Kamis, 25 April 2013

uje1

Islam Pos panji hitam2 “Akan senantiasa ada sekelompok dari umatku yang tegar di jalan kebenaran hingga keputusan Allah datang kepada mereka, dan mereka selalu tegar dalam jalan kebenaran,” (HR. Bukhari 6767). Breaking News HTI Jawa Barat Tolak Kenaikan Harga BBMPosted 3 hours ago Uje Akan Dishalatkan Di Masjid IstiqlalPosted 3 hours ago Ustadz Jeffry Dan Tulisan ‘Mungkinkah Engkau Masih Hidup?’Posted 4 hours ago Puluhan Demonstran Mesir Gelar Aksi Dukung MubarakPosted 4 hours ago AS-Inggris Tuduh Assad Gunakan Senjata Kimia Kepada Pejuang SuriahPosted 4 hours ago Keluarga Tegaskan Ustadz Jeffry Tak Mengebut Saat KecelakaanPosted 4 hours ago Pakistan Secara Resmi Tangkap Musharraf Terkait Pembunuhan Benazir BhuttoPosted 12 mins ago Indonesia-Yordania Sepakat Dirikan Bank IslamPosted 2 hours ago Pesan Terakhir Uje: ‘Kembali PadaNya Adalah Yang Terbaik’Posted 2 hours ago Undangan MTI: Perlukah Hukum Santet Diatur Negara?Posted 3 hours ago Home > Syi'ar > Sosok > Kisah Hidup Uje (1) Masa Kecil Nakal Tapi Berprestasi Kisah Hidup Uje (1) Masa Kecil Nakal Tapi Berprestasi By Admin Islampos on April 26, 2013 Jefri Al Buchori - Sepohon KayuPerjalanan hidup Jeffry Al Buchori sungguh dahsyat. Penuh gejolak dan tikungan tajam. Proses pergulatan yang luar biasa ia alami sampai ia menemukan kehidupan yang tenang dan menenteramkan. Simak kisahnya berikut ini yang disarikan dari berbagai sumber. _______ UJE mengaku bahwa masa lalunya sangat kelam. Adapun kemudian ia mau menceritakannya, ia berharap perjalanan hidupnya bisa menjadi pelajaran bagi orang lain. Terlahir dengan nama Jeffry Al Buchori Modal pada 12 April 1973 di Jakarta, Uje adalah anak tengah, ke-3 dari lima bersaudara. Tiga saudara kandung Uje laki-laki, dan yang bungsu adalah perempuan. Layaknya bersaudara, hubungan Uje dan saudara-saudaranya berlima cukup dekat. Kadang-kadang ditingkahi dengan persilihan kecil namun dalam tahap wajar saja. Apalagi, jarak usia mereka tidak berjauhan. Apih (panggilan Jefri untuk ayahnya, Red.), M. Ismail Modal, adalah pria bertubuh tinggi besar asli Ambon, sedangkan Umi, begitu Uje biasa memanggil ibu, Tatu Mulyana asli Banten. Apih mendidik Uje bersaudara dengan sangat keras. “Tapi, kalau tidak begitu, aku tidak akan merasakan manfaat seperti sekarang. Kalau kami sampai lupa shalat atau mengaji, wah, jangan ditanya hukuman yang akan diberikan Apih,” tutur Uje suatu kali suatu media. Dalam hal agama, Apih dan Umi memang mendidik Uje dan saudaranya secara ketat. Namun, sebetulnya Umi adalah seorang ibu yang amat sabar dan lembut dalam menghadapi anak-anaknya. Apih pun orang yang selalu bersikap obyektif. Apih akan membela keluarganya mati-matian bila memang keluarganya yang benar. Sebaliknya dia tidak segan-segan menyalahkan Uje dan saudaranya bila memang berbuat salah. Berada di lingkungan keluarga yang taat agama membuat Uje menyukai pelajaran agama. Sewaktu kelas 5 SD, Uje pernah ikut kejuaraan MTQ sampai tingkat provinsi. Selain agama, pelajaran yang juga disukai adalah kesenian. “Entah mengapa, aku suka sekali tampil di depan orang banyak. Oh ya, setelah kenaikan kelas, dari kelas 3 aku langsung melompat ke kelas 5. Jadilah aku sekelas dengan kakakku yang kedua,” kata Uje. BERKEPRIBADIAN GANDA Lulus SD, Apih memasukkan Uje dan kedua kakaknya ke sebuah pesantren modern di Balaraja, Tangerang. Papa Uje ingin anak-anaknya mendalami pelajaran agama. Rupanya tidak semua keinginannya bersambut, semua ini karena kenakalan Uje sendiri. Orang bilang, anak tengah biasanya agak nakal. Dan itu itu berlaku pada Uje. Sebagai anak tengah, Uje sering membuat orang tua kesal. Di pesantren, Uje juga sering berulah. Menurut pengakuan Uje, salah satu kenalakannya, di saat yang lain shalat, ia malah diam-diam tidur. Kenakalan lain, kabur dari pesantren untuk main atau nonton di bioskop adalah hal biasa. Sebagai hukumannya, kepala Uje sering dibotaki. Tapi, tetap saja Uje tak jera. “Tampaknya aku seperti punya kepribadian ganda, ya. Di satu sisi aku nakal, di sisi lain keinginan untuk melantunkan ayat-ayat suci begitu kuat. Tiap ada kegiatan keagamaan, aku selalu terlibat,” ujar Uje. Bersama kedua kakaknya, Uje juga pernah membuat drama tanpa naskah berjudul Kembali Ke Jalan Allah yang diperlombakan di pesantren. Ternyata karya mereka itu dinilai sebagai drama terbaik se-pesantren. Bahkan, Uje juga juara lomba azan, lomba MTQ, dan qasidah. Akan tetapi, entah kenapa, Uje masih juga nakal. Tinggal dalam lingkungan pesantren, kelakuan buruk Uje bukannya berkurang, malah makin menjadi. Puncaknya, Uje bosan bersekolah di pesantren. Akhirnya, hanya empat tahun Uje di pesantren. Dua tahun sebelum menamatkan pelajaran, Uje keluar. “Lalu, Apih memasukkanku ke sekolah aliyah (setingkat SMA, Red.). Rupanya keluar dari pesantren tidak membuatku lebih baik. Aku yang mulai beranjak remaja justru jadi makin nakal.” BERSAMBUNG

uje 4

Islam Pos panji hitam2 “Akan senantiasa ada sekelompok dari umatku yang tegar di jalan kebenaran hingga keputusan Allah datang kepada mereka, dan mereka selalu tegar dalam jalan kebenaran,” (HR. Bukhari 6767). Breaking News Undangan MTI: Perlukah Hukum Santet Diatur Negara?Posted 3 hours ago HTI Jawa Barat Tolak Kenaikan Harga BBMPosted 3 hours ago Uje Akan Dishalatkan Di Masjid IstiqlalPosted 4 hours ago Ustadz Jeffry Dan Tulisan ‘Mungkinkah Engkau Masih Hidup?’Posted 4 hours ago Puluhan Demonstran Mesir Gelar Aksi Dukung MubarakPosted 4 hours ago AS-Inggris Tuduh Assad Gunakan Senjata Kimia Kepada Pejuang SuriahPosted 4 hours ago Puluhan Orang Ditemukan Hidup Di Bawah Reruntuhan Pabrik Di BangladeshPosted 18 mins ago Pakistan Secara Resmi Tangkap Musharraf Terkait Pembunuhan Benazir BhuttoPosted 32 mins ago Indonesia-Yordania Sepakat Dirikan Bank IslamPosted 2 hours ago Pesan Terakhir Uje: ‘Kembali PadaNya Adalah Yang Terbaik’Posted 2 hours ago Home > Lainnya > Kisah Hidup Uje (4) Umroh Bersama Umi; Titik Balik Uje Kisah Hidup Uje (4) Umroh Bersama Umi; Titik Balik Uje By Admin Islampos on April 26, 2013 uje4PERNAH, karena pengaruh obat, suatu kali pandangan Uje jadi kabur. Mau melihat arloji di tangan saja, ia harus mendekatkan wajahnya, sambil menggoyang-goyangkan kepala dan membelalakkan mata supaya bisa melihat dengan lebih jelas. “Parah, ya? Begitulah kebandelanku terus berlangsung,” kenangnya. KECANDUAN KIAN PARAH Suatu hari di tahun 1992, Apih meninggal karena sakit. Uje menyesal bukan main karena selama ini selalu mengabaikan nasihat Apih. Menjelang kepergiannya, Uje berdiri di samping tempat tidurnya di rumah sakit sambil menangis. Melihat Uje seperti itu, Apih mengatakan, “Laki-laki tak boleh menangis. Laki-laki pantang keluar air mata,” ujar Apih. Uje mengenang, “Bayangkan, bahkan di saat-saat terakhirnya pun Apih tetap menunjukkan sikapnya yang penuh kasih padaku yang durhaka ini.” Sore itu Uje dimintanya pulang ke rumah dan beliau memberinya ongkos. Uje menurut. Begitu Uje pulang, Allah mengambilnya. “Aku syok berat. Saat Apih dimakamkan, aku turun ke liang lahat dan memeluk jasadnya. Aku tak mau beranjak meski makam akan ditutup. Aku tak mau melepas kepergiannya. Aku menyesali perbuatanku. Selama Apih masih hidup, aku tak pernah mau mendengarkan ucapannya,” papar Uje. Sejak itu, Umi membesarkan Uje dan saudara-saudaranya. Tapi pasca kematian ayahnya itu, hidup Uje terus berjalan ke titik yang paling kelam. Kebandelannya bahkan makin menjadi dan Kesombongannya juga lebih besar daripada sebelumnya karena merasa berprestasi dan punya uang banyak. “Tak seorang pun kudengarkan lagi nasihatnya,” aku Uje waktu itu. Ketika temannya menasihati, ia mencibir. “Siapa dia sampai aku harus mendengarkan ucapannya? Ucapan orang tua saja tak kugubris!” seru Uje. Uje tenggelam dalam dunianya sendiri dan jadi pecandu narkoba. Waktu itu, Uje beralasan karena ada masalah di rumah. Uje mengaku ia makin jauh dari Allah. Padahal, sebelah rumahnya terletak sebuah masjid. Ketika orang berpuasa di bulan Ramadan pun, Uje tetap melakukan kemaksiatan. Lalu, saat Lebaran tiba dan orang-orang sibuk bertakbir, Uje malah sibuk mencari celah waktu dan tempat di mana ia bisa berbuat maksiat. Semua ilmu agama yang pernah dipelajari dan kemampuan membaca Quran seperti hilang. Akal sehatnya seperti hilang. Kecanduannya pada narkoba juga makin parah, bahkan sampai mengalami over dosis dan Uje hampir mati. “Kejahatan demi kejahatan moral terus kulakukan,” sesal Uje. NAMA DICORET Suatu hari Uje merasa menderita karena ketakutan setelah melakukan sebuah perbuatan. Uje benar-benar ketakutan! Ia jadi gampang curiga pada siapa saja dan selalu berburuk sangka pada apa pun. Kesombongannya pada uang dan prestasi lenyap digantikan ketakutan. “Yang kulakukan setiap hari adalah berdiam diri di kamar, dengan selalu berpikiran bahwa setiap orang yang datang akan membunuhku. Aku sibuk mengintip dari bawah pintu, siapa tahu ada orang datang untuk membunuhku,” cerita Uje. “Telingaku jadi sangat sensitif. Aku sering merasa mendengar ada orang sedang berjalan di atap rumah ingin membunuhku. Aku tersiksa selama berhari-hari, berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan,” ucap Uje. Orang-orang mengatakan, Uje sudah gila. Pada saat bersamaan, kecanduannya pada narkoba membuatnya termasuk dalam daftar hitam dunia sinetron. Namanya dicoret. Tak ada lagi yang mau memakainya sebagai pemain. Selain itu, cewek-cewek yang ada di dekatnya juga menjauh. Uje dulu termasuk playboy. Di saat Uje sendiri, ada Umi yang tetap menyayanginya dengan cintanya yang besar. Seburuk apa pun orang berkomentar tentang Uje, hati Umi tetap baik dan sabar. Air matanya tak pernah kering untuk mendoakan anak-anaknya, terutama Uje agar berubah jadi lebih baik. Doa tulus Umi dikabulkan Allah. Sungguh luar biasa, Allah menunjukkan kebaikan-Nya pada Uje. Allah memberi Uje kesempatan untuk bertobat. Kesadaran ini muncul lewat suatu proses yang begitu mencekam buat Uje. DIAJAK UMI UMRAH Suatu kali Uje bermimpi. Uje merasa sangat ketakutan ketika suatu hari bermimpi melihat jasadnya sendiri dalam kain kafan. “Antara sadar dan tidak, aku terpana sambil bertanya pada diri sendiri. Benarkah itu jasadku? Aku juga disiksa habis-habisan. Begitulah, setiap tidur aku selalu bermimpi kejadian yang menyeramkan. Dalam tidur, yang kudapat hanya penderitaan. Aku jadi takut tidur. Aku takut mimpi-mimpi itu datang lagi,” kata Uje. Uje mengaku ia juga jadi takut mati. Padahal dulu ia sempat menantang maut. Rasa takut mati itulah yang akhirnya membuat Uje sadar bahwa ada yang tidak meninggalkanku dalam keadaan seperti itu, yaitu Allah. Uje teringat kembali pada-Nya dan menyesali semua perbuatannya selama ini. Pelan-pelan, keadaannya membaik. Uje menemui Umi, bersimpuh meminta maaf atas semua dosa yang ia lakukan. “Umi memang luar biasa. Betapa pun sudah kukecewakan demikian rupa, beliau tetap menyayangi dan memaafkanku. Umi lalu mengajakku berumrah,” ujarnya. Dengan kondisi Uje yang masih labil dan rapuh, Uje dan Umi berangkat ke Tanah Suci. Kali ini Uje berniat sembuh dan kembali ke jalan Allah. Di sana, ia mengalami beberapa peristiwa yang membuatnya sadar pada dosa-dosanya sebelumnya. Usai salat Jumat di Madinah, Umi mengajaknya ke Raudhoh. “Aku tak tahu apa itu Raudhoh, tapi kuikuti saja. Umi terus meminta ampunan pada Allah,” cerita Uje. Ketika Uje, berjalan menuju makam Nabi Muhammad, Uje bersalawat. “Begitu keluar dari pintu masjid, rasanya seperti ada yang menarikku. Aku mencoba berjalan sekuat tenaga, tapi tak bisa. Kekuatan itu rasanya sangat besar. Aku lalu bersandar pada tembok. Air mataku yang dulu tak pernah keluar, kini mengalir deras. Aku menyesali dosa-dosaku, dan berjanji tak akan melakukan lagi semua itu,” ujarnya. BERSAMBUNG

uje 3

Islam Pos panji hitam2 “Akan senantiasa ada sekelompok dari umatku yang tegar di jalan kebenaran hingga keputusan Allah datang kepada mereka, dan mereka selalu tegar dalam jalan kebenaran,” (HR. Bukhari 6767). Breaking News Indonesia-Yordania Sepakat Dirikan Bank IslamPosted 1 hour ago Pesan Terakhir Uje: ‘Kembali PadaNya Adalah Yang Terbaik’Posted 2 hours ago Undangan MTI: Perlukah Hukum Santet Diatur Negara?Posted 2 hours ago HTI Jawa Barat Tolak Kenaikan Harga BBMPosted 2 hours ago Uje Akan Dishalatkan Di Masjid IstiqlalPosted 3 hours ago Ustadz Jeffry Dan Tulisan ‘Mungkinkah Engkau Masih Hidup?’Posted 3 hours ago Puluhan Demonstran Mesir Gelar Aksi Dukung MubarakPosted 3 hours ago AS-Inggris Tuduh Assad Gunakan Senjata Kimia Kepada Pejuang SuriahPosted 4 hours ago Keluarga Tegaskan Ustadz Jeffry Tak Mengebut Saat KecelakaanPosted 4 hours ago Korban Tewas Akibat Banjir Di Utara Afghanistan Naik Menjadi 20 OrangPosted 5 hours ago Home > Syi'ar > Sosok > Kisah Hidup Uje (3) Lupa Diri Karena Ketenaran Kisah Hidup Uje (3) Lupa Diri Karena Ketenaran By Admin Islampos on April 26, 2013 jefri_al-buchori_lahir_kembali_2005UJE mengalami masa yang menurutnya paling dahsyat setelah tamat SMA. Ceritanya salah seorang teman penari, memperkenalkan Uje pada Aditya Gumai yang saat itu aktif di dunia seni peran. Aditya Gumai adalah orang yang melahirkan Lenong Rumpi yang melambungkan nama Oki Lukma. Dari Aditya, Uje mengenal dunia akting. Waktu itu, Uje masih latihan menari di Taman Ismail Marzuki. Saat latihan pindah ke Gedung Pemuda di Senayan, mulailah Uje main sinetron. Mulanya Uje hanya mengamati para pemain yang sedang syuting, sambil diam-diam belajar. “Aku memang suka mencuri ilmu. Waktu tidur di kos salah satu temanku di dekat kampus Institut Kesenian Jakarta, aku sering mencuri ilmu juga dari para mahasiswa. Kalau mereka sedang kuliah atau praktik, aku sering mengamati mereka,” aku Uje. Nah, ketika para pemain sinetron sedang latihan, terkadang Uje menggantikan salah satunya. Ternyata Uje ditertawakan. Karena pada dasarnya Uje orang yang tidak suka diperlakukan seperti itu, Uje malah jadi terpacu. Uje makin giat berlatih akting secara otodidak. Akhirnya, saat yang senior belum juga dapat giliran main, Uje sudah mendapat peran. Uje pun diajak Aditya main sinetron. Waktu dikasting, Uje berhasil mendapat peran. Tahun 1990, Uje main sinetron Pendekar Halilintar. Saat itu, sinetron masih dipandang sebelah mata oleh bintang film. Dari keluarga, Apih mati-matian menentang Uje. Kenapa? Usut punya usut, rupanya Apih tahu persis seperti apa lingkungan dunia film. Dulu, beliau juga pernah main film aksi, antara lain Macan Terbang dan Pukulan Berantai. Dari Apila, Uje menuruni darah seni. Ditentang Apih tak membuat langkah Uje surut. “Tak satu pun larangan Apih yang mampir ke otakku untuk kujadikan bahan pikiran. Nasihat Apih tak lagi kudengarkan. Tawaran untuk main sinetron yang berdatangan membuatku makin yakin, inilah yang kucari. Aku tak mau menuruti keinginan orang tua karena merasa diriku benar. Akhirnya konflik antara aku dan orang tuaku pecah,” papar Uje. Sebagai bentuk perlawanan pada orang tua, Uje tak pernah pulang ke rumah. Tidur berpindah-pindah di rumah teman. Rambut juga dipanjangkannya. Uje seperti tak punya orang tua. Bahkan, menurut Uje, tak pernah terlintas dalam benaknya bahwa suatu hari mereka akan pulang ke haribaan. “Yang kupikirkan hanya kesenangan dan egoku semata,” kenang Uje. Pada saat bersamaan, karier Uje di dunia seni peran terus melaju. Uje membintangi sinetron drama Sayap Patah yang juga dibintangi Dien Novita, Ratu Tria, dan almarhum WD Mochtar. Uje semakin merasa bahwa pilihannya tak salah setelah dinobatkan sebagai Pemeran Pria Terbaik dalam Sepekan Sinetron Remaja yang diadakan TVRI tahun 1991. Uje bangga bukan main, karena merasa menang dari orang tua. Kesombongan Uje makin menjadi. “Aku makin merasa inilah yang terbaik buatku, ketimbang pilihan orangtuaku,” terangnya. “DI KABAH, KUMINTA AMPUNAN ALLAH” Tawaran main sinetron berdatangan menghampiri Jeffry. Seiring dengan itu, ia makin tenggelam dalam dunianya yang kelam. Sejak kenal sinetron, Uje makin menyukai dunia akting. Uje tak peduli meski Apih—ayahnya itu—menentangnya. Namun, belakangan Uje paham, di balik ketidaksetujuannya, sebetulnya orang tuanya itu menyimpan rasa bangga. Orang tua cerita, mereka sedang ke Tanah Suci membawa rombongan ibadah haji saat sinetron Sayap Patah yang dimainkan Uje ditayangkan. “Ternyata, mereka nonton sinetronku. Komentar mereka membanggakanku. Mereka mengakui, ternyata aku bisa berprestasi,” ujar Uje. Setelah itu, Uje mendapat berbagai tawaran main, antara lain sinetron Sebening Kasih, Opera Tiga Jaman, dan Kerinduan. Selain namanya makin mencuat, rezeki juga terus mengalir. “Namun, aku malah jadi lupa diri. Ketenaran tidak penting buatku. Yang penting menikmati hidup. Dunia malam terus kugeluti. Kalau ke diskotek, aku tak lupa mengonsumsi narkoba. Bahkan, untuk urusan yang satu ini, aku bisa dibilang tamak. Biasanya, aku meminum satu pil dulu. Kalau kurasa belum ‘on’, kuminum satu lagi. Begitu seterusnya,” kenangnya.

kisah hidup UJE

Kisah Hidup Uje (2) Mulai Kenal Dunia Malam By Admin Islampos on April 26, 2013 Ustad Jeffri Al BuchoriSETIAP ada acara keagamaan Uje tak pernah ketinggalan. Namun, Uje juga selalu mau bila ada teman yang mengajaknya ke kantin sekolah. Bukan untuk jajan, tapi memakai narkoba! “Aku juga sering kabur dan pergi tanpa tujuan yang jelas. Ya, aku seperti burung lepas dari sangkar, terbang tak terkendali,” akunya. Menurut Uje, masa SMA adalah masa paling suram baginya. Uje merasa tak pernah teman sebaya. Usianya memang masih 15 tahun ketika itu, namun ia bergaul dengan pemuda berusia 20 tahunan. Pacaran pun dengan perempuan yang lebih tua. Di sekolah ini Uje hanya bertahan setahun. Pindah ke SMA lain, keseharian Uje tak jauh berbeda. Malah makin parah. Dari perkenalan dengan beberapa teman, Uje mengenal petualangan baru. Umur 16 tahun, Uje mulai kenal dunia malam. Ia masuk sekolah hanya saat ujian. “Buatku, yang penting lulus. Aku lebih suka mendatangi diskotek untuk menari. Terus terang, aku memang tertarik pada tarian di diskotek. Tiap ke sana, diam-diam aku selalu mempelajari gerakan orang-orang yang nge-dance. Lalu kutirukan,” ujarnya. Uje pun lantas jadi seorang penari, bertualang dari satu diskotek ke diskotek lain, tenggelam dalam dunia malam. Saat ada lomba dance, Uje mencoba ikut. Usahanya tak sia-sia. Beberapa kali ia berhasil memboyong piala ke rumahnya sebagai the best dancer. Selain itu, ia juga berhasil jadi penari di Dufan pada tahun 1990, meski hanya selama setahun. Sampai sekarang masih banyak teman Uje yang jadi penari di sana. Yang paling menarik adalah Uje kemudian jadi foto model, bahkan ikut fashion show di diskotek. “Mungkin waktu itu aku merasa sangat cakep, ya. Tapi menurutku, kegiatan-kegiatan itu masih positif, meski terkadang aku suka minum. Dengan segala kebengalanku, tahun 1990 aku berhasil lulus SMA,” paparnya. BERSAMBUNG

Rabu, 27 Maret 2013

pendidikan spiritual

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh Muhbib Abdul Wahab............. Manusia memiliki dua kebutuhan utama: kebutuhan jasmani dan kebutuhan ruhani. Kebutuhan jasmani, antara lain, dipenuhi dengan asupan makanan dan minuman yang halal dan thayyib (bergizi, menyehatkan), olahraga, dan tidur yang cukup. Sedangkan kebutuhan ruhani dapat dipenuhi, antara lain, dengan pendidikan, informasi, dan hiburan. Manusia sehat adalah manusia yang mampu menyeimbangkan pemenuhan kedua kebutuhan tersebut. Pendidikan spiritual (tarbiyah ruhiyyah) termasuk 'nutrisi bergizi tinggi' yang sangat dibutuhkan oleh manusia sehat agar tidak menjauh dari hidayah Allah SWT dan hidupnya tidak mengalami disorientasi: cenderung materialis, sekuler, hedonis, dan sebagainya. Pendidikan spiritual bertujuan menyehatkan hati dan pikiran, sehingga sikap dan perilakunya menjadi mulia dan rabbani, bukan hewani dan syaithani (berkelakuan seperti hewan dan setan). Allah adalah Rabbul ‘Alamin (Pendidik semesta raya, termasuk manusia). Esensi dari pendidikan spiritual adalah penanaman dan pencerahan manusia dengan meneladani sifat-sifat Allah. “Berakhlaklah kalian dengan akhlak Allah” (HR Muslim). Jika sifat-sifat Allah dalam al-Asma’ al-Husna (Nama-nama Terbaik) diteladani, niscaya manusia akan mampu mengontrol karakter kebinatangannya menuju integritas pribadi yang luhur dan akhlak mulia. Karena itu, tindak kekerasan dan pelecehan seksual, terutama di lembaga pendidikan, semestinya tidak pernah terjadi jika manusia memiliki sifat al-Lathif (Maha Lembut), dan Ar-Rahman Ar-Rahim (Maha Pengasih Maha Penyayang). Berbagai kasus malpraktik pendidikan, seperti kekerasan di lembaga pendidikan, lulusan Perguruan Tinggi yang kemudian banyak menjadi koruptor, semestinya dapat dieliminasi jika pendidikan spiritual efektif diinternalisasikan dalam siswa oleh pendidik yang berketeladanan moral yang luhur. Pendidikan spiritual membekali siswa tidak hanya kognisi keagamaan, tetapi juga afeksi, apresiasi, dan aktualisasi nilai-nilai moral dan spiritual dalam segala aspek kehidupan. Nabi Muhammad SAW pernah memberikan pesan berdimensi pendidikan spiritual yang sangat operasional. Sabda beliau, “Tebarkan salam, berikan makan, sambungkan tali silaturrahim, biasakan qiyamul lail (shalat malam) pada saat orang lain tidur, niscaya engkau akan dimasukkan oleh Allah dalam surga-Nya, Darus Salam.” (HR Al-Bukhari dan Muslim). Jika diterjemahkan dalam kehidupan nyata, nilai pendidikan spiritual dalam salam dapat diaktualisasikan dalam bentuk nilai-nilai perdamaian, seperti: tegur sapa, murah senyum, ramah, semangat memberi pelayanan yang prima, tidak sinis, tidak emosional, mudah mengulurkan tangan, dan sebagainya. Sementara itu 'memberi makan' dapat diwujudkan dalam sikap empati, solidaritas sosial, mau meringankan penderitaan orang lain, selalu berbagi, dan berusaha mencari solusi. 'Menyambung tali silaturrahim' dapat diaktualisasikan dalam bentuk: suka dan supel bergaul, berkomunikasi terbuka dan efektif, tidak bermusuhan, bersahabat, bekerjasama, saling melindungi, dan sebagainya. Sedangkan 'qiyamul lail' sebagai bentuk spiritualisasi diri dapat diterjemahkan dalam perilaku yang selalu zikir kepada Allah, istiqamah dalam beribadah, tekun berdoa, ikhlas beramal, sabar dalam menghadapi cobaan hidup, dan sebagainya. Idealnya pendidikan spiritual menjadi ruh (semangat, jiwa) dari sistem pendidikan nasional agar lulusan yang dihasilkan dari lembaga pendidikan kita tetap memiliki hati dan pikiran yang sehat dan cerdas. Pendidikan spiritual merupakan benteng penangkal kapitalisasi dan sekularisasi pendidikan, termasuk 'antivirus' perilaku korup. Pendidikan spiritual juga harus terintegrasi dalam semua mata pelajaran dan kurikulum pendidikan kita, sehingga semua pendidik, tenaga kependidikan, guru, pimpinan lembaga pendidikan, selalu menampilkan kepribadian dan keteladanan yang terbaik (uswah hasanah). Pendidikan dengan keteladanan (at-tarbiyah bil uswah) merupakan prototipe atau model pendidikan yang paling ideal untuk masa depan bangsa kita. Pendidikan spiritual sudah semestinya menjiwai seluruh manajemen dan penyelenggaraan pendidikan di tanah air.

Selasa, 14 Februari 2012

maksimalkan dirimu

MEMAKSIMALKAN CAHAYA DIRI ANDA

- Teruslah Berbuat Baik Tanpa Pernah Menghitungnya

Lakukan kebaikan layaknya menulis diatas pasir dan pahatlah di batu untuk setiap kesalahan yang anda lakukan. Artinya, lupakan setiap kebaikan kepada orang lain, tak perlu menghitung! :-)

Sikap seperti ini akan melatih keikhlasan, dan pada saat terbiasa, anda akan merasakan arti puas yang sejati.

- Merendahlah Agar anda Menjadi Tinggi

Orang yang merendah justru banyak disenangi orang lain. Lain halnya dengan orang yang sombong, kerendahan hati merupakan perwujudan dari toleransi dan memiliki nilai yang tinggi.

Kerendahan hati dan kedamaian saling bertautan. Percayalah pada diri sendiri, dan singkirkan keinginan untuk selalu ingin membuktikan pada orang lain.

- Jagalah Kemurnian

Tampil apa adanya . Jadilah diri sendiri. Untuk memiliki daya tarik kita tidak perlu menjadi orang lain. Menjadi diri sendiri jauh lebih bernilai ketimbang kita selalu ingin tampil seperti orang lain .

- Jadilah Orang Yang Penuh Minat

Apa yang ANDA katakan pada diri sendiri tentang kehidupan, dan diri ANDA sendiri, dari hari ke hari, bisa memberikan efek yang luar biasa. Sepanjang waktu, lihatlah diri ANDA sendiri sebagai pribadi yang menarik. Pertahankan perasaaan itu sejelas mungkin dalam pikiran.

Dengan sendirinya, alam akan menarik segala hal yang penting untuk menyempurnakan perasaan dan diri sendiri
Jadilah orang yang selalu ceria, penuh harapan, dan buat dunia ini terpikat pada kita.

- Wajah Ceria

Tertawa itu sehat. Buat wajah anda selalu ceria. Saat kita tersenyum, otak akan bereaksi dan memproduksi endorphin (zat alami yang memindahkan rasa sakit). Selain itu, senyuman akan membuat anda bisa rileks. Senyuman juga akan menebarkan kegembiraan pada orang lain.

Tekankan dalam pikiran, saat anda bersama orang lain, bahwa senyuman dapat memperpendek jarak antar orang lain.

- Antusias dan Hasrat

Dua hal ini merupakan ibu yang melahirkan sukses. Antusias dan hasrat dapat mendatangkan uang, kekuatan dan pengaruh. Hal besar tak akan dapat dicapai tanpa antusias. Yakin selalu pada apa yang anda kerjakan. Kerjakan tiap pekerjaan anda dengan penuh cinta. Masukan antusias dalam pribadi anda, maka ia akan menciptakan hal yang luar biasa buat anda sendiri

- Tata Krama

Tingkah laku, kesopanan dan kebaikan bisa membuat orang lain percaya pada kita. Tata krama yang baik akan membuat orang lain merasa nyaman dengan kita.
Tata karma merupakan sumber kesenangan, memberikan rasa aman, dan ini dilakukan dengan menunjukan penghormatan pada orang lain. Bersikap sopanlah pada setiap orang yang anda kenal, tidak peduli status dan kedudukan mereka. Perlakukanlah setiap orang dengan tata krama.

KEMENANGAN BUTUH KESABARAN

Sahabatku, butuh kesabaran dalam belajar, butuh kesabaran dalam bersikap baik, butuh kesabaran dalam kujujuran, butuh kesabaran dalam setiap kebaikan agar kita mendapat kemenangan.

INGATLAH

Org tua&org yg kita cintai tidak selamanya bisa mengangkatmu saat kau jatuh, suatu saat nanti, kau harus bisa berdiri sendiri&maka jangan pernah kau gantungkan hidupmu pada orang lain, jadilah dirimu sendiri&
Kamu harus TEGAR, muslim yang kuat, yang tetap tabah dan istiqomah karena ia tahu ada Allah di sampingnya& maka kau akan dapati dirimu tetap berjalan menyusuri kehidupan saat yang lain memutuskan untuk menyerah.

( Ummu zidan Al Fathi II & III )

Pintu rezeki

Diantara pintu yang akan mengantarkan pintu rezeki, dan menjauhkan dari kesempitan hidup adalah :

1.Membaca “la hawla wala quwwata illa billah”.

Barang siapa yang lambat rezekinya hendaklah banyak mengucapkan la hawla wala quwwata illa billah (HR.At-Tabrani.
...
2.Membaca “La ilaha illallahul malikul haqqul mubin”.

Barangsiapa yang membaca “La ilaha illallahul malikul haqqul mubin”, maka bacaan itu akan menjadi keamanan dari kefakiran dan menjadi penenteram dari rasa takut dalam kubur”. (HR. Abu Nu’aim dan Ad-Dailami).

3.Melanggengkan Istighfar.

“Barangsiapa melanggengkan istighfar, niscaya Allah mengeluarkan dia dari segala kesusahan dan memberikan dan memberikan dia rezeki dari arah yang tidak diduganya”. (HR.Ahmad, Abu Dawud, dan Ibnu Majah).

4.Membaca Surah Al-Ikhlas.
“Barangsiapa yang membaca surah al-Ikhlas ketika masuk rumah, maka (berkah bacaan) menghilangkan kefakiran dari penghuni rumah dan tetangganya”. (HR.Tabrani).

5.Membaca surah al-Waqi’ah

“Barangsiapa membaca surah al-Waqi’ah setiap malam, maka tidak akan ditimpa kesempitan hidup”. (HR. Baihaqi dalam Syu’ab al-Iman).

6.Memperbanyak Shalawat atas Nabi Shallahu Alaihi Wa Sallam.

Ubay bin Ka’ab meriwayatkan , bila telah berlalu sepertiga malam, Rasulullah Shallahu Alaihi Wa Sallam berdiri seraya bersabda, “Wahau manusia, berzikirlah mengingat Allah. Akan datang tiupan (sangkakala kiamat), pertama kemudian diiringi tiupan kedua. Akan datang kematian dan segala kesulitan yang ada di dalamnya”.

7.Membaca “Subhanallah wabihamdihi subhanallahil ‘adzhim.

“Katakanlah, “Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri! Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dialah Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang”. (Al-Qur’an : Az-Zummar : 53)

Semoga Allah Azza Wa Jalla memberikan rezeki dan melapangkan jalan hidup kaum muslimin, dan jauhkan dari jalan-jalan setan, yang selalu akan menyesatkan. Wallahu’alam.

( Ummu zidan Al Fathi II & III )

Minggu, 22 Januari 2012

salafiyah awal dan akar

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh Heri Ruslan


Salafiyah dihidupkan oleh Ibnu Taimiyah, karena pada saat itu, umat Islam mengalami era kemunduran atau zaman Taklid.


Ajaran Islam menyebar ke seluruh penjuru dunia. Kaum Muslim pun dihadapkan pada situasi dan tantangan intelektual baru yang beragam. Tentu saja, tantangan itu harus segera direspons dengan solusi yang sesuai dengan nilai-nilai ajaran Islam.

‘’Selain menggunakan Alquran, umat Islam juga menggunakan pemikiran rasional untuk menjelaskan konsep dan doktrin Islam,’’ ungkap John L Esposito dalam Ensiklopedi Oxford. Kaum Muslim menggunakan teknik itu untuk menjelaskan berbagai persoalan, seperti eksistensi Allah, sifat ilhahi, sifat Alquran, hingga menjawab pertanyaan apakah Allah akan terlihat di surga.

Setelah wafatnya Khalifah Usman bin Affan pada 35 H/656 M, konflik di kalangan umat Islam mulai menajam. Kontrovesi terkait berbagai topik, seperti iman, status orang berdosa, sifat tindakan manusia, kebebasan dan tekad, serta keimaman telah melahirkan beragam aliran teologi, seperti Qadiriyah, Jabariyah, Shifatiyah, Khawarij, dan Muktazilah.

Munculnya beragam mazhab teologi itu pun memantik perseteruan di antara para pengikutnya. ‘’Kondisi itu mengundang keprihatinan Ahmad Ibnu Hanbal, pendiri mazhab keempat Sunni,’’ papar Esposito. Sehingga, Ibnu Hanbal didapuk sebagai juru bicara salafiyah klasik.

Ia menginginkan agar umat Muslim segera kembali kepada ajaran Islam yang murni dan sederhana berdasarkan Alquran, Sunah, dan hadis para salaf. Istilah Salafi, menurut sebagain kalangan, pertama kali muncul dalam kitab Al-Ansaab karya Abu Saad Abd al-Kareem al-Sama'ni, yang meninggal pada 562 H/1166 M.

***

Kata salafiyah, menurut Esposito, diturunkan dari akar kata salaf yang berarti ‘’mendahului’’. Alquran menggunakan kata salaf untuk merujuk masa lalu, dalam surah Al-Maidah [5] ayat 95 dan Al-Nafal [8] ayat 38. ‘’Dalam leksikon Arab, salaf adalah leluhur yang saleh,’’ ungkap guru besar untuk bidang Studi Islam di Universitas Georgetown, Amerika Serikat itu.

Sebagai seorang juru bicara Salafi klasik, Ibnu Hanbal telah meletakkan sejumlah doktrin Salafiyah. Pertama, keutamaan teks wahyu di atas akal. Menurutnya, tak ada kontradiksi antara wahyu atau kitab suci dan akal. Kedua, menolak disiplin kalam (teologi). Salafiyah memandang persoalan yang diangkat mazhab-mazhab teologi sebagai sesuatu yang bidah.

Ketiga, Ibnu Hanbal menekankan pentingnya ketaatan ketat kepada Alquran, Sunah, dan konsensus (ijmak) para leluhur yang saleh. ‘’Ibnu Hanbal memagang Alquran dan ajaran Nabi SAW sebagai sumber otoritatif dalam memahami masalah agama,’’ tutur guru besar untuk bidang Agama dan Hubungan Internasional pada Universitas Georgetown, Amerika Serikat itu.

***
Seiring bergilirnya waktu, pendekatan Salafiyah mulai berevolusi dalam menangani berbagai masalah yang dihadapi umat Islam. Gerakan Salafiyah lalu dihidupkan lagi oleh Ibnu Taimiyah, ulama dan pemikir Muslim yang hidup di antara abad ke-13 dan ke-14 M.

Salafiyah dihidupkan oleh Ibnu Taimiyah, karena pada saat itu, umat Islam mengalami era kemunduran. Terlebih, setelah kota Baghdad, ibu kota Kekhalifahan Abbasiyah dihancurkan bangsa Mongol dalam sebuah invasi pada 1258 M. Dunia Islam yang selama tujuh abad sebelumnya bersinar mulai mengalami kegelapan.

Dunia Islam mengalami kemunduranalam berbagai bidang, baik pemikiran keagamaan, politik, sosial, maupun moral. Kezaliman merajarela, penguasa tak berdaya, dan para ulama tak bias berijtihad secara murni lagi. Saat itu, umat Islam berada dalam zaman Taklid.

Masa Taklid disebut para sejarawan dan pemikir Islam sebagai masa kemunduran. Pada pertengahan abad ke-13 M itu, masyarakat Muslim banyak yang menjadi penyembah kuburan, nabi, ulama, dan tokoh-tokoh tarekat. Mereka berharap berkat anbia (para nabi) dan aulia (para wali).

Kaum Muslimin pada era kemunduran itu cenderung meninggalkan Alquran dan Sunah Rasulullah SAW. Masyarakat Islam pada waktu itu terjebak pada perbuatan syirik dan bidah dan lebih percaya pada khurafat (menyeleweng dari akidah Islam) dan takhayul. Kondisi itulah yang membuat Ibnu Taimiyah tergerak untuk menghidupkan gerakan Salafiyah

Ibnu Taimiyah berpendapat, tiga generasi awal Islam, yaitu Rasulullah Muhammad SAW dan Sahabat Nabi, kemudian Tabi'in yaitu generasi yang mengenal langsung para Sahabat Nabi, dan Tabi'ut tabi'in yaitu generasi yang mengenal langsung para Tabi'in adalah contoh terbaik untuk kehidupan Islam. Ketiga generasi kaum Muslimin itu biasa disebut sebagai kaum Salaf.

Doktrin yang menonjol dari gerakan Salafiyah yang dihidupkan Ibnu Taimiyah antara lain: pintu ijitihad selalu terbuka sepanjang masa; taklid atau ikut-ikutan tanpa mengetahui sumbernya diharamkan; diperluka kehati-hatian dalam berijtihad dan berfatwa; perdebatan teologis (kalamiah), seperti Muktazilah, Jahamiyah dan lainnya dihindarkan; ayat Alquran dan hadis yang mutasyabihat (tak jelas menunjuk pada satu arti) tak ditafsirkan dan tidak ditakwilkan.

Gerakan Salafiyah juga dikenal sebagai gerakan Tajdid (pembaharuan). Ada pula yang menyebutnya, gerakan Islah (perbaikan) dan gerakan Reformasi. Tak heran, jika Ibnu Taimiyah ditabalkan sebagai Bapak Tajdid, Bapak Islah, Bapak Reformasi, serta bapak Pembaharuan dalam Islam.

***

Sejak saat itu, gerakan Salafiyah mulai menyebar ke berbagai penjuru dunia. Di era pramodern, yakni abad ke-18 M, gerakan Salafiyah kembali dihidupkan Muhammad bin Abdul Wahab (1703-1792) lewat Wahhabiyah. Gerakan itu lahir sebagai sebuah upaya untuk mereformasi umat yang sedang mengalami kehancuran, baik secara moral dan sosial.

Gerakan serupa juga turut mempengaruhi lahirnya Sanusiyah dan Mahdiyah. Bahkan, di luar Arab muncul gerakan Usuman Dan Fodio (1754-1817) di Nigeria. Selain itu, ada pula gerakan Ahmad Sirhindi (1564-1624), dan Sayyid Ahmed Barelwi (1786-1831) di Anak Benua India. Mereka menggelorakan persatuan Islam, pemurnian agama, serta reformasi moral dan sosial.

Redaktur: Heri Ruslan
Sumber: Islam Digest Republika

penyebaran salafiyah

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh Heri Ruslan

Sebagai sebuah ajaran dan sekaligus gerakan, Salafiyah menyebar ke berbagai negara di dunia Muslim. Di setiap wilayah, gerakan Salafiyah yang diusung para ulama dan intelektual memiliki fokus perjuangan yang berbeda-beda.

Di Aljazair, Ibnu Badis fokus pada reformasi di bidang pendidikan. Hal itu dilakukan sebagai upaya untuk melawan kebijakan penjajah Prancis yang cenderung merugikan umat Islam di wilayah itu. Ibnu Badis juga menggunakan Salafiyah sebagai sarana untuk menyelamatkan identitas nasional, serta memerangi tarekat sufi.

‘’Bersama ulama reformis lainnya, Ibnu Badis mendirikan Perhimpunan Ulama Aljazair,’’ tutur John L Esposito. Peran gerakan Salafiyah di negara itu sangat menonjol dalam memperjuangkan kemerdekaan.

Gerakan neo-Salafiyah juga muncul di Maroko pada abad ke-19. Adalah Abu Syu’aib Al-Dukkali dan Muhammad Ibnu Al-Arabi Al-Alawi yang memimpin gerakan reformasi itu. Gerakan itu juga banyak berjasa dalam perjuangan meraih kemerdekaan Maroko lewat partai politik yang didirikan para pemimpin Salafiyah.

Di Tunisia, pada awal abad ke-19 M, gerakan Salafiyah juga berkembang di bawah beberapa ulama , seperti Basyir Shafar, Muhmamad Al-Tahir ibn Asyur, Muhammad Fadhil Ibnu Asyur, serta Abdul Aziz Al-Tsa’alibi. Di negara itu, Partai Destour adalah penganjur Salafiyah dan reformasi Islam.

Di India, Sayyid Ahmad Khan (1817-1898) juga menggelorakan gerakan modernisme Islam. Gerakan itu berdampak besar bagi reformasi di kalangan Muslim India. Di negeri Hindustan juga muncul intelektual yang mendukung gerakan Salafiyah lainnya bernama Muhammad Iqbal (1875-1938. Ia berupaya memadukan pendidikan Islam dan Barat untuk mengatasi keterpurukan yang dihadapi umat Islam.

Gerakan Salafiyah di Indonesia banyak dipengaruhi oleh ide dan gerakan pembaruan Muhammad ibnu ‘Abd al-Wahhab di Jazirah Arab. Menurut Ensiklopedi Islam, ide-ide Salafiyah pertama kali dibawa masuk ke kawasan Nusantara oleh beberapa ulama asal Sumatera Barat pada awal abad ke-19 M, yang kemudian melahirkan gerakan kaum Padri yang berlangsung dari 1803 hingga 1832. Salah satu tokoh utamanya adalah Tuanku Imam Bonjol.

Ide dan gagasan Salafiyah juga turut mempengaruhi lahirnya sejumlah organisasi Islam di Indonesia, seperti Muhammadiyah, Persis, serta Al-Irsyad. Ormas Islam itu terbilang konsen menyuarakan pentingnya kembali kepada Alquran dan Sunah. Memberantasan takhayul, bidah dan khurafat merupakan isu utama yang juga diusung ormas tersebut, pada awal berdirinya.

Redaktur: Heri Ruslan

salafiyah di era modern

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh Heri Ruslan


Salafiyah modern merupakan gerakan reformasi berdimensi agama, budaya, sosial, dan politik yang didirikan Jamaludin Al-Afghani dan Muhammad Abduh pada awal abad ke-20 M

Memasuki abad ke-19 M, dunia Islam benar-benar terpuruk. Hampir seluruh dunia Muslim berada dalam cengkraman penjajahan. Umat Islam benar-benar terjebak pada taklid buta dan mengalami kejumudan dalam berbagai bidang, baik pendidikan, sosial, politik, dan budaya.

Di tengah kondisi dunia Islam yang benar-benar terbelakang itu, Jamaludin Al-Aghani (1839-1897) dan Muhammad Abduh (1849-1905) menghidupkan dan mendirikan Salafiyah modern. Menurut John L Esposito, Salafiyah modern berbeda dengan di era klasik.

‘’Salafiyah modern intinya bersifat intelektual dan modernis serta tujuannya lebih beragam,’’ papar Esposito. Yang jelas, Jamaludin Al-Afghani lewat gerakan Salafiyah yang didirikannya mencoba untuk mengembalikan Islam pada bentuk murninya, dan mereformasi kondisi moral, budaya, dan politik Islam.

Esposito mendefiniskan Salafiyah sebagai gerakan reformasi berdimensi agama, budaya, sosial, dan politik yang didirikan Jamaludin Al-Afghani dan Muhammad Abduh pada awal abad ke-20 M. ‘’Gerakan ini bertujuan memperbarui kehidupan Muslim dan berdampak formatif pada banyak pemikir dan gerakan Muslim di seluruh Dunia Muslim,’’ ujar guru besar untuk bidang Studi Islam di Universitas Georgetown, Amerika Serikat itu.

Kedua tokoh gerakan salafiyah itu mencoba untuk menjembatani jurang antara Islam historis dan modernitas. Lewat cara itulah, Al-Afghani dan Abduh melawan stagnasi, kehancuran moral, depotisme politik, dan dominasi asing. Pada masa itu, supremasi Barat yang sangat besar, sehingga dunia Islam cenderung termarjinalkan.

Lewat tulisan-tulisannya yang dimuat di jurnal al-Urwah Al-Wustha, yang diterbitkan Afghani pada dan Abduh pada 1884, kedua tokoh reformis Islam itu berupaya menyadarkan umat Islam yang sedang terpuruk. Menurut mereka, keterpurukan peradaban Islam tak terletak pada ajarannya.

Peradaban Islam justru terpuruk lantaran inflistasi konsep dan praktik asing, disitegrasi umat Islam, dan praktik despotisme politik (pemerintahan dengan kekuasaan politik absolut). Dalam pandangan mereka, distrorsi keyakinan Islam yang paling dasar telah membuat umat Islam bersikap pasrah, pasif, dan tunduk pada kekuatan Barat.

Akibatnya, umat Islam mengalami stagnasi dan dilanda peniruan buta olah para ulama tradisionalis. Masalah yang akut itu, dipandang Afghani dan Abduh, sebagai penghambat kemajuan Islam. Tak hanya itu. Penyakit sosial dan moral itu juga menjadi penjegal bagi dunia Islam untuk mengejar dan meraih kemerdekaan.

Agar dunia Islam tak tunduk kepada Barat, Afghani mencoba menegaskan validitas Islam pada masa modern dan membuktikan kesesuaiannya dengan akal dan ilmu pengetahuan. ‘’Bagi Afghani dan Abduh, Islam memberi fondasi kemajuan kepada kaum Muslim,’’ tutur Esposito.

Keduanya membuka mata umat Islam bahwa Islam memuliakan dan menegaskan kedaulatan manusia di bumi. Islam juga memberati kaum Muslim dengan tauhid, dan juga mendukung pencarian pengetahun dan kemajuan. Langkah yang dilakukan tokoh-tokoh pengusung gerakan Salafiyah modern adalah mengembalikamn kebanggaan Muslim akan agama meraka.

Selain itu, memuluskan jalan untuk reinterpretasi islam sesuai dengan modernitas dan melegitimasi pengambilan sebagai prestasi ilmiah dan tekonologi Barat. Menurut Esposito, reinterpretasi Islam yang digulirkan Afghani dan Abduh itu telah membentuk prinsip besar kedua dari Salafiyah modern.

Seperti para pemikir Salafiyah klasik, pendukung Salafiyah modern juga tetap menekankan arti penting tauhid, pemurnian keyaknian dan praktik Muslim dari penambahan, serta pemulihan bentuk Islam yang murni.

Abduh merangkum tujuan Salafiyah sebagai berikut: ‘’Membebaskan pemikiran dari belenggu taklid, dan memahami agama sebagaimana dipahami para leluhur sebelum munculnya perpecahan; berpaling kembali, dalam memperoleh pengetahuan agama ke sumber pertamanya, dan menimbangnya dalam neraca akal manusia.

Para reformator modern, kata Esposito, juga meyakini bahwa Alquran adalah firman Allah yang tidak tercipta, dan menolak penafsiran esoterik dari ayat-ayatnya. Meski berusaha kembali kepada Alquran, sunah dan hadis sahih, Salafiyah modern berupaya membuat sintesis antara teks dengan akal.

‘’Mereka menganggap wahyu dan akal sepenuhnya harmonis,’’ ujar Esposito. Jika tampak ada kontradiksi, mereka menggunakan akal untuk menafsir ulang teksnya. Dalam menafsirkan Alquran, Salafiyah modern mencoba mengaitkannya dengan kondisi masa kini.

Pendekatan itu dipandang turut membangkitkan pesan Alquran, memulihkan relevansinya, dan membuatnya menjadi lebih mudah dipahami masyarakat Muslim awam. Dengan menekankan kembali kepada sumber fundamental islam, para pemikir salafiyah mencoba untuk membuka kembali potensi ijtihad.

Fondasi ketiga Salafiyah modern adalah reformasi yang bersifat komprehensif dan berangsur-angsur. Pendidikan menjadi batu tolak bagi rencana reformasi yang digulirkan pengusung Salafiyah modern. Caranya, dengan memadukan pendidikan Islam dan modern. Dengan cara itulah diharapkan umat Islam bisa bangkit dan mengejar ketertinggalannya dari dunia Barat

Redaktur: Heri Ruslan

tokoh gerakan salafiyah

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh Heri Ruslan



Imam Ahmad bin Hanbal

Ia adalah seorang ulama dan intelektual Muslim terpenting dalam sejarah peradaban Islam. Umat Islam di Indonesia biasa menyebutnya Imam Hambali. Sosok ahli fikih pendiri Mazhab Hambali itu begitu populer dan legendaris. Namun, ulama yang hafal satu juta hadis dan selalu tampil bersahaja itu tak pernah ingin apalagi merasa dirinya terkenal.

Ahmad bin Hanbal dikenal sebagai ulama yang berotak brilian. Kecerdasannya diakui para ulama besar di zamannya. Penulis sederet kitab penting bagi umat Islam itu juga dikenal sebagai seorang ulama yang berilmu tinggi, saleh, dan berakhlak mulia. Kemuliaan yang ada dalam diri Imam Ahmad bin Hanbal telah membuat guru-gurunya kagum dan bangga.

Imam Syafi'i menjuluki muridnya itu sebagai imam dalam delapan bidang. Imam dalam hadis, Imam dalam fikih, Imam dalam bahasa, Imam dalam Alquran, Imam dalam kefakiran, Imam dalam kezuhudan, Imam dalam wara', dan Imam dalam sunah. Ia terlahir di Merv, Asia Tengah (sekarang Turkmenistan), pada 20 Rabiul Awal tahun 164 H. Ia tutup usia di baghdad pada 12 Rabi'ul Awal tahun 241 H, di usianya yang ke-77.



Ibnu Taimiyah

Ibnu Taimiyah adalah ulama dan pemikir Islam yang disegani karena ketokohan dan keluasan ilmunya. Ia telah menulis ribuan buku. Ia dijuluki beragam gelar, seperti Syaikhul Islam, Imam, Qudwah, 'Alim, Zahid, Da'i, dan lain sebagainya.

Ia bernama lengkap Ahmad bin Abdis Salam bin Abdillah bin Al-Khidir bin Muhammad bin Taimiyah An-Numairy al-Harrany al-Dimasyqy. Terlahir di Harran, sebuah kota induk di Jazirah Arabia yang terletak di antara sungai Dajalah (Tigris) dan Efrat, pada Senin, 12 Rabi'ul Awal 661 H (1263 M).

Ketika masih berusia belasan tahun, Ibnu Taimiyah sudah hafal Alquran dan mempelajari sejumlah bidang ilmu pengetahuan di Kota Damsyik kepada para ulama-ulama terkenal di zamannya. Dia kemudian menjadi Bapak Pembaharuan Islam lewat gerakan Salafiyah yang dikembangkannya.

Ibnu Qayyim Al-Jauziyah

Nama lengkapnya Muhammad bin Abi Bakar bin Ayub bin Sa'ad Zur'i ad-Damsyiq. Ulama besar ini lebih dikenal dengan sebutan Ibnul Qayyim al-Jauziyah. Ia adalah seorang ulama, ahli tafsir, penghafal Alquran, ahli nahwu, usul fikih, ilmu kalam, dan juga seorang mujtahid (ahli fikih) kenamaan.

Tak cuma itu, Ibnul Qayyim al-Jauziyah dikenal pula sebagai seorang cendekiawan Muslim dan ahli fikih kenamaan dalam mazhab Hanbali yang hidup pada abad ke-13 Masehi. Ulama yang bergelar Abu Abdullah Syamsuddin ini dilahirkan di Damaskus, Suriah pada 691 H/1292 M, dan wafat pada 751 H/1352 M. Ia merupakan murid Ibnu Taimiyah yang sangat fanatik.

Jamaluddin Al-Afgani

Nama lengkapnya adalah Jamaluddin al-Afgani as-Sayid Muhammad bin Shafdar al-Husain. ia lebih dikenal dengan Jamaluddin al-Afgani. Dunia Islam mengenalnya sebagai seorang pemikir Islam, aktivis politik, dan jurnalis terkenal. Kebencian al-Afgani terhadap kolonialisme menjadikannya perumus dan agitator paham serta gerakan nasionalisme dan pan-Islamisme yang gigih, baik melalui pidatonya maupun tulisan-tulisannya.

Di tengah kemunduran kaum Muslimin, al-Afgani menjadi seorang tokoh yang amat mempengaruhi perkembangan pemikiran dan aksi-aksi sosial pada abad ke-19 dan ke-20. Ia dilahirkan di Desa Asadabad, Distrik Konar, Afganistan pada tahun 1838, al-Afgani masih memiliki ikatan darah dengan cucu Rasulullah SAW, Husain bin Ali bin Abi Thalib. Pada tahun 1879, al-Afgani membentuk partai politik dengan nama Hizb al-Watani (Partai Kebangsaan).

Muhammad Abduh

Nama lengkapnya adalah Muhammad bin Abduh bin Hasan Khairullah. Ia Dilahirkan di desa Mahallat Nashr di Kabupaten al-Buhairah, Mesir pada 1849 M dan wafat pada 1905 M. Pendidikan pertama yang ditekuni Muhammmad Abduh adalah belajar Alquran. Pada usia 12 tahun, ia telah hafal kitab suci Alquran.

Ketika menjadi mahasiswa di Al Azhar, pada tahun 1869 Abduh bertemu dengan seorang ulama' besar sekaligus pembaharu dalam dunia Islam, Jamaluddin Al Afghani, dalam sebuah diskusi. Sejak saat itulah Abduh tertarik kepada pemikiran Jamaluddin Al Afghani dan banyak belajar darinya. Al-Afghani banyak mempengaruhi pemikiran Muhammad Abduh.

Rasyid Ridha

Ia bernama lengkap Muhammad Rasyid bin Ali Ridha bin Syamsuddin bin Baha'uddin Al-Qalmuni Al-Husaini. Namun, dunia Islam lebih mengenalnya dengan nama Muhammad Rasyid Ridha. Ia lahir di daerah Qalamun (sebuah desa yang tidak jauh dari Kota Tripoli, Lebanon) pada 27 Jumadil Awal 1282 H bertepatan dengan tahun 1865 M.

Selain menekuni pelajaran di sekolah tempat ia menimba ilmu, Rasyid Ridha juga rajin mengikuti beberapa perkembangan dunia Islam melalui surat kabar Al-'Urwah Al-Wusqo (sebuah surat kabar berbahasa Arab yang dikelola oleh Jamaluddin Al-Afghani dan Muhammad Abduh, dan diterbitkan selama masa pengasingan mereka di Paris).

Melalui surat kabar ini, Rasyid Ridha mengenal gagasan dua tokoh pembaru yang sangat dikaguminya, yaitu Jamaluddin Al-Afghani, seorang pemimpin pembaru dari Afghanistan, dan Muhammad Abduh, seorang pembaru dari Mesir. Ide-ide brilian yang dipublikasikan itu begitu berkesan dalam dirinya dan menimbulkan keinginan kuat untuk bergabung dan berguru pada kedua tokoh itu.

Sir Sayid Ahmad Khan

Sir Sayid Ahmad Khan dikenal sebagai seorang tokoh pembaru di kalangan umat Islam India pada abad ke-19. Dia dilahirkan di India pada 1817. Nenek moyangnya berasal dari Semenanjung Arab yang kemudian hijrah ke Herat, Persia (Iran), karena tekanan politik pada zaman dinasti Bani Umayyah.

Redaktur: Heri Ruslan

gerakan salafiyah

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh Heri Ruslan


Gerakan Salafiyah bertujuan untuk mengembalikan umat Islam kepada ajaran Alquran dan hadis.

Setelah Baghdad -- pusat peradaban Islam – dihancurleburkan bangsa Mongol pada 1258 M, dunia Islam mengalami kemunduran. Kaum Muslim mengalami kemunduran dalam berbagai bidang, baik pemikiran keagamaan, politik, sosial, maupun moral. Kezaliman merajarela, penguasa tak berdaya, dan para ulama tak bias berijtihad secara murni lagi.

‘’Umat Islam berada di era Taklid,’’ tulis Ensiklopedi Islam. Masa Taklid disebut para sejarawan dan pemikir Islam sebagai masa kemunduran. Pada pertengahan abad ke-13 M itu, masyarakat Muslim banyak yang menjadi penyembah kuburan, nabi, ulama, dan tokoh-tokoh tarekat. Mereka berharap berkat anbia (para nabi) dan aulia (para wali).

Kaum Muslimin pada era kemunduran itu cenderung meninggalkan Alquran dan Sunah Rasulullah SAW. Masyarakat Islam pada waktu itu terjebak pada perbuatan syirik dan bidah dan lebih percaya pada khurafat (menyeleweng dari akidah Islam) dan takhayul. Kondisi itu melahirkan sebuah gerakan yang dikenal dengan istilah Salafiyah.

Salafiyah adalah gerakan yang berupaya untuk menghidupkan kembali ajaran kaum Salaf. Tujuannya, agar umat Islam kembali kepada ajaran Alquran dan hadis serta meninggalkan pendapat ulama mazhab yang tak berdasar dan segala bidah yang terselip di dalamnya. Gerakan ini dicetuskan oleh Ibnu Taimiyah, ulama yang hidup di abad ke-13 dan 14 M.

Ibnu Taimiyah berpendapat, tiga generasi awal Islam, yaitu Rasulullah Muhammad SAW dan Sahabat Nabi, kemudian Tabi'in yaitu generasi yang mengenal langsung para Sahabat Nabi, dan Tabi'ut tabi'in yaitu generasi yang mengenal langsung para Tabi'in adalah contoh terbaik untuk kehidupan Islam. Ketiga generasi kaum Muslimin itu biasa disebut sebagai kaum Salaf.

Secara bahasa, Salafiyah berasal dari kata salafa, yaslufu, dan salafan. Padanan katanya, menurut Ensiklopedi Islam, taqaddama dan mada’ yang artinya ‘’berlalu’’, ‘’sudah lewat’’ atau ‘’terdahulu. Sehingga, As-Salaf bias diartikan orang yang terdahulu, berlalu, dan sudah lewat dalam tindakannya. Dalam Islam dikenal istilah as-salaf as-salih (orang saleh yang terdahulu atau yanag sudah lewat), yakni tiga generasi awal Islam.

Kaum Salaf memiliki beberapa sifat. Pertama, tak mencari pertentangan dan pertengkaran yang berkaitan dengan qada dan qadar. Kedua, menghindarkan diri dari perdebatan yang tak berujung, seperti masalah akidah. Ketiga, setia kepada Rasulullah SAW. Keempat warak dan zahid. Kelima, benci terhadap bidah.
Gerakan Salafiyah juga dikenal sebagai gerakan Tajdid (pembaharuan). Ada pula yang menyebutnya, gerakan Islah (perbaikan) dan gerakan Reformasi. Tak heran, jika Ibnu Taimiyah ditabalkan sebagai Bapak Tajdid, Bapak Islah, Bapak Reformasi, serta bapak Pembaharuan dalam Islam.

Sejatinya, tajdid merupakan watak dari ajaran Islam. Selain memelihara ajaran Islam yang utuh, sebagaimana dicontohkan Rasulullah SAW, tajdid juga memecahkan problema baru yang selalu muncul dalam masyarakat Islam. Doktrin yang menonjol dari gerakan Salafiyah antara lain: pintu ijitihad selalu terbuka sepanjang masa; taklid atau ikut-ikutan tanpa mengetahui sumbernya diharamkan; serta diperlukan kehati-hatian dalam berijtihad dan berfatwa.

Gerakan Salafiyah menyebar ke seluruh penjuru dunia, termasuk Indonesia. Sejumlah tokoh Muslim yang melanjutkan penyebaran gerakan itu, antara lain; Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, Muhammad bin Abdul Wahab, Jamaludin Al-Afghani, Muhammad Rasyid Rida, Sir Ahmad Khan, dan yang lainnya. Menurut Ensiklopedi Islam, sejumlah ormas Islam di Indonesia, seperti Al-Irsyad, Muhammadiyah, Persis, dan Persatuan Umat Islam dilandasi dengan gerakan Salaf.

Redaktur: Heri Ruslan

STMIK AMIKOM

Share24
2329 reads
Abu Athallah, Minggu, 22 Januari 2012, 11:19

Bersyukurlah bagi kita yang telah dibukakan hati untuk kembali kepada Alqur'an dan Sunnah yang murni dan beribadah sesuai tuntunan, kita do'akan semoga saudara2 kita yang selama ini masih anti gerakan salafiyah dibukakan hatinya untuk kembali kepada Alqur'an dan Sunnah yang murni, aamiin
Balas
Abu Athallah, Minggu, 22 Januari 2012, 10:55

Alhamdulillah.. bersyukurlah bagi kita yang telah terbuka hatinya untuk kembali kepada Alqur'an dan Hadits yg murni, mari kita do'akan semoga saudara2 kita yang anti gerakan salafiyah dibukakan hatinya untuk kembali kepada Alqur'an dan Hadits, Aamiin..
1 Balasan
sulaiman, Minggu, 22 Januari 2012, 11:50

Salafi Wahabi adalah Agenda Yahudi
ahmad jamhuri, Minggu, 22 Januari 2012, 10:42

kalau saja tidak ada perintis nu pelaksanaan ibadah haji di makkah akan kesulitan sebab wajib menggunakan cara muhammad bin abdul wahab, situs sejarah pasti diratakan, tidak ada lagi makam para syuhada', makam para sahabat, dlll.
Balas
Sunnah Lovers, Minggu, 22 Januari 2012, 09:34

Alhamdulillah Alloh menunjukkan jalan yang sesuai petunjuk Nabi. Sunnah Nabi cukup buatku. Perkataan ulama yang menyeru kepada sunnah adalah motivasiku.
Balas
dahur, Minggu, 22 Januari 2012, 05:32

dibeberapa daerah orang salafi ini banyak yang menimbulkan kontroversi, terutama karena sikapnya yang mengklaim diri sebagai pemilik tunggal kebenaran, terutama terkait dengan isu bid'ah yang acapkali dipersepsikan dalam spektrum yang amat sempit
Balas

Kamis, 09 Juni 2011

dunia sufi yg misteri (2)

Dunia Sufi Yang Misteri (Bagian 2)

Posted on April 29, 2011 by SufiMuda

Seperti yang saya kemukakan pada tulisan yang lalu banyak pendapat atau kesan yang kurang tepat atau keliru tentang bagaimana seharusnya kehidupan para sufi. Salah satu pandangan negatif orang terhadap kaum sufi adalah tentang Zuhud yang merupakan salah satu maqam yang harus dilewati oleh para sufi. Tentang zuhud sekilas telah pernah saya bahas dalam tulisan Zuhud Yang Sebenarnya dan disini saya ingin menulis dua pendapat yang berbeda tentang zuhud.

Pendapat pertama, zuhud berarti berpaling dan meninggalkan sesuatu yang disayangi yang bersifat material atau kemewahan duniawi dengan mengharapkan dan menginginkan suatu wujud yang lebih baik dan bersifat spiritual atau kebahagiaan akhirati. Pengertian pertama ini akhirnya berkembang ekstrim sehingga zuhud berarti benci dan meninggalkan sama sekali sesuatu yang bersifat duniawiyah.

Pendapat kedua, zuhud tidak berarti semata-mata tidak mau memiliki harta dan tidak suka mengenyam nikmat duniawi. Tapi zuhud sebenarnya adalah kondsi mental yang tidak mau terpengaruh oleh harta dan kesenangan duniawi dalam pengabdian diri kepada Allah SWT.

Saya pribadi lebih condong kepada pengertian kedua dengan alasan selain Al Qur’an dan Hadist yang tidak menyuruh kita kearah pengertian zuhud yang ekstrim pertama, juga kehidupan para sahabat zaman Rasulullah dan kehidupan sahabat semasa Khulafaur Rasyidin. Sahabat-sahabat utama Rasulullah seperti Abu Bakar AsShiddiq, Usman bin Affan dan Abdul Rahman bin ‘Auf adalah orang-orang yang kaya. Walaupun mereka kaya, mereka tetap hidup sebagai orang zuhud, yaitu hidup sederhana, dimana kekayaan mereka tidak akan mengurangi apalagi memalingkan pengabdian diri mereka kepada Allah SWT.



Pengertian zuhud yang kedua ini sesuai dengan firman Allah SWT :

“(Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu dan supaya kamu jangan terlalu bergembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri“. (Q.S. Al Hadid : 23).

“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) kampong akhirat dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik padamu.” (Q.S. Al Qashash : 57).

Pengertian kedua ayat ini adalah bahwa kita manusia tidak dapat memisahkan diri sama sekali dari harta dan segala bentuk kesenangan duniawi yang di ridhai Allah, sebab kita masih hidup di alam dunia. Pengertian lain adalah bahwa harta benda tidak dilarang untuk dimiliki, tetapi harta benda tersebut tidak boleh mempengaruhi atau memperbudak seseorang, sehingga menghalangi yang bersangkutan untuk menghampirkan dirinya kepada Allah SWT, atau dengan kata lain, sikap seorang sufi tidak boleh diperbudak oleh harta duniawi, tetapi hata duniawi itu dijadikan persembahan, pengabdian ubudiyah lebih banyak lagi kepada Allah SWT.

Yang menjadi pertanyaan, “Apa sebab terjadinya sikap zuhud ini, dan kenapa muncul anggapan bahwa sufi identik dengan sikap zuhud?”. Harus di akui bahwa Kajian dan gerakan zuhud ini memang muncul pertama kali di kalangan pengamal tasawuf pada akhir abad pertama hijriah. Gerakan ini muncul sebagai reaksi terhadap pola hidup mewah para khalifah dan keluarganya serta pembesar Negara yang merupakan dampak dri kekayaan yang diperoleh kaum muslim dalam pembebasan, penaklukan negeri-negeri Suriah, Mesir, Mesopotamia (Irak) dan Persia.

Semasa Dinasti Umayah pola hidup sederhana berubah menjadi pola hidup mewah dikalangan para Khalifah dan pembesar-pembesar Negara dan timbulnya jurang pemisah antara rakyat dan penguasa. Pola hidup mewah dan kondisi mental yang demikian tidak sesuai dengan ajaran dan amal agama seperti yang dicontohkan olh Rasulullah dan para sahabat. Disinilah awal timbulnya gerakan Zuhud sebagai wujud untuk menentang sikap dari Para penguasa yang hidup dalam kemewahan.



Tasawuf sebagai ajaran Islam harus sesuai dengan Al Qur’an dan Hadist sebagai rujukan semua orang Islam dan kajian-kajian tasawuf yang tidak sesuai dengan Al Qur’an dan Hadist harus dipertanyakan kebenarannya walaupun meninjau Al Qur’an tidak selalu harus dari segi tekstual semata.

Islam menganjurkan pemeluknya untuk sunguh-sungguh mencari rizki dan tentang keutamaan mencari rizki anda bisa membuka Al Qur’an Surat : Al Jumu’ah ayat 10, Al Muzammil ayat 20 dan surat Al Baqarah ayat 198, dan ini menjadi petunjuk bagi kita tentang keutamaan mencari rizki agar hidup menjadi lebih baik di dunia ini.

Diriwayatkan bahwa Nabi Isa a.s melihat seorang laki-laki, maka Beliau besabda, “Apakah yang kamu kerjakan?”. Ia menjawab, “Saya beribadat”. Isa bersabda,”Siapakah yang menanggungmu?”. Ia jawab, “Saudaraku”. Isa bersabda,”Saudaramu lebih baik ibadahnya daripada kamu”.

Dalam sejarah, para sufi pada umumnya bekerja sendiri untuk mencari nafkahnya dalam berbagai bidang usaha, sehingga ada diantara mereka itu diberikan julukan-julukan sesuai bidang usahanya itu. Seperti Al Hallaaj (Pembersih kulit kapas), Al Qashar (Tukang Penatu), Al Waraak (Tukang Kertas), Al Kharraaz (Penjahit Kulit Hewan), Al Bazzaaz (Perajin Tikar Daun Kurma), Az Zujaaji (Pengrajin dari kaca) dan Al Farraa’ (Penyamak Kulit).

Tidak terkecuali juga sufi zaman sekarang, mereka tidak melupakan kewajibannya mencari nafkah diberbagai usaha menghidupi dirinya dan keluarganya. Menjadi seorang sufi tidak harus miskin dan melarat namun jika Tuhan memberikan anda cobaan dalam bentuk kemiskinan berarti Dia senang dengan kondisi tersebut dan anda harus tetap mensyukuri apapun yang diberikan oleh-Nya. Kemulyaan seseorang dimata Tuhan tidak terletak pada banyak atau sedikit harta tapi bagaimana hatinya selalu bisa mengingat Allah siang dan malam, sunyi dan ramai, susah dan senang sehingga kondisi apapun tidak mempengaruhi dirinya untuk terus mendekatkan diri kepada-Nya.

Gambaran Sufi yang saya kemukakan diatas mudah-mudahan bisa sedikit menghapus prasangka buruk orang-orang yang tidak paham dengan tasawuf atau orang-orang yang belum pernah belajar tasawuf namun sudah merasa menjadi sufi dengan kesusahan dan kemiskinannya. Anda menjadi miskin dan susah tidak berarti anda menjadi seorang sufi begitu juga anda menjadi kaya juga tidak berarti anda menjadi sufi Karena kesufian itu terletak di hati. Lanjutan dari tulisan ini akan kami ceritakan tentang tokoh-tokoh sufi yang kehidupannya kaya raya bahkan ada yang sangat kaya yang kekayaannya mengalahkan seorang Raja. Mudah2an tulisan ini bermanfaat hendaknya, salam.

dunia sufi yg misteri (1)

Dunia Sufi Yang Misteri (bagian 1)

Posted on April 28, 2011 by SufiMuda



Ketika anda mendengar kata “sufi” atau orang sufi saya yakin hampir sebagian kita tergambar sebuah kehidupan sederhana di padang pasir yang tandus, ada pohon kurma lengkap dengan ontanya serta tergambar juga dalam pikiran kita seorang yang pakaian sederhana memakai jubah dan surban seperti lazimnya orang Arab. Mungkin tidak semua dari anda berpandangan seperti itu, tapi itulah gambaran umum tentang kaum sufi dan gambaran itulah yang terekam dalam pikiran saya sebelum mengenal dunia sufi dari seorang Wali Allah.

Disampul buku-buku tasawuf juga kita lihat orang berjubah yang hidup sederhana, makanya tidak mengherankan banyak orang alergi dengan tasawuf karena dalam pandangan mereka orang sufi itu adalah jenis manusia zuhud yang tidak memerlukan lagi dunia, mereka hanya memikirkan Tuhan semata. Kritik tajam terhadap kaum sufi adalah mereka egois hanya memikirkan diri sendiri dengan ibadahnya sehingga melupakan hubungan dengan manusia.

Pandangan miring terhadap tasawuf dan dunia sufi itu saya dengar dalam sebuah perbincangan disebuah warung kopi, dimeja sebelah saya 4 mahasiswa IAIN sedang berbincang tentang sufi menurut pandangan mereka dan sangat disayangkan obrolan mereka bukan membahas kebaikan ajaran tasawuf tapi malah membahas hal-hal buruk tentang sufi. “Orang sufi ketika suluk tidak makan daging, dari mana dalilnya itu? Bukankah tindakan seperti itu tandanya tidak mensyukuri nikmat Allah, kenapa melarang sesuatu yang dihalalkan Allah?” demikian seorang mahasiswa memaparkan pandangannya tentang tasawuf. Kemudian yang lain menambahkan, “Saya setuju dengan tasawuf sebagai pelajaran akhlak, tapi saya tidak setuju dengan Tarekat, jumlahnya begitu banyak jadi membingungkan dan terkesan Islam itu terpecah padahal Islam itu kan satu, tidak ada ajaran-jaran khusus sejak zaman dulu dan Nabi dengan sifat amanahnya tidak pernah menyembunyikan ilmu apapun, sementara mereka (kaum sufi) mengatakan memperoleh ilmu laduni, mana ada dalil seperti itu?”. Obrolan yang mirip diskusi itu terus berlanjut membahas hal-hal yang mereka sendiri tidak memahami dengan lengkap dan saya sambil menikmati secangkir kopi hanya senyum-senyum saja. Sebelum meninggalkan warung kopi saya hampiri mereka dan mengatakan, “yang kalian bahas itu tidak ada hubungan sedikitpun dengan tasawuf, persis seperti orang buta membahas tentang Gajah yang tidak pernah dilihatnya. Kalau kalian ingin belajar tasauf jangan hanya membaca tapi carilah guru yang ahli untuk membimbing kalian agar bisa mengamalkan tasawuf dengan benar.” Mereka menatap saya dengan wajah terkejut dan saya segera meninggalkan mereka dengan sejuta tanda tanya. Dalam hati saya berdoa mudah-mudahan Allah membimbing mereka sehingga menemukan Guru Mursyid yang Kamil Mukamil.

Banyak orang membaca tentang tasawuf dan dunia sufi dari orang-orang yang tidak memahami sepenuhnya tentang tasawuf, hanya memahami secara teori dan kemudian pemahaman yang tidak lengkap tersebut dituangkan lagi dalam buku dan dibaca oleh orang awam maka timbul salah persepsi tentang tasawuf. Lebih parah lagi, membaca tentang tasawuf dari orang-orang yang memang anti dengan tasawuf, kelompok-kelompok yang mengambil ilmu dari orientalis yang selalu memojokkan tasawuf. Salah satu ucapan orientalis yang diyakini sebagian besar kaum muslim adalah mereka mengatakan tasawuf itu bukan berasal dari Islam tapi hasil percampuran antara Yahudi, Kristen dan filsafat yunani.

Dalam Islam sendiri ada kelompok yang memang sangat anti dengan tasawuf, saya tidak menyebutkan nama kelompok tersebut dan saya yakin anda mengerti yang saya maksudkan dan kebetulan kelompok tersebut bukan hanya tasawuf yang dianggap sesat tapi hampir seluruh aliran dalam Islam selain dari mereka dianggap sesat.

Kembali ke Sufi, karena seringnya kita membaca buku-buku tentang sufi, cerita sufi, anekdot sufi yang seluruh ceritanya sebagian besar menceritakan dengan latar belakang kehidupan di tanah Arab, dan itu wajar karena cerita-cerita tersebut diambil dari kitab-kitab yang ditulis oleh orang Arab.

Apakah Sufi itu hanya di arab? Dan apakah menjadi sufi itu harus selalu berjubah dengan sekian banyak tambalan, pakaian compang camping, memegang tongkat atau menggembala domba? Kalau menjadi sufi harus seperti itu maka saya yakin orang Indonesia tidak satupun memenuhi Kriteria menjadi seorang sufi .

Tasawuf adalah ajaran moral agar akhlak manusia menjadi lebih baik dan setahap demi setahap melangkah mendekatkan diri kepada Allah sampai benar-benar dekat sehingga tidak ada keraguan lagi yang disembah adalah Allah SWT. Seperti ucapan Abu Yazid ketika ditanya tenang Allah, Beliau berkata, “Tiada keraguan sedikitpun bahwa itu adalah Allah”.

Siapapun yang mengamalkan tasawuf, apakah orang arab, Indonesia, China bahkan orang Eropa sekalipun maka hatinya akan terisi dengan Nur Ilahi, memiliki gairah dalam berzikir mengingat Allah kemudian timbul rasa cinta dan rindu kepada Allah dan Rasul-Nya.

Sufi akan hadir dimana saja, mungkin dia suka nongrong di mall, atau sering duduk di warung kopi, atau sedang bekerja sebagai karyawan yang apapun yang dilakukan selalu tidak melupakan zikir kepada Allah. Bisa jadi teman disebelah anda dalam pesawat, tukang parkir yang sering senyum kepada anda, tukang bengkel yang memperbaiki mobil anda atau juga bahkan seorang penyanyi yang anda kagumi, jangan-jangan mereka adalah sufi yang selama ini anda cari. Tubuh mereka dibungkus oleh pakaian yang sesuai dengan zaman dan tempat mereka berada, namun hati mereka tidak berubah sedikitpun.

Sufi akan terus menjadi misteri sepanjang zaman dan tidak mudah dikenali kecuali oleh sufi itu sendiri. Mereka lebih senang kalau manusia tidak mengenali mereka sebagai sosok sufi yang alim, mereka lebih nyaman tidak diketahui agar terhindar dari sifat sombong dan ria. Mereka melakukan zikir lama-lama atas rasa cinta dan kerinduang kepada Sang Kekasih dan tentu saja tidak dilakukan di dalam mesjid atau tempat terbuka karena memang tujuan mereka beribadah bukan untuk mendapat pujian manusia

Bersambung…

memerlukan pembimbing(Mursyid)

Siapa Yang Tidak Memerlukan Pembimbing (Mursyid)?
Posted on Agustus 27, 2010 by SufiMuda

Dalam Futhuh al Ghaib, Syekh Abdul Qadir al Jailani menulis syair berikut :

Jika takdir membantumu atau kala menuntunmu

kepada Syekh yang jujur dan ahli hakikat

maka bergurulah dengan rela dan ikutilah kehendaknya

Tinggalkan apa yang sebelumnya engkau lakukan

Sebab menentang berarti melawan

Dalam kisah Khidir yang mulia terdapat cakupan

Dengan membunuh seorang anak dan Musa mendebatnya

Tatkala cahaya subuh telah menyingkap kegelapan malam

Dan seseorang dapat menghunus pedangnya

Maka Musa pun meminta maaf

Demikian keindahan di dalam ilmu kaum sufi

Sebagian kita mungkin sudah sering mendengar tuduhan yang dilontarkan oleh orang-orang yang mengaku paling “islami” bahwa tasawuf adalah ilmu diluar islam, pembuat bid’ah, syirik dan lain sebagainya dan karena yang menyampaikan pendapat ini orang berlatar belakang pendidikan agama yang lumayan (baca: syariat), alumni arab Saudi atau mesir dengan sekian banyak title sehingga masyarakat awam dengan mudah langsung percaya. Sebagian mereka tidak tahu bahwa Arab Saudi bukan lagi menjadi tempat berkumpulkan berbagai macam mazhab akan tetapi telah menjadi corong bagi mazhab tunggal yang baru muncul di abad ke 17 yaitu mazhab wahabi.

Saya tidak membahas tentang tuduhan-tuduhan tersebut dan saya rasa itu tidak ada menfaatnya sama sekali. Kesempatan ini saya ingin menyampaikan informasi akan pentingnya belajar tasawuf/thariqat agar kita bisa merasakan nikmatnya beragama.

Belajar tasawuf ada dua jenis, yaitu secara Teori dan Praktek. Secara teori telah diajarkan di pasantren, IAIN bahkan anda bisa menjadi seorang profesor tasawuf tanpa anda harus mempraktekkan zikir dan dibimbing oleh mursyid. Namanya juga teori tentu yang didapatkan hanya teori saja.

Belajar tasawuf sebenarnya harus mempunyai pembimbing rohani, bukan saja mengajarkan anda tapi juga membimbing anda agar sampai kehadirat-Nya karena inti tasawuf adalah bagaimana seorang bisa berhampiran dengan Allah SWT. Tentang hal ini Abu Ali ats Tsaqafi berkata, “Seandainya seseorang mempelajari semua jenis ilmu dan berguru kepada banyak ulama, maka dia tidak sampai ke tingkat para sufi kecuali dengan melakukan latihan-latihan spiritual bersama seorang Syeikh yang memiliki akhlak yang luhur dan dapat memberinya nasehat-nasehat. Dan barang siapa yang tidak mengambil akhlaknya dari seorang Syeikh yang memerintah dan melarangnya, serta memperlihatkan cacat-cacat dalam amalnya dan penyakit-penyakit dalam jiwanya, maka dia tidak boleh diikuti dalam memperbaiki muamalah”.

Jadi tasawuf adalah ilmu praktek dan tentu saja membutuhkan pembimbing yang ahli dibidangnya, tanpa adanya pembimbing rohani maka segala praktek yang dilakukan sudah pasti akan disesatkan setan. Abu Yazid Al-Bisthami berkata, “Barang siapa yang menuntut ilmu tanpa berguru, maka wajib syetan gurunya.”

Apabila jalan kaum sufi dapat dicapai dengan pemahaman tanpa bimbingan seorang Syekh, niscaya orang seperti Imam Al-Ghazali dan Syekh Izzuddin ibn Abdussalam tidak perlu berguru kepada seorang Syekh. Sebelum memasuki dunia tasawuf, keduanya pernah berkata, “Setiap orang yang mengatakan bahwa adalah jalan memperoleh ilmu selain apa yang ada pada kami, maka dia telah berbuat kebohongan kepada Allah.”. Zaman sekarang kita juga sering mendengar pendapat seperti itu, tidak mengakui ilmu selain yang mereka pelajari (syariat) dan menganggap orang-orang yang mempunyai kemampuan bathin, ilmu laduni dan lain sebagainya sebagai pembohong.

Akan tetapi, setelah Imam Al-Ghazali dan Syekh Izzuddin ibn Abdussalam yang tadinya hanya belajar syariat kemudian memasuki dunia tasawuf keduanya berkata, “Sungguh kami telah menyia-nyiakan umur kami dalam kesia-siaan dan hijab (tabir penghalang antara hamba dan Tuhan).”

Orang yang bisa menemukan kebenaran bukanlah orang yang banyak membaca buku karena terkadang semakin banyak yang dipelajari justru tanpa sadar menjadi Hijab antara kita dengan Allah. Hanya kerendahan hati dan sikap mau belajar dan mencari yang menyebabkan seseorang menemukan Allah SWT, sebagai mana ucapan rendah hati Musa kepada Khidir, “Bolehkah aku mengikutimu, agar engkau mengajarkan kepadaku ilmu yang benar diantara ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu?” (QS. Al Kahfi, 66). Juga pengakuan Ahmad ibn Hanbal bahwa Abu Hamzah al Baghdadi lebih utama darinya dan pengakuan Ahmad ibn Suraij bahwa Abu Qasim Junaid lebih utama darinya.

Imam al-Ghazali juag mencari seorang Syekh yang menunjukkannya ke jalan tasawuf, padahal ia adalah Hujjatul Islam. Begitu juga, Syekh Izzuddin ibn Abdussalam berkata, “Aku tidak mengetahui Islam sempurna kecuali setelah aku bergabung dengan Syekh Abu Hasan Asy Syadzili”. Abdul Wahab Asy Sya’rani berkata, “Apabila kedua ulama besar ini, yakni al-Ghazali dan Syekh Izzuddin ibn Abdussalam, padahal keduanya adalah orang yang memiliki ilmu pengetahuan luas tentang syariat, maka orang selain mereka lebih membutuhkan lagi.”

Dalam hal ini al Qur’an memberikan petunjuk kepada kita semua untuk mencari orang-orang yang telah di beri petunjuk oleh Allah SWT sebagaimana firman Allah: “Sebenarnya al Qur’an itu adalah ayat-ayat nyata di dalam dada orang-orang yang diberi ilmu” (QS. Al ankabut : 49). “Dan ikutilah jalan orang yang telah kembali kepada-Ku” (QS. Lukman: 15) dan firman-Nya, “Wahai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah kalian bersama orang-orang yang benar”. (QS. Taubah: 119). Diperkuat oleh hadist, “Jadilah kamu bersama Allah, apabila tidak bersama Allah jadilah kalian bersama orang yang sudah bersama Allah, maka sesungguhnya orang itu bisa membawamu kepada Allah” (HR. Abu Daud).

Dengan demikian, memiliki seorang pembimbing (mursyid) adalah suatu keharusan. Para sahabat sendiri mengambil ilmu dan amalan mereka dari Rasulullah SAW. Rasulullah SAW mengambil ilmu dan amalannya dari Jibril. Dan para tabi’in mengambil ilmu dan amalan dari para sahabat.

Setiap sahabat mempunyai para pengikut yang khusus. Ibnu Sirin, Ibnu Musayyab dan al A’raj, misalnya, adalah pengikut Abu Hurairah. Sementara Thawus, Wahhab dan Mujahid, adalah pengikut Ibnu Abas. Demikian seterusnya. Pengambilan ilmu dan amalan ini sangat jelas, sebagaimana disebutkan dalam riwayat-riwayat mereka.

Maka tidak ada alasan bagi kita untuk tidak segera mencari Guru Pembimbing yang siap menuntun dan membimbing kita mencapai kebenaran hakiki. Carilah Guru yang benar-benar kamil mukamil, khalis mukhlisin sehingga dia bukan hanya berbicara tentang teori ketuhanan akan tetapi dengan keikhlasannya mampu membimbing anda kehadirat Allah SWT. Kalau anda bertanya siapakah Guru Mursyid yang kamil mukamil tersebut, saya tidak bisa menjawab karena kawatir jawaban saya akan menyinggung perasaan yang lain. Bagi setiap pengamal tasawuf mereka meyakini Guru mereka memiliki kemampuan untuk membimbing mereka dan tidak terkecuali Guru saya.

Abu Athailah As Sakandari dalam Latha’if al Minan, berkata, “Engkau tidak akan kekurangan mursyid yang dapat menunjukkanmu ke jalan Allah. Tapi yang sulit bagimu adalah mewujudkan kesungguhan dalam mencari mereka”.

Seorang penyair sufi berkata :

Rahasia Allah didapat dengan pencarian yang benar

Betapa banyak hal menakjubkan yang telah diperlihatkan kepada para pelakunya.

Ali al Khawas berkata dalam syairnya,

Jangan menempuh jalan yang tidak engkau kenal tanpa penunjuk jalan,

Sehingga engkau terjerumus dalam jurang-jurangnya.

Penunjuk jalan (Mursyid) akan dapat mengantarkan salik sampai ke pantai yang aman dan menjauhkan dari gangguan-gangguan selama di perjalanan. Sebab, penunjuk jalan (mursyid) sebelumnya telah melewati jalan itu dibawah bimbingan seseorang (mursyid sebelumnya) yang telah mengetahui seluk beluk jalan tersebut, mengetahui tempat-tempat berbahaya dan tempat-tempat yang aman dan terus menemaninya sampai akhirnya dia sampai di tempat yang dituju. Kemudian orang tersebut memberikan izin untuk membimbing orang lain.

Menutup tulisan ini saya mengutip Syair dari Ibnu Al-Banna yang menjelaskan tentang kedudukan kaum sufi yang telah melakukan perjalanan menuju Allah dan setelah sampai disana mememberikan kabar kepada orang lain untuk menuju kesana dengan selamat.

Kaum sufi tidak lain sedang melakukan perjalanan

Ke hadirat Tuhan Yang Maha Benar

Maka mereka membutuhkan penunjuk jalan

Yang benar-benar mengenal seluk beluk jalan itu

Dia telah melalui jalan itu, lalu dia kembali

Untuk mengabarkan apa yang telah didapat.

*****************************************

Senin, 30 Mei 2011

Muhammad I Al-Mahdi..pemimpin di tengah kemelut

Sejarah Para Khalifah: Muhammad II Al-Mahdi, Pemimpin di Tengah Kemelut
Senin, 30 Mei 2011 11:30 WIB

REPUBLIKA.CO.ID, Pemimpin memegang peran penting bagi sebuah rezim. Ia bisa menjadi penyebab maju dan runtuhnya kekuasaan. Walau bukan khalifah, namun Muhammad bin Abu Amir yang dikenal dengan Mulk Al-Manshur merupakan tokoh sentral Daulah Umayyah di Andalusia.

Hanya tujuh tahun setelah tokoh ini wafat, masa keemasan Islam di Andalusia terus memudar. Bahkan menjadi pangkal kemelut yang berujung pada keruntuhan kerajaan ini. Selama 29 tahun sejak wafatnya Mulk Al-Manshur, pemerintahan Bani Umayyah mengalami kemelut berkepanjangan. Khalifah datang dan pergi silih berganti, diwarnai pula dengan kekerasan dan ambisi.

Ketika Mulk Al-Manshur meninggal dunia, posisinya segera digantikan oleh putranya, Abdul Malik bin Muhammad bin Abu Amir dengan gelar Mulk Al-Muzhafir. Kedudukannya dikukuhkan oleh Khalifah Hisyam II.

Seperti ayahnya, ia adalah seorang negarawan yang cakap dan ahli strategi militer. Ia menjalankan kebijakan sang ayah sebelumnya. Selama tujuh tahun berkuasa, pihak Kristen di bagian utara Spanyol tidak bisa berbuat apa-apa. Masa pemerintahannya itu dkenal dengan As-Sabi'.

Ketika Mulk Al-Muzhafir meninggal pada 399 H, kedudukannya digantikan oleh saudaranya, Abdurrahman bin Muhammad bin Abu Amir. Ia dikenal dengan An-Nashir Lidinillah. Kedudukannya pun dikukuhkan oleh Khalifah Hisyam II.

Pemimpin baru ini berbeda dengan ayah dan saudaranya. Dalam waktu singkat, ia justru meminta pengukuhan dirinya sebagai khalifah pengganti Hisyam II. Ironisnya, permintaan ini disetujui oleh Khalifah Hisyam II. Akibatnya, muncul kemarahan dan dendam di kalangan keluarga Umayyah sendiri.

Pada 399 H, Mulk An-Nashir berangkat dengan pasukan besarnya untuk mengamankan wilayah Galicia di bagian utara Spanyol. Sepeninggalnya, para pemuka Bani Umayyah memecat Hisyam II dan mengangkat Muhammad bin Hisyam bin Abdul Jabbar bin Abdurrahman III sebagai khalifah dengan gelar Khalifah Muhammad II Al-Mahdi.

Mantan Khalifah Hisyam II yang diberhentikan sempat melarikan diri dari Cordoba. Ada yang menyebutkan ia melarikan diri ke pelabuhan Malaga dan menetap di sana beberapa lama. Ketika mendengar pergantian itu, Mulk An-Nashir yang sedang berada di Galicia segera kembali menuju Cordoba. Ketika itu terjadi pengepungan. Tanpa diduga olehnya, ia pun dibunuh dalam peristiwa itu.

Khalifah Muhammad II Al-Mahdi ternyata mengabaikan unsur Barbar yang menguasai lembaga ketentaraan. Bahkan ia melakukan tekanan-tekanan yang membangkitkan kemarahan mereka.

Tindakah Khalifah Al-Mahdi itu tidak dapat diterima oleh pihak Barbar. Mereka berinisiatif untuk mengangkat Hisyam bin Sulaiman bin Hakam II bin Abdurrahman III untuk menggantikan Khalifah Al-Mahdi.

Hal itu membangkitkan kemarahan Khalifah Al-Mahdi. Para pembesar Barbar banyak yang melarikan diri. Bahkan Khalifah Al-Mahdi sempat menangkap Hisyam bin Sulaiman dan saudaranya, Abu Bakar bin Sulaiman, lalu menjatuhkan hukuman mati.

Seorang keponakannya, Sulaiman bin Hakam bin Sulaiman sempat melarikan diri bersama pasukan Barbar. Oleh pihak Barbar, ia diresmikan sebagai khalifah dengan panggilan Khalifah Sulaiman Al-Mustain sebagai pemimpin Bani Umayyah di Andalusia yang ke-12.

Dengan pasukan besarnya, Khalifah Al-Mahdi mengepung kota Az-Zahra. Pertempuran sengit pun pecah. Pasukan Khalifah Al-Mustain terpaksa mengundurkan diri ke arah selatan menuju Algeciras dan bertahan di tempat itu. Di tempat ini pula kembali terjadi pertempuran. Pasukan Al-Mahdi porak-poranda dan terpaksa melarikan diri ke arah utara. Ia dikejar oleh pasukan Khalifah Al-Mustain.

Penduduk Cordoba yang mendengar berita itu merasa khawatir. Dengan segera mereka membuka pintu-pintu Cordoba untuk menyambut kedatangan Khalifah Al-Mustain. Dengan demikian, resmilah dirinya menjadi Khalifah Bani Umayyah ke-5 atau pemimpin ke-12.


Redaktur: cr01
Sumber: Sejarah Para Khalifah karya Hepi Andi Bastoni

Hisyam II Di bawah pemangku Kuasa

Sejarah Para Khalifah: Hisyam II, Di Bawah Pemangku Kuasa
Minggu, 29 Mei 2011 09:46 WIB

REPUBLIKA.CO.ID, Setelah Khalifah Hakam II wfat, diangkatlah putranya, Hisyam II yang kala itu masih berusia 10 tahun untuk menjadi khalifah. Ia menggantikan ayahnya sebagai pemimpin Bani Umayyah di Andalusia yang ke-10. Atau jika dihitung secara kekhalifahan resmi, ada yang menyebutnya sebagai khalifah ke-3.

Karena Hisyam II masih sangat muda, maka urusan pemerintahan dikendalikan oleh Mursyih Al-Amri (pemangku kuasa), yaitu Mughirah bin Abddurahman—saudara Hakam II. Namun tokoh ini tak lama memegang kendali. Ia dibunuh oleh komplotan Ja'far bin Utsman yang sejak pemerintahan Khalifah Hakam II memangku jabatan Al-Hajib.

Jabatan Al-Hajib dalam ketatanegaraan Bani Umayyah kala itu adalah orang yang bertanggung jawab terhadap Rumah Tangga Istana. Dalam kehidupan istana Raja Inggris kita mengenal istilah Chamberlain. Karena khalifah adalah pemegang kekuasaan tertinggi, maka ia harus berhubungan erat dengan para pejabat Al-Hajib. Di sisi lain, para pejabat Al-Hajib ini pun sangat menentukan beberapa kebijakan penting istana.

Pembunuhan atas Mughirah itu menyebabkan terjadinya perebutan kekuasaan. Peristiwa ini merupakan noda hitam pertama dalam lembaran sejarah Bani Umayyah di Andalusia. Bagi Daulah Abbasiyah di Baghdad, peristiwa seperti itu mulai muncul sejak pembunuhan Khalifah Al-Mutawakkil. Setelah itu terjadi pertumpahan darah dalam merebut dan mempertahankan kekuasaan. Umumnya, yang memegang peranan penting dalam peristiwa seperti ini adalah mereka yang dikenal dengan sultan atau pemegang kuasa. Sultan inilah yang biasanya mengendalikan khalifah.

Al-Wazir Muhammad bin Abu Amir yang menjabat sebagai pelaksana kekuasaan pada masa Khalifah Hakam II, segera bertindak mengambil-alih seluruh kekuasaan, termasuk jabatan Al-Hajib. Dialah yang menjabat Mursyih Al-Amri, pengganti Mughiran bin Abdurrahman.

Tokoh besar inilah yang selanjutnya berperan penting dalam memulihkan kondisi Bani Umayyah di Andalusia. Namanya pun disebut-sebut banyak orang. Belakangan ia menyebut dirinya Al-Mulk (raja); Al-Mulk Al-Manshur. Sejak itulah istilah Al-Mulk dikenal dalam lintasan sejarah Islam. Ketika beranjak dewasa, Khalifah Hisyam II mengukuhkan jabatan itu. Sehingga kekuasaan khalifah pun amat terbatas. Ia nyaris menjadi "tukang khutbah" dan "tukang stempel".

Dengan demikian, lahirlah generasi baru yang kendalinya melebihi wewenang khalifah. Jika di masa pemerintahan Bani Abbasiyah di Baghdad ada istilah sultan, maka di masa Daulah Umayyah di Andalusia, penguasa baru ini dikenal dengan Al-Mulk.

Masa kekuasaan Al-Mulk Al-Manshur berlangsung cukup lama. Ia memerintah selama 27 tahun. Dalam rentang masa itu, ia mengukir prestasi baik. Ia berhasil menciptakan kemakmuran bagi rakyat dengan mengembangkan bidang pertanian, perdagangan, dan dunia usaha. Ia juga berhasil melebarkan sayap kekuasaannya keluar.
Hal penting yang dicatat sejarah adalah perkembangan di bidang ilmu pengetahuan dan perpustakaan. Ia sangat gemar mengumpulkan karya-karya ilmiah dari berbagai negeri. Hal ini merupakan kegemaran Khalifah Hakam II sebelumnya.

Ia juga memberikan penghargaan yang baik kepada para sarjana dan ilmuwan. Hal ini bisa dimaklumi, sebab sebelumnya ia adalah seorang ahli hukum yang menjabat sebagai hakim agung.

Kebijakan Al-Mulk Al-Manshur lainnya yang dicatat sejarah adalah tindakannya memberikan fasilitas bagi suku-suku Barbar dalam lembaga ketentaraan untuk menggantikan unsur-unsur Arab. Ia mengundang Bani Zenata dan Bani Adawa dari Afrika Barat untuk membentuk ketentaraan di Andalusia. Ia juga memberikan jabatan-jabatan tinggi pada tokoh-tokoh Barbar tersebut.

Ia juga membentuk lembaga tinggi kepolisian negara yang dikenal dengan Al-Urafak. Kota satelit Az-Zuhra yang dibangun Khalifah Hakam II di luar Cordoba dengan bangunan-bangunan mengagumkan, diperluas oleh Al-Mulk Al-Manshur. Ia memindahkan pusat pemerintahan ke tempat itu.

Ketika terjadi penyerangan dari pihak Count of Castile Don Garcia Fernandez, Muhammad bin Abu Amir melakukan serangan balasan. Pertempuran panjang yang dikenal dengan Pertempuran Musim Panas pun berlangsung. Pada peperangan ini, pihak Cordoba meraih kemenangan.

Meski menang, bukan berarti pihak musuh menghentikan perlawanan. Hampir setiap tahun terus terjadi serangan. Kembali dari sebuah peperangan, pasukan Al-Mulk dihadang musuh di suatu tempat bernama Calatanazar. Ia gugur dalam peperangan itu, dan dimakamkan di sebuah kota bernama Salima. Al-Muk Al-Manshur wafat pada usia 65 tahun. Sepeninggalnya terjadi kemelut.


Redaktur: cr01
Sumber: Sejarah Para Khalifah karya Hepi Andi Bastoni

Hisyam II Di bawah pemangku Kuasa

Sejarah Para Khalifah: Hisyam II, Di Bawah Pemangku Kuasa
Minggu, 29 Mei 2011 09:46 WIB

REPUBLIKA.CO.ID, Setelah Khalifah Hakam II wfat, diangkatlah putranya, Hisyam II yang kala itu masih berusia 10 tahun untuk menjadi khalifah. Ia menggantikan ayahnya sebagai pemimpin Bani Umayyah di Andalusia yang ke-10. Atau jika dihitung secara kekhalifahan resmi, ada yang menyebutnya sebagai khalifah ke-3.

Karena Hisyam II masih sangat muda, maka urusan pemerintahan dikendalikan oleh Mursyih Al-Amri (pemangku kuasa), yaitu Mughirah bin Abddurahman—saudara Hakam II. Namun tokoh ini tak lama memegang kendali. Ia dibunuh oleh komplotan Ja'far bin Utsman yang sejak pemerintahan Khalifah Hakam II memangku jabatan Al-Hajib.

Jabatan Al-Hajib dalam ketatanegaraan Bani Umayyah kala itu adalah orang yang bertanggung jawab terhadap Rumah Tangga Istana. Dalam kehidupan istana Raja Inggris kita mengenal istilah Chamberlain. Karena khalifah adalah pemegang kekuasaan tertinggi, maka ia harus berhubungan erat dengan para pejabat Al-Hajib. Di sisi lain, para pejabat Al-Hajib ini pun sangat menentukan beberapa kebijakan penting istana.

Pembunuhan atas Mughirah itu menyebabkan terjadinya perebutan kekuasaan. Peristiwa ini merupakan noda hitam pertama dalam lembaran sejarah Bani Umayyah di Andalusia. Bagi Daulah Abbasiyah di Baghdad, peristiwa seperti itu mulai muncul sejak pembunuhan Khalifah Al-Mutawakkil. Setelah itu terjadi pertumpahan darah dalam merebut dan mempertahankan kekuasaan. Umumnya, yang memegang peranan penting dalam peristiwa seperti ini adalah mereka yang dikenal dengan sultan atau pemegang kuasa. Sultan inilah yang biasanya mengendalikan khalifah.

Al-Wazir Muhammad bin Abu Amir yang menjabat sebagai pelaksana kekuasaan pada masa Khalifah Hakam II, segera bertindak mengambil-alih seluruh kekuasaan, termasuk jabatan Al-Hajib. Dialah yang menjabat Mursyih Al-Amri, pengganti Mughiran bin Abdurrahman.

Tokoh besar inilah yang selanjutnya berperan penting dalam memulihkan kondisi Bani Umayyah di Andalusia. Namanya pun disebut-sebut banyak orang. Belakangan ia menyebut dirinya Al-Mulk (raja); Al-Mulk Al-Manshur. Sejak itulah istilah Al-Mulk dikenal dalam lintasan sejarah Islam. Ketika beranjak dewasa, Khalifah Hisyam II mengukuhkan jabatan itu. Sehingga kekuasaan khalifah pun amat terbatas. Ia nyaris menjadi "tukang khutbah" dan "tukang stempel".

Dengan demikian, lahirlah generasi baru yang kendalinya melebihi wewenang khalifah. Jika di masa pemerintahan Bani Abbasiyah di Baghdad ada istilah sultan, maka di masa Daulah Umayyah di Andalusia, penguasa baru ini dikenal dengan Al-Mulk.

Masa kekuasaan Al-Mulk Al-Manshur berlangsung cukup lama. Ia memerintah selama 27 tahun. Dalam rentang masa itu, ia mengukir prestasi baik. Ia berhasil menciptakan kemakmuran bagi rakyat dengan mengembangkan bidang pertanian, perdagangan, dan dunia usaha. Ia juga berhasil melebarkan sayap kekuasaannya keluar.
Hal penting yang dicatat sejarah adalah perkembangan di bidang ilmu pengetahuan dan perpustakaan. Ia sangat gemar mengumpulkan karya-karya ilmiah dari berbagai negeri. Hal ini merupakan kegemaran Khalifah Hakam II sebelumnya.

Ia juga memberikan penghargaan yang baik kepada para sarjana dan ilmuwan. Hal ini bisa dimaklumi, sebab sebelumnya ia adalah seorang ahli hukum yang menjabat sebagai hakim agung.

Kebijakan Al-Mulk Al-Manshur lainnya yang dicatat sejarah adalah tindakannya memberikan fasilitas bagi suku-suku Barbar dalam lembaga ketentaraan untuk menggantikan unsur-unsur Arab. Ia mengundang Bani Zenata dan Bani Adawa dari Afrika Barat untuk membentuk ketentaraan di Andalusia. Ia juga memberikan jabatan-jabatan tinggi pada tokoh-tokoh Barbar tersebut.

Ia juga membentuk lembaga tinggi kepolisian negara yang dikenal dengan Al-Urafak. Kota satelit Az-Zuhra yang dibangun Khalifah Hakam II di luar Cordoba dengan bangunan-bangunan mengagumkan, diperluas oleh Al-Mulk Al-Manshur. Ia memindahkan pusat pemerintahan ke tempat itu.

Ketika terjadi penyerangan dari pihak Count of Castile Don Garcia Fernandez, Muhammad bin Abu Amir melakukan serangan balasan. Pertempuran panjang yang dikenal dengan Pertempuran Musim Panas pun berlangsung. Pada peperangan ini, pihak Cordoba meraih kemenangan.

Meski menang, bukan berarti pihak musuh menghentikan perlawanan. Hampir setiap tahun terus terjadi serangan. Kembali dari sebuah peperangan, pasukan Al-Mulk dihadang musuh di suatu tempat bernama Calatanazar. Ia gugur dalam peperangan itu, dan dimakamkan di sebuah kota bernama Salima. Al-Muk Al-Manshur wafat pada usia 65 tahun. Sepeninggalnya terjadi kemelut.


Redaktur: cr01
Sumber: Sejarah Para Khalifah karya Hepi Andi Bastoni

Hisyam II Di bawah pemangku Kuasa

Sejarah Para Khalifah: Hisyam II, Di Bawah Pemangku Kuasa
Minggu, 29 Mei 2011 09:46 WIB

REPUBLIKA.CO.ID, Setelah Khalifah Hakam II wfat, diangkatlah putranya, Hisyam II yang kala itu masih berusia 10 tahun untuk menjadi khalifah. Ia menggantikan ayahnya sebagai pemimpin Bani Umayyah di Andalusia yang ke-10. Atau jika dihitung secara kekhalifahan resmi, ada yang menyebutnya sebagai khalifah ke-3.

Karena Hisyam II masih sangat muda, maka urusan pemerintahan dikendalikan oleh Mursyih Al-Amri (pemangku kuasa), yaitu Mughirah bin Abddurahman—saudara Hakam II. Namun tokoh ini tak lama memegang kendali. Ia dibunuh oleh komplotan Ja'far bin Utsman yang sejak pemerintahan Khalifah Hakam II memangku jabatan Al-Hajib.

Jabatan Al-Hajib dalam ketatanegaraan Bani Umayyah kala itu adalah orang yang bertanggung jawab terhadap Rumah Tangga Istana. Dalam kehidupan istana Raja Inggris kita mengenal istilah Chamberlain. Karena khalifah adalah pemegang kekuasaan tertinggi, maka ia harus berhubungan erat dengan para pejabat Al-Hajib. Di sisi lain, para pejabat Al-Hajib ini pun sangat menentukan beberapa kebijakan penting istana.

Pembunuhan atas Mughirah itu menyebabkan terjadinya perebutan kekuasaan. Peristiwa ini merupakan noda hitam pertama dalam lembaran sejarah Bani Umayyah di Andalusia. Bagi Daulah Abbasiyah di Baghdad, peristiwa seperti itu mulai muncul sejak pembunuhan Khalifah Al-Mutawakkil. Setelah itu terjadi pertumpahan darah dalam merebut dan mempertahankan kekuasaan. Umumnya, yang memegang peranan penting dalam peristiwa seperti ini adalah mereka yang dikenal dengan sultan atau pemegang kuasa. Sultan inilah yang biasanya mengendalikan khalifah.

Al-Wazir Muhammad bin Abu Amir yang menjabat sebagai pelaksana kekuasaan pada masa Khalifah Hakam II, segera bertindak mengambil-alih seluruh kekuasaan, termasuk jabatan Al-Hajib. Dialah yang menjabat Mursyih Al-Amri, pengganti Mughiran bin Abdurrahman.

Tokoh besar inilah yang selanjutnya berperan penting dalam memulihkan kondisi Bani Umayyah di Andalusia. Namanya pun disebut-sebut banyak orang. Belakangan ia menyebut dirinya Al-Mulk (raja); Al-Mulk Al-Manshur. Sejak itulah istilah Al-Mulk dikenal dalam lintasan sejarah Islam. Ketika beranjak dewasa, Khalifah Hisyam II mengukuhkan jabatan itu. Sehingga kekuasaan khalifah pun amat terbatas. Ia nyaris menjadi "tukang khutbah" dan "tukang stempel".

Dengan demikian, lahirlah generasi baru yang kendalinya melebihi wewenang khalifah. Jika di masa pemerintahan Bani Abbasiyah di Baghdad ada istilah sultan, maka di masa Daulah Umayyah di Andalusia, penguasa baru ini dikenal dengan Al-Mulk.

Masa kekuasaan Al-Mulk Al-Manshur berlangsung cukup lama. Ia memerintah selama 27 tahun. Dalam rentang masa itu, ia mengukir prestasi baik. Ia berhasil menciptakan kemakmuran bagi rakyat dengan mengembangkan bidang pertanian, perdagangan, dan dunia usaha. Ia juga berhasil melebarkan sayap kekuasaannya keluar.
Hal penting yang dicatat sejarah adalah perkembangan di bidang ilmu pengetahuan dan perpustakaan. Ia sangat gemar mengumpulkan karya-karya ilmiah dari berbagai negeri. Hal ini merupakan kegemaran Khalifah Hakam II sebelumnya.

Ia juga memberikan penghargaan yang baik kepada para sarjana dan ilmuwan. Hal ini bisa dimaklumi, sebab sebelumnya ia adalah seorang ahli hukum yang menjabat sebagai hakim agung.

Kebijakan Al-Mulk Al-Manshur lainnya yang dicatat sejarah adalah tindakannya memberikan fasilitas bagi suku-suku Barbar dalam lembaga ketentaraan untuk menggantikan unsur-unsur Arab. Ia mengundang Bani Zenata dan Bani Adawa dari Afrika Barat untuk membentuk ketentaraan di Andalusia. Ia juga memberikan jabatan-jabatan tinggi pada tokoh-tokoh Barbar tersebut.

Ia juga membentuk lembaga tinggi kepolisian negara yang dikenal dengan Al-Urafak. Kota satelit Az-Zuhra yang dibangun Khalifah Hakam II di luar Cordoba dengan bangunan-bangunan mengagumkan, diperluas oleh Al-Mulk Al-Manshur. Ia memindahkan pusat pemerintahan ke tempat itu.

Ketika terjadi penyerangan dari pihak Count of Castile Don Garcia Fernandez, Muhammad bin Abu Amir melakukan serangan balasan. Pertempuran panjang yang dikenal dengan Pertempuran Musim Panas pun berlangsung. Pada peperangan ini, pihak Cordoba meraih kemenangan.

Meski menang, bukan berarti pihak musuh menghentikan perlawanan. Hampir setiap tahun terus terjadi serangan. Kembali dari sebuah peperangan, pasukan Al-Mulk dihadang musuh di suatu tempat bernama Calatanazar. Ia gugur dalam peperangan itu, dan dimakamkan di sebuah kota bernama Salima. Al-Muk Al-Manshur wafat pada usia 65 tahun. Sepeninggalnya terjadi kemelut.


Redaktur: cr01
Sumber: Sejarah Para Khalifah karya Hepi Andi Bastoni

Sabtu, 28 Mei 2011

hakam II Pencinta buku dan sastra (9)

Sejarah Para Khalifah: Hakam II, Pencinta Buku dan Sastra
Jumat, 27 Mei 2011 11:03 WIB

REPUBLIKA.CO.ID, Pada usia 45 tahun, Hakam II diangkat sebagai Khalifah Daulah Umayyah Andalusia menggantikan ayahnya, Abdurrahman III. Jika Abdurrahman Ad-Dakhil dianggap sebagai khalifah pertama Daulah Umayyah di Andalusia, maka Hakam II adalah khalifah kesembilan.

Namun sebagian ahli sejarah menyebutkan, pemimpin Daulah Umayyah Andalusia dari Abdurrahman Ad-Dakhil hingga Abdullah bin Muhammad tidak disebut khalifah, tapi amir. Mereka baru menyematkan sebutan khalifah pada Abdurrahman III. Dengan demikian, Hakam II bisa disebut khalifah kedua Daulah Umayyah di Andalusia. Ia memerintah selama 17 tahun. Masa pemerintahannya cukup terpandang. Para ahli sejarah menyebut masa pemerintahannya dengan "zaman emas kesusastraan Arab di Spanyol".

Selain sukses membangun pemerintahan dalam negeri, Hakam II juga berhasil menjalin hubungan baik dengan pihak luar. Ia bisa menjalin hubungan dengan kerajaan Leon dan Navarre yang memang telah terikat perdamaian sebelumnya. Kedua kerajaan itu mengakui keberadaan Daulah Umayyah, dan mereka bersedia membayar pajak.

Bahkan Raja Sancho I dari Leon sempat berada di Cordoba selama dua tahun untuk mengobati tubuhnya yang menderita obesitas. Selama berada di kota itu, ia aman dan diberikan pelayanan yang baik.

Selain berhasil mengamankan wilayahnya, Hakam II juga meneruskan pembangunan perpustakaan Cordoba. Perpustakaan itu dibangun hingga menjadi perpustakaan terbesar di Eropa kala itu. Hakam II memang dikenal cinta buku. Ia sering mencari sendiri buku-buku yang sulit ditemukan.

Bahkan ia juga sering menulis surat untuk para penulis ternama. Ia juga tak segan-segan membayar naskah tulisan itu dengan harga yang mahal. Ia mempekerjakan orang-orang tertentu untuk mengelola perpustakaannya. Ia juga melindungi lembaga-lembaga kesusastraan dan memberikan hadiah bagi para sarjana.

Muhyiddin Al-Khayyath dalam kitabnya, Durus Tarikh Al-Islami, menyebutkan Abul Faraj—pujangga besar Arab kala itu—tengah menyusun kumpulan sajak dan lagu yang diberinama Al-Aghani. Mendengar hal itu, Hakam II segera mengirimkan utusan untuk menemui sang penulis. Naskah pertama karya itu dibayar dengan 1.000 dinar emas! Angka yang begitu besar. Tak heran kalau para ahli sejarah menyebut masa pemerintahannya dengan zaman bagi sastra Arab di Spanyol.

Khalifah Hakam II juga berhasil menghalau tantangan dari Daulah Fathimiyah yang inging merebut wilayah Afrika Barat. Setelah terjadi pertempuran selama empat tahun, di bawah pimpinan Panglima Ghalib, daerah itu bisa direbut kembali.

Pada 979 M, Khalifah Hakam II mengangkat Muhammad bin Abu Amir sebagai wazir, yang sebelumnya menjabat hakim agung. Saat itu, jabatan wazir mengepalai seluruh bagian pemerintahan, namun kekuasaan tertinggi tetap berada tangan khalifah. Kelak sepeninggal Khalifah Hakam II, Muhammad bin Abu Amir memainkan peran yang sangat penting selama 27 tahun. Ia seorang negarawan cakap dan ahli strategi perang.

Penunjukan itu bersamaan dengan adanya tantangan dari pihak utara, Kerajaan Navarre. Beberapa benteng dan perbatasan mulai diserang. Di tengah serangan-serangan itulah Khalifah Hakam II wafat dalam usia 62 tahun. Ia digantikan oleh putranya, Hisyam II yang kala itu masih berusia 10 tahun. Saudaranya, Mughirah bin Abdurrahman III menjabat sebagai Mursyih Al-Amri atau Pemangku Kuasa.


Redaktur: cr01
Sumber: Kisah Para Khalifah karya Hepi Andi Bastoni