunia. Ia memerintah selama 43 tahun. Satu riwayat menyebutkan dia meninggal karena jatuh dari kudanya ketika sedang berburu. Riwayat lain mengatakan dia meninggal karena diracun.
Daulah Abbasiyah:Abu Jafar Al Manshur ( 2)
Daulah Abbasiyah: Abu Ja'far Al-Manshur (754-775 M) Membangun Imperium
Senin, 25 April 2011 11:58 WIB
REPUBLIKA.CO.ID, Abu Ja'far Al-Manshur menjabat khalifah kedua Bani Abbasiyah menggantikan saudaranya Abul Abbas As-Saffah. Abu Ja'far Al-Manshur adalah putra Muhammad bin Ali bin Abdullah bin Abbas bin Abdul Muthalib yang juga saudara kandung Ibrahim Al-Imam dan Abul Abbas As-Saffah. Ketiganya merupakan pendiri Bani Abbasiyah.
Ketikah Khalifah Abul Abbas As-Saffah meninggal, Abu Ja'far sedang menunaikan ibadah haji bersama Panglima Besar Abu Muslim Al-Khurasani. Yang pertama kali dilakukan Khalifah Abu Ja'far Al-Manshur setelah dilantik menjadi khalifah pada 136 H/754 M adalah mengatur politik dan siasat pemerintahan Bani Abbasiyah. Jalur-jalur pemerintahan ditata rapi dan cermat, sehingga pada masa pemerintahannya terjalin kerjasama erat antara pemerintah pusat dan daerah. Begitu juga antara qadhi (hakim) kepala polisi rahasia, kepala jawatan pajak, dan kepala-kepala dinas lainnya.
Selama masa kepemimpinannya, kehidupan masyarakat berjalan tenteram, aman dan makmur. Stabilitas politik dalam negeri cenderung aman dan terkendali, tidak ada gejolak politik dan pemberontakan-pemberontakan.
Khalifah Abu Ja'far Al-Manshur sangat mewaspadai tiga kelompok yang menurutnya dapat menjadi batu sandungan Bani Abbasiyah dan dirinya. Kelompok pertama dipimpin Abdullah bin Ali, adik kandung Muhammad bin Ali, paman Abu Ja'far sendiri. Ia menjabat panglima perang Bani Abbasiyah. Kegagahan dan keberaniannya dikenal luas. Pengikut Abdullah bin Ali sangat banyak serta sangat berambisi menjadi khalifah.
Kelompok kedua dipimpin Abu Muslim Al-Khurasani, orang yang berjasa besar dalam membantu pendirian Dinasti Abbasiyah. Karena keberanian dan jasa-jasanya, ia sangat disegani serta dihormati di kalangan Bani Abbasiyah. Masyarakat luas banyak yang menjadi pengikutnya. Khalifah Abu Ja'far Al-Manshur khawatir pengaruh Abu Muslim terlalu besar terhadap pemerintahan Bani Abbasiyah.
Kelompok ketiga adalah kalangan Syiah yang dipimpin pendukung berat keturunan Ali bin Abi Thalib. Masyarakat luas banyak yang simpati karena dalam melakukan gerakan mereka membawa nama-nama keluarga Nabi Muhammad Saw.
Setelah berhasil mengantisipasi kelompok-kelompok yang dapat menjadi batu sandungan pemerintahannya, Al-Manshur kembali dapat mencurahkan perhatiannya pada pengembangan kebudayaan dan peradaban Islam. Ia adalah orang yang sangat mencintai ilmu pengetahuan, sehingga memberikan dorongan dan kesempatan yang luas bagi cendekiawan untuk mengembangkan riset ilmu pengetahuan. Penerjemahan buku-buku Romawi ke dalam bahasa Arab, yang menjadi bahasa internasional saat itu dilakukan secara khusus dan profesional. Ilmu falak (astronomi) dan filsafat mulai digali dan dikembangkan.
Pada awal pemerintahannya, Khalifah Abu Ja'far Al-Manshur benar-benar meletakkan dasar-dasar ekonomi dan keuangan negara dengan baik dan terkendali. Oleh sebab itu, tidak pernah terjadi defisit anggaran besar-besaran. Kas negara selalu penuh, uang yang masuk lebih banyak daripada uang keluar. Ketika Khalifah Abu Ja'far Al-Manshur meninggal dunia, harta yang ada dalam kas negara sebanyak 810.000.000 dirham.
Ada kisah menarik tentang Abu Ja'far Al-Manshur dan Abu Hanifah. Ketika selesai membangun Baghdad, Abu Ja'far mengundang para ulama terkemuka. Imam Abu Hanifah termasuk di antara mereka.
Saat itulah Abu Hanifah ditawari sebagai Hakim Tinggi (Qadhi Qudha). Namun Abu Hanifah menolak keras. Ketika diancam agar bersedia memegang jabatan itu, Abu Hanifah mengucapkan kalimat yang dicatat sejarah, "Seandainya anda mengancam untuk membenamkanku ke dalam sungai Eufrat atau memegang jabatan itu, sungguh aku akan memilih untuk dibenamkan."
Khalifah Abu Ja'far Al-Manshur amat murka. Apalagi ketika ia mendapatkan laporan bahwa sang imam menaruh simpati pada gerakan Muhammad bin Abdullah di Tanah Hijaz. Abu Hanifah ditangkap dan dipenjara hingga meninggal.
Selain meletakkan pondasi ekonomi, Khalifah Abu Ja'far Al-Manshur juga menertibkan pemerintah untuk memperkuat kekuasaan Bani Abbasiyah. Penertiban ini dilakukan dalam bidang administrasi dan mengadakan kerjasama antar pejabat pemerintahan dengan sistem kerja lintas sektoral.
Khalifah Al-Manshur juga mengadakan penyebaran dakwah Islam ke Byzantium, Afrika Utara dan mengadakan kerjasama dengan Raja Pepin dari Prancis. Saat itu, kekuasaan Bani Umayyah II di Andalusia dipimpin oleh Abdurrahman Ad-Dakhil.
Menjelang pengujung 158 H, Khalifah Abu Ja'far Al-Manshur berangkat ke Makkah untuk menunaikan ibadah haji. Namun dalam perjalanan ia sakit lalu meninggal dunia. Ia wafat dalam usia 63 tahun dan memerintah selama 22 tahun. Jenazahnya dibawa dan dikebumikan di Baghdad.
Senin, 25 April 2011 11:58 WIB
REPUBLIKA.CO.ID, Abu Ja'far Al-Manshur menjabat khalifah kedua Bani Abbasiyah menggantikan saudaranya Abul Abbas As-Saffah. Abu Ja'far Al-Manshur adalah putra Muhammad bin Ali bin Abdullah bin Abbas bin Abdul Muthalib yang juga saudara kandung Ibrahim Al-Imam dan Abul Abbas As-Saffah. Ketiganya merupakan pendiri Bani Abbasiyah.
Ketikah Khalifah Abul Abbas As-Saffah meninggal, Abu Ja'far sedang menunaikan ibadah haji bersama Panglima Besar Abu Muslim Al-Khurasani. Yang pertama kali dilakukan Khalifah Abu Ja'far Al-Manshur setelah dilantik menjadi khalifah pada 136 H/754 M adalah mengatur politik dan siasat pemerintahan Bani Abbasiyah. Jalur-jalur pemerintahan ditata rapi dan cermat, sehingga pada masa pemerintahannya terjalin kerjasama erat antara pemerintah pusat dan daerah. Begitu juga antara qadhi (hakim) kepala polisi rahasia, kepala jawatan pajak, dan kepala-kepala dinas lainnya.
Selama masa kepemimpinannya, kehidupan masyarakat berjalan tenteram, aman dan makmur. Stabilitas politik dalam negeri cenderung aman dan terkendali, tidak ada gejolak politik dan pemberontakan-pemberontakan.
Khalifah Abu Ja'far Al-Manshur sangat mewaspadai tiga kelompok yang menurutnya dapat menjadi batu sandungan Bani Abbasiyah dan dirinya. Kelompok pertama dipimpin Abdullah bin Ali, adik kandung Muhammad bin Ali, paman Abu Ja'far sendiri. Ia menjabat panglima perang Bani Abbasiyah. Kegagahan dan keberaniannya dikenal luas. Pengikut Abdullah bin Ali sangat banyak serta sangat berambisi menjadi khalifah.
Kelompok kedua dipimpin Abu Muslim Al-Khurasani, orang yang berjasa besar dalam membantu pendirian Dinasti Abbasiyah. Karena keberanian dan jasa-jasanya, ia sangat disegani serta dihormati di kalangan Bani Abbasiyah. Masyarakat luas banyak yang menjadi pengikutnya. Khalifah Abu Ja'far Al-Manshur khawatir pengaruh Abu Muslim terlalu besar terhadap pemerintahan Bani Abbasiyah.
Kelompok ketiga adalah kalangan Syiah yang dipimpin pendukung berat keturunan Ali bin Abi Thalib. Masyarakat luas banyak yang simpati karena dalam melakukan gerakan mereka membawa nama-nama keluarga Nabi Muhammad Saw.
Setelah berhasil mengantisipasi kelompok-kelompok yang dapat menjadi batu sandungan pemerintahannya, Al-Manshur kembali dapat mencurahkan perhatiannya pada pengembangan kebudayaan dan peradaban Islam. Ia adalah orang yang sangat mencintai ilmu pengetahuan, sehingga memberikan dorongan dan kesempatan yang luas bagi cendekiawan untuk mengembangkan riset ilmu pengetahuan. Penerjemahan buku-buku Romawi ke dalam bahasa Arab, yang menjadi bahasa internasional saat itu dilakukan secara khusus dan profesional. Ilmu falak (astronomi) dan filsafat mulai digali dan dikembangkan.
Pada awal pemerintahannya, Khalifah Abu Ja'far Al-Manshur benar-benar meletakkan dasar-dasar ekonomi dan keuangan negara dengan baik dan terkendali. Oleh sebab itu, tidak pernah terjadi defisit anggaran besar-besaran. Kas negara selalu penuh, uang yang masuk lebih banyak daripada uang keluar. Ketika Khalifah Abu Ja'far Al-Manshur meninggal dunia, harta yang ada dalam kas negara sebanyak 810.000.000 dirham.
Ada kisah menarik tentang Abu Ja'far Al-Manshur dan Abu Hanifah. Ketika selesai membangun Baghdad, Abu Ja'far mengundang para ulama terkemuka. Imam Abu Hanifah termasuk di antara mereka.
Saat itulah Abu Hanifah ditawari sebagai Hakim Tinggi (Qadhi Qudha). Namun Abu Hanifah menolak keras. Ketika diancam agar bersedia memegang jabatan itu, Abu Hanifah mengucapkan kalimat yang dicatat sejarah, "Seandainya anda mengancam untuk membenamkanku ke dalam sungai Eufrat atau memegang jabatan itu, sungguh aku akan memilih untuk dibenamkan."
Khalifah Abu Ja'far Al-Manshur amat murka. Apalagi ketika ia mendapatkan laporan bahwa sang imam menaruh simpati pada gerakan Muhammad bin Abdullah di Tanah Hijaz. Abu Hanifah ditangkap dan dipenjara hingga meninggal.
Selain meletakkan pondasi ekonomi, Khalifah Abu Ja'far Al-Manshur juga menertibkan pemerintah untuk memperkuat kekuasaan Bani Abbasiyah. Penertiban ini dilakukan dalam bidang administrasi dan mengadakan kerjasama antar pejabat pemerintahan dengan sistem kerja lintas sektoral.
Khalifah Al-Manshur juga mengadakan penyebaran dakwah Islam ke Byzantium, Afrika Utara dan mengadakan kerjasama dengan Raja Pepin dari Prancis. Saat itu, kekuasaan Bani Umayyah II di Andalusia dipimpin oleh Abdurrahman Ad-Dakhil.
Menjelang pengujung 158 H, Khalifah Abu Ja'far Al-Manshur berangkat ke Makkah untuk menunaikan ibadah haji. Namun dalam perjalanan ia sakit lalu meninggal dunia. Ia wafat dalam usia 63 tahun dan memerintah selama 22 tahun. Jenazahnya dibawa dan dikebumikan di Baghdad.
Daulah Abbasiyah,Abdul Abbas As-Saffah (1)
Daulah Abbasiyah: Abul Abbas As-Saffah (750-754 M) Khalifah Pertama
Senin, 25 April 2011 06:00 WIB
REPUBLIKA.CO.ID, Gerakan Abbasiyah sudah berlangsung sejak masa pemerintahan Umar bin Abdul Azis, khalifah kedelapan Daulah Umayyah. Gerakannya begitu rapi dan tersembunyi sehingga tidak diketahui pihak Bani Umayyah.
Selain itu, gerakan ini juga didukung oleh kalangan Syiah. Hal ini bisa dimaklumi karena dalam melakukan aksinya, para aktivisnya membawa-bawa nama Bani Hasyim, bukan Bani Abbas. Maka secara tidak langsung orang-orang Syiah merasa disertakan dalam perjuangan mereka.
Gerakan Abbasiyah mulai muncul di daerah Hamimah (Yordania), Kufah (Irak), dan Khurasan. Salah satu pendirinya adalah Muhammad bin Ali bin Abdullah bin Abbas bin Abdul Muthalib. Setelah Muhammad bin Ali wafat, anaknya, Ibrahim menggantikan posisinya.
Pada 125 H, saat pemerintahan Bani Umayyah tengah mengalami kemundurann, gerakan Abbasiyah semakin gencar. Empat tahun kemudian, Ibrahim bin Muhammad mendeklarasikan gerakannya di Khurasan melalui panglimanya, Abu Musim Al-Khurasani. Namun gerakan ini diketahui oleh Marwan bin Muhammad, khalifah terakhir Bani Umayyah. Ibrahim pun ditangkap dan dipenjara.
Posisi Ibrahim digantikan saudaranya, Abdullah bin Muhammad, yang lebih dikenal dengan sebutan Abul Abbas As-Saffah. Ia lahir pada 108 Hijriyah. Ada juga yang mengatakan 104 Hijriyah. Ibunya bernama Raithah Al-Hairitsiyah. Karena tekanan dari pihak penguasa, bersama rombongan ia berangkat ke Kufah secara sembunyi-sembunyi. Pada 3 Rabiul Awwal 132 H, Abdullah As-Saffah dibaiat sebagai khalifah pertama Bani Abbasiyah di Masjid Kufah.
Pelantikan Abul Abbas ini mengingatkan kita pada sebuah hadits yang diriwayatkan Imam Ahmad dalam Musnad-nya. Dari Abu Said Al-Khudri, Rasulullah Saw bersabda, "Akan muncul pada suatu zaman yang carut-marut dan penuh dengan petaka, seorang penguasa yang disebut dengan As-Saffah. Dia suka memberi harta dengan jumlah yang banyak."
Riwayat lain menyebutkan bahwa gelar As-Saffah itu diberikan orang-orang karena ia terkenal dengan sifat yang tidak mengenal belas kasihan terhadap Bani Umayyah. Hal itu diakibatkan oleh dendamnya yang begitu besar, sehingga dengan dinginnya ia membunuh keturunan Bani Umayyah, termasuk orang-orang yang tidak bersalah dan tidak ikut campur dalam urusan politik sekalipun. Hal ini juga dilakukan oleh para pengikutnya.
Dalam sebuah peristiwa, Abdullah bin Ali, paman As-Saffah yang saat itu menjabat gubernur Syria dan Palestina, membantai sekitar 90 orang keluarga Bani Umayyah. Hanya sedikit keturunan Bani Umayyah yang dapat meloloskan diri.
Berita pembaiatan As-Saffah sampai juga ke telinga Marwan bin Muhammad. Dia berangkat bersama pasukannya untuk memadamkan "pemberontakan" As-Saffah. Abdullah bin Ali, paman As-Saffah, bersama pasukannya menghadapi pasukan Marwan di suatu daerah dekat Mosul. Setelah terjadi pertempuran sengit, akhirnya pasukan Marwan dapat dikalahkan. Marwan selamat dan kembali ke Syam. Namun Abdullah terus mengejarnya sehingga dia lari ke Mesir. Pengejaran dilanjutkan oleh adiknya, Shalih. Akhirnya Marwan berhasil dibunuh di suatu desa bernama Bushir pada Dzulhijjah 132 H.
Kufah merupakan pusat gerakan Bani Abbas. Di tempat ini pula As-Saffah dibaiat namun kemudian pada 134 H, ia meninggalkan Kufah menuju daerah Anbar. Sebuah tempat di pinggiran sungai Eufrat yang dikenal dengan Hasyimiyah yang dijadikan pusat pemerintahan. Belakangan dibangunlah sebuah ibukota yang dikenal hingga kini, yaitu Baghdad. Kota inilah yang menjadi ibukota Daulah Abbasiyah.
As-Saffah tidak terlalu fokus pada masalah-masalah penaklukan wilayah karena pertempuran di kawasan Turki dan Asia Tengah terus bergolak. Belum lagi karena kesibukannya dalam upaya konsolidasi internal untuk menguatkan pilar-pilar negara yang hingga saat itu belum sepenuhnya stabil. Selain ketegasannya menghabisi lawan politik, As-Saffah terkenal juga dengan kedermawanan dan ingatannya yang kuat serta keras hati.
Pejabat pemerintah yang bertugas membantu khalifah sebelumnya hanya dikenal dengan Al-Katib (sekretaris). Pada masa Abbasiyah ini, mulai muncul istilah Al-Wazir (menteri).
Abul Abbas As-Saffah meninggal pada Dzulhijjah 136 H karena penyakit yang dideritanya. Ia meninggal dalam usia 33 tahun di kota Hasyimiyah yang dibangunnya. Sebelum meninggal, ia menunjuk saudaranya, Abu Ja'far Al-Manshur sebagai pengganti. As-Saffah memangku jabatan khalifah selama empat tahun.
Senin, 25 April 2011 06:00 WIB
REPUBLIKA.CO.ID, Gerakan Abbasiyah sudah berlangsung sejak masa pemerintahan Umar bin Abdul Azis, khalifah kedelapan Daulah Umayyah. Gerakannya begitu rapi dan tersembunyi sehingga tidak diketahui pihak Bani Umayyah.
Selain itu, gerakan ini juga didukung oleh kalangan Syiah. Hal ini bisa dimaklumi karena dalam melakukan aksinya, para aktivisnya membawa-bawa nama Bani Hasyim, bukan Bani Abbas. Maka secara tidak langsung orang-orang Syiah merasa disertakan dalam perjuangan mereka.
Gerakan Abbasiyah mulai muncul di daerah Hamimah (Yordania), Kufah (Irak), dan Khurasan. Salah satu pendirinya adalah Muhammad bin Ali bin Abdullah bin Abbas bin Abdul Muthalib. Setelah Muhammad bin Ali wafat, anaknya, Ibrahim menggantikan posisinya.
Pada 125 H, saat pemerintahan Bani Umayyah tengah mengalami kemundurann, gerakan Abbasiyah semakin gencar. Empat tahun kemudian, Ibrahim bin Muhammad mendeklarasikan gerakannya di Khurasan melalui panglimanya, Abu Musim Al-Khurasani. Namun gerakan ini diketahui oleh Marwan bin Muhammad, khalifah terakhir Bani Umayyah. Ibrahim pun ditangkap dan dipenjara.
Posisi Ibrahim digantikan saudaranya, Abdullah bin Muhammad, yang lebih dikenal dengan sebutan Abul Abbas As-Saffah. Ia lahir pada 108 Hijriyah. Ada juga yang mengatakan 104 Hijriyah. Ibunya bernama Raithah Al-Hairitsiyah. Karena tekanan dari pihak penguasa, bersama rombongan ia berangkat ke Kufah secara sembunyi-sembunyi. Pada 3 Rabiul Awwal 132 H, Abdullah As-Saffah dibaiat sebagai khalifah pertama Bani Abbasiyah di Masjid Kufah.
Pelantikan Abul Abbas ini mengingatkan kita pada sebuah hadits yang diriwayatkan Imam Ahmad dalam Musnad-nya. Dari Abu Said Al-Khudri, Rasulullah Saw bersabda, "Akan muncul pada suatu zaman yang carut-marut dan penuh dengan petaka, seorang penguasa yang disebut dengan As-Saffah. Dia suka memberi harta dengan jumlah yang banyak."
Riwayat lain menyebutkan bahwa gelar As-Saffah itu diberikan orang-orang karena ia terkenal dengan sifat yang tidak mengenal belas kasihan terhadap Bani Umayyah. Hal itu diakibatkan oleh dendamnya yang begitu besar, sehingga dengan dinginnya ia membunuh keturunan Bani Umayyah, termasuk orang-orang yang tidak bersalah dan tidak ikut campur dalam urusan politik sekalipun. Hal ini juga dilakukan oleh para pengikutnya.
Dalam sebuah peristiwa, Abdullah bin Ali, paman As-Saffah yang saat itu menjabat gubernur Syria dan Palestina, membantai sekitar 90 orang keluarga Bani Umayyah. Hanya sedikit keturunan Bani Umayyah yang dapat meloloskan diri.
Berita pembaiatan As-Saffah sampai juga ke telinga Marwan bin Muhammad. Dia berangkat bersama pasukannya untuk memadamkan "pemberontakan" As-Saffah. Abdullah bin Ali, paman As-Saffah, bersama pasukannya menghadapi pasukan Marwan di suatu daerah dekat Mosul. Setelah terjadi pertempuran sengit, akhirnya pasukan Marwan dapat dikalahkan. Marwan selamat dan kembali ke Syam. Namun Abdullah terus mengejarnya sehingga dia lari ke Mesir. Pengejaran dilanjutkan oleh adiknya, Shalih. Akhirnya Marwan berhasil dibunuh di suatu desa bernama Bushir pada Dzulhijjah 132 H.
Kufah merupakan pusat gerakan Bani Abbas. Di tempat ini pula As-Saffah dibaiat namun kemudian pada 134 H, ia meninggalkan Kufah menuju daerah Anbar. Sebuah tempat di pinggiran sungai Eufrat yang dikenal dengan Hasyimiyah yang dijadikan pusat pemerintahan. Belakangan dibangunlah sebuah ibukota yang dikenal hingga kini, yaitu Baghdad. Kota inilah yang menjadi ibukota Daulah Abbasiyah.
As-Saffah tidak terlalu fokus pada masalah-masalah penaklukan wilayah karena pertempuran di kawasan Turki dan Asia Tengah terus bergolak. Belum lagi karena kesibukannya dalam upaya konsolidasi internal untuk menguatkan pilar-pilar negara yang hingga saat itu belum sepenuhnya stabil. Selain ketegasannya menghabisi lawan politik, As-Saffah terkenal juga dengan kedermawanan dan ingatannya yang kuat serta keras hati.
Pejabat pemerintah yang bertugas membantu khalifah sebelumnya hanya dikenal dengan Al-Katib (sekretaris). Pada masa Abbasiyah ini, mulai muncul istilah Al-Wazir (menteri).
Abul Abbas As-Saffah meninggal pada Dzulhijjah 136 H karena penyakit yang dideritanya. Ia meninggal dalam usia 33 tahun di kota Hasyimiyah yang dibangunnya. Sebelum meninggal, ia menunjuk saudaranya, Abu Ja'far Al-Manshur sebagai pengganti. As-Saffah memangku jabatan khalifah selama empat tahun.
Daulah umayyah:Abdul Malik bin Marwan(5) dan Walid bin Abdul Malik(6)
--------------------------------------------------------------------------------------
Daulah umayyah:Abdul Malik bin Marwan(5)
Daulah Umayyah: Abdul Malik bin Marwan (685-705 M) Ayah Para Khalifah
Jumat, 22 April 2011 11:17 WIB
REPUBLIKA.CO.ID, Abdul Malik bin Marwan menjabat khalifah kelima Dinasti Umayyah pada usia 39 tahun. Ia menjadi khalifah atas wasiat ayahnya, Marwan bin Hakam. Selama 21 tahun memerintah ia dianggap khalifah perkasa, negarawan berwibawa yang mampu memulihkan kesatuan kaum Muslimin.
Setelah selesai pengangkatan baiat di Masjid Damaskus pada 65 Hijriyah, Khalifah Abdul Malik bin Marwan naik mimbar dan menyampaikan pidato singkat namun tegas yang dicatat sejraah. Di antara isi pidato itu adalah, “Aku bukan khalifah yang suka menyerah dan lemah, bukan juga seorang khalifah yang suka berunding, bukan juga seorang khalifah yang berakhlak rendah. Siapa yang nanti berkata begini dengan kepalanya, akan kujawab begini dengan pedangku.”
Setelah ia turun dari mimbar, sejak saat itu wibawanya dirasakan oleh segenap hadirin. Mereka mendengarkan ucapannya dengan rasa hormat dan kepatuhan.
Sementara itu, posisi Khalifah Abdullah bin Zubair yang berkedudukan di wilayah Hijaz yang meliputi Makkah dan Madinah, semakin kuat. Ia berhasil mengamankan wilayah Irak dan Iran yang sempat dicemari aliran Syiah yang menyesatkan. Ia menempatkan saudaranya, Mush’ab bin Zubair untuk menjadi gubernur di wilayah itu. Di mata masyarakat, posisi Abdullah bin Zubair semakin kuat. Para jamaah haji yang datang dari berbagai penjuru, “terpaksa” berbaiat kepadanya saat mereka datang ke Makkah.
Khalifah Abdul Malik tak bisa membiarkan hal itu. Ia pun mempersiapkan segalanya untuk menundukkan kekuasaan Abdullah bin Zubair.
Mengawali rencananya, Abdul Malik tak langsung menyerang pusat kekuasaan Abdullah bin Zubair di Makkah dan Madinah. Pasukan besarnya bergerak menaklukkan wilayah Irak, Iran, Khurasan dan Bukhara, yang merupakan sumber dana Abdullah bin Zubair.
Mush'ab bin Zubair wafat dan jabatan gubernurnya diambil oleh Bashir bin Marwan, saudara Khalifah Abdul Malik bin Marwan. Usia gubernur ini memang masih muda. Ia didampingi oleh penasihat terpandang yang dikenal sejarah; Musa bin Nushair.
Setelah berhasil merebut wilayah Irak dan sekitarnya, Khalifah Abdul Malik mengerahkan 3.000 tentara di bawah pimpinan Hajjaj bin Yusuf. Pasukan besar itu pun berangkat dan akhirnya tiba di Thaif, sekitar 120 kilometer dari Makkah. Pasukan Abdullah bin Zubair yang semula ditempatkan di bagian utara Madinah, dikerahkan ke Thaif.
Pertempuran pun berlangsung. Pasukan Abdullah bin Zubair porak-poranda. Abdullah bin Zubair gugur tertusuk pedang. Nyawa putra sahabat Nabi dari kalangan Muhajirin yang pertama kali lahir di Madinah itu, menemui Rabb-nya setelah sekitar 9 tahun memerintah. Ia wafat pada Jumadil Awal 73 Hijriyah.
Pada tahun 77 Hijriyah, Abdul Malik bin Marwan menyerang Romawi untuk merebut Asia Kecil dan Armenia. Pertempuran cukup dahsyat terjadi sehingga menyebabkan 200.000 kaum Muslimin gugur. Pihak Romawi menderita kekalahan lebih dari itu. Namun pasukan Islam berhasil menguasai Mashaisha di bawah pimpinan Panglima Abdullah bin Abdul Malik.
Bersamaan dengan itu, Khalifah Abdul Malik bin Marwan juga mengirim 40.000 pasukan berkuda menuju Afrika Utara di bawah pimpinan Hasan bin Nu’man yang dibantu oleh pasukan dari Mesir dan Libya. Melalui perjuangan cukup panjang, akhirnya pasukan itu bisa mengalahkan pasukan Romawi dan menduduki benteng Kartago. Pasukan Hasan bin Nu’man juga berhasil menghalau serangan suku Barbar di bawah pimpinan Ratu Kahina di wilayah Aljazair. Ratu Kahina selanjutnya dijatuhi hukuman mati.
Pada tahun 81 Hijriyah, sebuah armada laut siap berangkat dari pelabuhan Tunisia. Perjalanan pun dimulai. Daerah demi daerah berhasil dibebaskan. Ketika pasukan kaum Muslimin sedang merangkai kemenangan demi kemenangan itulah, Abdul Malik bin Marwan wafat.
Ia mewariskan banyak hal dalam sejarah keemasan Islam. Pada masa pemerintahannya dibentuk Mahkamah Tinggi untuk mengadili para pejabat yang menyeleweng atau bertindak semena-mena terhadap rakyat. Selain itu, Abdul Malik juga mengganti bahasa resmi negara dengan bahasa Arab yang sebelumnya menggunakan bahasa Persia atau Romawi. Abdul Malik juga mendirikan bangunan seperti pabrik senjata dan kapal perang di Tunisia. Ia juga membangun Masjid Umar atau Qubbatush Shakra’ di Yerusalem dan memperluas Masjidil Haram di Makkah.
Dalam sejarah, Abdul Malik dikenal dengan “Abdul Muluk” atau ayah para raja atau khalifah. Dijuluki demikian karena keempat anaknya sempat menjadi khalifah Bani Umayyah menggantikannya. Mereka itu adalah Walid, Sulaiman, Yazid, dan Hisyam. Abdul Malik bin Marwan meninggal dunia pada pertengahan bulan Syawwal tahun 86 Hijriyah dalam usia 60 tahun. Ia meninggalkan karya besar bagi sejarah Islam.
-------------------------------------------------------------------------------------
Daulah Umayyah:Walid bin Abdul Malik (6)
Daulah Umayyah: Walid bin Abdul Malik (705-715 M) Penegak Bani Umayyah
Jumat, 22 April 2011 13:32 WIB
REPUBLIKA.CO.ID, Walid Abdul Abbas bin Abdul Malik bin Marwan bin Hakam lahir pada tahun 48 Hijriyah. Ia menjabat khalifah menggantikan ayahnya, Abdul Malik bin Marwan tahun 84 Hijriyah atau 705 Masehi.
Setelah menjadi khalifah, ia langsung membenahi infrastruktur fisik, pengiriman pasukan untuk memperluas wilayah dakwah dan kekuasaan Islam serta melakukan reformasi sosial. Pada 711 Masehi, Walid bin Abdul Malik mengutus satu armada laut ke Hindustan. Pasukan yang dipimpin oleh Muhammad bin Qasim itu akhirnya menaklukkan negeri Sind dan Nepal.
Walid memerintah selama 10 tahun. Panglima pasukan Islam pada zamannya, dikerahkan untuk melakukan ekspansi dakwah ke berbagai belahan dunia. Panglima Qutaibah bin Muslim diutus untuk menaklukkan negeri di seberang sungai Dajlah. Turki, Shagd, Syaas, Farghanah, hingga Bukhara, akhirnya tudnduk di bawah pemerintahan Bani Umayyah.
Di sisi lain, negeri Khurasan takluk dengan damai. Berbeda dengan Samarkand, Kashgar, Turkistan yang takluk dengan peperangan di bawah pimpinan Qutaibah bin Muslim.
Musa bin Nushair, Gubernur Afrika mengirim Thariq bin Ziyad untuk menaklukkan pulau Shamit tahun 91 H. Thariq adalah budak Musa bin Nushair yang telah dimerdekakan. Bahkan ia telah diangkat menjadi panglima perang. Dalam misinya, Thariq berhasil mengalahkan Spanyol (Ishbaniyah).
Pahlawan legendaris satu ini terkenal dengan taktiknya membangkitkan semangat pasukannya yang hampir mundur. Akhirnya, mereka tak punya pilihan kecuali maju berjihad mengalahkan Spanyol. Ia kemudian bermarkas di sebuah bukit di Spanyol yang kini dikenal dengan Jabal Thariq (Gibraltar).
Masing-masing bekas tuan dan budak itu, Musa bin Nushair dan Tariq bin Ziyad, berhasil menunaikan tugas melebarkan sayap Islam. Praktis seluruh daratan Spanyol dikuasai pasukan Muslim pada 86 H (715 M), pada masa pemerintahan Khalifah Walid bin Abdul Malik.
Penaklukan Spanyol oleh Musa bin Nushair dan Thariq bin Ziyad memberikan pengaruh positif pada kehidupan sosial dan politik. Timbul revolusi-revolusi sosial dan kebebasan beragama semakin diakui. Kediktatoran dan penganiayaan yang biasa dilakukan oleh orang Kristen digantikan toleransi yang tinggi dan kebaikan umat Islam.
Pemerintahan Islam sangat baik dan bijak dalam menjalankan pemerintahannya. Ini membawa efek luar biasa terhadap kalangan Kristen, bahkan para pendetanya. Seorang penulis Kristen pernah berkata, “Muslim-Muslim Arab itu mengorganisir kerajaan Cordoba dengan baik. Ini sebuah keajaiban di abad pertengahan. Mereka mengenakan obor pengetahuan, peradaban, kecemerlangan dan keistimewaan bagi dunia Barat. Saat itu Eropa dalam kondisi percekcokan, kebodohan dan gelap.”
Pada saat kekuasaan Islam berkembang dan menguasai wilayah-wilayah Spanyol, Romawi, Hindustan, dan lain-lain, Khalifah Walid mengkonsentrasikan pembangunan fisik. Sarana-sarana fisik dan infrastruktur untuk kemakmuran rakyat dibangun di mana-mana.
Ia memerintahkan pembangunan sumur air di Madinah dan renovasi jalan-jalan umum. Dialah yang membangun rumah sakit pertama kali dalam sejarah Islam. Para penyandang cacat dan kaum dhuafa dilarang keluar ke tempat umum. Mereka ditempatkan di panti jompo dan para pengurusnya digaji dan difasilitasi oleh negara. Para tuna netra diberikan pembantu yang juga ditanggung negara. Negara juga memberikan gaji kepada para ahli Al-Qur’an.
Khalifah Walid juga membangun sarana rumah singgah bagi para musafir dan pendatang. Masjid Nabawi di Madinah dan Masjid Al-Aqsha dibangun kembali oleh Walid. Ia juga memprakarsai pembangunan masjid besar di Damaskus yang dikenal dnegan Al-Jami’ Al-Umawi. Pembangunan masjid agung ini menelan biaya 11.200.000 dinar kala itu.
Tak heran bila Adz-Dzahabi mengatakan, Walid bin Abdul Malik telah menegakkan jihad dan melakukan penaklukan di negeri-negeri seperti yang dilakukan Umar bin Al-Khathab. Seorang sejarawan juga pernah berujar, “Jika Muawiyah yang mendirikan negara Bani Umayyah, maka Walid bin Abdul Malik yang menegakkannya sampai teguh.”
Walid bin Abdul Malik meninggal tahun 96 Hijriyah di Damaskus. Kekhalifahan digantikan oleh saudaranya, Sulaiman bin Abdul Malik.
Daulah umayyah:Abdul Malik bin Marwan(5)
Daulah Umayyah: Abdul Malik bin Marwan (685-705 M) Ayah Para Khalifah
Jumat, 22 April 2011 11:17 WIB
REPUBLIKA.CO.ID, Abdul Malik bin Marwan menjabat khalifah kelima Dinasti Umayyah pada usia 39 tahun. Ia menjadi khalifah atas wasiat ayahnya, Marwan bin Hakam. Selama 21 tahun memerintah ia dianggap khalifah perkasa, negarawan berwibawa yang mampu memulihkan kesatuan kaum Muslimin.
Setelah selesai pengangkatan baiat di Masjid Damaskus pada 65 Hijriyah, Khalifah Abdul Malik bin Marwan naik mimbar dan menyampaikan pidato singkat namun tegas yang dicatat sejraah. Di antara isi pidato itu adalah, “Aku bukan khalifah yang suka menyerah dan lemah, bukan juga seorang khalifah yang suka berunding, bukan juga seorang khalifah yang berakhlak rendah. Siapa yang nanti berkata begini dengan kepalanya, akan kujawab begini dengan pedangku.”
Setelah ia turun dari mimbar, sejak saat itu wibawanya dirasakan oleh segenap hadirin. Mereka mendengarkan ucapannya dengan rasa hormat dan kepatuhan.
Sementara itu, posisi Khalifah Abdullah bin Zubair yang berkedudukan di wilayah Hijaz yang meliputi Makkah dan Madinah, semakin kuat. Ia berhasil mengamankan wilayah Irak dan Iran yang sempat dicemari aliran Syiah yang menyesatkan. Ia menempatkan saudaranya, Mush’ab bin Zubair untuk menjadi gubernur di wilayah itu. Di mata masyarakat, posisi Abdullah bin Zubair semakin kuat. Para jamaah haji yang datang dari berbagai penjuru, “terpaksa” berbaiat kepadanya saat mereka datang ke Makkah.
Khalifah Abdul Malik tak bisa membiarkan hal itu. Ia pun mempersiapkan segalanya untuk menundukkan kekuasaan Abdullah bin Zubair.
Mengawali rencananya, Abdul Malik tak langsung menyerang pusat kekuasaan Abdullah bin Zubair di Makkah dan Madinah. Pasukan besarnya bergerak menaklukkan wilayah Irak, Iran, Khurasan dan Bukhara, yang merupakan sumber dana Abdullah bin Zubair.
Mush'ab bin Zubair wafat dan jabatan gubernurnya diambil oleh Bashir bin Marwan, saudara Khalifah Abdul Malik bin Marwan. Usia gubernur ini memang masih muda. Ia didampingi oleh penasihat terpandang yang dikenal sejarah; Musa bin Nushair.
Setelah berhasil merebut wilayah Irak dan sekitarnya, Khalifah Abdul Malik mengerahkan 3.000 tentara di bawah pimpinan Hajjaj bin Yusuf. Pasukan besar itu pun berangkat dan akhirnya tiba di Thaif, sekitar 120 kilometer dari Makkah. Pasukan Abdullah bin Zubair yang semula ditempatkan di bagian utara Madinah, dikerahkan ke Thaif.
Pertempuran pun berlangsung. Pasukan Abdullah bin Zubair porak-poranda. Abdullah bin Zubair gugur tertusuk pedang. Nyawa putra sahabat Nabi dari kalangan Muhajirin yang pertama kali lahir di Madinah itu, menemui Rabb-nya setelah sekitar 9 tahun memerintah. Ia wafat pada Jumadil Awal 73 Hijriyah.
Pada tahun 77 Hijriyah, Abdul Malik bin Marwan menyerang Romawi untuk merebut Asia Kecil dan Armenia. Pertempuran cukup dahsyat terjadi sehingga menyebabkan 200.000 kaum Muslimin gugur. Pihak Romawi menderita kekalahan lebih dari itu. Namun pasukan Islam berhasil menguasai Mashaisha di bawah pimpinan Panglima Abdullah bin Abdul Malik.
Bersamaan dengan itu, Khalifah Abdul Malik bin Marwan juga mengirim 40.000 pasukan berkuda menuju Afrika Utara di bawah pimpinan Hasan bin Nu’man yang dibantu oleh pasukan dari Mesir dan Libya. Melalui perjuangan cukup panjang, akhirnya pasukan itu bisa mengalahkan pasukan Romawi dan menduduki benteng Kartago. Pasukan Hasan bin Nu’man juga berhasil menghalau serangan suku Barbar di bawah pimpinan Ratu Kahina di wilayah Aljazair. Ratu Kahina selanjutnya dijatuhi hukuman mati.
Pada tahun 81 Hijriyah, sebuah armada laut siap berangkat dari pelabuhan Tunisia. Perjalanan pun dimulai. Daerah demi daerah berhasil dibebaskan. Ketika pasukan kaum Muslimin sedang merangkai kemenangan demi kemenangan itulah, Abdul Malik bin Marwan wafat.
Ia mewariskan banyak hal dalam sejarah keemasan Islam. Pada masa pemerintahannya dibentuk Mahkamah Tinggi untuk mengadili para pejabat yang menyeleweng atau bertindak semena-mena terhadap rakyat. Selain itu, Abdul Malik juga mengganti bahasa resmi negara dengan bahasa Arab yang sebelumnya menggunakan bahasa Persia atau Romawi. Abdul Malik juga mendirikan bangunan seperti pabrik senjata dan kapal perang di Tunisia. Ia juga membangun Masjid Umar atau Qubbatush Shakra’ di Yerusalem dan memperluas Masjidil Haram di Makkah.
Dalam sejarah, Abdul Malik dikenal dengan “Abdul Muluk” atau ayah para raja atau khalifah. Dijuluki demikian karena keempat anaknya sempat menjadi khalifah Bani Umayyah menggantikannya. Mereka itu adalah Walid, Sulaiman, Yazid, dan Hisyam. Abdul Malik bin Marwan meninggal dunia pada pertengahan bulan Syawwal tahun 86 Hijriyah dalam usia 60 tahun. Ia meninggalkan karya besar bagi sejarah Islam.
-------------------------------------------------------------------------------------
Daulah Umayyah:Walid bin Abdul Malik (6)
Daulah Umayyah: Walid bin Abdul Malik (705-715 M) Penegak Bani Umayyah
Jumat, 22 April 2011 13:32 WIB
REPUBLIKA.CO.ID, Walid Abdul Abbas bin Abdul Malik bin Marwan bin Hakam lahir pada tahun 48 Hijriyah. Ia menjabat khalifah menggantikan ayahnya, Abdul Malik bin Marwan tahun 84 Hijriyah atau 705 Masehi.
Setelah menjadi khalifah, ia langsung membenahi infrastruktur fisik, pengiriman pasukan untuk memperluas wilayah dakwah dan kekuasaan Islam serta melakukan reformasi sosial. Pada 711 Masehi, Walid bin Abdul Malik mengutus satu armada laut ke Hindustan. Pasukan yang dipimpin oleh Muhammad bin Qasim itu akhirnya menaklukkan negeri Sind dan Nepal.
Walid memerintah selama 10 tahun. Panglima pasukan Islam pada zamannya, dikerahkan untuk melakukan ekspansi dakwah ke berbagai belahan dunia. Panglima Qutaibah bin Muslim diutus untuk menaklukkan negeri di seberang sungai Dajlah. Turki, Shagd, Syaas, Farghanah, hingga Bukhara, akhirnya tudnduk di bawah pemerintahan Bani Umayyah.
Di sisi lain, negeri Khurasan takluk dengan damai. Berbeda dengan Samarkand, Kashgar, Turkistan yang takluk dengan peperangan di bawah pimpinan Qutaibah bin Muslim.
Musa bin Nushair, Gubernur Afrika mengirim Thariq bin Ziyad untuk menaklukkan pulau Shamit tahun 91 H. Thariq adalah budak Musa bin Nushair yang telah dimerdekakan. Bahkan ia telah diangkat menjadi panglima perang. Dalam misinya, Thariq berhasil mengalahkan Spanyol (Ishbaniyah).
Pahlawan legendaris satu ini terkenal dengan taktiknya membangkitkan semangat pasukannya yang hampir mundur. Akhirnya, mereka tak punya pilihan kecuali maju berjihad mengalahkan Spanyol. Ia kemudian bermarkas di sebuah bukit di Spanyol yang kini dikenal dengan Jabal Thariq (Gibraltar).
Masing-masing bekas tuan dan budak itu, Musa bin Nushair dan Tariq bin Ziyad, berhasil menunaikan tugas melebarkan sayap Islam. Praktis seluruh daratan Spanyol dikuasai pasukan Muslim pada 86 H (715 M), pada masa pemerintahan Khalifah Walid bin Abdul Malik.
Penaklukan Spanyol oleh Musa bin Nushair dan Thariq bin Ziyad memberikan pengaruh positif pada kehidupan sosial dan politik. Timbul revolusi-revolusi sosial dan kebebasan beragama semakin diakui. Kediktatoran dan penganiayaan yang biasa dilakukan oleh orang Kristen digantikan toleransi yang tinggi dan kebaikan umat Islam.
Pemerintahan Islam sangat baik dan bijak dalam menjalankan pemerintahannya. Ini membawa efek luar biasa terhadap kalangan Kristen, bahkan para pendetanya. Seorang penulis Kristen pernah berkata, “Muslim-Muslim Arab itu mengorganisir kerajaan Cordoba dengan baik. Ini sebuah keajaiban di abad pertengahan. Mereka mengenakan obor pengetahuan, peradaban, kecemerlangan dan keistimewaan bagi dunia Barat. Saat itu Eropa dalam kondisi percekcokan, kebodohan dan gelap.”
Pada saat kekuasaan Islam berkembang dan menguasai wilayah-wilayah Spanyol, Romawi, Hindustan, dan lain-lain, Khalifah Walid mengkonsentrasikan pembangunan fisik. Sarana-sarana fisik dan infrastruktur untuk kemakmuran rakyat dibangun di mana-mana.
Ia memerintahkan pembangunan sumur air di Madinah dan renovasi jalan-jalan umum. Dialah yang membangun rumah sakit pertama kali dalam sejarah Islam. Para penyandang cacat dan kaum dhuafa dilarang keluar ke tempat umum. Mereka ditempatkan di panti jompo dan para pengurusnya digaji dan difasilitasi oleh negara. Para tuna netra diberikan pembantu yang juga ditanggung negara. Negara juga memberikan gaji kepada para ahli Al-Qur’an.
Khalifah Walid juga membangun sarana rumah singgah bagi para musafir dan pendatang. Masjid Nabawi di Madinah dan Masjid Al-Aqsha dibangun kembali oleh Walid. Ia juga memprakarsai pembangunan masjid besar di Damaskus yang dikenal dnegan Al-Jami’ Al-Umawi. Pembangunan masjid agung ini menelan biaya 11.200.000 dinar kala itu.
Tak heran bila Adz-Dzahabi mengatakan, Walid bin Abdul Malik telah menegakkan jihad dan melakukan penaklukan di negeri-negeri seperti yang dilakukan Umar bin Al-Khathab. Seorang sejarawan juga pernah berujar, “Jika Muawiyah yang mendirikan negara Bani Umayyah, maka Walid bin Abdul Malik yang menegakkannya sampai teguh.”
Walid bin Abdul Malik meninggal tahun 96 Hijriyah di Damaskus. Kekhalifahan digantikan oleh saudaranya, Sulaiman bin Abdul Malik.
Daulah Umayyah:Marwan bin Hakam(4)
NET
Daulah Umayyah: Marwan bin Hakam (684-685 M) Sosok Kontroversial
Ilustrasi
TERKAIT :
Daulah Umayyah: Muawiyah bin Yazid (683-684 M) Khalifah yang Tahu Diri
Daulah Umayyah: Yazid bin Muawiyah (680-683 M) Tak Lepas dari Karbala
Daulah Umayyah: Muawiyah bin Abi Sufyan (661-680 M) Sang Pendiri Daulah
Daulah Umayyah: Muawiyah bin Abi Sufyan (661-680 M) Sang Pendiri Daulah
Daulah Umayyah: Marwan bin Hakam (684-685 M) Sosok Kontroversial
Kamis, 21 April 2011 18:41 WIB
REPUBLIKA.CO.ID, Muawiyah bin Yazid mengundurkan diri tanpa menunjuk seorang pun sebagai penggantinya. Para pemuka dan pembesar keluarga Bani Umayyah yang tetap ingin mempertahankan jabatan khilafah berada di tangan mereka, segera mengangkat Marwan bin Hakam sebagai khalifah keempat Bani Umayyah.
Sebagian besar penduduk Yaman yang berada di wilayah Syam menyatakan berada di pihak Bani Umayyah. Termasuk di antara mereka Husain bin Alnamir, panglima perang yang pernah memimpin pasukan untuk menyerang Abdullah bin Zubair di Makkah. Dengan demikian, kendati tak mendapat dukungan dari wilayah Hijaz, Irak, Iran dan bahkan Mesir, namun dukungan sebagian penduduk Yaman itu, pihak Bani Umayyah mendapat kekuatan yang tak bisa diabaikan.
Marwan bin Hakam bukanlah sosok baru dalam catur perpolitikan kala itu. Sebelumnya, ia pernah menjabat penasihat Khalifah Utsman bin Affan. Pengaruhnya tidak kecil terhadap kebijakan pemerintahan. Tak sedikit kebijakan yang ditelurkan Khalifah Utsman kental aroma kekeluargaan. Beberapa gubernur kala itu banyak yang diganti dengan orang-orang dari pihak keluarga Umayyah. Misalnya, jabatan gubernur di Mesir yang dipegang oleh Amr bin Ash, diganti oleh Abdullah bin Sa’ad.
Abu Ubaidah bin Jarrah yang berhasil menaklukkan wilayah Syria dan Palestina dari tangan Romawi, jabatannya digantikan oleh Muawiyah bin Abi Sufyan. Sa’ad bin Abi Waqqash yang berhasil menaklukkan wilayah Irak dan Iran dari tangan Persia, jabatannya digantikan oleh Ziyad bin Abihi. Begitu pun dengan beberapa wilayah lain. Sebagian besar para pemimpinnya diganti dengan orang-orang dari pihak keluarga Umayyah. Kebijakan ini tak bisa dilepaskan begitu saja dari pengaruh Marwan bin Hakam, mengingat kondisi Khalifah Utsman yang sudah lanjut usia kala itu.
Kebijakan yang tidak terjadi sebelumnya itu, melahirkan berbagai ketidakpuasan. Gejolak muncul di beberapa tempat. Puncaknya, Khalifah Utsman terbunuh. Marwan bin Hakam melarikan diri ke Damaskus dengan membawa pakaian Utsman yang berlumuran darah. Lantaran merasa tidak puas dengan kebijakan Khalifah Ali yang tidak segera mengusut pembunuh Utsman, menyebabkan semakin keruhnya suasana.
Terjadilah Perang Shiffin antara Khalifah Ali dan Muawiyah. Dari sana lahir kelompok Khawarij, yang merasa tak puas dengan kedua belah pihak, serta berniat membunuh Ali bin Abi Thalib, Muawiyah bin Abi Sufyan, dan Amr bin Ash yang dianggap sebagai penyebab segala kekeruhan.
Khalifah Ali terbunuh. Hasan bin Ali yang hanya menjabat Khalifah selama beberapa bulan, menyerahkan jabatannya kepada Muawiyah. Pada masa inilah, Marwan diserahi jabatan gubernur untuk wilayah Hijaz yang berkedudukan di Madinah. Begitu penduduk Madinah menyatakan dukungan kepada Abdullah bin Zubair, Marwan melarikan diri ke Damaskus.
Dengan demikian, sosok Marwan bin Hakam tidak begitu diterima oleh para sahabat dan tabiin kala itu. Bahkan beberapa ahli sejarah seperti Adz-Dzahabi seperti dikutip Suyuthi dalam Tarikhul Khulafa’-nya tidak memasukkan Marwan sebagai khalifah.
Pertentangan antara pihak Abdullah bin Zubair dan Marwan bin Hakam mencapai puncaknya pada Perang Marju Rahith yang terjadi pada 65 H. Pada peperangan ini pasukann Abdullah bin Zubair mengalami kekalahan cukup telak. Penduduk wilayah Mesir dan Libya yang semula berpihak padanya, mengangkat baiat atas Marwan. Namun wilayah Hijaz, Irak dan Iran tetap tunduk kepada Abdullah bin Zubair.
Dengan demikian, pada masa itu wilayah Islam terpecah menjadi dua khilafah. Daerah Hijaz dan sekitarnya termasuk Makkah dan Madinah tunduk kepada Abdullah bin Zubair. Sedangkan wilayah Syria berada dalam kekuasaan Marwan bin Hakam.
Untuk mengukuhkan jabatan khilafahnya itu, Marwan bin Hakam yang sudah berusia 63 tahun itu mengawini Ummu Khalid, janda Yazid bin Muawiyah. Perkawinan yang tidak seimbang itu sangat kental aroma politik. Dengan mengawini janda Yazid, Marwan bermaksud menyingkirkan Khalid, putra termuda Yazid dari tuntutan khilafah.
Dalam suatu kesempatan, Marwan sempat memberikan ejekan kepada Khalid dan ibunya. Akibatnya fatal, Ummu Khalid menaruh dendam yang luar biasa. Pada suatu kesempatan, ketika Marwan mendatanginya, bersama para dayang, Ummu Khalid mencekik Marwan beramai-ramai. Marwan meninggal pada usia 63 tahun. Ia hanya menjabat sebagai khalifah selama 9 bulan 18 hari. Masa pemerintahannya tak membawa banyak perubahan bagi sejarah Islam.
Redaktur: cr01
Sumber: Sejarah Para Khalifah karya Hepi Andi Bastoni
Daulah Umayyah: Marwan bin Hakam (684-685 M) Sosok Kontroversial
Ilustrasi
TERKAIT :
Daulah Umayyah: Muawiyah bin Yazid (683-684 M) Khalifah yang Tahu Diri
Daulah Umayyah: Yazid bin Muawiyah (680-683 M) Tak Lepas dari Karbala
Daulah Umayyah: Muawiyah bin Abi Sufyan (661-680 M) Sang Pendiri Daulah
Daulah Umayyah: Muawiyah bin Abi Sufyan (661-680 M) Sang Pendiri Daulah
Daulah Umayyah: Marwan bin Hakam (684-685 M) Sosok Kontroversial
Kamis, 21 April 2011 18:41 WIB
REPUBLIKA.CO.ID, Muawiyah bin Yazid mengundurkan diri tanpa menunjuk seorang pun sebagai penggantinya. Para pemuka dan pembesar keluarga Bani Umayyah yang tetap ingin mempertahankan jabatan khilafah berada di tangan mereka, segera mengangkat Marwan bin Hakam sebagai khalifah keempat Bani Umayyah.
Sebagian besar penduduk Yaman yang berada di wilayah Syam menyatakan berada di pihak Bani Umayyah. Termasuk di antara mereka Husain bin Alnamir, panglima perang yang pernah memimpin pasukan untuk menyerang Abdullah bin Zubair di Makkah. Dengan demikian, kendati tak mendapat dukungan dari wilayah Hijaz, Irak, Iran dan bahkan Mesir, namun dukungan sebagian penduduk Yaman itu, pihak Bani Umayyah mendapat kekuatan yang tak bisa diabaikan.
Marwan bin Hakam bukanlah sosok baru dalam catur perpolitikan kala itu. Sebelumnya, ia pernah menjabat penasihat Khalifah Utsman bin Affan. Pengaruhnya tidak kecil terhadap kebijakan pemerintahan. Tak sedikit kebijakan yang ditelurkan Khalifah Utsman kental aroma kekeluargaan. Beberapa gubernur kala itu banyak yang diganti dengan orang-orang dari pihak keluarga Umayyah. Misalnya, jabatan gubernur di Mesir yang dipegang oleh Amr bin Ash, diganti oleh Abdullah bin Sa’ad.
Abu Ubaidah bin Jarrah yang berhasil menaklukkan wilayah Syria dan Palestina dari tangan Romawi, jabatannya digantikan oleh Muawiyah bin Abi Sufyan. Sa’ad bin Abi Waqqash yang berhasil menaklukkan wilayah Irak dan Iran dari tangan Persia, jabatannya digantikan oleh Ziyad bin Abihi. Begitu pun dengan beberapa wilayah lain. Sebagian besar para pemimpinnya diganti dengan orang-orang dari pihak keluarga Umayyah. Kebijakan ini tak bisa dilepaskan begitu saja dari pengaruh Marwan bin Hakam, mengingat kondisi Khalifah Utsman yang sudah lanjut usia kala itu.
Kebijakan yang tidak terjadi sebelumnya itu, melahirkan berbagai ketidakpuasan. Gejolak muncul di beberapa tempat. Puncaknya, Khalifah Utsman terbunuh. Marwan bin Hakam melarikan diri ke Damaskus dengan membawa pakaian Utsman yang berlumuran darah. Lantaran merasa tidak puas dengan kebijakan Khalifah Ali yang tidak segera mengusut pembunuh Utsman, menyebabkan semakin keruhnya suasana.
Terjadilah Perang Shiffin antara Khalifah Ali dan Muawiyah. Dari sana lahir kelompok Khawarij, yang merasa tak puas dengan kedua belah pihak, serta berniat membunuh Ali bin Abi Thalib, Muawiyah bin Abi Sufyan, dan Amr bin Ash yang dianggap sebagai penyebab segala kekeruhan.
Khalifah Ali terbunuh. Hasan bin Ali yang hanya menjabat Khalifah selama beberapa bulan, menyerahkan jabatannya kepada Muawiyah. Pada masa inilah, Marwan diserahi jabatan gubernur untuk wilayah Hijaz yang berkedudukan di Madinah. Begitu penduduk Madinah menyatakan dukungan kepada Abdullah bin Zubair, Marwan melarikan diri ke Damaskus.
Dengan demikian, sosok Marwan bin Hakam tidak begitu diterima oleh para sahabat dan tabiin kala itu. Bahkan beberapa ahli sejarah seperti Adz-Dzahabi seperti dikutip Suyuthi dalam Tarikhul Khulafa’-nya tidak memasukkan Marwan sebagai khalifah.
Pertentangan antara pihak Abdullah bin Zubair dan Marwan bin Hakam mencapai puncaknya pada Perang Marju Rahith yang terjadi pada 65 H. Pada peperangan ini pasukann Abdullah bin Zubair mengalami kekalahan cukup telak. Penduduk wilayah Mesir dan Libya yang semula berpihak padanya, mengangkat baiat atas Marwan. Namun wilayah Hijaz, Irak dan Iran tetap tunduk kepada Abdullah bin Zubair.
Dengan demikian, pada masa itu wilayah Islam terpecah menjadi dua khilafah. Daerah Hijaz dan sekitarnya termasuk Makkah dan Madinah tunduk kepada Abdullah bin Zubair. Sedangkan wilayah Syria berada dalam kekuasaan Marwan bin Hakam.
Untuk mengukuhkan jabatan khilafahnya itu, Marwan bin Hakam yang sudah berusia 63 tahun itu mengawini Ummu Khalid, janda Yazid bin Muawiyah. Perkawinan yang tidak seimbang itu sangat kental aroma politik. Dengan mengawini janda Yazid, Marwan bermaksud menyingkirkan Khalid, putra termuda Yazid dari tuntutan khilafah.
Dalam suatu kesempatan, Marwan sempat memberikan ejekan kepada Khalid dan ibunya. Akibatnya fatal, Ummu Khalid menaruh dendam yang luar biasa. Pada suatu kesempatan, ketika Marwan mendatanginya, bersama para dayang, Ummu Khalid mencekik Marwan beramai-ramai. Marwan meninggal pada usia 63 tahun. Ia hanya menjabat sebagai khalifah selama 9 bulan 18 hari. Masa pemerintahannya tak membawa banyak perubahan bagi sejarah Islam.
Redaktur: cr01
Sumber: Sejarah Para Khalifah karya Hepi Andi Bastoni
Daulah Umayyah:Muawiyyah bin yazid(3)
Daulah Umayyah: Muawiyah bin Yazid (683-684 M) Khalifah yang Tahu Diri
Kamis, 21 April 2011 15:51 WIB
REPUBLIKA.CO.ID, Panglima Alhushain bin Alnamir dari Syria yang bertugas menaklukkan pasukan Abdullah bin Zubair di Makkah, menemukan jalan buntu. Karena tak mampu menembus pertahanan lawan dan mendengar berita wafatnya Khalifah Yazid bin Muawiyah, Alhushain menyerukan gencatan senjata. Abdullah bin Zubair tidak keberatan.
Masa damai itu membuat kedua pasukan membaur satu sama lain, seolah tak terjadi permusuhan. Anggota pasukan dari Syria dengan bebas melaksanakan umrah, thawaf di sekitar Ka’bah, dan sa’i antara Shafa dan Marwah.
Ketika thawaf itulah, Panglima Alhushain bin Alnamir berpapasan dengan Abdullah bin Zubair. Sambil memegang lengan Abdullah, Alhushain berbisik, “Apakah anda mau berangkat bersamaku ke Syria? Saya akan berupaya supaya orang banyak mengangkat anda sebagai khalifah.”
Abdullah bin Zubair menarik lengannya seraya menjawab, “Bagiku tak ada pilihan lain kecuali perang. Bagi setiap satu korban di tanah Hijaz, harus ditebus dengan sepuluh korban di Syria.”
Panglimah Alhushain menjawab dengan kata-kata yang cukup terkenal dalam sejarah, “Bohong orang yang menganggap anda sebagai cendekiawan Arab. Saya bicara dengan berbisik, tetapi anda menjawab dengan berteriak.”
Tidak lama setelah itu, Alhushain dan pasukannya kembali ke Syria. Boleh jadi, tawarannya bukan basa-basi. Sebab, di Syria sendiri sedang terjadi kemelut yang cukup mengkhawatirkan. Sepeninggal Yazid bin Muawiyah, ditunjuklah putranya, Muawiyah bin Yazid sebagai khalifah yang kala itu berusia 23 tahun.
Berbeda dengan ayahnya, Muawiyah bin Yazid lebih mengutamakan ibadah ketimbang urusan duniawi. Hari-harinya dipenuhi dengan keshalihan dan ketaatan. Jabatan sebagai khalifah bukanlah keinginannya, tetapi warisan dari sang ayah.
Muawiyah bin Yazid bukanlah seorang negarawan, tetapi seorang ahli agama. Ia sendiri merasa tidak layak menduduki jabatan khilafah. Ia merasa tak sanggup menghadapi urusan pemerintahan dan kenegaraan. Apalagi sepeninggal ayahnya, Yazid bin Muawiyah, bumi Syria terus dilanda kemelut. Didukung lagi oleh pangaruh Abdullah bin Zubair di tanah Hijaz yang semakin meluas.
Dengan segala pertimbangan itu, akhirnya khalifah ketiga Bani Umayyah ini menyatakan mundur dari jabatan khalifah setelah hanya tiga bulan memerintah. Di hadapan para tokoh istana, ia menyerahkan jabatannya. Para pemuka istana dan tokoh keluarga Bani Umayyah memintanya untuk menunjuk seorang pengganti.
Namun, cucu pendiri Daulah Umayyah itu dengan tegas menjawab, “Aku bukan seperti Abu Bakar yang mampu menunjuk seorang pengganti. Aku belum menemukan seorang pun di antara kalian yang mempunyai keutamaan seperti Umar bin Al-Khathab. Aku juga bukan seperti Umar yang bisa menunjuk Ahli Syura. Kalian lebih tahu dan pilihlah orang yang kalian kehendaki.”
Sejak saat itu, Muawiyah bin Yazid menyerahkan hidupnya hanya untuk beribadah dengan uzlah (mengasingkan diri). Menjelang pengujung tahun 64 H/684 Masehi, ia meninggal dunia dalam usia masih belia, 23 tahun. Ada yang mengatakan kematiannya tidak wajar, ia dibunuh secara diam-diam.
Sepeninggalnya, terjadi perpecahan di wilayah Syam (Syria dan Palestina). Satu pihak cenderung mengikuti pendirian penduduk Hijaz untuk mengangkat baiat atas Abdullah bin Zubair yang berkedudukan di Makkah. Apalagi penduduk wilayah Irak dan Iran telah menyatakan baiat. Abdullah bin Ziyad yang menjabat gubernur wilayah itu buru-buru melarikan diri ke Syria untuk meminta perlindungan dari para tokoh Bani Umayyah.
Dengan demikian, wilayah kekuasaan Abdullah bin Zubair sudah meliputi Hijaz, Yaman, Irak dan Iran. Sebuah perutusan yang berangkat dari Mesir ke Makkah membawa berita bahwa penduduk bumi Piramida itu pun menyatakan dukungan atas Abdullah bin Zubair.
Sementara itu, perpecahan di wilayah Syam semakin tajam. Pihak yang mendukung Abdullah bin Zubair dipimpin oleh Dhahak bin Qais. Sedangkan di belahan utara wilayah Syam, tepatnya di kota Hims dan Halab, gerakan pendukung Abdullah dipimpin Nu’man bin Basyir Al-Anshari. Gerakan ini semakin meluas sehingga hampir mampu menguasai istana Bani Umayyah yang sedang kritis.
Oleh sebab itu, kalau Abdullah bin Zubair menerima tawaran Panglima Alhushain untuk berangkat ke Syria, tidak mustahil ia akan dibaiat oleh banyak orang. Apalagi dari sisi keturunan, ia termasuk keluarga dekat Rasulullah Saw. Namun sejarah tak menghendaki hal itu. Abdullah bin Zubair bersikeras menetap di wilayah Hijaz dengan segala dukungan penduduknya. Agaknya, apa yang menimpa Husain bin Ali bin Abi Thalib, begitu membekas di benaknya.
Redaktur: cr01
Sumber: Sejarah Para Khalifah karya Hepi Andi Bastoni
Kamis, 21 April 2011 15:51 WIB
REPUBLIKA.CO.ID, Panglima Alhushain bin Alnamir dari Syria yang bertugas menaklukkan pasukan Abdullah bin Zubair di Makkah, menemukan jalan buntu. Karena tak mampu menembus pertahanan lawan dan mendengar berita wafatnya Khalifah Yazid bin Muawiyah, Alhushain menyerukan gencatan senjata. Abdullah bin Zubair tidak keberatan.
Masa damai itu membuat kedua pasukan membaur satu sama lain, seolah tak terjadi permusuhan. Anggota pasukan dari Syria dengan bebas melaksanakan umrah, thawaf di sekitar Ka’bah, dan sa’i antara Shafa dan Marwah.
Ketika thawaf itulah, Panglima Alhushain bin Alnamir berpapasan dengan Abdullah bin Zubair. Sambil memegang lengan Abdullah, Alhushain berbisik, “Apakah anda mau berangkat bersamaku ke Syria? Saya akan berupaya supaya orang banyak mengangkat anda sebagai khalifah.”
Abdullah bin Zubair menarik lengannya seraya menjawab, “Bagiku tak ada pilihan lain kecuali perang. Bagi setiap satu korban di tanah Hijaz, harus ditebus dengan sepuluh korban di Syria.”
Panglimah Alhushain menjawab dengan kata-kata yang cukup terkenal dalam sejarah, “Bohong orang yang menganggap anda sebagai cendekiawan Arab. Saya bicara dengan berbisik, tetapi anda menjawab dengan berteriak.”
Tidak lama setelah itu, Alhushain dan pasukannya kembali ke Syria. Boleh jadi, tawarannya bukan basa-basi. Sebab, di Syria sendiri sedang terjadi kemelut yang cukup mengkhawatirkan. Sepeninggal Yazid bin Muawiyah, ditunjuklah putranya, Muawiyah bin Yazid sebagai khalifah yang kala itu berusia 23 tahun.
Berbeda dengan ayahnya, Muawiyah bin Yazid lebih mengutamakan ibadah ketimbang urusan duniawi. Hari-harinya dipenuhi dengan keshalihan dan ketaatan. Jabatan sebagai khalifah bukanlah keinginannya, tetapi warisan dari sang ayah.
Muawiyah bin Yazid bukanlah seorang negarawan, tetapi seorang ahli agama. Ia sendiri merasa tidak layak menduduki jabatan khilafah. Ia merasa tak sanggup menghadapi urusan pemerintahan dan kenegaraan. Apalagi sepeninggal ayahnya, Yazid bin Muawiyah, bumi Syria terus dilanda kemelut. Didukung lagi oleh pangaruh Abdullah bin Zubair di tanah Hijaz yang semakin meluas.
Dengan segala pertimbangan itu, akhirnya khalifah ketiga Bani Umayyah ini menyatakan mundur dari jabatan khalifah setelah hanya tiga bulan memerintah. Di hadapan para tokoh istana, ia menyerahkan jabatannya. Para pemuka istana dan tokoh keluarga Bani Umayyah memintanya untuk menunjuk seorang pengganti.
Namun, cucu pendiri Daulah Umayyah itu dengan tegas menjawab, “Aku bukan seperti Abu Bakar yang mampu menunjuk seorang pengganti. Aku belum menemukan seorang pun di antara kalian yang mempunyai keutamaan seperti Umar bin Al-Khathab. Aku juga bukan seperti Umar yang bisa menunjuk Ahli Syura. Kalian lebih tahu dan pilihlah orang yang kalian kehendaki.”
Sejak saat itu, Muawiyah bin Yazid menyerahkan hidupnya hanya untuk beribadah dengan uzlah (mengasingkan diri). Menjelang pengujung tahun 64 H/684 Masehi, ia meninggal dunia dalam usia masih belia, 23 tahun. Ada yang mengatakan kematiannya tidak wajar, ia dibunuh secara diam-diam.
Sepeninggalnya, terjadi perpecahan di wilayah Syam (Syria dan Palestina). Satu pihak cenderung mengikuti pendirian penduduk Hijaz untuk mengangkat baiat atas Abdullah bin Zubair yang berkedudukan di Makkah. Apalagi penduduk wilayah Irak dan Iran telah menyatakan baiat. Abdullah bin Ziyad yang menjabat gubernur wilayah itu buru-buru melarikan diri ke Syria untuk meminta perlindungan dari para tokoh Bani Umayyah.
Dengan demikian, wilayah kekuasaan Abdullah bin Zubair sudah meliputi Hijaz, Yaman, Irak dan Iran. Sebuah perutusan yang berangkat dari Mesir ke Makkah membawa berita bahwa penduduk bumi Piramida itu pun menyatakan dukungan atas Abdullah bin Zubair.
Sementara itu, perpecahan di wilayah Syam semakin tajam. Pihak yang mendukung Abdullah bin Zubair dipimpin oleh Dhahak bin Qais. Sedangkan di belahan utara wilayah Syam, tepatnya di kota Hims dan Halab, gerakan pendukung Abdullah dipimpin Nu’man bin Basyir Al-Anshari. Gerakan ini semakin meluas sehingga hampir mampu menguasai istana Bani Umayyah yang sedang kritis.
Oleh sebab itu, kalau Abdullah bin Zubair menerima tawaran Panglima Alhushain untuk berangkat ke Syria, tidak mustahil ia akan dibaiat oleh banyak orang. Apalagi dari sisi keturunan, ia termasuk keluarga dekat Rasulullah Saw. Namun sejarah tak menghendaki hal itu. Abdullah bin Zubair bersikeras menetap di wilayah Hijaz dengan segala dukungan penduduknya. Agaknya, apa yang menimpa Husain bin Ali bin Abi Thalib, begitu membekas di benaknya.
Redaktur: cr01
Sumber: Sejarah Para Khalifah karya Hepi Andi Bastoni
Langganan:
Postingan (Atom)