Senin, 25 April 2011

Daulah Umayyah: Yazid Bin Walid(12) dan Ibrahim bin Walid(13)

Daulah Umayyah:Yazid bin Walid (12)
Daulah Umayyah: Yazid bin Walid bin Abdul Malik (744 M) Terlalu Banyak Kemelut
Minggu, 24 April 2011 06:00 WIB

REPUBLIKA.CO.ID, Setelah Khalifah Walid bin Yazid bin Abdul Malik terbunuh oleh para pengepungnya, jabatan khalifah dipegang oleh Yazid bin Walid bin Abdul Malik. Ia adalah sepupu sang khalifah. Ayah Yazid adalah Walid bin Abdul Malik, saudara kandung Yazid bin Abdul Malik, ayah Walid (khalifah sebelumnya). Yazid bin Walid menjabat sebagai khalifah keduabelas Daulah Umayyah.

Para sejarawan sering menulis namanya dengan Yazid III karena ia adalah sosok ketiga bernama Yazid yang menjabat khalifah Daulah Umayyah. Yazid I adalah Yazid bin Muawiyah, khalifah kedua. Yazid II adalah Yazid bin Abdul Malik, khalifah kesembilan. Sedangkan Yazid III adalah Yazid bin Walid, tokoh yang kini sedang dibahas.

Ia dibaiat sebagai khalifah pada usia 46 tahun. Kebijakan pertama yang ia lakukan adalah mengurangi jumlah bantuan sosial dan mengembalikannya pada anggaran biasa seperti pada masa Khalifah Hisyam bin Abdul Malik. Kebijakan itu menyebabkan ia dikenal dengan julukan An-Naqish (sang Pengurang).

Masa pemerintahan Yazid diwarnai dengan beragam kemelut. Hal ini tak mengherankan karena untuk mendapatkan jabatan khalifahnya,Yazid pun menumpahkan darah dengan terbunuhnya Walid bin Yazid, khalifah sebelumnya.

Di antara mereka yang mengadakan gerakan ini adalah Sulaiman bin Hisyam. Pada masa pemerintahan Walid bin Yazid, Sulaiman termasuk di antara mereka yang dijebloskan ke penjara. Ketika Khalifah Walid bin Yazid mangkat dan Yazid III naik tahta, Sulaiman dibebaskan. Namun ia melihat dirinya pun berhak atas jabatan khalifah. Ia segera mengerahkan pendukungnya untuk merebut jabatan khalifah dari tangan Yazid. Hanya saja, Khalifah Yazid berhasil membujuknya dan Sulaiman kembali melakukan baiat.

Dari negeri Hims juga muncul rencana perebutan kekuasaan. Ketika mendengar terbunuhnya Khalifah Walid bin Yazid, para pendukungnya dari negeri Hims segera bergerak menuju Damaskus. Khalifah Yazid segera mengirimkan pasukan besar untuk menghalaunya. Pasukan Hims kalah dan sisa-sisa tentaranya kembali menyatakan baiat.

Selain dua gerakan itu, dari wilayah Armenia dan Kaukasus, muncul juga usaha perebutan kekuasaan. Sejak terbunuhnya Walid bin Yazid, Marwan bin Muhammad segera mempersiapkan rencana kudeta. Rencana berbahaya itu segera terdengar oleh Khalifah Yazid. Ia pun segera mengirimkan utusan kepada Marwan. Sang Khalifah membujuknya agar tak melakukan penyerangan. Ia menjanjikan tambahan wilayah kekuasaan Azerbaijan dan Mosul kepada Marwan. Gubernur Marwan pun setuju dan kembali membaiat.

Tampaknya, fanatisme kesukuan benar-benar telah mewabahi pemerintahan Yazid. Di samping usaha perebutan kekuasaan di atas, dari lembah Irak juga muncul gejolak. Namun gubernurnya berhasil meredam gejolak masyarakat. Penduduk Yamamah juga demikian. Mereka berusaha melakukan kudeta terhadap gubernurnya.

Gejolak di wilayah Khurasan justru lebih parah. Gubernur Nushair bin Sayyaf menolak keinginan Khalifah Yazid yang ingin mengalihkan jabatannya pada Panglima Manshur bin Jamhur. Konflik berdarah pun terjadi.

Keadaan pemerintahan Khalifah Yazid semakin tak menentu. Gerakan Abbasiyah yang sejak beberapa tahun terakhir mulai muncul, makin berani unjuk diri. Beragam kerusuhan itu berakibat pukulan batin dari diri Khalifah Yazid.

Ia meninggal pada 7 Dzulhijjah 126 Hijriyah setelah sebelumnya mengalami kelumpuhan fisik. Ada yang mengatakan ia meninggal karena penyakit tha'un. Masa pemerintahannya hanya beberapa bulan. Ia wafat tanpa meninggalkan jejak emas berarti. Bahkan ia mewariskan beragam permasalahan yang kelak berujung pada berakhirnya kejayaan Daulah Umayyah.
Diposkan oleh blogpatriot di 01:25
Kirimkan Ini lewat Email BlogThis! Berbagi ke Twitter Berbagi ke Facebook Berbagi ke Google Buzz



--------------------------------------------------------------------------------------

Daulah Umayyah: Ibrahim bin Walid bin Abdul Malik (744 M) Khalifah 70 Hari
Minggu, 24 April 2011 15:04 WIB

REPUBLIKA.CO.ID, Ia menjabat sebagai khalifah ketigabelas Daulah Umayyah menggantikan saudaranya, Yazid bin Walid. Karena kondisi pemerintahan saat itu mengalami guncangan, naiknya Ibrahim sebagai khalifah tidak disetujui oleh sebagian kalangan keluarga Bani Umayyah. Bahkan sebagian ahli sejarah menyebutkan di kalangan sebagian Bani Umayyah ada yang menganggapnya hanya sebagai gubernur, bukan khalifah.

Di antara mereka yang menolak kekhalifahan Ibrahim bin Walid adalah Marwan bin Muhammad. Saat itu ia menjabat gubernur empat wilayah, yaitu Armenia, Kaukasus, Azerbaijan, dan Mosul. Marwan tak hanya menolak baiat atas Ibrahim bin Walid, namun juga mengerahkan 80.000 orang dari Armenia menuju Suriah. Itulah gerakan terbesar yang dihadapi pemerintahan Ibrahim bin Walid.

Untuk menghadapi pasukan besar itu, ia minta bantuan saudara sepupunya, Sulaiman bin Hisyam dan mengangkatnya sebagai Panglima Besar. Utnuk menghadang kekuatan pasukan Marwan bin Muhammad, Panglima Sulaiman segera mengadakan kunjungan ke berbagai daerah dekat Syria dan Palestina serta beberapa daerah lainnya. Akhirnya, dari Mesir, Irak dan Hijaz datang bala bantuan yang mencapai 120.000 orang.

Pasukan besar itu berangkat dari Damaskus menuju utara untuk menghadang pasukan Marwan bin Muhammad. Suasana Syria dan sekitarnya cukup tegang. Dua pasukan besar akan segera bertemu. Pertempuran saudara tak mungkin terelakkan.

Gubernur Marwan bin Muhammad bukan hanya pejabat terkenal di daerah Armenia dan sekitarnya, tetapi juga seorang panglima perang tangguh yang matang di medan pertempuran. Berkali-kali ia memimpin pasukan perang dan menaklukkan sejumlah wilayah.

Sedangkan Panglima Sulaiman bin Hisyam sebaliknya. Meski seorang panglima, Sulaiman bin Hisyam dibesarkan di lingkungan istana, bergelut dengan kemewahan. Ia tak begitu menguasai medan peperangan. Karenanya, meski jumlah pasukannya di atas pasukan Marwan, Sulaiman tak mampu berbuat banyak.

Ketika pertempuran pecah, pasukannya porak-poranda. Medan perang dibanjiri darah tentara Sulaiman. Melihat keadaan pasukannya, Sulaiman buru-buru melarikan diri ke Damaskus. Ia segera menghadap Khalifah Ibrahim bin Walid dan menceritakan apa yang terjadi.

Khalifah Ibrahim tak bisa berbuat banyak. Ia tak memiliki pasukan cadangan. Oleh sebab itu, ia memutuskan untuk menyerahkan diri kepada Marwan bin Muhammad. Dengan diiringi keluarganya, ia menemui Gubernur Marwan dan menyerahkan jabatan khalifahnya.

Marwan bin Muhammad memberikan perlindungan kepada Ibrahim bin Walid yang sempat hidup hingga 132 Hijriyah. Ibrahim bin Walid hanya memerintah kurang dari setahun. Menurut Imam As-Suyuthi, ia hanya memerintah selama 70 hari. Selanjutnya, khilafah Bani Umayyah dipimpin oleh Marwan bin Muhammad, khalifah terkahir Bani Umayyah.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar